Bolehkan menghentikan konsumsi antibiotik yang diberikan tidak sesuai indikasi? - Diskusi Dokter

general_alomedika

Selamat malam sejawat sekalian. Saya ingin tahu pendapat dan mungkin jika ada sejawat yg memiliki sumber ilmiahnya, mengenai penggunaan antibiotik yg kurang...

Diskusi Dokter

  • Kembali ke komunitas
  • Bolehkan menghentikan konsumsi antibiotik yang diberikan tidak sesuai indikasi?

    05 Maret 2019, 22:01

    Selamat malam sejawat sekalian. Saya ingin tahu pendapat dan mungkin jika ada sejawat yg memiliki sumber ilmiahnya, mengenai penggunaan antibiotik yg kurang tepat. Jika kita dapat pasien pindahan dari dokter lain, atau bidan, perawat, bahkan apoteker yg memberikan antibiotik padahal sudah pasti tidak diperlukan, dan antibiotiknya belum habis, dan dari penilaian, sebenarnya keluhan pasien ini disebankan krn penggunaan antibiotiknya ini (gastritis misalnya), apakah kita hentikan penggunaannya, atau lanjutkan? Begitupula dgn kasus yg pemberian antibiotik tidak tepat, misalnya seharusnya diberikan metronidazole, namun yg diberikan ciprofloxacin misalnya, apakah antibiotiknya yg salah dihentikan atau diteruskan?

    Terima kasih..

05 Maret 2019, 22:59
selamat malam dok. kalau menurut saya dok yah, kalau tidak tepat sasaran pemberiannya untuk apa dilanjutkan pemakaiannya, apalagi bila sampai menimbulkan penyakit baru. saya pernah baca artikel, mengenai pemberian AB yang tidak tepat sasaran akan mempercepat resistensi bakteri. tapi baiknya tetap mencari sumber yang pasti dok. saya malah pernah dapat pasien yang datang dan menyampaikan kalau sudah mnum Amoxicilyn sekali sehari dalam 3 hari, karena giginya sakit. rasionalisasi pemberian AB memang sampai sekarang masih jadi masalah kita semua, sebagai tenaga kesehatan. pasalnya, sampai sekarang AB yang sudah di labeli sebagai obat keras saja, juga masih di bisa di beli bebas. 
07 Maret 2019, 06:45
terima kasih infonya Dok :)
07 Maret 2019, 13:39
Terimakasih dok penjelasanya
06 Maret 2019, 08:35

Alo Dokter!

Sharing dari pengalaman, kalau Saya biasanya akan dilihat per kasus Dok, kalau pasien dapat obatnya memang untuk penyakit yang akut (bukan pengobatan untuk penyakit kronis dalam jangka panjang), biasanya saya akan gantikan peresepannya yang kurang tepat. Tetap menginformasikan pasien untuk menyetop obat yang kurang tepat tersebut dan menggantikannya dengan obat yang Kita berikan, namun tetap dengan edukasi bahwa bukan karena obat-obat tersebut salah diberikan, tetapi bahwa obat yang kita berikan akan berefek lebih baik berdasarkan hasil pemeriksaan yang baru saja kita lakukan (sesuai dengan perjalanan penyakitnya) dan karena pasien mengeluhkan efek samping tertentu, obat yang menggantikan akan mengurangi keluhan tersebut. 

Kadang Saya juga mengedukasi kepada Pasien kalau memang ada efek samping tertentu sebenarnya lebih baik kalau kembali kepada dokter yang meresepkan awal, Dok... agar obatnya juga dapat lebih disesuaikan, tapi sepertinya ini bukan kebiasaan yang ada di lingkungan kita, Dok.. biasanya pasien hanya akan berganti dokter, karena menganggap pengobatan yang sebelumnya tidak mempan :) 

Saya coba mencari literaturnya, tapi belum dapat, Dok... hanya informasi bahwa untuk antibiotik, apabila kita setop lebih awal, tidak akan lebih berisiko untuk terjadinya resistensi obat dibandingkan dengan peresepan yang tidak rasional :)

https://www.mja.com.au/journal/2015/202/3/knowing-when-stop-antibiotic-therapy

https://www.who.int/features/qa/stopping-antibiotic-treatment/en/

 

 

07 Maret 2019, 06:45
baik Dok, terimakasih infonya :)
10 Maret 2019, 17:45
Terimakasih infonya dok๐Ÿ™๐Ÿ™
06 Maret 2019, 09:02
Sangat menarik pembahasannya Dok. 
07 Maret 2019, 10:06
Alodok..sedikit menambahkan ya dok. Boleh saja mengganti antibiotik atau menghentikannya asal dengan dasar yg kuat dan ada indikasi. Pada kasus2 yg sering saya dapatkan di tmpt saya bekerja di RS rujukan tipe A..pasiendatang dgb riw antibiotik yg berabekaragam bahkan kadang tidak jelas. Apabila saat itu setelah kita lakukan pemeriksaan secara keseluruhan ternyata tidak ada indikasi pemberian antibiotik sedangkan pasien sedang dlm terapi antibiotik..maka antibiotik tersebut saya stop. Apabila memang ada indikasi pemberian antibiotik namun yg diberikan blm tepat..maka akan diganti sesuai dengan guideline. Begitu jg dgn pemberian antibiotik awal atau empiris..apabila hasil kultur sudah keluar maka sebaiknya antibiotik disesuaikan (terutama yg tidak berespons baik thdp a.b. empirik). Apalagi jika antibiotik ttt menimbulkan reaksi alergi atau timbul efek samping tentu harus kita hentikan. 
Pd beberapa kasus penyakit kronis yg sering saya tangani dgn pengobatan lama misal TBC jika dlm evaluasinya tnyt tidak memberikan respons yg baik..dan dari hasil keseluruhan evaluasi ternyata menunjukkan bahwa pasien tsbt bukan sakit TB maka OAT harus distop (jika anda menemukan kasus seperti ini..mohon refer ke dokter spesialis paru terlebih dahulu..sehingga stop atau tidaknya ditentukan oleh Sp.P..karena penghentian yg tidak tepat..padahal org tsb memang sakit tb..dapat menimbulkan risiko kekebalan obat).
Pemberian antibiotik pada akhirnya jg harus dipertimbangkan kapan kita switch..bisa step down dan ubah ke oral (apabila sblmnya IV)..sesuai dengan kaidah antibiotic stewardship. 
Terima kasih..semoga dapat membantu ๐Ÿ˜Š
07 Maret 2019, 10:58
Terima kasih Dok untuk insightnya โ˜บโ˜บ
07 Maret 2019, 12:11
Sangat membantu infonya Dok,  terimakasih. 
07 Maret 2019, 13:40
Alodok..sedikit menambahkan ya dok. Boleh saja mengganti antibiotik atau menghentikannya asal dengan dasar yg kuat dan ada indikasi. Pada kasus2 yg sering saya dapatkan di tmpt saya bekerja di RS rujukan tipe A..pasiendatang dgb riw antibiotik yg berabekaragam bahkan kadang tidak jelas. Apabila saat itu setelah kita lakukan pemeriksaan secara keseluruhan ternyata tidak ada indikasi pemberian antibiotik sedangkan pasien sedang dlm terapi antibiotik..maka antibiotik tersebut saya stop. Apabila memang ada indikasi pemberian antibiotik namun yg diberikan blm tepat..maka akan diganti sesuai dengan guideline. Begitu jg dgn pemberian antibiotik awal atau empiris..apabila hasil kultur sudah keluar maka sebaiknya antibiotik disesuaikan (terutama yg tidak berespons baik thdp a.b. empirik). Apalagi jika antibiotik ttt menimbulkan reaksi alergi atau timbul efek samping tentu harus kita hentikan. 
Pd beberapa kasus penyakit kronis yg sering saya tangani dgn pengobatan lama misal TBC jika dlm evaluasinya tnyt tidak memberikan respons yg baik..dan dari hasil keseluruhan evaluasi ternyata menunjukkan bahwa pasien tsbt bukan sakit TB maka OAT harus distop (jika anda menemukan kasus seperti ini..mohon refer ke dokter spesialis paru terlebih dahulu..sehingga stop atau tidaknya ditentukan oleh Sp.P..karena penghentian yg tidak tepat..padahal org tsb memang sakit tb..dapat menimbulkan risiko kekebalan obat).
Pemberian antibiotik pada akhirnya jg harus dipertimbangkan kapan kita switch..bisa step down dan ubah ke oral (apabila sblmnya IV)..sesuai dengan kaidah antibiotic stewardship. 
Terima kasih..semoga dapat membantu ๐Ÿ˜Š
Terimakasih infonya dok
10 Maret 2019, 17:39
Terima kasih Docs infonya
10 Maret 2019, 20:00
Alodokter Katya,

Menghentikan konsumsi antibiotik yang tidak sesuai boleh dilakukan.

Penggunaan obat obatan termasuk antibiotik harus sesuai dengan prinsip "Rational Use of Medicine yaitu โ€œpatients receive medications appropriate to their clinical needs, in doses that meet their own individual requirements, for  an adequate period  of time,  and at the lowest  cost  to them and their community (WHO, 1985)โ€.

Kalau di daerah saya, paling sering kasus viral infection semuanya dikasih antibiotik yang bisa dibeli bebas. Selain itu pada kasus pengobatan tuberculosis (TB), karena keterbatasan resource dalam menegakkan diagnosisnya. Begitu terbukti bukan TB, pemberian obat anti tuberculosis (OAT) harus langsung distop.