pengaruh kecemasan terhadap penyakit lain - Jiwa Ask The Expert - Diskusi Dokter

general_alomedika

Alo dr. Soeklola Muliady, Sp.KJ, ijin bertanya. Ada pasien wanita usia 60, memiliki hipertensi dan DM. Menurut keluarganya, pasien saat ini lebih sensitif...

Diskusi Dokter

  • Kembali ke komunitas
  • pengaruh kecemasan terhadap penyakit lain - Jiwa Ask The Expert

    17 November 2021, 10:11

    Alo dr. Soeklola Muliady, Sp.KJ, ijin bertanya. Ada pasien wanita usia 60, memiliki hipertensi dan DM. Menurut keluarganya, pasien saat ini lebih sensitif sehingga mudah menangis dan mudah marah. Faktor usia sendiri juga dapat mempengaruhi mood kan ya dok? Sebagai dokter yang menangani, saya melihat ada hubungan antara kejiwaannya dengan tekanan darah maupun gula darah yang sulit turun. Namun pasien merasa tidak memiliki masalah apapun atau kekhawatiran apapun. Bagaimana cara menyikapi pasien seperti itu ya dok? 

    Terimakasih.

17 November 2021, 10:45
dr. Soeklola SpKJ MSi
dr. Soeklola SpKJ MSi
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa

Alo dr. Ajeng,

Benar sekali, terdapat kaitan antara gangguan kejiwaan dengan gangguan fisik tertentu seperti hipertensi, diabetes melitus, maupun gangguan fisik lainnya.

Mekanisme utama yang kemungkinan berperan, lebih akibat respons inflamasi kronis maupun gangguan metabolisme tertentu yang berdampak terhadap aksis HPA, toksisitas neuron khususnya di area pengaturan mood, ataupun neuroplastisitas neuron.

Hingga saat ini faktor usia tersendiri sebagai pengaruh ke gangguan mood belum benar-benar diketahui mekanisme utamanya. Namun, disabilitas yang disebabkan oleh gangguan fisik tertentu juga termasuk dalam faktor risiko yang mencetuskan timbulnya gangguan mood.

Pada kasus dokter, dokter dapat mencoba mengajak pasien mengenali:

1.  Mencoba berdiskusi dengan pasien mengenai apa yang ia rasakan, termasuk perasaannya.

2. Bantu pasien mengenali perubahan apa saja yang terjadi akibat perubahan mood yang mungkin berdampak pada pilihan pola hidup tertentu dan mempengaruhi stabilisasi tekanan darah maupun gula darahnya. Pengenalan perilaku ini biasanya lebih mudah diterima oleh pasien dibandingkan langsung mengutarakan bahwa pasien mengalami gangguan mood.

3. Bersama pasien menyusun kembali aktivitas yang mampu memperbaiki stabilitasi kondisi fisiknya. Misalnya jika pasien jarang bergerak maka membuat rencana olah fisik dan sebagainya.

4. Jika kondisi mood sangat dominan dan tidak teratasi dengan diskusi bersama pasien ataupun penentraman yang dokter lakukan, maka sarankan keluarga untuk membawa pasien periksa ke psikiater. Bisa jadi memang terdapat gangguan yang perlu dievaluasi ulang bahkan memerlukan pengobatan tersendiri.

 

Semoga membantu