Cara yang tepat untuk mengatasi masalah gangguan seksual terkait metode pemenuhan hubungan suami istri - Diskusi Dokter

general_alomedika

Alodokter! Selamat mlm dok,mau sharing sedikit dok ttg kasus gangguan seks, ini menurut cerita istrinya yg dtg ingin konsultasi soal perilaku seks...

Diskusi Dokter

  • Kembali ke komunitas
  • Cara yang tepat untuk mengatasi masalah gangguan seksual terkait metode pemenuhan hubungan suami istri

    23 September 2019, 18:36
    dr.margreth
    dr.margreth
    Dokter Umum

    Alodokter! Selamat mlm dok,mau sharing sedikit dok ttg kasus gangguan seks, ini menurut cerita istrinya yg dtg ingin konsultasi soal perilaku seks suaminya,istrinya ini adlh istri ketiga, sblmnya suaminya sudah pernh menikah dan mmpunyai anak dgn dua istri sblmnya,suaminya inipunya fantasi ingin melihat istrinya berhub dgn laki2 lain,ato tlpann smbil vc dgn laki2 lain, dgn mmperlihatkan anggota tubuh, dan suaminya ini akn terangsang bila melihat laki2 yg vc dgn istrinya memperlihatkan anggota tubuhnya juga bahkan smpe bisa melihat si laki2nya ejakulasi, dan setelah itu suaminya akn berhubungan seks dengan istrinya ini,bahkan menurut pengakuan istrinya dia pernh mengikuti kemauan suaminya untuk berhubungan dgn laki2 lain, dan itu di lakukan didepan suaminya, dan suaminya sangat menikmati, setelah itu suaminyapun berhubungan dengan istrinya, yg ingin saya tnyakan apakah ini trmasuk gangguan seks homoseksual? Ato gangguan seksual apa yah dok? Dan ini lbih tepatnya suaminya konsultasi ke psikolog ato psikiater? Apakah penyimpangan seks sperti ini bisa kmbali normal.. Terima ksih dok

23 September 2019, 20:10
Selamat malam, dr. Margreth.
Menurut saya kasus ini mengarah pada voyeurisme. Voyeurisme merupakan salahsatu gangguan seksual yg terjadi pada laki2 heteroseksual, dimana terdapat fantasi yg merangsang secara seksual apabila ybs mengamati orang yg tidak menggunakan pakaian atau sedang melakukan hubungan seksual. Sebaiknya ybs diperiksa terlebih dahulu ke psikolog. Adapun, ketika ybs perlu dibantu secara medis, biasanya psikolog akan menyarankan pasien untuk periksa juga ke psikiater. Dengan demikian, intervensi dapat tetap dilakukan oleh keduanya. Gangguan seksual seperti ini dapat kembali normal jika pasien memiliki keinginan yg kuat untuk kembali menjadi normal. Yg jadi masalah adalah ketika ybs menganggap hal tsb sbg suatu yg wajar dan bukan merupakan gangguan psikologis. Oleh karena itu, dalam hal ini juga sangat diperlukan pemberian psikoedukasi kepada pasien.
23 September 2019, 20:25
Terimakasih edukasi nya bu
23 September 2019, 20:49
dr. Achmad Harri Kuncoro SpB
dr. Achmad Harri Kuncoro SpB
Dokter Spesialis Bedah
Terimakasih infonya ibu.. 
23 September 2019, 21:59
dr. Handre Putra, Sp.A
dr. Handre Putra, Sp.A
Dokter Spesialis Anak
Terimakasih atas informasinya bu penjelasan by case nya. 😊
24 September 2019, 12:39
Terima kasih atas sharing edukasinya bu 🙏
24 September 2019, 13:54
Terimakasih informasinya Bu 🙏
23 September 2019, 20:34
23 September 2019, 21:22
dr.margreth
dr.margreth
Dokter Umum
Terima kasih dok
23 September 2019, 21:05
23 September 2019, 20:49
Terimakasih infonya ibu.. 
Sama2, dok 🙂
23 September 2019, 21:24
23 September 2019, 21:22
Terima kasih dok
Sama2, dok 🙂
23 September 2019, 22:06
23 September 2019, 21:59
Terimakasih atas informasinya bu penjelasan by case nya. 😊
Sama2, dok 🙂
24 September 2019, 10:36
dr.Mega Nilam Sari, M.Biomed, SpKJ
dr.Mega Nilam Sari, M.Biomed, SpKJ
Dokter Specialis Psikiater
23 September 2019, 20:10
Selamat malam, dr. Margreth.
Menurut saya kasus ini mengarah pada voyeurisme. Voyeurisme merupakan salahsatu gangguan seksual yg terjadi pada laki2 heteroseksual, dimana terdapat fantasi yg merangsang secara seksual apabila ybs mengamati orang yg tidak menggunakan pakaian atau sedang melakukan hubungan seksual. Sebaiknya ybs diperiksa terlebih dahulu ke psikolog. Adapun, ketika ybs perlu dibantu secara medis, biasanya psikolog akan menyarankan pasien untuk periksa juga ke psikiater. Dengan demikian, intervensi dapat tetap dilakukan oleh keduanya. Gangguan seksual seperti ini dapat kembali normal jika pasien memiliki keinginan yg kuat untuk kembali menjadi normal. Yg jadi masalah adalah ketika ybs menganggap hal tsb sbg suatu yg wajar dan bukan merupakan gangguan psikologis. Oleh karena itu, dalam hal ini juga sangat diperlukan pemberian psikoedukasi kepada pasien.
Trimkasih sharingnya Bu Alifia. 🙏 
24 September 2019, 10:38
24 September 2019, 10:36
Trimkasih sharingnya Bu Alifia. 🙏 
Sama2, dr. Mega 🙂
24 September 2019, 12:25
Terima kasih infornya bu
24 September 2019, 12:33
24 September 2019, 12:25
Terima kasih infornya bu
Sama2, dok 🙂
24 September 2019, 12:41
24 September 2019, 12:39
Terima kasih atas sharing edukasinya bu 🙏
Sama2, dok 🙂