Pasien berusia 60 tahun datang dengan keluhan nyeri dada kiri sejak 1 jam yang lalu. Nyeri dirasakan seperti ditindih beban berat. Keluhan disertai dengan...
Dosis Pemberian Oksigen pada Kasus Infark Miokard Akut - Diskusi Dokter
general_alomedikaDiskusi Dokter
- Kembali ke komunitas
Dosis Pemberian Oksigen pada Kasus Infark Miokard Akut
Pasien berusia 60 tahun datang dengan keluhan nyeri dada kiri sejak 1 jam yang lalu. Nyeri dirasakan seperti ditindih beban berat. Keluhan disertai dengan keringat dingin. Pemeriksaan fisik ditemukan: TD: 160/80 mmHg, Nadi: 90x/menit, RR: 18x/menit, dan SpO2: 99%. Menurut Dokter, bagaimana seharusnya oksigen diresepkan pada infark miokard akut?
A. Oksigen hanya boleh diberikan melalui kanula hidung aliran tinggi pada semua kasus nyeri dada
B. Oksigen tidak boleh diresepkan untuk pasien yang tidak mengalami hipoksia
C. Oksigen 100% harus segera diberikan kepada siapa pun yang diduga mengalami infark miokard, terlepas dari saturasi oksigen
D. Oksigen hanya efektif jika diberikan bersamaan dengan vitamin C intravena
ALO Dokter! Jawabannya adalah B.
Selama hampir seabad, akronim "MONA" (Morfin, Oksigen, Nitrogliserin, Aspirin) adalah standar emas untuk terapi suspek serangan jantung. Diasumsikan bahwa karena jantung kekurangan oksigen akibat penyumbatan arteri, "lebih banyak lebih baik."
Namun, penelitian telah mengungkapkan bahwa untuk pasien dengan saturasi oksigen normal SpO2 >90–94%, oksigen tambahan sebenarnya dapat berbahaya.
Mengapa Oksigen Dapat Berbahaya:
- Hiperoksia dan Vasokonstriksi: Tingkat oksigen yang tinggi dalam darah (hiperoksia) dapat menyebabkan arteri koroner konstriksi (menyempit). Efek paradoks ini mengurangi aliran darah yang sangat dibutuhkan jantung.
- Kerusakan Radikal Bebas: Kelebihan oksigen menyebabkan pembentukan spesies oksigen reaktif (radikal bebas), yang dapat menyebabkan "cedera reperfusi"—kerusakan tambahan pada sel otot jantung saat aliran darah kembali.
- Ukuran Infark: Studi yang menggunakan MRI jantung menunjukkan bahwa pemberian oksigen rutin pada pasien normosik sebenarnya dapat menyebabkan area jaringan jantung yang mati lebih besar (ukuran infark).
Bukti dan Sumber:
Pergeseran ini didasarkan pada dua uji klinis penting yang secara efektif mengakhiri penggunaan oksigen secara rutin untuk semua pasien nyeri dada.
1. Uji Coba AVOID (2015)
Diterbitkan di Circulation, uji coba Air Versus Oxygen in Myocardial Infarction (AVOID) adalah studi terkontrol acak.
Temuan: Pada pasien dengan STEMI (serangan jantung berat) yang tidak mengalami hipoksia, oksigen tambahan meningkatkan cedera miokard, meningkatkan angka infark ulang, dan dikaitkan dengan ukuran infark yang lebih besar pada enam bulan.
2. Uji Coba DETO2X-AMI (2017)
Diterbitkan di New England Journal of Medicine (NEJM), ini adalah studi yang jauh lebih besar yang melibatkan lebih dari 6.000 pasien.
Temuan: Para peneliti menemukan bahwa penggunaan oksigen tambahan secara rutin pada pasien dengan dugaan MI yang tidak mengalami hipoksemia tidak mengurangi angka kematian 1 tahun atau risiko rawat inap ulang untuk MI lainnya. Pada dasarnya terbukti bahwa praktik tersebut tidak memberikan manfaat sama sekali.
3. Update Pedoman AHA/ESC
Setelah uji klinis ini, baik American Heart Association (AHA) maupun European Society of Cardiology (ESC) memperbarui pedoman resmi mereka.
Rekomendasi Saat Ini: Oksigen tambahan hanya direkomendasikan untuk pasien dengan saturasi oksigen arteri SpO2 < 90% (AHA) atau < 94% (ESC), atau mereka yang mengalami kesulitan bernapas.
Catatan: Ini merupakan perubahan besar dalam pengobatan darurat. Jika pasien bernapas dengan nyaman dengan SpO2 >94%, "dosis" oksigen terbaik hanyalah udara ruangan yang sudah mereka hirup.