Diet Pasca Kolesistektomi

Oleh :
dr.Vania Kusnaidi

Edukasi mengenai diet pasca kolesistektomi harus diberikan kepada pasien. Walaupun bukan organ vital, kantung empedu memiliki peran spesifik dalam proses pencernaan. Kolesistektomi merupakan terapi definitif pada kasus kolesistitis akut atau kolelitiasis bergejala. Pengangkatan kantung empedu pada prosedur kolesistektomi dapat menimbulkan perubahan pola pencernaan, metabolisme, dan status nutrisi pasien.[1,2]

Perubahan Fisiologi Pasca Kolesistektomi

Pasien kolesistitis akut dengan onset 72 jam dan pasien kolelitiasis dengan kolesistitis berulang terkadang membutuhkan tindakan kolesistektomi. Setiap hari, hati memproduksi 500‒1000 mL cairan empedu dan ditampung oleh kantung empedu. Pencernaan lemak sesungguhnya membutuhkan cairan empedu pada volume dan konsentrasi tertentu, hal ini diatur oleh kantung empedu. Pengangkatan kantung empedu menyebabkan sekresi empedu terus menerus langsung mengalir ke dalam duodenum.[1,2]

shutterstock_1138418525-min

Kondisi ini dapat menyebabkan perubahan pada motilitas saluran cerna dan mengakibatkan diare. Selain itu, jumlah cairan empedu yang dibutuhkan tidak akan tercapai sehingga pengosongan lambung berjalan lebih lambat. Kondisi ini dapat memicu gastritis akibat refluks gastroduodenal. Perubahan konsentrasi dan sekresi cairan empedu diduga juga dapat mengubah flora normal saluran cerna akibat efek sitotoksik dan oksidasi. Sehingga berdampak pada proses metabolisme, sistem imun, dan neurohormonal.[1-4]

Diet Khusus Pasca Kolesistektomi

Hingga saat ini belum terdapat pedoman nutrisi khusus untuk pasien yang sudah menjalani pengangkatan kantung empedu. Studi mengenai kebutuhan nutrisi spesifik pasien pasca kolesistektomi masih sangat terbatas.[1-3,5]

Secara umum, anjuran nutrisi menurut para ahli untuk pasien pasca kolesistektomi adalah:

  • Diet rendah lemak yang dapat ditingkatkan secara perlahan dalam kurun waktu beberapa bulan dengan melihat toleransi tiap individu
  • Peningkatan konsumsi serat untuk membantu mengikat cairan empedu sehingga dapat memperbaiki motilitas saluran cerna
  • Hindari konsumsi alkohol, kafein, minuman bersoda, coklat, makanan pedas, serta makanan dan minuman berbasis sitrus, tomat, dan mentol pada pasien yang mengalami gejala dispepsia fungsional
  • Pola makan sedikit tetapi sering untuk membantu mengurangi gejala akibat refluks gastroduodenal
  • Suplementasi oral prebiotik dan probiotik dapat dipertimbangkan untuk membantu mengembalikan flora normal saluran cerna
  • Suplementasi vitamin fat soluble A, D, E dan K tetap disarankan, walaupun tidak terdapat studi yang menyatakan bahwa pasien pasca kolesistektomi pasti mengalami defisiensi vitamin A, D, E dan K yang terlarut dalam lemak[1-3,5]

Terapi Farmakologis

Terapi farmakologis pada pasien yang mengalami keluhan pencernaan setelah prosedur kolesistektomi diberikan sesuai dengan keluhan dan gejala yang timbul. Terapi farmakologis yang dapat diberikan antara lain:

  • Loperamide untuk mengurangi motilitas saluran cerna pada pasien yang mengalami diare rekuren

  • Kolestiramin untuk menurunkan motilitas saluran cerna dengan mengikat cairan empedu pada pasien yang mengalami diare dengan tinja berlemak atau steatorrhea

  • Suplementasi fiber untuk mengurangi diare pada pasien yang kurang asupan serat oral
  • Antagonis H2 (cimetidine, ranitidine) atau penghambat pompa proton (omeprazole, lansoprazole) yang diberikan pada pasien dengan gejala dispepsia fungsional akibat refluks gastroduodenal[1-3]

Kesimpulan

Studi mengenai kebutuhan nutrisi pasien pasca kolesistektomi masih sangat terbatas, belum terdapat pedoman nutrisi khusus untuk pasien pasca kolesistektomi. Anjuran diet pasca kolesistektomi menurut para ahli berupa diet rendah lemak, tinggi serat, mengurangi kuantitas makanan dengan frekuensi yang lebih sering, serta menghindari makanan dan minuman yang dapat memicu peningkatan produksi asam lambung. Terapi farmakologis untuk pasien yang telah mengalami pengangkatan kantung empedu disesuaikan dengan keluhan dan gejala. Keluhan yang paling sering timbul adalah diare dan dispepsia. Pada pasien pasca kolesistektomi dengan keluhan diare, pilihan terapi yang dapat diberikan adalah loperamide, kolestiramin dan suplementasi fiber. Pilihan terapi untuk pasien dengan gejala dispepsia fungsional adalah antagonis H2 dan penghambat pompa proton.

 

Referensi