Pedoman Diet Garam Natrium pada Hipertensi

Oleh :
dr. Wendy Damar Aprilano

Pedoman diet untuk pasien hipertensi menyarankan pembatasan garam natrium untuk membantu kontrol tekanan darah. Akan tetapi, studi menunjukkan bahwa tidak semua orang memiliki respons yang sama terhadap pengaturan diet garam untuk mengontrol tekanan darah, sehingga berbagai faktor perlu diperhatikan ketika menganjurkan diet garam natrium pada pasien hipertensi.

Selama jutaan tahun, manusia purba mengonsumsi garam hanya dari daging buruan dan sayuran, sehingga mereka hanya mengonsumsi garam <1 gram per hari. Namun, seiring perkembangan zaman, terjadi peningkatan konsumsi makanan yang diproses menggunakan garam, sehingga rata-rata manusia modern mengonsumsi 9–12 gram garam per hari. Akibatnya, penyakit yang timbul akibat konsumsi garam berlebihan pun mulai meningkat, salah satunya hipertensi.[1-3]

Hubungan Garam Natrium dan Hipertensi 

Garam natrium atau natrium klorida (NaCl) mengandung 40% natrium dan 60% klorida. Garam ini bekerja sebagai elektrolit yang memengaruhi fungsi fisiologis sel otot maupun saraf, membantu transpor aktif membran sel, dan mengatur tekanan darah.[1-3]

Kurangnya garam natrium dapat memicu resistensi insulin, memengaruhi kadar lemak dalam darah, dan meningkatkan aktivitas renin plasma. Sebaliknya, kelebihan konsumsi garam natrium dapat meningkatkan tekanan darah, yang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan gangguan ginjal.[1-3]

Peran garam natrium dari diet (dietary sodium) dalam patofisiologi hipertensi diduga melibatkan berbagai faktor, termasuk faktor neurohormonal, genetik, lingkungan, dan metabolik. Namun, mekanisme yang banyak diyakini menghubungkan konsumsi garam natrium dan peningkatan tekanan darah adalah peningkatan retensi natrium ginjal.[1-3]

Garam natrium berperan sebagai pengatur keseimbangan cairan tubuh. Peningkatan konsumsi garam natrium menyebabkan retensi natrium dan air di ginjal, yang akhirnya menyebabkan peningkatan tekanan darah. Konsumsi garam natrium yang tinggi juga dapat menyebabkan denervasi baroreseptor arteri, interupsi saraf afferen ginjal, dan reaktivitas vaskular.[1-3]

Selain itu, beberapa fenotip genetik ditemukan memiliki sensitivitas terhadap garam natrium. Pasien dengan disposisi genetik ini mengalami peningkatan tekanan darah >7 mmHg jika mengonsumsi diet tinggi garam natrium bila dibandingkan diet rendah garam natrium. Namun, hal ini masih dalam tahap penelitian, sehingga penanda genetik belum tersedia untuk digunakan dalam setting klinis.[1]

Rekomendasi Diet Garam Natrium

Tiap negara memiliki referensi jumlah asupan harian natrium yang bervariasi. Dietary Guideline for Americans tahun 2015–2020 merekomendasikan konsumsi garam natrium untuk dewasa dibatasi agar <2,3 gram per hari.[1,2]

WHO sendiri merekomendasikan konsumsi garam natrium <2 gram per hari untuk orang dewasa. Namun, saat ini jumlah konsumsi garam natrium di berbagai negara di seluruh dunia dilaporkan hampir 2 kali lipat dari jumlah yang direkomendasikan WHO, yakni 3,95 gram per hari. Jumlah konsumsi garam natrium paling tinggi ada di benua Asia, yaitu sekitar 5,51 gram per hari.[1,2]

Indonesia sendiri, berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 28 tahun 2019 mengenai Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan untuk masyarakat Indonesia, menganjurkan agar konsumsi natrium per orang tiap harinya disesuaikan dengan usia dan jenis kelamin masing-masing. Rekomendasi konsumsi natrium harian di Indonesia dilampirkan dalam tabel di bawah.[4]

Tabel 1. Rekomendasi Konsumsi Natrium Harian di Indonesia

Kelompok umur Kebutuhan natrium (gram)
Bayi dan anak
0–5 bulan 0,12 (didapat dari ASI eksklusif)
6–11 bulan 0,37
1–3 tahun 0,8
4–6 tahun 0,9
7–9 tahun 1
Laki-laki
10–12 tahun 1,3
13–15 tahun 1,5
16–18 tahun 1,7
19–29 tahun 1,5
30–49 tahun 1,5
50–64 tahun 1,3
65–80 tahun 1,1
>80 tahun 1
Perempuan
10–12 tahun 1,4
13–15 tahun 1,5
16–18 tahun 1,6
19–29 tahun 1,5
30–49 tahun 1,5
50–64 tahun 1,4
65–80 tahun 1,2
>80 tahun 1

Sumber: Kementerian Kesehatan RI, 2019.

Panduan Diet Garam Natrium untuk Pasien Hipertensi

Dalam Konsensus Penatalaksanaan Hipertensi 2019 yang dibuat oleh Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia, penatalaksanaan efektif untuk mengendalikan tekanan darah dinyatakan mencakup modifikasi gaya hidup, salah satunya dengan membatasi konsumsi garam natrium. Konsumsi garam natrium direkomendasikan tidak >2 gram per hari, yang setara dengan 5–6 gram NaCl per hari atau sekitar 1 sendok teh garam dapur.[5]

Penderita hipertensi sebaiknya bekerja sama dengan ahli gizi untuk menyusun pola diet yang terbaik bagi mereka. Secara umum, diet yang sering direkomendasikan bagi penderita hipertensi adalah Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH). Diet ini lebih menganjurkan konsumsi buah, sayuran, dan beberapa jenis biji-bijian daripada konsumsi makanan tinggi lemak jenuh, produk dengan pemanis buatan, dan makanan dengan kadar gula tinggi. Makanan lain yang dianjurkan adalah produk rendah lemak atau bebas lemak, ikan, kacang-kacangan, hingga minyak tumbuhan.[1-3,5]

Berdasarkan program DASH, konsumsi garam natrium dianjurkan <2,3 gram per  hari untuk mengontrol tekanan darah. Hasil studi menunjukkan bahwa bila dibandingkan dengan diet tinggi natrium, DASH menghasilkan penurunan tekanan darah sebesar 7,1 mmHg pada orang tanpa hipertensi dan penurunan tekanan darah sebesar 11,5 mmHg pada orang dengan hipertensi.[1-3,5]

Kesimpulan

Konsumsi garam natrium telah terbukti memengaruhi tekanan darah. Garam natrium berperan dalam berbagai fungsi fisiologis tubuh, termasuk pengaturan keseimbangan air dan elektrolit. Peningkatan konsumsi garam natrium meningkatkan retensi cairan di ginjal, menyebabkan denervasi baroreseptor arteri, memicu interupsi saraf afferen ginjal, dan menyebabkan reaktivitas vaskular. Semua hal ini berperan dalam terjadinya hipertensi.

Secara umum, WHO merekomendasikan konsumsi garam natrium <2 gram per hari. Rekomendasi ini serupa dengan anjuran dalam program Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH), yang menyarankan pasien hipertensi untuk mengonsumsi garam natrium <2,3 gram per hari guna mengontrol tekanan darah. Hasil studi menunjukkan bahwa DASH menghasilkan penurunan tekanan darah sebesar 7,1 mmHg pada orang tanpa hipertensi dan penurunan tekanan darah sebesar 11,5 mmHg pada orang dengan hipertensi.

 

 

Direvisi oleh: dr. Irene Cindy Sunur

Referensi