Dampak Konsumsi Probiotik terhadap Gejala Depresi – Telaah Jurnal

Oleh :
dr. Zuhrotun Ulya, Sp.KJ, M.H.

A Double-blind, Randomized, Placebo-controlled Trial of Lactobacillus helveticus and Bifidobacterium longum for the Symptoms of Depression

Romijn AR, Rucklidge JJ, Kuijer RG, Frampton C. The Australian and New Zealand Journal of Psychiatry. 2017;51(8):810-821. PMID: 28068788

Abstrak

Objektif: Penelitian ini menginvestigasi kemampuan probiotik untuk memperbaiki mood, stress, dan kecemasan pada sejumlah subjek terpilih dengan kondisi mood yang buruk. Peneliti juga menguji apakah keberadaan atau keparahan gejala irritable bowel syndrome, level sitokin proinflamasi, level brain-derived neurotrophic factor, dan level penanda darah yang lain dapat memprediksi atau memengaruhi respons terapi.

Metode: Partisipan sejumlah 79 orang (10 di antaranya drop-out) yang sedang tidak menggunakan obat psikotropik dan yang memiliki skor moderat dalam laporan mood mandiri diberikan sediaan probiotik atau plasebo secara acak. Sediaan probiotik berisi Lactobacillus helveticus dan Bifidobacterium longum. Uji double-blind dilakukan selama 8 minggu. Data dianalisis sebagai intent-to-treat.

Hasil: Tidak ada perbedaan signifikan antara kelompok probiotik dan plasebo dalam hal luaran psikologis (Cohen’s d range = 0.07–0.16) maupun biomarker darah. Pada evaluasi akhir, 9 partisipan (23%) yang menggunakan probiotik memiliki perubahan skor Montgomery-Asberg Depression Rating Scale ≥60% dibandingkan 10 partisipan (26%) dalam kelompok plasebo (ꭕ12=0.107, p=ns).

Level vitamin D baseline ditemukan dapat memoderasi efek terapi pada beberapa luaran yang diperiksa. Keluhan bibir kering dan gangguan tidur lebih banyak ditemukan pada grup plasebo.

Kesimpulan: Penelitian ini tidak mendapatkan bukti bahwa formulasi probiotik efektif untuk memperbaiki mood yang buruk maupun memoderasi level biomarker inflamasi dan biomarker lain. Kurangnya efektivitas terhadap mood mungkin disebabkan oleh keparahan, kronisitas gejala, atau resistensi terhadap pengobatan pada diri partisipan.

Hasil penelitian mungkin akan berbeda jika partisipan yang direkrut adalah orang yang belum pernah menerima antidepresan dan yang mengalami low mood ringan dan akut. Studi di masa depan yang menggunakan pendekatan preventif atau menggunakan probiotik sebagai terapi adjuvan juga mungkin akan lebih efektif.

Tingkat vitamin D juga harus dimonitor dalam studi yang akan datang. Hasil dalam studi ini bersifat preliminary, sehingga penelitian di masa datang masih perlu dilakukan.[1]

 shutterstock_710220613

Ulasan Alomedika

Bukti medis dari beberapa studi yang ada saat ini menunjukkan bahwa depresi mungkin berhubungan dengan gangguan mikrobiota usus, peningkatan inflamasi, dan penyakit usus seperti inflammatory bowel disease.

Probiotik diketahui dapat memoderasi mikrobiota usus, mengurangi sitokin proinflamasi, dan mengurangi stres oksidatif, sehingga diperkirakan dapat membantu memperbaiki gejala depresi. Namun, bukti medis yang ada selama ini mayoritas masih berasal dari studi pada hewan, sehingga penelitian ini bertujuan untuk menguji hipotesis ini secara langsung pada manusia.

Ulasan Metode Penelitian

Partisipan yang diikutkan dalam studi adalah partisipan yang memiliki gangguan mood, yakni yang memiliki skor Quick Inventory of Depressive Symptomatology (QIDS-SR16) ≥11 atau skor Depression, Anxiety and Stress Scale (DASS-42) ≥14 pada subskala depresi. Hal ini menjadi keunggulan tersendiri bagi studi ini, karena studi pada manusia sebelumnya mayoritas melibatkan orang yang sehat.

Partisipan yang diinklusi adalah pasien yang sudah tidak menggunakan obat psikotropik apapun selama minimal 4 minggu sebelum penelitian. Namun, beberapa pasien dalam grup intervensi yang menerima probiotik ternyata telah memiliki riwayat konsumsi obat psikotropik sebelumnya. Mengingat pasien-pasien ini telah mengonsumsi psikotropik tetapi masih memiliki low mood, ada kemungkinan bahwa pasien-pasien ini memang merupakan golongan yang resisten terhadap terapi.

Formulasi probiotik yang digunakan dalam studi ini adalah Lactobacillus helveticus dan Bifidobacterium longum. Hasil studi mungkin akan berbeda pada jenis probiotik yang berbeda, kombinasi bakteri yang berbeda, dan jumlah bakteri yang berbeda.

Ulasan Hasil Penelitian

Hasil studi ini tidak menemukan bukti yang adekuat tentang dampak positif konsumsi probiotik pada gejala depresi. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh beberapa hal.

Pertama, partisipan dalam studi ini mengonsumsi probiotik selama 8 minggu. Durasi ini dipilih karena hasil dari suatu studi terdahulu melaporkan bahwa partisipan yang mengonsumsi probiotik sebagai terapi adjuvan terhadap citalopram selama 8 minggu mengalami perbaikan mood. Namun, karena dalam studi ini probiotik adalah terapi utama dan bukan adjuvan terhadap obat tertentu, durasi yang dibutuhkan untuk mencapai efek terapeutik mungkin lebih panjang.

Kedua, jumlah sampel dalam penelitian ini terbilang kecil, sehingga hasil studi mungkin bersifat underpowered. Studi lebih lanjut dengan jumlah sampel yang lebih besar mungkin akan memberikan hasil yang lebih signifikan.

Ketiga, tingkat keparahan dan kronisitas gangguan mood yang dialami juga mungkin berpengaruh pada hasil studi. Partisipan yang terlibat dalam studi ini mayoritas memiliki Montgomery-Asberg Depression Rating Scale yang terbilang tinggi dalam rentang moderat dan mayoritas (70%) telah mengalami gejala ini secara kronik, yakni lebih dari 2 tahun. Probiotik mungkin lebih efektif pada gangguan mood yang lebih ringan dan yang kurang kronik.

Kelebihan Penelitian

Penelitian ini merupakan salah satu studi pertama yang mempelajari efikasi probiotik pada perbaikan mood manusia. Beberapa penelitian sebelumnya hanya menggunakan hewan coba. Selain itu, penelitian ini juga mempelajari efikasi probiotik sebagai terapi utama bagi depresi dan bukan sebagai terapi adjuvan terhadap obat lain seperti pada penelitian sebelumnya. Penelitian ini juga melibatkan pasien dengan gangguan mood dan bukan pasien yang sehat tanpa gangguan mood signifikan.

Limitasi Penelitian

Keterbatasan penelitian ini adalah durasi intervensi yang cukup singkat (8 minggu) dan jumlah sampel yang cukup kecil, sehingga hasil mungkin bersifat underpowered. Selain itu, strain probiotik yang digunakan dalam penelitian ini telah ditentukan oleh pihak pemberi dana. Strain probiotik yang lain mungkin akan memberikan hasil yang berbeda.

Penelitian ini juga tidak menyertakan analisis diet dan mikrobiota usus partisipan sebelum memulai intervensi. Populasi mikrobiota usus yang berbeda mungkin akan memberikan pengaruh yang berbeda pula pada kemampuan kolonisasi probiotik.

Aplikasi Hasil Penelitian di Indonesia

Riset Kesehatan Dasar 2018 menyatakan bahwa gangguan depresi di Indonesia dapat muncul di setiap rentang usia. Gangguan depresi menjadi masalah kesehatan jiwa nomor satu sepanjang periode 1990–2017. Namun, kesadaran pasien untuk mencari bantuan profesional masih terkendala stigma, sulitnya akses ke layanan kesehatan, dan terbatasnya biaya.[2,3]

Distribusi produk-produk probiotik yang cukup luas dan profil keamanannya yang relatif baik sebenarnya membuat terapi ini menjadi salah satu prospek yang menarik. Namun, bukti medis yang ada tentang topik ini saat ini masih sangat inkonsisten dan inadekuat.

Tidak hanya dari studi ini, hasil studi lain dari Benton et al (2007) dan Rao et al (2009) juga menunjukkan tidak adanya perubahan signifikan pada depresi setelah konsumsi probiotik. Sementara itu, Messaoudi et al (2011) mendapatkan hasil signifikan pada perbaikan depresi, somatisasi, dan perilaku agresif setelah subjek penelitian diberikan probiotik. Inkonsistensi data ini menyebabkan probiotik belum dapat digunakan sebagai terapi depresi.[4,5]

Referensi