Pengelolaan Tinea Kapitis Karier Asimptomatik

Oleh :
dr.SK Sulistyaningrum, Sp.DVE, FINSDV, IFAAD

Penapisan dan pengobatan pada kasus tinea kapitis karier asimptomatik sering direkomendasikan, padahal bukti ilmiah yang mendukung hal tersebut masih belum jelas. Tinea kapitis merupakan infeksi jamur dermatofita pada area kepala. Gejala klinis tinea kapitis dapat bervariasi, mulai dari ringan hingga berat. Dalam kasus yang lebih berat, seperti kerion, tinea kapitis menyebabkan reaksi peradangan hebat yang dapat menyebabkan jaringan parut sehingga menimbulkan alopecia permanen.[1,2]

Transmisi Tinea Kapitis

Kelompok dermatofita yang dapat menyebabkan tinea kapitis meliputi Trichophyton sp., Epidermophyton sp. dan Microsporum sp. Pada tinea kapitis, jamur patogen dapat menyerang batang rambut hingga folikel rambut. Kondisi ini sering dialami oleh anak-anak.[3]

Pengelolaan Tinea Kapitis Karier Asimptomatik-min

Transmisi dermatofita antropofilik dapat terjadi secara langsung dari manusia ke manusia ataupun tidak langsung melalui benda-benda seperti sisir, handuk, topi, dan tudung kepala. Transmisi tidak langsung lebih dominan terjadi karena dermatofita menularkan terutama melalui sel kulit dan rambut yang terinfeksi. Penularan secara zoofilik jarang terjadi.[1-4]

Penyebaran kasus tinea kapitis dapat terjadi di sekolah, rumah tangga, atau di tukang potong rambut. Menghindari kontak fisik dan kebiasaan penggunaan bersama benda pribadi seperti sisir, topi, handuk, dan aksesoris rambut diperlukan. Selain itu, fasilitas dan prasarana yang digunakan bersama, seperti area sofa, bantal, dan tempat tidur, perlu dijaga kebersihannya dengan diganti, dicuci, atau divakum secara berkala. Salon yang menggunakan gunting atau sisir perlu rutin membersihkan alat untuk menghindari penyebaran.[1,5-7]

Tinea Kapitis Karier Asimptomatik

Tinea kapitis dapat muncul dalam bentuk infeksi minimal bahkan tanpa gejala, yang disebut carrier state atau karier asimptomatik. Pasien tinea kapitis karier asimptomatik tidak memiliki tanda atau gejala tinea kapitis, akan tetapi memiliki hasil pemeriksaan mikrobiologi yang positif dermatofita, baik dengan kalium hidroksida (KOH) kerokan kulit maupun kultur kulit kepala.[1,5]

Meskipun individu dengan tinea kapitis karier asimptomatik menampilkan kondisi kulit kepala yang tampak sehat, namun keberadaannya memainkan peran dalam penyebaran dan persistensi tinea kapitis simptomatik. [1,6]

Faktor Risiko Tinea Kapitis Karier Asimptomatik

Secara garis besar, faktor risiko tinea kapitis karier asimptomatik mirip dengan tinea kapitis pada umumnya. Kontak erat, seperti tidur bersama atau berbagi produk dan alat perawatan rambut, merupakan faktor penting dalam penularan jamur dermatofita. Selain itu, seseorang dapat menjadi tinea kapitis karier asimptomatik jika mengalami infeksi jamur di tempat lain di tubuh, misalnya tinea unguium.[1,5,6]

Pendekatan Pengelolaan Tinea Kapitis Karier Asimptomatik

Identifikasi kasus tinea kapitis karier asimptomatik dapat dilakukan dengan pengambilan sampel untuk verifikasi adanya dermatofita. Pada pasien dengan tinea karier asimptomatik, tidak terjadi invasi pada batang rambut, sehingga pemeriksaan mikroskopis langsung dari akar rambut tidak diperlukan. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan menyisir kulit kepala dengan sisir plastik yang dapat menarik partikulat jamur. Sampel yang diambil dapat diperiksa di mikroskop atau dilakukan kultur.[1]

Manajemen Konservatif dengan Observasi Saja

Pasien tinea kapitis karier asimptomatik dapat diobservasi saja tanpa menjalani terapi. Telah ada studi yang melaporkan bahwa pendekatan ini efektif menghasilkan kesembuhan mikologi (mycological cure), namun ada risiko peningkatan keparahan.[1]

Terapi Topikal

Terapi antijamur topikal dapat diberikan pada pasien tinea kapitis karier asimptomatik. Sampo ketoconazole yang digunakan 2 kali seminggu telah dilaporkan memiliki angka kesembuhan 100%. Selain itu, dapat digunakan sampo povidone iodine 2 kali seminggu selama 3 minggu. Sampo didiamkan 15 menit sebelum akhirnya dibilas.

Perlu dicatat bahwa studi yang mengevaluasi efikasi terapi antijamur topikal pada kasus kapitis karier asimptomatik merupakan studi yang sudah sangat lama dan memiliki jumlah sampel yang sangat kecil.[1]

Terapi Sistemik

Terapi sistemik yang telah dilaporkan efektif adalah penggunaan griseofulvin 7–22 mg/kg sehari selama 4-8 minggu. Studi menunjukkan angka kesembuhan sebesar 23%. Belum ada studi adekuat yang membandingkan secara langsung terapi sistemik dengan terapi topikal ataupun plasebo.[1]

Basis Bukti Ilmiah untuk Pendekatan Tata Laksana Terbaik Masih Sangat Minim

Perlu diketahui bahwa hingga kini masih tidak ada basis bukti adekuat mengenai pendekatan terapi terbaik untuk pasien dengan tinea kapitis karier asimptomatik. Kebanyakan bukti ilmiah yang tersedia merupakan studi yang sudah sangat lama dan memiliki jumlah sampel yang kecil. Kebanyakan studi tersebut juga bukan merupakan uji klinis acak terkontrol plasebo.

Di lain pihak, perjalanan alami dari tinea kapitis karier asimptomatik masih belum diketahui dengan jelas. Studi yang tersedia melaporkan angka resolusi spontan dalam 6 bulan dalam rentang yang sangat luas, yaitu 37-86%. Begitu pula angka mengenai risiko perkembangan menjadi tinea kapitis simptomatik (2-37%) dan karier persisten (25-36%).

Semua hal ini menimbulkan pertanyaan penting tentang perlunya pengobatan karena sebagian kasus mengalami resolusi tanpa intervensi. Tidak diberikannya intervensi tentu akan menghilangkan risiko efek samping bagi individu, tetapi tetap ada risiko penularan ke individu lain.[1]

Kesimpulan

Basis bukti ilmiah yang tersedia saat artikel ini diterbitkan masih belum cukup untuk memandu apakah tinea kapitis karier asimptomatik perlu diterapi atau tidak. Uji klinis acak terkontrol plasebo dengan penyamaran dan jumlah sampel yang besar diperlukan untuk mengetahui apakah tinea kapitis karier asimptomatik memerlukan intervensi atau tidak.

Beberapa studi terdahulu dengan kekuatan bukti rendah-sedang melaporkan berbagai pendekatan terapi yang dapat dipilih, antara lain cukup diobservasi tanpa pengobatan medikamentosa, diberikan terapi antijamur topikal dengan sampo ketoconazole atau povidone iodine, serta diterapi antijamur sistemik dengan griseofulvin.

Referensi