Antibiotik untuk Penyakit Gigi dan Mulut dan Infeksi Clostridium difficile

Oleh dr. Nathania S.

Infeksi Clostridium difficile banyak disebabkan oleh penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dengan indikasi dan dosis. Pemberian antibiotik dalam dunia kedokteran gigi ditemukan menjadi salah satu penyebab terjadinya efek samping ini.

Clostridium difficile merupakan bakteri gram positif anaerob yang merupakan kuman patogen usus dapat sering menyebabkan diare. Faktor risiko yang penting dalam menyebabkan infeksi C. difficile adalah adanya penggunaan antibiotik, antara lain: ampisilin, amoxicillin, sefalosporin, klindamisin dan fluorokuinolon[1]. Kejadian infeksi C. difficile di Indonesia sendiri jarang dilaporkan, kemungkinan karena kesalahan pada diagnosis. Di Filipina, pasien dengan colitis hampir seluruhnya didiagnosis akibat amoeba. Pada kenyataanya, 43.6% colitis disebabkan oleh C. difficile[2].

Depositphotos_63054597_m-2015_compressed

Di Amerika, dari 1626 penderita Community acquired C. difficile infection (CA CDI), 57% pasien ini diberikan antibiotik. Dari kelompok yang diberikan antibiotik, 15% pasien diberikan atas indikasi prosedur dental. 34% pasien yang mendapat antibiotik untuk prosedur dental tidak tercatat dalam rekam medis (diketahui melalui wawancara). Sehingga, perlu kewaspadaan terhadap pemberian antibiotik yang diberikan untuk prosedur ini[3].

Tahun 2013 di Inggris tercatat bahwa 68.2% preskripsi yang dikeluarkan oleh dokter gigi adalah antibiotik[4]. Di salah satu provinsi di Kanada, 11.3% peresepan antibiotik adalah dari dokter gigi. Meskipun dokter menempati proporsi terbesar peresepan antibiotik, tetapi tren pemberian antibiotik turun secara signifikan sebanyak 18.2% dari tahun 1996 sampai 2013 (p < 0.001) pada peresepan oleh dokter. Sebaliknya, terdapat kenaikan tren pemberian antibiotik sebanyak 62.2% dalam rentang waktu ini (p < 0.0001). Tahun 2013, antibiotik yang paling sering digunakan dalam kedokteran gigi adalah amoksisilin dan klindamisin[5].

Pengunaan antibiotik yang tidak tepat dalam hal dosis dan indikasi apat menyebabkan perubahan pada keseimbangan ekosistem flora normal usus yang memungkinkan tumbuhnya C. dificille yang mengeluarkan racun pada saluran cerna dan menyebabkan peradangan[3].

Salah satu masalah yang dijelaskan oleh dr. Stacey Holzbauer, seorang ahli kesehatan masyarakat, bahwa sering kali dokter tidak menanyakan apakah adanya penggunaan antibiotik untuk prosedur dental pada pasien saat melakukan anamnesis. Selain itu menurut beliau, dokter gigi diduga kurang waspada terhadap bahaya dari antibiotik dan tidak melakukan edukasi kepada pasien terkait dengan efek sampingnya. Terlebih lagi tidak ada feedback yang diberikan ke dokter gigi mengenai hal ini. Contohnya tidak ada yang kembali ke dokter gigi bila terkena diare (efek samping antibiotik)[6].

Dapat dikatakan bahwa penggunaan antibiotik oleh dokter gigi adalah bersifat empiris atau spektrum luas karena dokter gigi jarang ditemukan menggunakan fasilitas kultur kuman yang dapat membunuh kuman dengan lebih spesifik[3].

Secara ideal, pemberian antibiotik untuk prosedur dental sebaiknya berdasarkan:

  • diagnosis yang tepat
  • diindikasikan untuk infeksi bakteri, dan
  • sesuai dengan panduan terbaru dari organisasi profesi atau sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.

Bila tidak terdapat tanda atau gejala klinis adanya penyebaran infeksi sistemik, sebaiknya prosedur pembedahan lokal lebih dipertimbangkan dibandingkan antibiotik. Prinsip ini dapat diterapkan pada tata laksana penyakit abses periapikal. Penyakit ini merupakan penyakit yang dalam kenyataannya paling banyak dalam penggunaan antibiotik pada kedokteran gigi[3,4].

Praktik pemberian antibiotik yang tidak sesuai dengan panduan yang terbaru juga merupakan salah satu faktor risiko terjadinya infeksi terkait C. difficile. Perubahan preferensi dari antibiotik lini pertama yang tidak berdasarkan temuan klinis dan diagnosis yang sesuai memungkinkan adanya peningkatan pada penggunaan antibiotik lini kedua di masa yang akan datang, penggunaan antibiotik ganda, atau peningkatan durasi pengobatan dengan antibiotik sehingga meningkatkan resiko terjadinya kasus CA CDI dan peningkatan resistensi antibiotik[3].

Peran Dokter dan Dokter Gigi

Berdasarkan prinsip etik kedokteran, maka yang harus dilakukan dokter gigi dan seluruh dokter untuk mencegah terjadinya CA CDI mengacu kembali pada prinsip beneficience (keuntungan terbaik untuk pasien) dan non-maleficience (prinsip do no harm). Pemberian antibiotik pada kondisi yang sebenarnya tidak perlu dapat dikatakan melanggar dua prinsip ini karena selain keuntungannya dipertanyakan, juga dapat menyebabkan pasien berada dalam risiko CA CDI[3].

Terdapat beberapa laporan kasus mengenai komplikasi dari pemberian obat-obatan pada prosedur kedokteran gigi yang merugikan pasien[7,8]. Diare yang terkait dengan infeksi C. difficile merupakan masalah yang serius dan dapat mengancam jiwa. Oleh karena itu, sebaiknya dokter dan dokter gigi dapat meningkatkan kesadaran akan hal ini sebagai salah satu efek samping dari antibiotik.

Kembali pada prinsip risk and benefit dari sebuah strategi pengobatan, pemberian antibiotik pada prosedur dental juga harus mempertimbangkan hal tersebut. Benefit yang dapat kita harapkan disesuaikan dengan panduan terkini dari organisasi profesi atau sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Salah satu contohnya, pada tahun 2008 panduan NICE tidak merekomendasikan perlunya penggunaan antibiotik profilaksis pada prosedur dental untuk mencegah terjadinya endokarditis infektif[9].

Oleh karena itu, dokter gigi (dan dokter secara umum) disarankan untuk memberikan antibiotik sesuai dengan indikasi dan dosis berdasarkan panduan terbaru, mempertimbangkan risk and benefit dari pemberian antibiotik dan memberikan edukasi kepada pasien terkait efek samping dari penggunaan antibiotik tersebut[3].

Tidak hanya dokter gigi, semua kalangan termasuk dokter dan pelaksana regulasi terkait kesehatan di Indonesia harus sadar dan melakukan aksi untuk mengurangi efek samping dari antibiotik ini. Salah satu contohnya, meskipun tidak terdokumentasi, ada kenyataan bahwa antibiotik dapat didapatkan oleh orang awam di apotek tanpa resep dokter. Hal ini tentu membawa dampak kepada efek samping dari antibiotik.

Kesimpulan

  • Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai indikasi dan/atau dosis merupakan faktor risiko terjadinya infeksi terkait Clostridium difficile, salah satunya CA CDI (Community acquired C. difficile infection)
  • Meskipun antibiotik paling banyak diresepkan oleh dokter, tetapi terjadi penurunan tren yang signifikan peresepan antibiotik ini di kalangan dokter dan sebaliknya terjadi peningkatan tren yang signifikan di kalangan dokter gigi
  • Menurut pendapat seorang ahli, dokter gigi diduga kurang waspada terhadap bahaya dari antibiotik dan kurang melakukan edukasi kepada pasien terkait dengan efek sampingnya serta terlebih lagi, tidak ada feedback yang diberikan ke dokter gigi dari pasiennya mengenai hal ini.
  • Dokter yang bukan dokter gigi sebaiknya tidak lupa untuk menanyakan riwayat pengobatan antibiotik oleh dokter gigi pada anamnesis riwayat pengobatan karena hal ini kemungkinan sering terlupa.
  • Bila tidak terdapat tanda atau gejala klinis adanya penyebaran infeksi sistemik, sebaiknya prosedur pembedahan lokal lebih dipertimbangkan dibandingkan antibiotik.
  • Perubahan preferensi dari antibiotik lini pertama (tidak sesuai panduan) yang tidak berdasarkan temuan klinis dan diagnosis yang sesuai memungkinkan peningkatan resiko terjadinya kasus CA CDI dan resistensi antibiotik.
  • Pemberian antibiotik pada kondisi yang sebenarnya tidak perlu dapat dikatakan melanggar dua prinsip etik kedokteran (beneficience dan non-maleficiance) karena selain keuntungannya dipertanyakan, juga dapat menyebabkan pasien berada dalam risiko seperti CA CDI.
  • Kembali pada prinsip risk and benefit dari sebuah strategi pengobatan, pemberian antibiotik pada prosedur dental juga harus mempertimbangkan hal tersebut.
  • Dokter gigi (dan dokter secara umum) disarankan untuk memberikan antibiotik sesuai dengan indikasi dan dosis berdasarkan panduan terbaru dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, mempertimbangkan risk and benefit dari pemberian antibiotik dan memberikan edukasi terkait efek samping dari penggunaan antibiotik tersebut.
  • Tidak hanya dokter gigi, semua kalangan termasuk dokter dan pelaksana regulasi terkait kesehatan di Indonesia harus sadar dan melakukan aksi untuk mengurangi efek samping dari antibiotik ini.

 

Referensi