Pemberian antibiotik profilaksis sebelum tindakan dental seperti cabut gigi cukup luas digunakan. Namun, saat ini penggunaannya menjadi lebih restriktif dan terutama dianjurkan hanya pada pasien dengan risiko tinggi. Selain itu, manfaat antibiotik profilaksis tidak selalu konsisten pada semua pasien serta penggunaannya juga perlu lebih berhati-hati karena risiko resistensi antibiotik.[1-3]
Meta analisis tahun 2026 mengevaluasi efektivitas antibiotik profilaksis pada prosedur dental, yang memasukkan 10 randomized controlled trials (RCT) dengan desain yang sebagian besar double-blind dan placebo-controlled serta mencakup berbagai prosedur seperti pencabutan gigi, operasi molar, dan pemasangan implan.[11]
Studi melibatkan ribuan subjek, dengan hasil analisis menunjukkan bahwa manfaat antibiotik profilaksis masih terbatas dan tidak konsisten pada berbagai luaran klinis, sehingga penggunaannya perlu dipertimbangkan secara selektif sesuai risiko pasien.[11]
Tujuan Penggunaan Antibiotik Profilaksis pada Prosedur Dental
Pemberian antibiotik profilaksis merupakan hal yang selama ini rutin dilakukan oleh dokter gigi. Hal ini ditujukan untuk mencegah infeksi lokal dan bakteremia odontogenik yang dapat menyebabkan endokarditis infektif ataupun infeksi sendi prosthesis atau osteoarticular prosthesis infection (OAPI).[1,4]
Pencegahan Infeksi Lokal
Antibiotik profilaksis umumnya diberikan sebelum dan sesudah beberapa prosedur dental untuk mencegah infeksi lokal. Studi menunjukkan bahwa prevalensi infeksi sangat rendah. Tidak terdapat bukti klinis yang signifikan mengenai keuntungan pemberian antibiotik profilaksis. Prosedur-prosedur dental tetap dapat dilakukan dengan hasil sama baiknya meskipun tanpa profilaksis antibiotik.
Pemberian antibiotik profilaksis tidak dianjurkan untuk dilakukan secara rutin pada seluruh pasien, tetapi tetap dapat diberikan pada pasien-pasien risiko tinggi yang menjalani prosedur dental invasif. Prosedur dental yang umumnya mendapatkan profilaksis antibiotik adalah impaksi molar ketiga, bedah orthognathic, pembedahan periapikal, pembedahan tumor benigna, dan pemasangan implant.
Pemberian antibiotik profilaksis 1 jam pre-prosedur saja dinilai sudah cukup untuk mencegah infeksi. Antibiotik pasca tindakan dapat diberikan apabila terdapat tanda-tanda infeksi lokal dan demam.[4,6,7]
Pencegahan Injeksi Sendi Prostesis
Antibiotik profilaksis umumnya juga diberikan dengan tujuan mencegah OAPI. Studi terbaru menunjukkan bahwa hal ini tidak perlu dilakukan. Hal ini dikarenakan insidensi OAPI tergolong sangat rendah, OAPI terjadi hanya pada 1% operasi hip replacement dan 2% operasi knee replacement, di mana 30% kasus terjadi karena penyebaran hematogen dari traktus urinarius. Sementara itu, hubungan antara infeksi dental dan OAPI masih dipertanyakan.
Studi epidemiologis menunjukkan bahwa tidak terdapat kenaikan insidensi OAPI meskipun profilaksis antibiotik pada prosedur dental tidak diberikan. Pemberian antibiotik profilaksis juga tidak memiliki efek yang signifikan dalam menurunkan angka OAPI.[1,3,8]
Oleh karenanya, pemberian antibiotik profilaksis pada prosedur dental untuk mencegah OAPI tidak dianjurkan diberikan secara rutin. Lebih disarankan untuk menjaga higiene orodental yang dapat mengurangi risiko OAPI hingga 30%. Antibiotik profilaksis dapat diberikan bila terdapat indikasi, misalnya untuk pasien immunocompromised dan peresepan sebaiknya diberikan oleh dokter ortopedi terkait.[1,2,8]
Pencegahan Endokarditis Infektif
Endokarditis infektif merupakan penyakit yang cukup jarang terjadi, tetapi tingkat mortalitas nya mencapai 40%. Sebanyak 40% kasus endokarditis infektif disebabkan oleh infeksi Streptococcus, sehingga pemberian antibiotik profilaksis kerap kali dilakukan untuk mencegah endokarditis infektif, terutama pada prosedur-prosedur dental.
Namun demikian, studi-studi yang ada menunjukkan bahwa hubungan antara prosedur dental dan endokarditis infektif sangat minimal dan tidak cukup kuat untuk dijadikan dasar pemberian antibiotik profilaksis secara rutin.
Studi kohort pada 138.876 pasien menunjukkan insidensi endokarditis infektif karena infeksi oral adalah 93,7 per 100.000 orang. Angka ini cukup kecil dan tidak terdapat perbedaan yang cukup signifikan pada kelompok yang mendapatkan profilaksis antibiotik (RR = 1,25) dan tidak (RR = 1,57).[5,9]
Oleh karena hal ini, pemberian antibiotik profilaksis secara rutin tidak lagi direkomendasikan. Antibiotik profilaksis dapat diberikan pada tindakan dental invasif dan pasien risiko tinggi (seperti yang dijelaskan di bawah). Higiene rongga oral dan kontrol gigi rutin juga dapat mencegah endokarditis infektif dengan baik.[1,2,5,9]
Rekomendasi Pemberian Antibiotik Profilaksis dalam Prosedur Dental
Berdasarkan rekomendasi American Association of Endodontist tahun 2017, pemberian antibiotik profilaksis tetap dibenarkan pada tindakan dental tertentu untuk pasien-pasien risiko tinggi. Antibiotik profilaksis diberikan pre-prosedur yang melibatkan manipulasi jaringan gingiva, periapikal gigi, atau perforasi mukosa oral.[2]
Pasien-pasien yang harus mendapatkan antibiotik profilaksis adalah:
- Pasien dengan katup jantung prosthesis, termasuk implant transkateter dan homograft
Transplantasi jantung dengan regurgitasi katup karena abnormalitas struktur katup
- Penyakit jantung bawaan (PJB) sianotik yang belum ditangani atau PJB pasca terapi dengan regurgitasi valvular atau shunting residual
- Penggunaan material prostetik untuk memperbaiki katup jantung, seperti ring anuloplasti dan korda
- Riwayat endokarditis infektif
Antibiotik profilaksis dapat dipertimbangkan untuk diberikan pada pasien-pasien berikut ini:
- Riwayat infeksi sendi prosthesis
- Imunodefisiensi
- Pasien dalam pengobatan imunosupresan
- Pasien diabetes tidak terkontrol
- Pasien dengan drainase atau hematoma karena operasi sendi
- Pasien artritis rematik dan sistemik lupus eritematosis
- Pasien dengan risiko osteonekrosis rahang.[1,2,5]
Pada pasien-pasien dengan riwayat operasi sendi, antibiotik profilaksis hanya dapat diberikan setelah konsultasi dengan spesialis ortopedi. Apabila antibiotik dinilai diperlukan, peresepan sebaiknya diberikan dari bagian ortopedik.[1,2]
Antibiotik profilaksis tidak diperlukan pada tindakan-tindakan berikut ini:
- Injeksi anestetik rutin pada jaringan non-infektif
- Radiografi dental
- Pemasangan alat prostodontik atau ortodontik
- Pemasangan kawat gigi
- Eksfoliasi gigi desidua
- Perdarahan pada trauma bibir atau mukosa oral
Pemberian antibiotik profilaksis tetap harus mempertimbangkan risiko dan manfaat yang dapat ditimbulkan bila pasien tidak mendapatkan profilaksis antibiotik. Dokter dapat membuat penilaian klinis terkait kondisi masing-masing pasien. Antibiotik profilaksis diberikan dalam dosis tunggal 60 menit pre-prosedur dengan obat pilihan utama penicillin atau clindamycin.[2,5,10]
Tabel 1. Regimen Profilaksis Antibiotik Prosedur Dental
| Kondisi medis | Regimen |
| Lini Pertama | Dewasa: Amoksisilin 2000 mg POPediatrik: Amoksisilin 50 mg/kg PO |
| Alergi ampicillin atau penicilin | Dewasa: ■ Clindamycin 600 mg PO atau ■ Azitromisin atau claritromisin 500 mg PO Pediatrik: ■ Clindamycin 20 mg/kg PO atau ■ Azitromisin atau Claritromisin 15 mg/kg PO |
| Toleransi per oral buruk | Dewasa: ■ Ampicilin 2000 mg IM/IV atau ■ Ceftriaxone 1000 mg IM/IV atau ■ Clindamycin 600 mg IM/IV (bila terdapat alergi) Pediatrik: ■ Ampicillin 50 mg/kg IM/IV atau ■ Ceftriaxone 50 mg/kg IM/IV atau ■ Clindamycin 20 mg/kg IM/IV (bila terdapat alergi) |
Sumber: Josephine Darmawan, 2022.[2,5,10]
Pemberian antibiotik profilaksis juga harus mempertimbangkan prinsip antibiotic stewardship. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko resistensi antimikroba, bahkan setelah pemberian dosis tunggal. Oleh karena itu, keputusan pemberian antibiotik harus didasarkan pada indikasi yang jelas dan tidak dilakukan secara rutin pada prosedur dental dengan risiko rendah.[11]
Kesimpulan
Pemberian antibiotik profilaksis pada prosedur dental selama ini rutin dilakukan untuk mencegah infeksi lokal, infeksi sendi prosthesis, dan juga endokarditis infektif. Namun demikian, praktik ini tidak lagi direkomendasikan untuk dilakukan karena insidensi yang rendah. Profilaksis antibiotik dinilai tidak efektif, meningkatkan risiko resistensi, biaya medis yang dikeluarkan, serta risiko efek samping.
Profilaksis antibiotik hanya dapat diberikan pada prosedur dan pasien risiko tinggi, seperti prosedur yang melibatkan manipulasi jaringan gingiva, periapikal gigi, atau perforasi mukosa oral. Bila dinilai perlu, profilaksis dapat diberikan 1 jam sebelum tindakan dalam dosis tunggal.
Penilaian klinis dokter sangat dibutuhkan dalam menentukan kebutuhan antibiotik profilaksis. Higiene oral dan kontrol dental rutin juga cukup efektif dalam mencegah infeksi akibat prosedur dental dan direkomendasikan untuk dilakukan.
Direvisi oleh: dr. Hudiyati Agustini
