Wearable Defibrillator untuk Pasien Infark Miokard

Oleh dr. Gisheila Ruth

Wearable cardiac defibrillator merupakan salah satu alat yang diduga dapat menurunkan risiko terjadinya sudden cardiac arrest (SCA) pada pasien infark miokard. Namun, sebuah uji klinis terbaru menunjukkan bahwa penggunaannya tidak berbeda secara signifikan dengan pemberian obat-obatan saja dalam menurunkan risiko kematian.

SCA menyebabkan 25% dari 17 juta kematian penyakit kardiovaskular di dunia setiap tahunnya. Pasien pasca infark miokard merupakan pasien yang memiliki risiko SCA, khususnya pada tiga bulan pasca serangan. Standar terapi saat ini untuk mencegah terjadinya SCA adalah penggunaan implantable cardioverter defibrillators (ICD). Indikasi penggunaan ICD adalah pasien dengan fraksi ejeksi <35% walaupun sudah menggunakan penatalaksanaan medis selama 3 bulan namun belum terdapat perbaikan, atau setidaknya 40 hari setelah infark miokard atau revaskularisasi. Wearable cardiac defibrillator (WCD) kemudian hadir sebagai alternatif pencegahan SCA. [1,2]

ima

Sistem Wearable Cardiac Defibrillator (WCD)

Sistem wearable cardiac defibrillator (WCD) pertama kali disetujui oleh FDA pada tahun 2002 dan diperuntukkan sebagai terapi sementara pasien yang memiliki risiko henti jantung tiba-tiba. Pasien pasca infark miokard rentan mengalami gangguan irama jantung seperti takikardia ventrikel dan fibrilasi ventrikel yang akhirnya berujung pada SCA. WCD berfungsi untuk memantau aritmia secara kontinu, mendeteksi henti jantung, dan menyediakan defibrilasi otomatis dengan deteksi cepat takiaritmia yang berpotensi fatal. [3,4]

WCD berbentuk seperti alat yang dipakaikan langsung ke badan. Terdapat dua komponen utama, yaitu garmen dan monitor. Terdapat elektroda yang merekam sinyal dan mendeteksi adanya aritmia. Monitor biasanya diletakkan di daerah pinggang dan akan merekam irama jantung pasien. Garmen pada WCD terdiri dari ikat pinggang elastis dan strap bahu yang berfungsi untuk menyangga 4 titik elektroda yang mendeteksi irama dan 3 elektroda defibrilator. Elektroda defibrilator dapat mengeluarkan gel secara otomatis sebelum memberikan syok apabila terjadi SCA.[3]

Gambar Wearable cardiac defibrillator (Sumber : Marine, Wikimedia Commons, 2013) Gambar Wearable cardiac defibrillator (Sumber : Marine, Wikimedia Commons, 2013)

WCD juga dilengkapi dengan adanya tombol respon dan sistem alarm. Selama pasien memencet tombol respon, WCD akan menunda defibrilasinya, sehingga pasien yang mendengar atau merasakan sistem alarm dapat mencegah dirinya dari syok yang sebenarnya tidak perlu (misalnya terjadi karena ventrikular takikardia yang stabil). Pasien juga sebaiknya duduk atau berbaring apabila alarm aktif. Apabila terjadi gangguan irama yang mengancam nyawa, biasanya pasien akan hilang kesadaran dan tombol respon akan menilai apakah ada inhibisi defibrilasi. Apabila tombol respon tidak ditekan, maka syok akan diberikan.[3]

Guideline Penggunaan Wearable Cardiac Defibrillator

Beberapa organisasi internasional telah memberikan guideline untuk indikasi penggunaan wearable cardiac defibrillator (WCD). American Heart Association (AHA) merekomendasikan penggunaan WCD digunakan apabila ada indikasi jelas akan pemakaian ICD/alat yang permanen diikuti dengan adanya kontraindikasi sementara penggunaan ICD (contohnya infeksi). Pada keadaan ini, WCD digunakan sebagai terapi sementara sebelum penggunaan ICD untuk menurunkan risiko SCA terutama pada 40 hari pertama pasca infark miokard. Penggunaan WCD juga dapat digunakan sebagai terapi sementara sebelum terapi definitif, seperti implantasi jantung.

Terdapat beberapa perbedaan rekomendasi dari European Society of Cardiology (ESC). ESC merekomendasikan WCD digunakan pada pasien dewasa dengan fungsi sistolik ventrikel kiri yang rendah yang memiliki risiko adanya SCA untuk periode tertentu. Namun, WCD sebaiknya tidak digunakan untuk terapi sementara sebelum terapi definitif (transplantasi, kardiomiopati peripartum, ICD transvenous). [3]

Bukti Klinis Efektivitas Penggunaan WCD Pasca Infark Miokard

Studi observasi dilakukan oleh Epstein, et al. pada 8453 pasien pasca infark miokard yang menggunakan wearable cardiac defibrillator (WCD) selama 90 hari. Dari jumlah ini, 133 pasien menerima defibrilasi dengan indikasi yang sesuai pada total 146 kejadian aritmia. Secara total diberikan sebanyak 309 syok, dimana 252 berhasil menghilangkan VT dan VF, 9 syok berujung pada asistol, 41 tidak berhasil, 1 berujung pada nonsustained VT, 1 berujung pada SVT, dan 5 lainnya tidak diketahui. Defibrilasi yang tidak sesuai indikasi diberikan pada 99 pasien. Tidak ada luka bakar atau sekuele lainnya selain daripada nyeri yang dirasakan saat defibrilasi. [5]

Studi lain dilakukan pada 24 pasien yang menggunakan WCD dan memiliki risiko sudden cardiac death (SCD) tinggi tetapi tidak memenuhi kriteria pemasangan implantable cardioverter defibrillator (ICD). Pada studi ini dilakukan pemantauan selama 8 bulan, didapatkan 2 pasien (8,3%) yang mendapatkan defibrilasi sesuai indikasi dan fraksi ejeksi ventrikel kiri membaik signifikan setelah penggunaan terapi WCD. Studi ini menilai bahwa penggunaan terapi WCD dalam waktu tertentu (pada studi ini rata-rata penggunaan selama 33 hari) pasca infark miokard yang memiliki risiko tinggi SCA dapat bermanfaat. Namun, studi ini memiliki keterbatasan adanya jumlah sampel yang sedikit dan bersifat single-center.[6]

Sebuah Randomised Control Trial (RCT) terbaru dilakukan pada 2303 pasien, meneliti tentang efektivitas penggunaan wearable cardioverter defibrillator dalam menurunkan insidensi henti jantung tiba-tiba selama periode risiko tinggi. Subjek studi ini adalah pasien pasca infark miokard yang memiliki fraksi r <35%. Pada RCT ini didapatkan angka kematian artimik pada grup WCD sebesar 1,6% dan pada grup kontrol sebesar 2,4%. Namun, secara statistik tidak didapatkan perbedaan yang signifikan dan disimpulkan bahwa penggunaan terapi obat-obatan ditambah dengan WCD tidak memberikan efek yang signifikan dalam menurunkan risiko kematian dibandingkan dengan terapi medis saja selama 90 hari pertama pasca infark miokard. [7]

Kesimpulan

Pasien pasca infark miokard merupakan pasien yang memiliki risiko tinggi sudden cardiac arrest (SCA), khususnya tiga bulan pertama pasca serangan. Sistem wearable cardiac defibrillator (WCD) dapat digunakan sebagai terapi sementara untuk mencegah terjadinya SCA sebelum dipasangnya implantable cardiac defibrillator (ICD).

Beberapa studi observasional melaporkan bahwa WCD dapat menurunkan risiko SCA akibat aritmia yang sering terjadi pada pasien pasca infark miokard. Namun, sebuah uji klinis terbaru menemukan tidak ada perbedaan signifikan dalam menurunkan risiko kematian pada penggunaan WCD dibandingkan terapi medis saja.Studi lebih lanjut masih dibutuhkan untuk dapat menyimpulkan apakah teknologi ini memiliki tempat dalam penatalaksanaan pasien post infark miokard.

Referensi