Terapi Fisik Manual Lebih Efektif dibandingkan Pembedahan untuk Carpal Tunnel Syndrome - Telaah Jurnal

Oleh dr. Hunied Kautsar

Cost-Effectiveness Evaluation of Manual Physical Therapy versus Surgery for Carpal Tunnel Syndrome: Evidence From a Randomized Clinical Trial

Fernandez-de-Las-Penas C, Ortega-Santiago R, Salom-Moreno J, et al, Cost-Effectiveness Evaluation of Manual Physical Therapy versus Surgery for Carpal Tunnel Syndrome: Evidence From a Randomized Clinical Trial, J Orthop Sports Phys Ther, 2019, 49(2):55-63, doi: 10.2519/jospt.2019.8483

Abstrak

Latar Belakang: Carpal Tunnel Syndrome (CTS) menyebabkan beban biaya sosial yang signifikan dan dapat ditangani baik dengan tindakan operatif maupun tindakan nonoperatif.

Tujuan: Untuk mengevaluasi perbedaan efektivitas biaya dari terapi fisik manual dan tindakan operatif pada pasien wanita yang mengalami Carpal Tunnel Syndrome (CTS).

Metode: Seratus dua puluh wanita dengan diagnosis klinis dan diagnosis elektromiografi Carpal Tunnel Syndrome (CTS) dibagi ke dalam dua kelompok secara random, yakni kelompok yang menjalani terapi fisik manual dan kelompok tindakan operatif. Intervensi terdiri dari 3 sesi terapi fisik manual, yang meliputi manuver desensitisasi dari sistem saraf pusat atau dekompresi/pelepasan dari carpal tunnel. Biaya sosial dan kualitas hidup yang berhubungan dengan kesehatan (diestimasi dengan skala The European Quality of Life-5 Dimensions [EQ-5D]) selama 1 tahun digunakan untuk menciptakan rasio biaya inkremental per quality-adjusted life untuk setiap terapi.

Hasil: Analisis data berhasil dilakukan terhadap 118 pasien (98%). Incremental quality-adjusted life years menunjukkan efektivitas biaya yang lebih baik pada terapi fisik manual (difference; 0,0135; 95% confidence interval: 0,134, 0,136). Terapi manual terbukti lebih murah secara signifikan jika dibandingkan dengan terapi tindakan operatif (perbedaan biaya rata-rata per pasien sekitar 40 juta Rupiah; P < 0,001). Pasien yang tergabung di dalam kelompok terapi tindakan operatif menerima lebih banyak terapi lainnya dan melakukan lebih banyak kunjungan ke dokter jika dibandingkan dengan pasien yang tergabung di dalam kelompok terapi fisik manual (P=0,02). Jumlah absensi di pekerjaan lebih tinggi secara signifikan pada kelompok yang menerima terapi tindakan operatif (P<0,001). Kontributor utama untuk biaya sosial adalah protokol dari tindakan (perbedaan rata-rata antara tindakan operatif dan terapi manual sekitar 1,5 trilyun Rupiah) dan jumlah absensi di pekerjaan (perbedaan rata-rata antara tindakan operatif dan terapi manual sekitar 675 juta Rupiah).

Kesimpulan: Terapi fisik manual, yang meliputi manuver desensitisasi sistem saraf pusat, terbukti memiliki efektivitas yang sama dan biaya yang lebih murah (dengan kata lain memiliki efektivitas biaya yang lebih baik) jika dibandingkan dengan terapi tindakan operatif pada pasien wanita yang mengalami sindrom terowongan karpal. Dari perspektif efektivitas biaya, terapi fisik manual dapat dipertimbangkan untuk sindrom terowongan karpal.

Depositphotos_85751444_s-2019_compressed

 

Ulasan Alomedika

Jurnal ini membandingkan efektivitas biaya dari dua jenis terapi untuk sindrom terowongan karpal, yakni terapi fisik manual dan terapi tindakan operatif. Penelitian ini dilakukan karena sindrom terowongan karpal merupakan salah satu entrapment neuropathy yang memiliki prevalensi cukup tinggi di kalangan usia produktif sehingga menyebabkan beban biaya kesehatan yang besar dan juga beban ekonomi, yang meliputi berkurangnya produktivitas bekerja sehingga dibutuhkan penelitian yang dapat membuktikan efektivitas biaya dari terapi sindrom terowongan karpal yang tersedia saat ini. Beberapa penelitian sebelumnya membandingkan dua jenis terapi untuk sindrom terowongan karpal yakni terapi tindakan operatif dan nonoperatif. Namun, uji acak terkendali ini adalah penelitian pertama yang membandingkan dua jenis terapi tersebut dari sudut pandang ekonomi.

Ulasan Hasil Penelitian

Hasil utama yang diukur adalah efektivitas biaya dari dua jenis terapi. Data yang dikumpulkan adalah biaya kesehatan, biaya nonkesehatan dan biaya lainnya yang harus dikeluarkan oleh pasien karena ia menderita sindrom terowongan karpal (indirect costs). Biaya kesehatan meliputi biaya dari masing-masing jenis terapi (jumlah sesi terapi, jumlah kunjungan ke dokter spesialis), kunjungan tambahan ke tenaga kesehatan, terapi tambahan, biaya obat-obatan yang diresepkan oleh dokter, dan pelayanan kesehatan di rumah. Biaya nonkesehatan meliputi biaya obat-obatan yang dijual bebas (over the counter medication), waktu yang dihabiskan untuk kunjungan ke tenaga medis, dan biaya perjalanan. Biaya lainnya yang juga masuk ke analisis utama adalah biaya yang terkait dengan berkurangnya produktivitas kerja akibat pasien tidak masuk kerja karena menderita sindrom terowongan karpal.

Analisis data yang dilakukan terhadap 118 peserta penelitian menunjukkan bahwa terapi fisik manual memiliki efektivitas biaya yang lebih baik jika dibandingkan dengan terapi operatif karena dengan biaya yang lebih murah secara signifikan, terapi fisik manual memiliki efektivitas terapi yang sama jika dibandingkan dengan terapi operatif. Pasien yang menerima terapi operatif juga menerima lebih banyak terapi lainnya pasca operasi. Selain itu, lebih banyak dari pasien yang menerima terapi operatif juga yang harus absen dari pekerjaannya pasca operasi sehingga meningkatkan biaya yang diakibatkan oleh berkurangnya produktivitas kerja.

Kelebihan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian pertama yang membandingkan efektivitas biaya dari dua jenis terapi untuk sindrom terowongan karpal, yakni terapi fisik manual dan terapi tindakan operatif. Hasil dari penelitian ini dapat dipertimbangkan dalam menentukan terapi bagi pasien karena tidak hanya melihat dari sudut pandang medis namun juga sudut pandang ekonomi.

Limitasi Penelitian

Dalam uji acak terkendali ini, tidak terdapat kelompok kontrol yang menggunakan pengamatan seiring berjalannya waktu (wait and see policy), sehingga tidak dapat disimpulkan apakah terapi fisik manual atau terapi operatif memiliki efektivitas biaya yang lebih baik dari wait and see policy. Limitasi yang lain adalah analisis ekonomi yang dilakukan dalam penelitian ini mengukur biaya 12 bulan setelah terapi (jangka panjang) sehingga biaya jangka pendek dan menengah tidak terukur.

Aplikasi Penelitian di Indonesia

Penelitian ini dapat direplikasi di Indonesia dan akan lebih baik jika kelompok dalam penelitian ditambah dengan kelompok kontrol yang menggunakan wait and see policy. Jika dari penelitian yang dilakukan di Indonesia menunjukkan hasil yang sama dengan penelitian ini, yakni bahwa terapi fisik manual memiliki efektivitas biaya yang lebih tinggi dari terapi tindakan operatif maka hasil penelitian dapat dijadikan rekomendasi dalam menentukan terapi pasien sindrom terowongan karpal.

Referensi