Suplementasi Vitamin D saat Masa Kehamilan Mencegah Depresi Postpartum

Oleh dr. Irwan S, SpKJ, PhD.

Terdapat asosiasi antara depresi postpartum dengan kadar vitamin D yang rendah. Studi juga menunjukkan manfaat suplementasi vitamin D saat masa kehamilan untuk mencegah depresi postpartum.

Depresi postpartum merupakan gangguan suasana perasaan yang banyak ditemukan pada wanita pasca melahirkan, dengan prevalensi antara 20-40 % dari semua wanita pasca melahirkan di dunia [1]. Prevalensi depresi postpartum sangat erat hubungannya dengan faktor budaya dan faktor sosial sehingga prevalensinya juga berbeda-beda di antara negara yang berbeda. Diperkirakan kejadian depresi postpartum mencapai 100-150 per 1000 kelahiran [2]. Di Asia, negara dengan prevalensi tertinggi adalah Pakistan (63%) dan yang terendah adalah Malaysia (3,5%) [3].

Depresi postpartum bisa mempengaruhi kualitas hubungan ibu dan anak pada masa-masa awal kehidupan anak sehingga akan bisa mempengaruhi pertumbuhan emosional dan kognitif anak. Faktor risiko bagi timbulnya depresi postpartum antara lain riwayat depresi sebelumnya, sosial ekonomi yang kurang, dukungan sosial yang rendah, umum, riwayat trauma psikologis dalam jarak dekat dengan kehamilan/kelahiran, umur ibu, kehamilan yang tidak diharapkan, atau komplikasi pada waktu melahirkan [4,5]

kelahiran-prematur-alodokter

Peran Vitamin D dalam Depresi Postpartum

Peran vitamin D dalam patofisiologi depresi postpartum ditunjukkan oleh adanya reseptor vitamin D di area-area otak yang terlibat dalam patofisiologi depresi postpartum [13], adanya vitamin D response element  (VDRE) di area promoter gen serotonin [14], dan adanya interaksi antara reseptor glukokortikoid dan reseptor vitamin D di hipokampus [15].

Berdasarkan penelitian in vitro oleh Obradovic, et al., reseptor glukokortikoid dan reseptor vitamin D saling berinteraksi di hipokampus. Vitamin D dibutuhkan untuk proses diferensiasi dan apoptosis neuron di area ini. Pada kondisi normal, glukokortikoid akan menghambat diferensiasi neuron di hipokampus. Bila terjadi stimulasi glukokortikoid secara berlebihan dalam jangka lama (sebagaimana yang terjadi pada hiperaktivitas aksis hipotalamus-pituitari-adrenal / HPA akibat depresi), maka akan terjadi apoptosis di area hipokampus. Namun bila sebelumnya neuron terpapar oleh vitamin D, derajat apoptosis yang terjadi akan menurun [6,15].

Penelitian mengenai Vitamin D pada Depresi Postpartum

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi vitamin D yang rendah pada masa kehamilan atau segera (dalam waktu 24 jam) setelah melahirkan diasosiasikan dengan kejadian depresi postpartum. Hasil penelitian masih sama bahkan setelah dilakukan penyesuaian untuk faktor perancu seperti latar belakang sosiodemografik, indeks massa tubuh (IMT), dan musim kelahiran.

Penelitian oleh Accortt, et al. (2016) menemukan bahwa konsentrasi vitamin D yang rendah pada masa prenatal dan konsentrasi marker proinflamasi yang tinggi berhubungan dengan kejadian depresi postpartum pada populasi African American. Konsentrasi vitamin D yang rendah berhubungan dengan gejala-gejala depresi yang lebih banyak [16].

Penelitian kohort oleh Fu, et al. (2015) juga menemukan hubungan antara konsentrasi serum vitamin D dengan kejadian depresi postpartum. Ditemukan bahwa konsentrasi vitamin D dalam sampel darah yang diambil dalam waktu 24-48 jam pasca melahirkan berhubungan dengan gejala-gejala depresi pada follow up 3 bulan kemudian. Konsentrasi vitamin D < 10,2 ng/mL berhubungan dengan peningkatan risiko untuk mengalami depresi postpartum[17].

Gould, et al. (2015) dalam penelitiannya mengukur konsentrasi vitamin D dalam darah pada waktu melahirkan dan menghubungkannya dengan risiko depresi postpartum pada follow up 6 minggu dan 6 bulan pasca melahirkan. Mereka menemukan bahwa konsentrasi vitamin D yang rendah pada waktu melahirkan berhubungan dengan gejala-gejala depresi postpartum pada follow up 6 minggu, tapi tidak pada follow up 6 bulan[18].

Namun sebuah penelitian kohort lain oleh Gur, et al. (2014) menunjukkan hasil yang berbeda. Mereka mengukur konsentrasi vitamin D pada minggu ke 24-28 kehamilan dan melakukan follow up pada 1 minggu, 6 minggu, dan 6 bulan pasca kelahiran. Mereka menemukan adanya hubungan negatif yang signifikan antara konsentrasi vitamin D pada minggu 24-28 kehamilan dengan gejala-gejala depresi postpartum pada 1 minggu, 6 minggu, dan 6 bulan pasca melahirkan[19].

Suplementasi Vitamin D sebagai Profilaksis Depresi Postpartum

Suplementasi vitamin D selama masa kehamilan terbukti bermanfaat untuk menurunkan risiko kejadian bayi kecil masa kehamilan (small for gestasional age) atau berat bayi lahir rendah. Studi menemukan bahwa suplementasi vitamin D juga bermanfaat untuk mencegah terjadinya depresi postpartum.

Faziri, et al (2016) dalam sebuah penelitian RCT menemukan bahwa suplementasi 2000 IU vitamin D pada trimester 3 kehamilan secara signifikan menurunkan skor depresi pada minggu 38-140 kehamilan dan juga pada 4-8 minggu pasca melahirkan. Subyek pada penelitian ini adalah ibu hamil yang sehat [21]. Hasil menunjukkan manfaat suplementasi vitamin D untuk mencegah gejala depresi pada ibu hamil.

Penelitian RCT oleh Williams, et al. (2016) menemukan bahwa suplementasi vitamin D pada minggu 12-20 kehamilan berhubungan dengan penurunan skor depresi pada trimester tiga kehamilan. Pada penelitian ini, subyeknya adalah ibu hamil yang mempunyai faktor risiko untuk mengalami depresi postpartum [22]. Hasil penelitian menunjukkan manfaat suplementasi vitamin D untuk menurunkan skor depresi pada ibu hamil yang mempunyai risiko untuk mengalami depresi postpartum.

Kesimpulan

Depresi postpartum merupakan gangguan yang sering ditemukan pada ibu pasca melahirkan dan bisa mengganggu perkembangan emosional dan kognitif anak.

Vitamin D terlibat dalam berbagai proses di otak yang mungkin bisa bersifat terhadap timbulnya depresi postpartum. Penelitian-penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi vitamin D yang rendah pada masa kehamilan atau segera setelah melahirkan berhubungan dengan gejala-gejala depresi postpartum. Risiko ini ditemukan mulai dari 3 hari pasca melahirkan sampai 6 bulan kemudian. Namun hubungan kausatif antara konsentrasi vitamin D yang rendah dan patofisiologi depresi postpartum masih belum bisa ditegakkan.

Meskipun demikian, hasil penelitian menunjukkan manfaat pemberian suplementasi vitamin D untuk mencegah timbulnya depresi postpartum, baik pada ibu-ibu hamil yang sehat maupun pada ibu-ibu hamil yang mempunyai faktor risiko untuk mengalami depresi postpartum. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan standar dosis dan durasi pemberian suplementasi vitamin D untuk mencegah depresi postpartum.

Referensi