Skin Substitute pada Perawatan Luka Bakar

Oleh :
dr. Johannes AB SpBPRE

Aplikasi skin substitute untuk perawatan luka bakar sudah dimulai sejak tahun 1980-an. Pemanfaatan teknologi tissue engineering untuk menciptakan jaringan pengganti kulit berhasil meningkatkan kualitas penyembuhan luka pada kasus luka bakar, serta memberikan alternatif terapi yang baik di samping terapi konvensional yang sudah ada.

Masalah Dalam Manajemen Luka pada Kasus Luka Bakar

Prinsip penatalaksanaan luka bakar yang dianut saat ini adalah prinsip “early excision and skin grafting”. Jaringan kulit yang mati dieksisi sesegera mungkin dan luka langsung ditutup dengan skin graft autologus. Tujuan penerapan prinsip ini adalah untuk mengurangi dampak inflamasi sistemik serta risiko infeksi yang disebabkan jaringan kulit mati pada tubuh pasien. Penerapan prinsip ini dilaporkan menurunkan angka mortalitas dan morbiditas pada pasien-pasien luka bakar. [1]

skingraftcomp

Masalah manajemen luka dalam kasus luka bakar muncul pada pasien dengan luka bakar yang luas. Besarnya area yang harus ditutup dengan skin graft dan terbatasnya area donor yang tersedia merupakan hambatan utama untuk menerapkan prinsip “early excision and skin grafting”. Teknologi tissue engineering menjadi jawaban bagi masalah ini. Para peneliti mencoba untuk memproduksi jaringan pengganti (skin substitute) atau materi yang dapat digunakan untuk menutup area luka pada pasien-pasien tersebut.

Skin substitute yang ideal adalah materi yang dapat menyediakan sokongan struktural bagi kulit, bersifat durable, memiliki komposisi yang menyerupai jaringan normal, nonimunogenik, tidak mahal, dapat segera digunakan, dapat digunakan secara universal, mudah digunakan, dan memiliki angka keberhasilan terapi yang tinggi. Hingga saat ini, peneliti masih berupaya untuk menciptakan produk yang dapat memenuhi semua kriteria tersebut. [1,2]

Skin Substitute sebagai Hasil Penerapan Teknologi Tissue Engineering

Pada tahun 1975, peneliti berhasil membiakkan sel-sel epidermis dan dermis secara in vitro. Skin substitute digunakan pada kasus luka bakar pertama kali di tahun 1981. Hingga saat ini, berbagai produk skin substitute telah dikembangkan dan digunakan secara klinis di seluruh dunia tidak hanya untuk kasus luka bakar, tetapi juga pada kasus ulkus serta kasus medis lain di mana terdapat kekurangan jaringan kulit.

Berdasarkan komponen penyusunnya, skin substitute dapat dibagi menjadi :

  • Epidermal (cultured epidermal autograft atau CEA): materi utama penyusun skin substitute ini adalah keratinosit. Pengganti jaringan ini berfungsi sebagai penutup terluar kulit layaknya lapisan epidermis
  • Dermal: produk skin substitute ini pada umumnya berupa scaffold matrix ekstraselular dengan bahan-bahan yang berasal dari hewan, manusia, atau material sintetis. Pada beberapa produk, matriks tersebut juga mengandung sel. Dermal skin substitute berfungsi sebagai structural support bagi skin graft autologus atau jaringan pengganti epidermal di atasnya
  • Kombinasi (dermo-epidermal): Skin substitute ini memiliki komponen dermis dan epidermis sehingga diharapkan dapat digunakan sebagai pengganti kulit yang bersifat definitif atau permanen seperti skin graft [2,3]

Aplikasi Skin Substitute pada Manajemen Luka Bakar Luas

Cultured epidermal autograft (CEA) sebagai pengganti epidermis memiliki tingkat keberhasilan graft (take) yang buruk bila langsung digunakan pada luka bakar pasca eksisi jaringan kulit nekrotik. Hal ini karena CEA membutuhkan dasar jaringan dermis dengan vaskularisasi yang baik. Oleh karena itu, penggunaan skin substitute untuk kasus luka bakar luas pada umumnya dilakukan secara bertahap dan dikombinasikan dengan kulit yang berasal dari kadaver (allograft).

Pada tahap pertama, pasien menjalani operasi untuk tindakan eksisi jaringan kulit nekrotik. Donor kulit sehat yang tersedia diambil sedikit untuk menjalani proses pembiakan. Sisa area kulit sehat yang tersedia digunakan sebagai donor skin graft untuk menutup luka bakar seoptimal mungkin. Area yang belum terutup oleh skin graft autologus, ditutup dengan menggunakan allograft atau dermal skin substitute. Untuk mendapatkan CEA dalam jumlah yang adekuat, diperlukan waktu pembiakan sekitar 2-3 minggu. [2,3]

Pada operasi tahap kedua, epidermis allograft dibuang sehingga yang tersisa adalah bagian dermis allograft yang sudah tervaskularisasi dengan baik dan diisi oleh fibroblast pasien yang bermigrasi. Proses yang sama juga terjadi pada penggunaan dermal skin substitute.  Selanjutnya, CEA yang telah diproduksi atau skin graft autologus dapat digunakan untuk menutup area tersebut. Pada tahap ini, area donor skin graft yang digunakan pada operasi tahap pertama umumnya telah tertutup epitel sehingga dapat digunakan kembali sebagai area donor skin graft. CEA dapat diaplikasikan dalam bentuk lembaran atau spray suspensi sel. [1-3]

Untuk menyederhanakan pemakaian skin substitute ini, peneliti mencoba menciptakan skin substitute kombinasi yang sudah memiliki komponen epidermis dan dermis, sehingga penutupan luka dapat dilakukan dalam 1 tahap. Skin substitute ini mengandung keratinosit autologus dan matriks ekstraseluler dengan fibroblas autologus. Kelemahan produk yang tersedia saat ini adalah waktu pembiakan yang lebih lama, yaitu sekitar 30 hari. Hal ini tentunya menjadi hambatan yang berarti pada pasien dengan luka bakar luas yang memerlukan penutupan luka dengan cepat. [2,3]

Tantangan dalam Penggunaan Skin Substitute

Ada beberapa tantangan yang harus dihadapi untuk mengaplikasikan skin substitute dalam manajemen luka bakar. Biaya yang cukup tinggi dan tidak tersedianya allograft kadaver merupakan hambatan utama penggunaan skin substitute di Indonesia, walaupun teknologi ini telah ada selama hampir 40 tahun.

Skin substitute juga memiliki kelemahan lain, yaitu lebih rapuh dan rentan terhadap infeksi bila dibandingkan dengan jaringan skin graft alami. Oleh karena itu, handling dari skin substitute harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Selain itu, bed luka juga harus dipersiapkan dengan baik agar tidak mengalami infeksi. Persiapan bed luka ini harus dilakukan dengan perencanaan yang matang agar luka dalam keadaan ‘siap’ saat pembiakan jaringan kulit selesai. [2,3]

Kelemahan lain dari produk skin substitute yang tersedia saat ini adalah tidak memiliki struktur kulit normal secara utuh. Struktur histologis penting yang tidak ada dalam skin substitute antara lain kelenjar sebasea, kelenjar keringat, pigmen melanin, dan folikel rambut. Upaya yang sedang dikembangkan pada saat ini untuk mengatasi kekurangan tersebut adalah dengan memanfaatkan teknologi stem cell. Sebagian besar penelitian stem cell pada luka bakar menunjukkan hasil penyembuhan luka yang baik pada hewan dan subjek manusia. Stem cell diharapkan dapat memacu regenerasi jaringan sehingga struktur-struktur penting tersebut dapat terbentuk kembali. Metode lain yang sedang diteliti adalah dengan menginduksi stem cell agar berkembang menjadi struktur-struktur penting tersebut. [3-5]

Kesimpulan

Skin substitute merupakan teknologi tissue engineering yang sangat bermanfaat pada perawatan kasus luka bakar, khususnya pasien dengan luka bakar luas. Saat ini tersedia berbagai produk skin substitute yang dapat digunakan pada kasus luka bakar seperti skin substitute epidermal, dermal, dan kombinasi.

Skin substitute memiliki beberapa kelemahan, khususnya dalam hal aplikabilitasnya di Indonesia. Skin substitute juga lebih rapuh dan rentan infeksi, serta tidak memiliki struktur-struktur penting kulit seperti kelenjar sebasea, kelenjar keringat, pigmen melanin, dan folikel rambut. Berbagai penelitian yang berjalan saat ini, beberapa di antaranya di bidang stem cell, bertujuan untuk mengatasi kelemahan tersebut serta meningkatkan kualitas penyembuhan luka bakar di masa mendatang.

Referensi