Rekomendasi Vaksinasi Japanese Encephalitis di Indonesia

Oleh dr. Josephine Darmawan

Rekomendasi untuk vaksinasi Japanese encephalitis masih belum jelas, terutama di Indonesia,  padahal Japanese encephalitis (JE) merupakan salah satu penyebab ensefalitis viral yang paling sering di negara-negara Asia. Penyakit ini sangat jarang terjadi, di luar dari daerah endemisnya. Pada tahun 2000an, diperkirakan terdapat sekitar 25 kasus Japanese encephalitis per 100.000 orang di daerah endemis. Sekitar 20-30% kasus Japanese encephalitis berat merupakan kasus yang fatal dan 30-50% menyebabkan sekuele neurologis. Sampai saat ini, belum ada pengobatan spesifik untuk Japanese encephalitis, tetapi penyakit ini dapat dicegah dengan mudah dengan vaksinasi Japanese encephalitis.[1,2] Akan tetapi, rekomendasi untuk vaksinasi Japanese encephalitis sampai beberapa tahun terakhir masih belum jelas, terutama di Indonesia.[3,4]

Vaksin Encevac unutk Japanese encephalitis. Sumber: melvil, Wikimedia commons, 2016. Vaksin Encevac unutk Japanese encephalitis. Sumber: melvil, Wikimedia commons, 2016.

Japanese encephalitis (JE) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Japanese encephalitis. Virus ini disebarkan ke manusia melalui vektor nyamuk Culex sp. Masa inkubasi virus ini adalah 5-15 hari. Manusia yang terinfeksi virus Japanese encephalitis umumnya simtomatik atau menimbulkan gejala ringan, seperti demam tidak jelas/undifferentiated fever atau meningitis aseptik. Pada kasus-kasus berat, dapat timbul ensefalitis viral akut yang ditandai dengan kejang, gejala parkinsonisme, dan paralisis flasid akut.[5,6]

Epidemiologi Japanese Encephalitis

Japanese encephalitis merupakan penyakit yang endemik di 24 negara-negara Asia, terutama Asia Tenggara, yang masih rawan banjir dan merupakan negara agrikultural, seperti Korea, Jepang, Filipina, Indonesia, Taiwan, Vietnam, Cina, Malaysia, Singapura, Thailand, India, Kamboja.[2,7,8]

Angka kejadian Japanese encephalitis bervariasi di setiap negara endemis sekitar 1-10 kasus per 100.000 jiwa atau sekitar 25 kasus per 100.000 jiwa ketika terjadi outbreak. Hanya sekitar 1% infeksi Japanese encephalitis yang menunjukkan gejala, 1 dari 250 kasus di antaranya merupakan kasus berat dengan rasio fatalitas kasus/case-fatality ratio (CFR) sektiar 20-30%.[7,8] Di Indonesia, terdapat sebanyak 326 kasus Japanese encephalitis pada tahun 2016 dengan jumlah kasus paling banyak tercatat di Bali (69,3%).[4,9]

Terapi dan Pencegahan Japanese Encephalitis

Sampai saat ini, belum ada terapi spesifik untuk kasus-kasus Japanese encephalitis. Manajemen yang dapat diberikan adalah terapi suportif. Tidak adanya terapi spesifik dan case fatality rate yang tinggi, membuat upaya preventif merupakan kunci utama dalam menangani infeksi virus Japanese encephalitis. Macam-macam intervensi yang dapat dilakukan adalah:

  • Imunisasi Japanese encephalitis pada daerah endemis atau sebelum pergi ke daerah endemis

  • Menghindari gigitan nyamuk: memakai lotion anti nyamuk/insect repellant, pakai pakaian lengan panjang, dan sebagainya

  • Pengendalian vektor: melakukan fogging berkala, melakukan upaya 3M (menguras, mengubur, menutup), dan lainnya
  • Vaksinasi pada inang perantara, misalnya babi atau unggas

Dari seluruh intervensi tersebut, imunisasi adalah metode yang paling efektif untuk mencegah Japanese encephalitis pada manusia.[1,4,5,8]

Vaksin Japanese Encephalitis

Imunisasi dan vaksinasi merupakan upaya preventif infeksi Japanese encephalitis yang mudah dan sangat efektif. Meskipun kasus Japanese encephalitis relatif sedikit, bila imunisasi tidak dilakukan akan terjadi transmisi virus secara ekstensif yang dapat meningkatkan jumlah kasus Japanese encephalitis. Negara-negara yang memiliki kebijakan dan program vaksinasi Japanese encephalitis yang baik umumnya mengalami penurunan insidensi Japanese encephalitis. Tanpa adannya vaksinasi Japanese encephalitis, diperkirakan jumlah kasus Japanese encephalitis dapat meningkat hingga 175.000 kasus per tahun. Jenis vaksin Japanese encephalitis yang ada saat ini adalah: (1) vaksin hidup yang dilemahkan/live-attenuated vaccine, (2) vaksin inaktif/inactivated Vero cell-derived vaccine, dan (3) vaksin rekombinan/live recombinant vaccine. Jenis tersebut merupakan vaksin untuk virus Japanese encephalitis dengan galur/strain virus Bejing-1 dan SA 14-14-2.[2,6,8,10] Jenis vaksin yang tersedia di Indonesia saat ini adalah vaksin hidup yang dilemahkan/live-attenuated vaccine. Efek samping yang dapat terjadi antara lain adalah demam, sakit kepala, ruam, menggigil, mual muntah, nyeri abdomen, mialgia, urtikaria, angioedema, hipotensi, dispnea, dan anafilaksis. Vaksin ini dikontraindikasikan pada pasien imunokompromais, kehamilan, dan riwayat hipersensitifitas sebelumnya.[6,10,11]

Rekomendasi Vaksinasi Japanese Encephalitis

Imunisasi Japanese encephalitis secara global saat ini merupakan salah satu program yang sedang digalakkan. Berdasarkan data WHO tahun 2015, vaksinasi Japanese encephalitis merupakan hal yang sangat penting karena imunisasi Japanese encephalitis tidak menyebabkan imunitas herd/herd immunity seperti vaksin lainnya. Hal ini menjadikan angka cakupan imunisasi harus tercapai dan dipertahankan agar tidak terjadi outbreak, terutama pada populasi risiko tinggi. Rekomendasi strategi imunisasi Japanese encephalitis berdasarkan WHO adalah melakukan kampanye untuk imunisasi dengan mentargetkan populasi risiko tinggi, terutama anak dibawah 15 tahun. Program kampanye kemudian harus diikuti dengan memasukkan imunisasi Japanese encephalitis ke dalam jadwal rutin dan dilakukan pemantauan/surveillance. Program ini harus dilakukan di seluruh daerah endemis. Namun demikian, dari 24 negara endemis Japanese encephalitis di Asia, hanya 11 yang (46%) memiliki program khusus untuk vaksinasi Japanese encephalitis. Tujuh di antaranya (29%) menerapkan program imunisasi Japanese encephalitis secara nasional atau area endemis saja dan terdapat 10 negara yang memasukkan vaksinasi Japanese encephalitis ke jadwal imunisasi rutin.[7,8,10]

Rekomendasi jadwal dan dosis vaksin Japanese encephalitis bergantung dari jenis vaksin yang diberikan dan kepentingan pemberian vaksin. Imunisasi yang rutin dilakukan adalah:

  • Vaksin hidup: diberikan satu kali pada usia di atas 8 bulan
  • Vaksin inaktif: diberikan dalam 2 dosis primer dengan jarak waktu pemberian 4 minggu. Vaksin ini dapat diberikan di atas usia 6 bulan
  • Vaksin rekombinan: diberikan satu kali pada usia di atas 9 bulan

Waktu pemberian tersebut dapat berbeda-beda tergantung produsen vaksin. Perlu atau tidaknya diberikan dosis penguat/booster sampai saat ini belum ada rekomendasi jadwal secara pasti.[6-8,10] Di negara-negara nonendemis, rekomendasi yang berlaku adalah pemberian vaksin Japanese encephalitis hidup atau rekombinan paling tidak 14 hari sebelum pergi ke daerah endemis atau menyelesaikan 2 dosis vaksin inaktif paling tidak 1 minggu sebelum pergi ke daerah endemis. Penularan Japanese encephalitis dengan perjalanan ke daerah endemis dinilai cukup kecil, tetapi upaya preventif nya tetapi harus dilakukan.[1,5,6]

Vaksinasi Japanese Encephalitis di Indonesia

Indonesia termasuk salah satu daerah endemis untuk Japanese encephalitis akan tetapi rekomendasi untuk vaksinasi Japanese encephalitis baru diimplementasikan dan masih belum tegas. Japanese Encephalitis dimasukkan ke dalam jadwal imunisasi anak terbaru dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), tetapi tidak diwajibkan. Vaksin Japanese encephalitis diberikan hanya pada anak usia di atas 12 bulan yang tinggal di daerah endemis atau turis yang akan bepergian ke daerah endemis tersebut dan dilanjutkan dengan dosis penguat 1-2 tahun setelah pemberian pertama. Program terbaru dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia terkait imunisasi Japanese encephalitis adalah kampanye imunisasi di 9 Kota di Provinsi Bali dengan target sekitar 890.000 anak usia 9 bulan sampai 15 tahun. Implementasi pemberian vaksin Japanese encephalitis ke dalam jadwal imunisasi rutin baru akan dimulai setelah selesai kampanye introduksi tersebut. Direncanakan bahwa vaksin Japanese encephalitis akan diberikan pada anka usia 9 bulan bersamaan dengan imunisasi campak, akan tetapi imunisasi tetap dilaksanakan berdasarkan kajian epidemiologi wilayah masing-masing. Data untuk cakupan dan surveillance Japanese encephalitis juga belum tersedia dengan jelas.  Meskipun belum sesuai dengan rekomendasi dari WHO tahun 2015 mengenai imunisasi Japanese encephalitis, kebijakan untuk mencapai hal ini sudah mulai diterapkan dan terus dikembangkan.[3,4,10]

Kesimpulan

Japanese Encephalitis merupakan salah satu penyakit yang jarang terjadi tetapi dapat berakibat fatal. Penyakit ini dapat dicegah dengan baik melalui pemberian vaksin, menghindari gigitan nyamuk, serta pengendalian vektor dan inang perantara. Vaksinasi merupakan metode pencegahan yang paling efektif. Rekomendasi vaksinasi Japanese encephalitis yang ada saat ini adalah mengadakan kampanye imunisasi Japanese encephalitis pada populasi risiko tinggi (anak < 15 tahun) yang tinggal di daerah endemis dan perlahan dimasukkan ke dalam jadwal imunisasi rutin serta vaksinasi jika akan bepergian ke daerah endemis. Indonesia merupakan salah satu negara endemis Japanese encephalitis, sehingga vaksinasi Japanese encephalitis sangat diperlukan. Kebijakan imunisasi Japanese encephalitis di Indonesia saat ini hanya diberikan untuk anak-anak di daerah endemis saja. Mengingat kasus Japanese encephalitis sering tidak tercatat dengan baik, terdapat kemungkinan bahwa jumlah kasus Japanese encephalitis secara nasional juga cukup tinggi dan terdapat daerah-daerah endemis Japanese encephalitis yang tidak diketahui. Oleh karena itu, kebijakan untuk vaksinasi Japanese encephalitis dalam perkembangannya diharapkan dapat dimasukkan ke dalam jadwal imunisasi rutin, mengingat Indonesia merupakan daerah endemis. Program yang jelas untuk surveillance Japanese Encephalitis juga harus dikembangkan. Selain dari kampanye untuk vaksinasi Japanese encephalitis, diperlukan juga melakukan kampanye tentang penyakit Japanese Encephalitis serta metode pencegahan lainnya.

Referensi