Rekomendasi Pola Makan bagi Pasien dengan Hipertrigliseridemia

Oleh :
dr. Michael Sintong Halomoan

Pengaturan pola makan merupakan salah satu terapi yang direkomendasikan bagi pasien dengan peningkatan kadar trigliserida atau hipertrigliseridemia. Keadaan hipertrigliseridemia biasanya dikaitkan dengan penurunan kadar kolesterol high-density lipoprotein (HDL) dan peningkatan kadar low-density cholesterol (LDL). Hipertrigliseridemia merupakan faktor risiko berbagai penyakit, seperti pankreatitis dan penyakit kardiovaskular. Sebagai salah satu penatalaksanaan hipertrigliseridemia, pengaturan pola makan sebagai bagian dari perubahan gaya hidup perlu dipahami oleh dokter. Edukasi mengenai jumlah kalori dan pemilihan jenis makanan penting untuk dilakukan pada pasien dengan hipertrigliseridemia untuk mencegah progresivitas penyakit.[1,2,3]

Pengaruh Pola Makan terhadap Kejadian Hipertrigliseridemia

Pola makan yang salah dapat menyebabkan peningkatan kadar trigliserida dalam tubuh. Secara umum, konsumsi lemak dan karbohidrat secara berlebih memainkan peran penting dalam peningkatan kadar trigliserida tubuh. Diet tinggi lemak tak jenuh (monounsaturated fat) lebih berpengaruh terhadap penurunan kadar trigliserida dibandingkan dengan diet tinggi lemak jenuh (saturated fat). Hal ini disebabkan oleh pengaruh lemak monounsaturated dalam kerja insulin yang menyebabkan penurunan produksi trigliserida oleh hati.[4,5]

diet for hypercholesterolemia comp

Metabolisme lemak dan glukosa sangat berkaitan satu sama lainnya. Gangguan metabolisme karbohidrat yang disebabkan oleh diet tinggi karbohidrat dapat diikuti oleh peningkatan kadar trigliserida. Peningkatan kadar trigliserida cenderung lebih sering terjadi pada diet tinggi karbohidrat dengan indeks glikemik tinggi dan rendah serat dibandingkan dengan konsumsi makanan dengan tinggi serat dan indeks glikemik rendah. Namun, diet tinggi serat tidak menjamin penurunan kadar trigliserida bila makanan yang dikonsumsi mengandung fruktosa dengan kadar yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh konsumsi fruktosa berhubungan dengan peningkatan trigliserida, dengan efek yang baru muncul bila konsumsi fruktosa mencapai >10% dari kebutuhan kalori per hari.[3-5]

Selain konsumsi lemak dan karbohidrat, konsumsi alkohol juga berpengaruh dalam peningkatan trigliserida. Pada orang dengan kadar trigliserida yang tinggi, konsumsi sedikit alkohol dapat menyebabkan peningkatan trigliserida, sedangkan pada orang normal, peningkatan trigliserida biasanya terjadi setelah konsumsi alkohol sebanyak 10 – 30 gram per hari.[4,5]

Peran Pembatasan Kalori terhadap Kadar Trigliserida

Salah satu usaha perubahan gaya hidup (therapeutic lifestyle changes) untuk menurunkan kadar trigliserida adalah penurunan berat badan. Obesitas telah dikaitkan dengan peningkatan kejadian hipertrigliserida. American Heart Association (AHA), European Society of Cardiology, dan National Cholesterol Education Program merekomendasikan penurunan berat badan sebagai salah satu perubahan gaya hidup yang penting dalam menurunkan kadar trigliserida. Pengaturan kalori adalah upaya yang dapat dilakukan dari segi gizi untuk menurunkan berat badan.[1-4,6]

Seiring dengan bertambahnya usia, kebutuhan kalori individu akan menurun. Hal ini dapat terlihat dari basal metabolic rate (BMR) yang mengukur kebutuhan kalori setiap kilogram berat badan per jam. BMR akan menurun sekitar 5 kkal per hari pada wanita dan 7 kkal per hari pada pria. Penurunan BMR yang tidak diikuti oleh penyesuaian masukan kalori per hari akan menyebabkan peningkatan berat badan. Agar berat badan tidak mengikuti penurunan BMR, masukan kalori melalui pola makan harus dikurangi dengan atau tanpa disertai peningkatan keluaran energi melalui aktivitas. Prinsip ini juga berlaku pada pasien dengan hipertrigliseridemia, dimana peningkatan berat badan berpengaruh terhadap peningkatan kadar trigliserida tubuh.[1,3,6]

AHA merekomendasikan mengurangi masukan kalori, seperti 50% dari masukan kalori biasa, dalam upaya menurunkan kadar trigliserida tubuh. Sebuah studi dilakukan Normandin et al terhadap subyek penelitian dengan sindrom metabolik dengan mengurangi masukan kalori sebanyak 600 kkal dari total kebutuhan kalori harian subyek penelitian. Studi ini menemukan bahwa peningkatan aktivitas dan olahraga saja tidak cukup dalam upaya menurunkan kadar profil lipid. Studi ini menemukan bahwa peningkatan aktivitas disertai dengan pembatasan kalori berpengaruh positif dalam penurunan kadar profil lipid subyek penelitian, termasuk kadar trigliserida.[2,7]

Komposisi Nutrisi bagi Pasien dengan Hipertrigliseridemia

Secara umum, pasien dengan hipertrigliseridemia disarankan untuk mengurangi konsumsi karbohidrat dan mengganti jenis lemak yang dikonsumsi. National Cholesterol Educational Program melalui Adult Treatment Panel III (ATP-III) merekomendasikan pasien dengan kelainan kadar profil lipid untuk mengurangi lemak jenuh (saturated fats) kurang dari 7% dari total kalori dan kolesterol kurang dari 200 mg per hari. AHA merekomendasikan untuk membatasi konsumsi lemak 25 – 35% dari total kebutuhan kalori harian. Pengaturan konsumsi lemak didahulukan dalam terapi pola makan. Penggantian lemak jenuh menjadi lemak tak jenuh dilakukan dengan komposisi polyunsaturated fat dengan jumlah hingga 10% dari kebutuhan kalori harian dan monounsaturated fat dengan jumlah hingga 20% dari kebutuhan kalori harian.[1-3]

Contoh makanan dengan monounsaturated fat, antara lain:

  • Alpukat
  • Salad dressing berbahan minyak dan mayones

  • Kacang-kacangan (seperti almond, hazelnut, kacang tanah)
  • Olive
  • Biji-bijian (biji labu dan wijen)
  • Margarin
  • Minyak sayur (kanola, olive, kacang, safflower)

Contoh makanan dengan polyunsaturated fat, antara lain:

  • Ikan (haring, kembung, salmon, trout, tuna)
  • Salad dressing berbahan minyak dan mayones

  • Kacang-kacangan (seperti kacang pinus dan kenari)
  • Biji-bijian (rami, labu, wijen, dan biji bunga matahari)
  • Minyak sayur (jagung, biji kapas, kedelai, bunga matahari) [2,8]

Selain pengaturan konsumsi lemak, pasien dengan hipertrigliseridemia perlu mengatur masukan karbohidrat. ATP-III merekomendasikan konsumsi karbohidrat tidak lebih dari 60% dari kebutuhan kalori harian. Sumber karbohidrat yang dikonsumsi oleh pasien dengan hipertrigliseridemia sebagian besar harus didapatkan dari makanan yang kaya akan karbohidrat kompleks seperti gandum, terutama gandum utuh, buah-buahan, dan sayur-sayuran. European Society of Cardiology merekomendasikan pengurangan konsumsi karbohidrat sederhana atau gula dalam bentuk monosakarida, seperti fruktosa, galaktosa, dan glukosa, dan disakarida, seperti sukrosa, laktosa, dan maltosa, sebagai upaya menurunkan kadar trigliserida tubuh.[3,4,9]

Pengaturan zat gizi lain juga tidak kalah penting dalam upaya menurunkan kadar trigliserida tubuh. ATP-III merekomendasikan konsumsi serat sebanyak 20 – 30 gram per hari dan protein sekitar 15% dari total kebutuhan kalori harian. Penggantian makanan sehari-hari menjadi makanan berserat tinggi dapat menurunkan kadar trigliserida pasien sekitar 16,6%. Penggantian sumber protein dari protein hewani menjadi protein nabati dalam pola makan pasien dapat menurunkan kadar trigliserida sekitar 7,3%. Konsumsi makanan yang kaya akan omega-3, eicosapentaenoic acid, dan docosahexanoic acid, seperti ikan sarden, haring, dan salmon, dapat menurunkan kadar trigliserida sekitar 25% hingga 30%.[1,3]

Kesimpulan

Pengaturan pola makan merupakan terapi yang direkomendasikan dalam upaya menurunkan kadar trigliserida pada pasien dengan hipertrigliseridemia. Pola makan diketahui memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kadar trigliserida. Pola makan yang salah, seperti diet tinggi lemak jenuh (saturated fat), diet tinggi karbohidrat, dan konsumsi alkohol dapat menyebabkan peningkatan kadar trigliserida tubuh.

Salah satu bagian penting dalam pengaturan pola makan bagi pasien dengan hipertrigliseridemia adalah pembatasan kalori. Pembatasan kalori dilakukan untuk menurunkan berat badan pasien, karena peningkatan berat badan berkaitan dengan peningkatan kadar trigliserida. Pembatasan kalori diperlukan karena seiring bertambahnya usia, kebutuhan kalori harian individu cenderung menurun.

Pemilihan komposisi nutrisi yang tepat juga penting bagi pasien dengan hipertrigliseridemia. Salah satu pengaturan komposisi nutrisi adalah peralihan dari konsumsi lemak jenuh menjadi lemak tak jenuh yang terdiri atas monounsaturated fat dan polyunsaturated fat. Selain lemak, komposisi karbohidrat juga perlu mendapat perhatian. Konsumsi karbohidrat dibatasi agar tidak melebihi 60% dari kebutuhan kalori harian. Peralihan konsumsi protein nabati dari protein hewani dan peningkatan konsumsi makanan berserat tinggi juga berpengaruh dalam menurunkan kadar trigliserida tubuh.

Referensi