Pilihan Bentuk Sediaan Antibiotik untuk Impetigo

Oleh dr. Rainey Ahmad Fajri

Antibiotik merupakan terapi pilihan pada impetigo. Walau demikian, sering kali muncul kebingungan dalam menentukan bentuk sediaan antibiotik yang perlu digunakan, oral atau topikal.

Impetigo merupakan infeksi superfisial pada epidermis, dan merupakan bagian dari pioderma, infeksi pada kulit. Infeksi tersebut dapat menyebar hingga dermis, atau disebut juga ektima. Impetigo ditandai dengan adanya erosi atau ulkus berkrusta. Impetigo dapat berasal dari infeksi primer ataupun muncul sebagai infeksi sekunder. Selain kedua infeksi tersebut, bakteri dapat menyebabkan impetigo saat masuk dari dermatitis, penyakit dengan bula (pemphigus vulgaris, pemphigoid bullosa, ataupun luka bakar akibat sinar matahari), trauma, ulkus, dan infeksi kutaneus. Bakteri yang dapat menyebabkan impetigo di antaranya adalah Staphylococcus aureus, streptococcus pyogenes, dan methyl resistant staphylococcus aureus (MRSA). Impetigo juga dapat menular melalui kontak kulit.[1-2]

Sumber: Speifensender, Wikimedia commons, 2011. Sumber: Speifensender, Wikimedia commons, 2011.

Penanganan Impetigo

Penanganan impetigo meliputi manajemen luka lokal disertai dengan pemberian antibiotik. Antibiotik yang diberikan dapat berupa antibiotik topikal maupun sistemik. Antibiotik yang diberikan sebaiknya antibiotik yang memiliki cakupan luas dan dapat menangani Staphylococcus aureus, Streptococcus pyogenes, serta group A beta-hemolytic streptococcus (GABHS).

Pemberian mupirosin topikal sangat efektif dalam mengeliminasi group A beta-hemolytic streptococcus (GABHS) dan S. aureus. Mupirosin dapat digunakan selama 7-10 hari pada kulit yang terkena sebanyak tiga kali sehari. Obat topikal dapat digunakan pada kasus yang ringan atau sedang. Selain mupirosin, penggunaan asam fusidat dan retapamulin juga memberikan efek yang baik ada impetigo.[1,3]

Antibiotik sistemik yang direkomendasi untuk impetigo adalah beta-lactamase-resistant antibiotics seperti sefalosporin atau amoxiclav. Antibiotik alternatif di antaranya adalah clindamycin, kotrimoksazol, doxycycline, erythromycin, dan clindamycin.

Bukti Ilmiah terkait Pilihan Bentuk Sediaan Antibiotik untuk Impetigo

Penggunaan antibiotik oral dapat menyebabkan adanya efek samping, serta kemungkinan yang lebih besar dalam terkena resistensi antibiotik yang biasanya disebabkan oleh kebiasaan dalam peresepan obat. Penggunaan antibiotik oral disarankan pada impetigo yang lebih parah.[6] Impetigo yang diobati dengan antibiotik sistemik adalah impetigo yang menyebar ke struktur yang lebih dalam, seperti jaringan subkutan dan otot, disertai dengan demam, limfadenopati, faringitis, infeksi dekat mulut, infeksi pada kepala, dan lesi yang lebih dari lima.[5]

Sedangkan, penggunaan antibiotik topikal memiliki kemungkinan yang lebih kecil dalam resistensi antibiotik, dan sebaiknya digunakan pada pasien dengan lesi impetigo yang terbatas. Pada penelitian tersebut, disebutkan juga bahwa antibiotik topikal memiliki efek samping yang lebih sedikit.[6] Antibiotik topikal yang direkomendasikan untuk impetigo adalah mupirosin 2%, asam fusidat dan, terapi terbaru, retapamulin 1%. Mupirosin memiliki harga yang lebih murah dibanding obat topikal lainnya.[1,4,7]

Penelitian lainnya menunjukkan bahwa penggunaan krim mupirosin lebih baik jika dibandingkan dengan salep mupirosin. Selain itu, penelitian yang sama juga menyebutkan bahwa krim mupirosin memiliki efektivitas yang lebih baik pada impetigo dibandingkan dengan eritromisin oral. Penggunaan eritromisin oral merupakan pilihan oleh para dokter untuk mengatasi impetigo, walaupun begitu, eritromisin tidak dapat digunakan secara bebas di beberapa negara karena adanya resistensi. Pemberian obat oral pada penelitian tersebut menunjukkan adanya efek samping gastrointestinal. Ditemukan pula tingkat kepatuhan pasien pada penggunaan obat topikal dibanding obat oral lebih tinggi yang sama-sama diberikan tiga kali sehari.[8]

Beberapa penelitian lain juga menunjukkan hasil yang sama, yaitu terapi topikal mupirosin lebih baik dibandingkan dengan erithromycin oral. Akan tetapi, tidak terdapat perbedaan signifikan antara mupirosin dan dikloksasilin, cefaleksin, ataupun ampisilin.[5] Selain itu, terdapat pula penelitian mengenai efek antibiotik topikal, yaitu tetracycline, dengan antibiotik topikal yang dikombinasikan dengan antibiotik oral (tetracycline dan minomisin/fosfomisin/cefdinir). Pada penelitian tersebut, tidak didapatkan adanya perbedaan signifikan dalam mengobati impetigo.[9]

Selain mupirosin dan tetracycline, antibiotik topikal yang digunakan adalah neomycin atau bacitracin. Neomycin diketahui sering menyebabkan dermatitis kontak iritan. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pengunaan neomycin ataupun bacitracin memiliki efektivitas yang lebih rendah dibandingkan eritromisin oral. Selain itu, neomycin dan bacitracin juga memiliki efektivitas yang kurang dibandingkan dengan asam fusidat. Pada penelitian yang sama, peneliti juga menemukan bahwa penggunaan chloramphenicol tidak jauh berbeda dengan neomycin dan bacitracin.[5] Penelitian lain juga menunjukkan hasil yang sama pada efektivitas salep neomycin-basitrasin-polimiksin B. Ditemukan bahwa, salep neomycin-basitrasin-polimiksin B tidak lebih baik dari krim mupirosin.[8]

Kesimpulan

Pemberian antibiotik pada impetigo harus mempertimbangkan biaya, efek samping, serta resistensi terhadap antibiotik. Antibiotik yang digunakan pada impetigo dapat diberikan secara topikal ataupun oral. Antibiotik topikal yang paling sering digunakan adalah mupirosin dan asam fusidat. Sedangkan, antibiotik oral yang dapat digunakan di antaranya adalah penisilin G, eritromisin, dan sefadroksil.

Dari berbagai penelitian, dapat disimpulkan bahwa pemakaian antibiotik topikal lebih menguntungkan bagi pasien, karena pemakaian hanya pada tempat yang diperlukan, rendahnya efek samping, dan kurangnya kemungkinan resistensi. Pertimbangkan penggunaan antibiotik oral pada pasien memiliki infeksi yang lebih dalam dan disertai dengan gejala penyerta seperti demam dan limfadenopati.

Referensi