Plat Logam Pasca Fraktur : Perlu Diangkat Atau Tidak

Oleh :
dr. Yelvi Levani

Belum ada pedoman klinis yang jelas mengenai pertimbangan pengangkatan plat logam pasca penyembuhan fraktur. Seringkali pengangkatan plat logam ditawarkan kepada pasien tanpa data yang jelas mengenai keuntungan dari tindakan tersebut.

Salah satu penanganan pada fraktur adalah pemasangan plate and scew, atau disebut juga implant logam, yang biasanya terbuat dari stainless steel atau titanium. Setelah terjadi penyatuan tulang yang fraktur, maka plat logam sudah tidak berfungsi. Apakah plat harus diangkat atau tidak setelah penyembuhan tulang masih merupakan suatu kontroversi.

Operasi ulang pengangkatan implant tentunya berisiko dan membutuhkan biaya serta waktu untuk pemulihan. Hal ini dapat berdampak pada keadaan sosial-ekonomi pasien karena menyebabkan ketidakmampuan untuk bekerja dan beraktivitas selama jangka waktu tertentu. Keputusan pengangkatan implant setelah penyembuhan tulang tentunya harus mempertimbangkan risiko dan manfaat untuk pasien.

Indikasi Pengangkatan Plat Setelah Penyembuhan Fraktur Tulang

plate and screw

Selama beberapa dekade yang lalu, pengangkatan plat logam setelah penyembuhan fraktur tulang merupakan tindakan yang rutin dilakukan. Hal ini disebabkan karena keraguan terhadap keamanan material logam yang dikhawatirkan dapat menyebabkan korosi, alergi, dan bersifat karsinogenesis.

Korosi logam merupakan proses oksidasi logam sehingga menyebabkan munculnya partikel kecil yang dapat bersifat reaktif. Partikel logam yang kecil tersebut dapat menyebabkan inflamasi yang disertai dengan pembentukan jaringan yang nekrosis, granulasi, atau fibrotik. Setelah ditemukan titanium maka risiko untuk terjadi korosi cukup kecil.[1]

Selain korosi, risiko karsinogenesis juga dikhawatirkan terjadi bila plat logam tidak diambil. Tetapi berbagai studi eksperimental sudah menunjukkan tidak ada hubungan antara kanker dan plat logam, sehingga sejak tahun 1990an, korosi dan kanker bukan merupakan indikasi untuk pengambilan implant logam setelah penyembuhan fraktur tulang.[1]

Reaksi alergi terhadap plat yang terbuat dari stainless steel dapat menyebabkan perubahan pada kulit, dermatitis, penyembuhan yang lama, nyeri, atau menyebabkan implant logam menjadi longgar. Tetapi insidensi alergi yang disebabkan oleh pemasangan plat logam pada tulang sangat jarang terjadi.[2]

Atrofi tulang juga merupakan pertimbangan dalam mengangkat plat logam. Sebuah studi dilakukan untuk mempelajari pengaruh plat logam terhadap struktur tulang pada 8 pasien. Studi ini melaporkan bahwa tulang yang dipasangi plat logam memiliki bone density 2,1% lebih rendah. Bone density tersebut dapat kembali normal setelah plat logam diangkat. Namun perlu diingat bahwa studi ini memiliki jumlah subjek studi yang sangat kecil dan hanya meneliti pasien dengan fraktur pada ulna, sehingga hasil studi mungkin tidak dapat diterapkan secara umum. [3]

Saat ini, indikasi untuk pengangkatan plat logam setelah penyembuhan fraktur sebagian besar bersifat relatif. Indikasi absolut untuk menghilangkan plat logam pada tulang yaitu bila menggunakan material yang dapat menyebabkan perforasi seperti pada fiksasi eksternal atau penggunaan K-wires. Bahkan, plat logam pada tulang anak yang masih dalam masa pertumbuhan tidak lagi menjadi indikasi absolut pengangkatan plat.[4] Selain itu, infeksi setelah operasi reduksi fraktur tidak selalu menjadi indikasi absolut untuk pengangkatan plat. Pada sebagian besar kasus, plat tetap dipertahankan sampai tulang menyatu. Untuk penanganan infeksi, dapat dilakukan debridement luka serta pemberian antibiotik lokal dan sistemik.[5-6]

Indikasi relatif lainnya untuk pengangkatan plat setelah penyembuhan fraktur adalah berdasarkan permintaan pasien atau keluhan yang dirasakan pasien. Pasien mungkin mengeluhkan rasa nyeri, gangguan fungsi motorik, rasa tidak nyaman, kompresi jaringan lunak, bengkak dan kaku pada bagian tulang yang sebelumnya patah. Walaupun begitu, keluhan ini bisa saja tidak disebabkan oleh adanya plat logam. Keluhan ini bisa timbul karena trauma, rangkaian operasi yang pernah dilakukan, ataupun penyembuhan fraktur disertai jaringan parut.[1]

Indikasi pengangkatan plat pasca penyembuhan fraktur juga dapat dipertimbangkan berdasarkan lokasi fraktur. Indikasi absolut pengangkatan plat pada fraktur femur proksimal di antaranya adalah nekrosis avaskuler pada kepala femur.[7] Pada fraktur tibia anterior, nyeri merupakan keluhan yang paling sering dialami oleh pasien dan merupakan alasan utama pengangkatan plat.[8]

Studi Tentang Manfaat Pengangkatan Plat Logam Setelah Penyembuhan Tulang

Sebuah studi kohort dilakukan di Amerika Serikat untuk mempelajari luaran pada 25 pasien yang menjalani pengangkatan plat logam pasca fraktur sindesmosis tibiofibular distal. Luaran yang diteliti dalam studi tersebut adalah range of motion (ROM) dan skor fungsional. Sindesmosis berperan untuk menahan beban dan pergerakan pergelangan kaki. Fiksasi di bagian sindesmosis tibiofibular distal setelah trauma menyebabkan kondisi yang statis, yang dapat berperan dalam penyembuhan tulang. Tetapi fiksasi yang dibiarkan setelah penyembuhan tulang dapat menyebabkan keterbatasan ROM dan gangguan fungsional.

Pada penelitian ini, plat diangkat 4 bulan setelah pemasangan. Dilaporkan terdapat perbaikan yang signifikan pada ROM dan skor fungsional sesaat setelah operasi pengangkatan plat logam dibandingkan sebelum. [9]

Studi prospektif lain dilakukan untuk menilai luaran klinis pada pasien yang menjalani pengangkatan plat logam pasca fraktur humerus proksimal. Sebanyak 59 pasien diikutkan dan dibagi menjadi 3 kelompok sesuai dengan alasan pengangkatan plat. Ketiga alasan tersebut diantaranya adalah nyeri yang berkaitan dengan fiksasi plat logam, defisit rotasi persisten, dan atas permintaan pasien sendiri. Hasil studi menunjukkan terdapat peningkatan luaran klinis termasuk pengurangan nyeri dan skor komponen fisik secara signifikan setelah 6 bulan pengangkatan plat logam. Walaupun begitu, studi ini memberi catatan bahwa rekomendasi mengenai pengangkatan plat logam pasca fraktur masih belum ada, sehingga dokter harus tetap dipertimbangkan risiko dan manfaatnya bagi pasien. [10]

Walaupun kedua studi di atas menunjukkan bahwa pengangkatan plat logam dapat memperbaiki keluhan pasien, namun penelitian yang ada saat ini masih memiliki banyak keterbatasan. Penelitian yang ada kebanyakan menggunakan jumlah subjek yang kecil, kelompok subjek yang heterogen, dengan jenis cedera yang berbeda, dan jenis implant logam yang berbeda pula. Sehingga sebuah konsensus yang mendetail mengenai pengangkatan plat logam pada berbagai fraktur di berbagai bagian tubuh sangat diperlukan.

Kesimpulan

Pengangkatan plat logam setelah penyembuhan fraktur masih dalam perdebatan karena belum ada panduan atau rekomendasi secara umum mengenai hal ini. Saat ini sebagian besar pengangkatan plat logam pasca penyembuhan fraktur didasarkan pada indikasi relatif, seperti keluhan yang dialami pasien termasuk nyeri, gangguan fungsional, dan permintaan pasien sendiri. Walaupun beberapa studi menunjukkan terdapat perbaikan keluhan dan fungsi setelah pengangkatan plat logam, tentunya masih dibutuhkan studi dengan desain yang lebih baik dan sampel yang lebih besar untuk membuat pedoman. Manfaat dan risiko bagi pasien harus dipertimbangkan sebelum memutuskan mengangkat plat logam.

Referensi