Peran Pemeriksaan Laju Endap Darah dan CRP untuk Diagnosis Arteritis Temporal

Oleh :
dr. Utami Noor Syabaniyah SpM

Pemeriksaan laju endap darah (LED) dan C reactive protein (CRP) telah banyak digunakan sebagai pemeriksaan awal pada pasien yang dicurigai mengalami arteritis temporal. Arteritis temporal adalah suatu vaskulitis sistemik yang menyerang pembuluh darah berukuran sedang hingga besar, biasanya menyerang cabang ekstrakranial arteri karotis eksterna. Arteritis temporal adalah salah satu kegawatdaruratan medis yang dapat menyebabkan komplikasi okular. Hilangnya tajam penglihatan dapat terjadi pada 13-50% pasien bila tidak dilakukan tata laksana adekuat dan umumnya bersifat ireversibel. Selain itu, arteritis temporal dapat menyebabkan sekuele yang serius, seperti stroke, stenosis pembuluh darah besar, dan aneurisma aorta.[1-3]

Peran Pemeriksaan Laju Endap Darah (LED) dan CRP dalam Diagnosis Arteritis Temporal

Pemeriksaan laju endap darah (LED) dan C-reactive protein (CRP) direkomendasikan sebagai pemeriksaan awal pada pasien yang dicurigai mengalami arteritis temporal.

Hingga kini, biopsi arteri temporal masih menjadi baku emas diagnosis arteritis temporal. Penegakan diagnosis melalui pemeriksaan laboratorium masih memiliki berbagai keterbatasan, utamanya karena bersifat nonspesifik terhadap arteritis temporal. Meski demikian, berbagai studi menunjukkan bahwa kebanyakan pasien mengalami peningkatan acute phase reactant (APR) di awal penyakit. Peningkatan laju endap darah (LED) menjadi salah satu tanda  APR dan telah dijadikan sebagai salah satu kriteria diagnostik oleh American College of Rheumatology (ACR). Sementara itu, C-reactive protein (CRP) adalah suatu APR yang disintesis di hati dan merupakan penanda sensitif inflamasi sistemik. ESR dan CRP sering digunakan bersama untuk evaluasi awal pada pasien dengan kecurigaan arteritis temporal.[1,4]

crp esr

Nilai Diagnostik Laju Endap Darah (LED) dan CRP dalam Diagnosis Arteritis Temporal

Sebuah studi yang melibatkan 764 pasien yang menjalani biopsi arteri temporal mencoba mengevaluasi utilitas LED dan CRP dalam diagnosis arteritis temporal. Hasil studi menunjukkan bahwa peningkatan CRP memiliki sensitivitas 86,9%, dan peningkatan LED memiliki sensitivitas 84,1% terhadap bukti positif temuan arteritis temporal dari biopsi. Masing-masing kedua tes tersebut menghasilkan spesifisitas yang rendah, yaitu CRP 30,5% dan LED 29,5%. Apabila digabungkan, CRP dan LED meningkatkan spesifisitas menjadi 41%.

Negative predictive value (NPV) CRP dilaporkan sebesar 88,6%, dan LED sebesar 86,1%. Kemungkinan seseorang memiliki hasil biopsi yang positif meningkat sebesar 3 kali pada pasien dengan kenaikan LED dan CRP. Perlu diketahui bahwa dalam studi ini ditemukan 4% pasien dengan hasil biopsi positif memiliki nilai LED dan CRP yang normal. [4]

Adanya peningkatan LED ataupun CRP pada pasien yang mempunyai tanda dan gejala arteritis temporal mengindikasikan bahwa pasien tersebut mengalami arteritis temporal (suggestive giant cell arteritis). Namun, hasil CRP atau LED yang normal tidak mengeksklusi adanya arteritis temporal, karena sekitar 4-20% pasien hanya mengalami sedikit kenaikan atau kadar LED dan CRP normal. [2,5,6]

Pentingnya Menggabungkan Pemeriksaan Klinis dan Laboratorium

Suatu studi populasi yang dilakukan oleh Salvarani pada 167 pasien arteritis temporal di populasi Olmsted County di Minnesota, menunjukkan bahwa sekitar 3,6% pasien yang terkonfirmasi dengan biopsi memiliki nilai LED < 30 mm/jam. Selain itu, 5,4% pasien memiliki nilai LED < 40 mm/jam dan 10,8% pasien memiliki nilai LED < 50 mm/jam.[7] Oleh karena itu, dapat terjadi misdiagnosis bila klinisi hanya bergantung pada pemeriksaan LED saja untuk menentukan diagnosis arteritis temporal. Ditambah lagi, tidak ada satupun pemeriksaan laboratorium yang dapat menggantikan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang menyeluruh untuk mengenali tanda awal arteritis temporal.[1,8]

Sebuah tinjauan sistematik yang dipublikasikan pada Agustus 2020 di JAMA Internal Medicine, menganalisis 68 studi kohort diagnostik dengan total 14.037 pasien. Studi ini menunjukkan bahwa temuan klinis dan penunjang yang berkorelasi positif dengan diagnosis arteritis temporal adalah:

  • Klaudikasio ekstremitas
  • Klaudikasio rahang
  • Penebalan arteri temporal
  • Hilangnya pulsasi arteri temporal
  • Hitung platelet > 400 x 103/μL
  • Tenderness temporal

  • LED > 200 mm.jam

Sedangkan, temuan yang berasosiasi dengan tidak adanya arteritis temporal mencakup:

  • Tidak ada peningkatan LED > 40 mm/jam
  • Tidak ada peningkatan CRP > 2,5 mg/dl
  • Tidak ada usia > 70 tahun.

Studi ini menunjukkan pentingnya fitur klinis dan laboratorium dalam alur diagnosis arteritis temporal. Selain itu, peneliti menyatakan bahwa tidak ada satu fitur klinis atau penunjang tunggal yang bisa mengonfirmasi atau mengeksklusi diagnosis jika digunakan sendirian.[9]

Kesimpulan

Pemeriksaan laju endap darah (LED) dan C reactive protein (CRP) memiliki nilai diagnostik yang baik untuk diagnosis awal arteritis temporal. Namun, hasil yang negatif tidak dapat mengeksklusi diagnosis.

Perlu diingat bahwa biopsi arteri temporal masih merupakan baku emas diagnosis arteritis temporal. Hingga kini, tidak ada satu tanda dan gejala klinis ataupun penunjang yang dapat mengonfirmasi ataupun mengeksklusi diagnosis arteritis temporal jika digunakan secara tunggal. Kombinasi dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan LED dan CRP direkomendasikan.

Referensi