Penggunaan Pengental Makanan Pada Bayi di bawah Usia 6 Bulan dengan Refluks Esofagus

Oleh dr. Immanuel Natanael Tarigan

Penggunaan pengental makanan adalah salah metode paling sering digunakan untuk mengatasi regurgitasi pada bayi. Pengental makanan yang sering digunakan adalah pembuatan makanan seperti sereal dengan bahan beras atau jagung, berbasis kacang-kacangan, dan selulosa karboksimetil. Selain cara alami, banyak juga digunakan cara yang lebih praktis dengan menggunakan bahan pengental makanan yang sudah diproduksi. Pengental makanan komersial didesain untuk menyediakan kepadatan energi, osmolalitas dan nutrisi sesuai dengan kebutuhan pasien (kecuali bila dicampurkan dengan susu formula). Penggunaan metode pengentalan makanan pada bayi belum memiliki panduan yang dapat digunakan mengenai peresepan, persiapan dan penyajian makanannya.[1]

Depositphotos_82677300_m-2015_compressed

Manfaat Pengental ASI atau Pengganti ASI

Pengental makanan bayi secara umum tidak berbahaya, tetapi terdapat laporan kasus yang menyatakan terjadinya necrotising enterocolitis pada bayi preterm yang mendapatkan pengental makanan bayi berbasis xanthan atau locust bean gum. Hal lain yang menjadi perhatian pada penggunaan pengental makanan adalah gangguan penyerapan nutrisi akibat penggunaan pengental karbohidrat yang belum dapat dicerna dan peningkatan berat badan berlebih pada bayi yang mendapat pengental berbasis sereal akibat peningkatan kadar karbohidrat dan lemak. Beberapa efek samping lain yang dilaporkan adalah nyeri perut, diare dan konstipasi.[1]

Pengental makanan diindikasikan salah satunya adalah untuk bayi yang mengalami refluks gastroesofagus (RGO). RGO adalah pergerakan isi gaster menuju kerongkongan secara tidak sengaja dengan/tanpa regurgitasi. RGO dapat terjadi pada bayi normal, berhenti sendiri dan tidak menyebabkan gejala apapun. Prevalensi regurgitasi atau RGO mencapai puncak pada usia 4 bulan dengan hampir 50-85% bayi dilaporkan mengalami regurgitasi sekali sehari.[2]

Penyebab utama refluks gastroesofagus adalah relaksasi sfingter bawah esophagus transien yang tidak seharusnya. Hal ini banyak ditemukan pada bayi prematur. Faktor lain yang berhubungan dengan relaksasi transien ini adalah stimulasi faring, distensi lambung dan tekanan intra-abdomen. Untuk membedakan RGO fisiologi dan patologis, RGO patologis didefenisikan sebagai refluks gaster yang bergejala atau berkomplikasi atau keduanya. Gejala pada pasien biasanya tidak spesifik. Gejala regurgitasi yang dapat dilihat oleh orang tua atau pengasuh adalah muntah, iritabilitas dan gangguan tidur. Selain itu, beberapa gejala yang dapat ditemukan oleh orang tua atau pengasuh adalah menangis, rewel, melengkungkan ke belakang, menolak makan, gagal tumbuh, hematemesis, adanya darah pada feses, dan pucat. Beberapa ahli menyatakan bawah rgo patologis didefenisikan sebagai regurgitasi pada bayi usia 3 minggu hingga 6 bulan sebanyak lebih dari 4 kali selama lebih dari 2 minggu. Refluks gastroesofagus yang patologis dinyatakan sebagai GERD (gastro-esophageal reflux disease).[3]

Sebuah meta analisis yang melibatkan 8 studi dengan melibatkan 637 bayi mendapatkan kesimpulan bahwa:[4]

  1. Bayi dengan RGO yang mendapatkan pengental makanan memiliki 2 episode regurgitasi per hari lebih rendah dibanding mereka yang tidak.
  2. Bayi dengan RGO yang mendapatkan pengental makanan 2,5 kali lebih mungkin menjadi asimptomatik pada akhir terapi.
  3. Tidak terdapat studi yang menghubungkan penggunaan pengental makanan bayi dengan gagal tumbuh.
  4. Tidak ada laporan efek samping mayor pada penggunaan pengental makanan, Tidak ada laporan terjadinya obstruksi usus, aspirasi dan kolik pada 8 studi yang dianalisis. Tidak ada perbedaan pergerakan usus dan diare pada kelompok bayi rog yang mendapat pengental makanan dengan kelompok yang tidak.
  5. Belum dapat diambil kesimpulan pengental makanan yang lebih superior untuk digunakan.
  6. Efek pengentalan makanan terhadap peningkatan berat badan berlebihan jangka panjang masih belum dapat ditegakkan, terutama pada penggunaan pengental makanan tradisional. Pengental makanan yang dibuat secara tradisional memiliki densitas kalori yang lebih tinggi
  7. Hubungan penggunaan pengental makanan dengan penurunan derajat keparahan RGO belum dapat ditegakkan karena belum ada standarisasi pengelompokan derajat keparahan RGO. Keparahan RGO bergantung dengan frekuensi atau volume regurgitasi atau keduanya.

Sebuah review artikel yang melibatkan 13 penelitian dengan 1401 bayi mendapatkan bahwa pengunaan pengental makanan menurunkan kejadian refluks dan iritabilitas pagi bayi dengan RGO.[5]

Meta analisis lain tahun 2008 yang melibatkan 14 penelitian dengan 877 subjek mendapatkan hasil bahwa pengentalan makanan memperbaiki gejala regurgitasi dan muntah. Selain itu, pasien yang mendapat pengental makanan berhubungan dengan peningkatan berat badan bayi hingga usia 2 tahun. Tidak dilaporkan efek samping yang bermakna paska penggunaan pengental makanan. Namun, review ini tidak berhasil menemukan hubungan antara pengental makanan dengan indeks refluks. Beberapa pengental makanan yang digunakan pada review ini adalag carob- bean gum, tepung maizena, tepung beras, sereal dan serat kedelai, tetapi tidak terdapat pengental makanan yang lebih superior dibanding lainnya.[6]

Bukti lain yang mendukung didapati dalam meta analisis tahun 2004 yang melibatkan 8 penelitian dengan 419 bayi usia 1 bulan hingga 2 tahun sebagai subjek. Pada penelitian tersebut didapatkan bahwa penggunaan pengental makanan menurunkan frekuensi dan derajat keparahan regurgitasi. Tidak ditemukan efek samping mayor pada penggunaan pengental makanan. Terdapat 3 studi yang menyebutkan efek samping penggunaan pengental makanan yakni batuk dan diare.[7]

Selain metode pengentalan makanan, metode mengatur jadwal makan juga banyak digunakan untuk mencegah RGO pada bayi. Ditemukan bahwa frekuensi pemberian makanan bayi sebanding dengan penurunan kejadian refluks gastroesofagus simptomatik pada bayi. Perubahan teknik makan enteral pada bayi yakni bolus dan berkelanjutan secara praktis klinis digunakan untuk pasien neonatus yang mengalami regurgitasi. Penggunaan pipa nasogastrik yang melewati sfingter bawah esofagus berhubungan dengan kejadian RGO. Penurunan laju pemberian makanan secara enteral misalnya pada penggunaan NGT, menurunkan angka kejadian RGO. Penurunan laju pemberian makanan sebanding dengan panjang durasi makan. Hal menyebabkan hipotesis bahwa lama makan sebanding dengan penurunan kejadian rog pada bayi. Namun, hipotesis ini masih perlu dikonfirmasi lagi dengan penelitian skala lanjutan.[8]

Keamanan Penggunaan Pengental Makanan

Beberapa penelitian dan meta analisis menyebutkan tidak ada laporan kejadian komplikasi mayor akibat penggunaan pengental makanan.[4-7] Batuk merupakan komplikasi yang paling sering dilaporkan.[6,7] Sebuah kasus alergi yang dihubungkan penggunaan carob gum sebagai bahan pengental makanan.[9] Tidak ada laporan kejadian gagal tumbuh pada penggunaan pengental makanan. Pada follow up pada pasien yang mendapatkan pengental makanan didapatkan hasil pemeriksaan nutrisi dan pertumbuhan. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan bahwa penggunaan carob bean gum sebagai pengental menyebabkan penurunan penyerapan kalsium, besi, dan seng dibanding penggunaan pengental makanan berbahan karbohidrat.[10]

Penggunaan pengental makanan pada populasi bayi preterm belum banyak diteliti sehingga efektifitas dan keamanan penggunaan pengental makanan belum dapat disimpulkan. Sebuah studi yang melihat efektifitas penggunaan pengental makanan ASI terfortifikasi dengan tepung kanji menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan perbaikan gejala pada penderita RGO.[8] Penggunaan pengental makanan komersial tidak cukup untuk mencukupi kebutuhan nutrisi pada bayi preterm. Kebutuhan kalori, protein dan asam lemak panjang polyunsaturated fatty acids (LCPUFA) yang dibutuhkan bayi preterm untuk kebutuhan perkembang tidak dapat dipenuhi dengan penggunaan pengental makanan komersial.[8]

Kesimpulan

  1. Penggunaan pengental makanan banyak digunakan sebagai salah satu modalitas terapi pada bayi dengan refluks gastroesofagus. Saat ini ada banyak metode pengentalan makanan yang digunakan misalnya berbasis jagung, beras, kacang-kacangan hingga yang komersial.
  2. Beberapa penelitian dan meta analisis menyimpulkan bahwa penggunaan pengental makanan pada bayi dengan RGO menurunkan gejala dan episode regurgitasi.
  3. Tidak ada hubungan penggunaan pengental makanan dengan kejadian gagal tumbuh pada bayi.
  4. Tidak ada laporan efek samping yang mengancam nyawa pada penggunaan pengental makanan. Beberapa efek samping yang dilaporkan adalah diare, batuk dan alergi.
  5. Tidak ada bahan pengental makanan yang lebih superior dibanding pengental makanan lainnya.
  6. Penggunaan pengental makanan pada bayi preterm perlu diteliti lagi sehingga didapatkan kesimpulan mengenai efektifitas dan keamanannya.

Referensi