Penggunaan Kaptopril Sublingual Berbasis Bukti

Oleh dr. Josephine Darmawan

Kaptopril sering kali digunakan secara sublingual pada krisis hipertensi namun pedoman yang ada tidak pernah merekomendasikan penggunaan secara sublingual ini sehingga diperlukan kajian berbasis bukti.

Penggunaan kaptopril untuk terapi hipertensi sangat luas. Tablet kaptopril oral merupakan salah satu obat antihipertensi yang paling sering digunakan karena efek sampingnya yang minimal dan efek terapinya yang memuaskan. Hal ini membuat kaptopril juga kerap kali digunakan untuk terapi krisis hipertensi, baik hipertensi urgensi ataupun hipertensi emergensi. Dalam penanganan hipertensi krisis, kaptopril merupakan salah satu obat yang memiliki efek antihipertensif baik. Tetapi, onset kerjanya cukup lama bila diberikan secara oral, sehingga sering kali diberikan melalui rute sublingual (SL) untuk terapi krisis hipertensi.[1-3] Namun demikian, studi tentang penggunaan kaptopril secara sublingual menunjukkan hasil yang beragam.[2-6]

captopril-alodokter

Kaptopril adalah obat antihipertensi golongan penghambat enzim konversi angiotensin/angiotensin-converting-enzyme inhibitor (ACE-I). Kaptopril menurunkan tekanan darah dengan menurunkan kadar natrium dan retensi cairan serta menyebabkan vasodilatasi. Onset kerja kaptopril adalah 1-2 jam. Kaptopril mencapai konsentrasi tertinggi plasma dalam waktu 1 jam dan memiliki waktu paruh 2-3 jam. Kaptopril tersedia dalam bentuk tablet oral 12,5 mg, 25 mg, dan 50 mg.[7,8]

Farmakologi Kaptopril Sublingual

Farmakologi kaptopril sublingual bergantung pada mekanisme difusi pasif. Karena rute SL banyak mengandung saliva yang memiliki pH sekitar 6, maka kaptopril akan mengalami ionisasi dan menjadi ion kaptopril HCap. Ion kaptopril ini akan menjadi permeabel melalui rute paraseluer. Mukosa oral memiliki vaskularisasi yang baik, sehingga obat dapat melewati/bypass proses absorpsi pada usus halus dan liver, sehingga onset terapinya bisa lebih cepat. Onset kerja kaptopril sublingual lebih cepat bila dibandingkan dengan rute oral, yaitu 10-20 menit dan puncak efek terapetik tercapai dalam waktu 1 jam. Selain dari onset kerja, farmakologi dan farmakokinetik kaptopril oral dan SL tidak jauh berbeda.[1,7,9]

Penggunaan Kaptopril Sublingual

Pemberian kaptopril melalui rute sublingual sudah dilakukan sejak tahun 1980an untuk manajemen kasus-kasus krisis hipertensi. Hal ini didasarkan pada terapi nifedipin sublingual (penghambat sawar kalsium/calcium channel blocker (CCB)) yang memiliki banyak efek samping. Di sisi lain, efek terapi kaptopril yang memuaskan tetapi onset kerjanya membutuhkan waktu 1-2 jam, sehingga kaptopril diberikan secara sublingual dengan perkiraan bahwa absorpsinya akan menjadi lebih cepat dengan efek samping minimal.[5,10]  Studi terkait penggunaan kaptopril secara sublingual menunjukkan hasil yang beragam. Beberapa menganjurkan penggunaan kaptopril sublingual dan beberapa lebih menganjurkan penggunaan oral.[2-4]

Pemberian kaptopril secara sublingual sendiri bukan merupakan rekomendasi dalam pedoman tata laksana krisis hipertensi. Namun demikian, banyak studi yang menyatakan bahwa penggunaan kaptopril secara sublingual sangat bermanfaat dalam menurunkan tekanan darah dengan cepat tanpa efek samping yang ditimbulkan oleh nifedipin sublingual. Salah satu studi metaanalisis pada 16 uji klinis acak/randomized clinical trial (RCT) pada 759 pasien menyatakan bahwa ACE-I, seperti kaptopril lebih baik dibandingkan dengan CCB, seperti nifedipin untuk hipertensi urgensi.[11] Di sisi lain, studi literatur sistematik Cochrane pada 15 RCT dengan 865 pasien menyimpulkan bahwa ACE-I tidak memiliki efek menurunkan tekanan darah yang cukup cepat untuk manajemen hipertensi emergensi.[6]

Beberapa studi yang lebih baru tentang efektifitas kaptopril sublingual dalam menangani krisis hipertensi menunjukkan bahwa kaptopril sublingual merupakan salah satu alternatif terapi yang baik untuk digunakan pada keadaan gawat darurat hipertensi, akan tetapi efek ini paling baik hanya dalam 1 jam pertama setelah pemberian. Efek antihipertensi kaptopril sublingual setelah 1 jam menurun dan menjadi sama dengan kaptopril oral ataupun obat antihipertensi lainnya.[2-4] Penggunaan nifedipin juga sudah tidak dianjurkan dalam menangani krisis hipertensi. Pilihan terapi beralih kepada kaptopril, klonidin, dan labetalol untuk hipertensi urgensi.[1,12]

Perbandingan Kaptoril Sublingual dan Oral

Kaptopril oral dan sublingual memiliki efektifitas yang hampir sama untuk penurunan tekanan darah. Perbedaan keduanya adalah onset kerja kaptopril sublingual yang lebih cepat, sedangkan dari segi farmakologi lain tidak ada perbedaan.[2-4,9]

Salah satu studi cross-sectional acak pada 212 pasien menunjukkan bahwa efektifitas kaptopril sublingual dan oral hampir sama. Kaptopril SL menurunkan tekanan darah lebih baik dibandingkan kaptopril oral pada waktu 10 menit dan 30 menit setelah administrasi obat (P <0.001). Namun, pada waktu 60 menit setelah pemberian obat efek penurunan tekanan darahnya sama dengan kaptopril oral.[2] Studi cross-sectional lain pada 101 pasien juga menunjukkan hasil yang sama.[4] Sebuah studi observasi retrospektif pada 71 pasien menunjukkan bahwa efek terapi kaptopril oral dan sublingual tidak memiliki perbedaan yang signifikan (p > 0.005). Kaptoril oral dan sublingual sama-sama menurunkan tekanan darah secara signifikan pada 15 menit pertama (p<0.001).[3]

Perbedaan lain yang cukup signifikan adalah rasa tidak nyaman yang dapat ditimbulkan oleh pemberian obat-obatan sublingual, seperti rasa terbakar, rasa pahit, rasa seperti logam/metallic taste, dan reaksi alergi lokal.[3]

Pertimbangan Penggunaan Kaptopril Sublingual

Penggunaan kaptoril secara sublingual belum termasuk rekomendasi dalam pedoman praktik klinis yang ada, tetapi dapat dibenarkan dalam keadaan tertentu, terutama pada hipertensi urgensi. Hal ini dikarenakan onset kerja kaptopril SL yang jauh lebih cepat dan efek sampingnya minimal. Kekurangan pemberian kaptopril secara SL adalah faktor ketidaknyamanan karena dapat menimbulkan rasa seperti logam, terbakar, pahit, serta reaksi alergi lokal. Pada keadaan pasien tidak sadar, pemberian melalui rute sublingual juga dapat dilakukan dan relatif aman. Apabila pasien tidak memerlukan penurunan tekanan darah dengan cepat dan dapat mentoleransi pemberian obat melalui rute oral, maka pemberian kaptopril secara sublingual tidak perlu dilakukan.[1,3,4,11,12]

Referensi