Penggunaan Asam Hialuronat sebagai Dermal Filler untuk Mengatasi Kerutan

Oleh dr. Rainey Ahmad Fajri

Penggunaan asam hialuronat sebagai dermal filler untuk mengatasi kerutan merupakan salah satu tindakan medis di bidang kedokteran estetik yang sering kali dilakukan. Walaupun begitu, efektivitas dari asam hialuronat masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Proses penuaan merupakan penurunan progresif dari fungsi maksimal dan kapasital dari tubuh. Pada kulit, penuaan dipercepat dengan adanya pengaruh lingkungan dari paparan matahari dan polusi. Penuaan intrinsik terjadi pada seluruh kulit dan mengurangi fungsinya sehingga terjadi kerutan pada wajah seiring bertambahnya umur.[1]

Depositphotos_138953638_m-2015_compressed

Asam hialuronat memiliki peran yang penting dalam sintesis molekul matriks ekstraselular dan interaksi sel epidermal dan lingkungan sekitar. Asam hialuronat juga dapat merangsang imunitas selular dengan mempertahankan infeksi dan kejadian alergi. Selain itu, asam hialuronat juga dikenal sebagai substansi yang dapat mempertahankan kelembaban. [2] Kulit yang terlihat muda mengandung banyak asam hialuronat pada dermis, tetapi seiring bertambahnya usia, jumlah asam hialuronat di dermis berkurang 5% dari seharusnya. Ukuran asam hialuronat sebenarnya tidak dapat menembus lapisan pada kulit, akan tetapi, saat ini telah dibuat sediaan asam hialuronat dengan ukuran lebih kecil sehingga dapat masuk ke dalam dermis dan digunakan sebagai dermal filler.[3]

Mekanisme Asam Hialuronat dalam Mengurangi Kerutan pada Kulit

Mekanisme asam hialuronat dalam mengurangi kerutan pada kulit adalah melalui sintesis molekul matriks ekstraselular, serta interaksi sel epidermal dan lingkungan sekitar. Akan tetapi, terdapat kemungkinan mekanisme lain yaitu asam hialuronat sebagai agen antiinflamasi. Degradasi kolagen, elastin, dan asam hialuronat dalam tubuh dapat disebabkan oleh inflamasi kronis yang dapat disebabkan oleh sinar ultraviolet, di mana sinar tersebut mempengaruhi faktor pertumbuhan dan reseptor sitokin. Pada beberapa penelitian, asam hialuronat dapat mengurangi reaksi inflamasi pada berbagai jaringan. Suatu penelitian menunjukkan bahwa injeksi asam hialuronat dapat mengurangi ekspresi MMP-3 dan interleukin-1β pada osteoarthritis. [4] Selain itu, asam hialuronat juga mengurangi sintesis MMP-1 dan MMP-3 yang diperkuat interleukin-1β pada fibroblast rheumatoid sinovial. [5]

Penggunaan asam hialuronat juga dapat berpengaruh pada pembentukan kolagen. Ketegangan mekanis dapat menjadi peran penting dalam menstimulasi pembentukan kolagen. Fibroblast yang meregang ditemukan pada sekitar matriks ekstraseluler dekat dengan filler asam hialuronat yang disuntikan. Selain itu, asam hialuronat juga meregangkan serat kolagen. Fibroblast yang memiliki tekanan mekanik berinteraksi dengan serat kolagen dan menginisiasi sintesis kolagen. [6, 7] Sintesis kolagen juga dapat terjadi akibat asam hialuronat merangsang faktor pertumbuhan, sehingga faktor pertumbuhan menstimulasi produksi kolagen di fibroblast, juga produksi jaringan ikat pada penyembuhan luka.[8, 9]

Penggunaan Asam Hialuronat dalam bentuk Dermal Filler

Penggunaan dermal filler asam hialuronat biasanya dilakukan pada lipatan nasolabial, bibir, lipatan sebelah bibir, dan sebagai pembentuk wajah. Filler pada kulit tidak berefek permanen, sehingga membutuhkan terapi berulang dalam mempertahankan bentuk wajah yang diinginkan. Filler asam hialuronat dapat bertahan 4-12 bulan berdasarkan agen yang digunakan dan ke dalam penyuntikan. [10]

Sebuah uji klinis oleh Smith, et al. tahun 2010 menunjukkan bahwa penggunaan asam hialuronat pada kulit dapat diulang pada bulan ke 6-9 untuk hasil yang lebih baik dan penggunaan asam hialuronat yang jauh lebih sedikit sehingga mengurangi dampak pada keuangan pasien. Penggunaan asam hialuronat seperti ini juga dapat memberikan kesan yang lebih natural dan tidak terlalu terlihat. Walaupun begitu, penelitian ini hanya melibatkan 150 subjek, sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pada populasi yang lebih banyak.[11]

Sebuah RCT oleh Carruthers, et al. mengenai perbandingan penggunaan asam hialuronat + botox dan asam hialuronat saja menunjukkan respon yang lebih baik dalam berkurangnya kerutan yang parah pada glabella yang disuntikan asam hialuronat dan botox. Terjadi kekambuhan pada pasien dengan penggunaan asam hialuronat saja pada minggu ke 12. Akan tetapi, dibutuhkan penelitian lebih lanjut dengan jumlah sampel yang lebih banyak dan populasi di wilayah lain.[12]

Selain itu, RCT oleh Cohen, et al. juga menunjukkan hasil yang sama, yaitu berkurangnya kerutan wajah sedang sampai berat pada penggunaan botox dan asam hialuronat. Pada penelitian ini, ditemukan bahwa perubahan estetika wajah bertahan hingga 6 bulan. Sama seperti penelitian oleh Carruthers, et al., penelitian ini membutuhkan lebih banyak sampel karena penelitian ini hanya melibatkan 152 subjek.[13]

Efek Samping Penggunaan Asam Hialuronat

Efek samping yang dapat terjadi pada penggunaan dermal filler asam hialuronat adalah nyeri tekan, bengkak, eritema, memar, bentukan nodul, dan reaksi inflamasi lainnya. Walaupun begitu, kejadian terjadinya muncul pada 12% pasien yang diberikan filler asam hialuronat.[14]  Selain itu, efek samping lain seperti abses steril dan angiodedema juga dilaporkan. Komplikasi seperti pembentukan hematoma, pembengkakan yang besar dan lain-lain terjadi pada 1:1600 kasus. [15]

Kesimpulan

Asam hialuronat dapat digunakan sebagai terapi dalam penanganan kerutan pada wajah. Penggunaan asam hialuronat dalam bentuk dermal filler memberikan hasil yang baik dan signifikan pada kulit, walaupun begitu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai hal tersebut dengan jumlah sampel yang lebih banyak. Walaupun peran yang sangat baik dari asam hialuronat, efek samping seperti nyeri tekan, bengkak, atau bahkan angioedema harus diperhatikan.

Referensi