Manfaat Anestesi Topikal pada Tata Laksana Nyeri Telinga Otitis Media Akut

Oleh :
dr. Dhaniel Abdi Wicaksana SpTHTKL FICS

Pemberian anestesi topikal pada anak dengan otitis media akut (OMA) dinilai bermanfaat karena menurunkan distress anak akibat nyeri telinga maupun memperbaiki pola tidur anak. Pemberian anestesi topikal dapat secara cepat menurunkan keluhan nyeri telinga pada anak.

Otitis media akut (OMA) meskipun bukan penyakit yang mengancam jiwa, namun otalgia yang dihasilkan seringkali sangat mengganggu terutama bila dialami oleh seorang anak.Opsi alternatif selain pemberian analgesia perlu dipertimbangkan karena proses yang panjang hingga memperbaiki keluhan di telinga, maka dapat dipertimbangkan pemberian anestesi topikal.[1-3]

 shutterstock_1392019856 (1)-min

Rekomendasi Terapi Otitis Media Akut

Pilihan terapi dari otitis media akut (OMA) tergantung oleh stadium yang saat ini sedang terjadi pada penderita, namun harus memenuhi tiga tujuan yaitu mengatasi nyeri, mengontrol demam dan mengatasi infeksi. Pada anak, tatalaksana terkait reduksi nyeri menjadi sorotan utama mengingat anak seringkali tidak dapat mentoleransi nyeri.[4,5]

Analgesik Oral Dianjurkan Pada Pasien dengan OMA

American Academy of Pediatrics (AAP) dan American Academy of Family Practice (AAFP) merekomendasikan penanganan otitis media akut (OMA) dimulai dengan pemberian analgetik yang adekuat. Pemberian analgetik ini penting terutama pada waktu tidur anak, karena gangguan tidur seringkali merupakan alasan utama orang tua pasien memeriksakan anaknya ke dokter.[6,7]

Paracetamol menjadi opsi utama sebagai analgesik antipiretik. Akan tetapi, kendala pemberian parasetamol adalah respon obat yang lambat dan tidak sepenuhnya mengatasi nyeri. Studi Cochrane mendapatkan otalgia yang terjadi dapat dikontrol oleh analgesik oral setelah 48 jam bila dibandingkan plasebo, dan tidak ada beda antara plasebo dengan analgesik oral saat 24 jam pemberian.[6,7]

Pemberian Antibiotik Tidak Memberikan Manfaat

Pemberian antibiotik masih menjadi kontroversi, di satu sisi dianggap untuk eradikasi infeksi pada sebagian kasus  kecil OMA yang disebabkan oleh infeksi bakteri, secara tidak langsung antibiotik dapat mengurangi otalgia. Namun kekurangan antibiotik adalah untuk menunjukkan efektivitasnya dibutuhkan waktu 48 jam. Permasalahan terbesar dalam penggunaan antibiotik adalah resistensi, sehingga pemberiannya perlu dihindari pada kasus OMA ringan atau pada anak usia 2 tahun ke atas.[8,9]

Venekamp et al menegaskan pada studi Cochrane yang disusunnya bahwa antibiotik tidak memiliki dampak dalam berkurangnya rasa nyeri baik dalam waktu 24 jam pemberian, ataupun dampaknya tidak cukup besar meskipun telah beberapa hari digunakan. Diperkirakan hanya 30% yang mengalami penurunan skala nyeri setelah penggunaan antibiotik selama 2-7 hari. Antibiotik paling baik digunakan pada penderita OMA bilateral berusia di bawah 2 tahun atau bila terdapat otore.[9]

Dekongestan dan Antihistamin Dinilai Tidak Bermanfaat Untuk Mengatasi OMA

Obat lain seperti dekongestan dan antihistamin tidak efisien mengatasi OMA meski dapat membantu mengurangi gejala pada hidung yang berlangsung bersamaan. Steroid tidak menunjukan manfaat pada fase akut. Pembedahan seperti miringotomi dengan atau tanpa pemasangan pipa ventilasi dan timpanosintesis dapat bermanfaat sebagai alat diagnostik, terapeutik maupun profilaksis. Indikasi pembedahan sendiri hingga saat ini belum terdapat ketentuan yang telah disepakati bersama.[4,6,8]

Anestesi Topikal Pada Otitis Media Akut

Hingga saat ini belum diketahui modalitas terbaik untuk menangani nyeri telinga (otalgia) pada penderita otitis media akut (OMA). Sehingga dibutuhkan mnajamen yang cepat untuk mengurangi rasa nyeri pada anak. Obat anestesi topikal mulai dipertimbangkan sebagai bagian tatalaksana OMA. Onset cepat dalam mengatasi nyeri menjadi pertimbangan utama pemberian.[8]

Penelitian yang belum cukup untuk menarik kesimpulan apakah anestesi topikal mampu mengatasi nyeri pada penderita OMA. Kendala dalam pemberian anastesi topikal adalah keterbatasan sediaan tetes telinga. Tetes telinga analgetik hanya tersedia beberapa produk di pasaran dan sebagian besar merupakan kombinasi. Jenis anestesi yang tersedia juga kurang beragam, sediaan berupa obat injeksi atau sediaan lainnya belum diketahui efektivitasnya bila digunakan sebagai tetes telinga.[8,10]

Anastesi Topikal Bentuk Cair Dapat Diberikan pada OMA dengan Membran Timpanin Nonintak

Sediaan seperti kombinasi antipirine-benzocaine ataupun lidocaine telah dilaporkan dapat mengurangi otalgia yang terjadi dalam waktu singkat (rapid), yaitu hanya dalam 30 menit setelah pemberian, terlebih bila pemberiannya dikombinasikan dengan analgesik oral. Namun, pemberian analgetik topikal harus berhati-hati. Benzocaine tidak boleh diberikan pada OMA dengan ruptur membran timpani oleh karena sifat suspensi minyak yang tidak dapat diserap denga baik. Berbeda dengan bentuk cairan (aqueous solution) yang tetap dapat diberikan pada kondisi ruptur membran timpani.[8]

Studi Eksperimental Analgesik Topikal untuk Otitis Media Akut

Efektivitas anestesi topikal seperti lidocaine untuk mengatasi otalgia pada OMA dipertanyakan. Pemberian secara tetes telinga diduga kurang efektif karena sebagian besar obat tidak mampu menembus membran timpani karena stratum corneum dari membran timpani yang bersifat impermeable dan hanya dapat ditembus oleh molekul kecil yang hidrofobik. Yang et al membuat sediaan berupa hidrogel dengan kombinasi bupivacaine dengan tetrodotoxin mampu menembus membran timpani dan konsentrasi mencapai dosis terapi (blok saraf) setelah 6 jam dan 48 jam setelah pemberian pada penelitian menggunakan hewan coba.[3]

Efek Samping Anestesi Topikal Telinga

Efek samping anestesi topikal terhadap pendengaran manusia belum diketahui sepenuhnya, namun telah ada penelitian yang mengevaluasi ototoksisitas obat anestesi pada hewan coba. Mota et al. menggunakan analgetik anestesi topikal (kombinasi antipirine, benzocaine dan gliserin) pada penelitian hewan coba chinchilla.[2]

Didapatkan 80% hewan coba mengalami tanda peradangan dan kelumpuhan otot wajah serta ambang dengar berdasarkan tes auditory brainstem response pada rentang 30 – 50 dB dan secara mikroskopis tampak kerusakan sel rambut dan stria vascularis dari koklea pada hewan yang mendapatkan obat analgetik anestesi topikal secara intratimpani (menggambarkan pemberian pada kasus perforasi membran timpani). Sementara hal tersebut tidak terjadi pada kelompok kontrol. Penelitian ini menunjukkan efek ototoksik dari kombinasi obat ini (meski belum diketahui pasti kandungan obat mana yang mempunyai kemampuan ototoksik) dan penggunaannya sebaiknya pada kasus membran timpani intak.[2]

Perbandingan Efektivitas Anestesi Topikal dengan Modalitas Lain pada Manajemen Nyeri Telinga pada Otitis Media Akut

Penanganan nyeri telinga yang adekuat pada penderita otitis media akut (OMA) sangatlah penting. Keterlambatan penanganan atau panjangnya mekanisme aksi suatu obat untuk mengurangi nyeri telinga tentu sangat tidak nyaman bagi penderitanya. Penanganan dengan observasi, seringkali tidak diterima oleh orang tua penderita. Saat ini terbuka pilihan untuk menggunakan anestesi topikal untuk mengatasi nyeri telinga pada OMA, akan tetapi data pendukung terkait penelitian yang ada masih sangat terbatas.[1]

Studi Cochrane yang melibatkan 13 penelitian randomized controlled trial dengan total sampel sebesar 3.401 anak penderita OMA yang mendapatkan antibiotik dan dibandingkan dengan plasebo untuk mengatasi nyeri. Nyeri tidak berkurang dengan penggunaan antibiotik pada 24 jam pemberian awal (RR 0,89, 95% CI 0,78 – 1,01). Sepertiga kasus masih mengalami nyeri residual setelah 2-3 hari pemberian antibiotik (RR 0,70, 95% CI 0,57-0,86, NNTB 20). Secara keseluruhan dalam penelitian ini merekomendasikan antibiotik untuk kasus OMA bilateral pada anak usia di bawah 2 tahun. Akan tetapi penelitian tersebut tidak ada satupun yang membandingkan langsung dengan pemberian anestesi topikal.[9]

Studi Cochrane dari lima penelitian dengan jumlah sampel sebesar 391 anak penderita OMA mendapatkan hasil yang sama, yaitu anestesi topikal secara signifikan membantu mengurangi otalgia. Salah satu penelitiannya adalah oleh Bolt et al  yang menggunakan lignocaine yang diberikan sebagai tetes telinga dan diberikan pada 31 penderita OMA, sementara 32 penderita mendapat plasebo. Evaluasi dilakukan pada menit ke-10, 20 dan 30 setelah pemberian obat dan didapatkan penderita yang mendapatkan lignocaine menunjukkan penurunan skala secara signifikan pada menit ke-10 (RR 2.06, 95% CI 1,03-4,11, p=0,03) dan menit 30 (RR 1,44, 95% CI 1,07-1,93, p=0,009), namun tidak pada menit ke-20 (RR 1,35, 95% CI 0,88-2,06). Penelitian ini menunjukkan respon cepat dari obat anestesi topikal dalam mengatasi nyeri telinga pada penderita OMA.[1,10]

Kesimpulan

Otitis media akut (OMA) merupakan penyakit yang sering dijumpai, khususnya pada anak-anak dan meskipun umumnya tidak mengancam jiwa, namun otalgia yang dihasilkan seringkali sangat mengganggu. Modalitas yang selama ini digunakan seperti antibiotik maupun analgesik oral tidak cukup mampu mengatasi otalgia dengan segera.

Oleh karena itu muncul opsi penggunaan anestesi topikal untuk mengatasi nyeri telinga/otalgia yang terjadi pada OMA. Beberapa penelitian menunjukkan analgesik topikal poten dalam mengatasi nyeri telinga, namun kemungkinan ototoksisitas dari obat anestesi yang digunakan menjadi kekurangan dari sediaan topikal ini, sehingga pemberiannya perlu diperhitungkan untung ruginya dan dihindari bila membran timpani perforasi. Masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut terkait efektivitas dan perbandingannya dengan modalitas lain untuk penggunaan lebih lanjut dari analgesik topikal pada OMA.

Referensi