apakah menarik jasa medis dari sesama sejawat sesuai dengan kode etik? - Diskusi Dokter

general_alomedika

TS apakah menarik jasa medis dari sesama sejawat sesuai dengan kode etik?Saya banyak mendapat cerita dimana banyak sejawat yang berobat dan tetap dikenakan...

Diskusi Dokter

  • Kembali ke komunitas
  • apakah menarik jasa medis dari sesama sejawat sesuai dengan kode etik?

    27 April 2019, 22:07
    Anonymous
    Anonymous
    Dokter Umum

    TS apakah menarik jasa medis dari sesama sejawat sesuai dengan kode etik?

    Saya banyak mendapat cerita dimana banyak sejawat yang berobat dan tetap dikenakan jasa medik padahal sudah tau pekerjaan sesama dokter.. apakah memang ini sudah tidak berlaku lagi sekarang?

28 April 2019, 06:32
Alo Dok,

Saya pun sependapat bahwa sesuai sumpah dokter yg menyatakan teman sejawat adalah saudara kandung, maka tdk selayaknya menarik jasa medis. Saya pun jika sebagai pasien, sebagian besar menggratiskan jasa medis, malah terkadang saya tidak enak sendiri apalagi jika butuh konsul dalam beberapa sesi.

Namun saya mencoba netral dalam hal ini dgn merujuk pada pedoman kode etik dari IDI, yg tercantum jelas pada pasal 3 yg intinya:
1. Dokter berhak menarik imbalan atas jasa medis yg telah dilakukannya
2. Dokter dilarang menarik biaya dari teman sejawat, pada kasus gawat darurat dan pertolongan sederhana.

Jadi, masih ada tempat utk menarik jasa medis atas kemampuan yg dirasa sulit atau membutuhkan keahlian yg spesifik. 


Berikut saya lampirkan juga screenshot dan link terkait:http://www.ididkijakarta.com/data/pedoman.pdf

28 April 2019, 06:42
dr. Fatnan Setyo Hariwibowo, Sp.PD
dr. Fatnan Setyo Hariwibowo, Sp.PD
Dokter Spesialis Penyakit Dalam
28 April 2019, 06:32
Alo Dok,

Saya pun sependapat bahwa sesuai sumpah dokter yg menyatakan teman sejawat adalah saudara kandung, maka tdk selayaknya menarik jasa medis. Saya pun jika sebagai pasien, sebagian besar menggratiskan jasa medis, malah terkadang saya tidak enak sendiri apalagi jika butuh konsul dalam beberapa sesi.

Namun saya mencoba netral dalam hal ini dgn merujuk pada pedoman kode etik dari IDI, yg tercantum jelas pada pasal 3 yg intinya:
1. Dokter berhak menarik imbalan atas jasa medis yg telah dilakukannya
2. Dokter dilarang menarik biaya dari teman sejawat, pada kasus gawat darurat dan pertolongan sederhana.

Jadi, masih ada tempat utk menarik jasa medis atas kemampuan yg dirasa sulit atau membutuhkan keahlian yg spesifik. 


Berikut saya lampirkan juga screenshot dan link terkait:http://www.ididkijakarta.com/data/pedoman.pdf

Setuju,
Kembali ke diri masing2 sejawat, 
Tapi jika kita sebagai pasien, tidak perlu menuntut untuk digratiskan walau secara etik kita sebaiknya digratiskan oleh rekan TS kita, tapi secara sociokultural kurang pas.


28 April 2019, 13:25
dr. Zuhrotun Ulya, Sp.KJ, M.H
dr. Zuhrotun Ulya, Sp.KJ, M.H
Dokter Specialis Psikiater

Alo dok!

Setuju dengan dr. Fatnan, kembali ke diri masing2 sejawat. Tapi saya ingin membicarakan dari sudut pandang lain y dok tentang tarif layanan. 

kalau setting nya RS dok, tentu punya tarif layanan sendiri sesuai peraturan daerah masing-masing yang disesuaikan dengan peraturan pemerintah. Nah, untuk jasa medis dokter pelaksana, itu gak 100% masuk pada dokternya. Contoh untuk RS Tipe C, saya simulasikan seperti ini biaya periksa dokter 100 ribu, itu nanti dibagi dok, 20% jasa sarana, 80% jasa medis. dari 80% ini masih dibagi lagi ke jasa langsung (untuk dokter & asisten) dan jasa tidak langsung (non medis, dll). Ujung2nya yg masuk di dokter bisa jadi gak sampai 50 ribu. Ada RS yg menerapkan fixed price, namun juga dalam bentuk prosentase. 

kalau setting nya praktek pribadi dok, mungkin bisa dipikirkan alat & bahan habis pakai serta sarana penunjang yg digunakan. contoh berikutnya pemeriksaan psikometri dalam psikiatri yang menggunakan alat dok, karena butuh lisensi internasional ada item pemeriksaan tarif 250.000, nah ini kalau dibebaskan jasmed nya, tinggal dihitung berapa sejawat yg butuh pemeriksaan tersebut, apalagi interpretasi juga perlu expertise kan dok.

kalau dokter jadi pasiennya, y dipikirkan itu tadi. kalau dokter jadi dokter pemeriksa, y kembali ke faktor kecil yang saya simulasikan tadi. Saya lampirkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 560 tentang pola tarif perjan RS sebagai dasar opini saya dengan pengembangan seperlunya.

Semoga dapat diterima dengan baik, mohon maaf jika ada yg kurang berkenan dalam penyampaian. Salam. 

 

Kepmenkes 560-MENKES-SK-IV-2003-Perjan RS.pdf
29 April 2019, 08:46
Setuju Dok. 
30 April 2019, 15:05
Anonymous
Anonymous
Dokter Umum

Dibaca dulu dok

Penjelasan Pasal 18 cakupan Pasal butir (3) yang berbunyi : Setiap dokter wajib menegakkan sewajarnya budaya menolong teman  sejawatnya  yang  sakit,  tertimpa musibah, bencana dan kesulitan berat lainnya.Dijelaskan pada huruf (c), (d) dan (e) halaman 54 yaitu:

(c) Perlakuan dokter  terhadap sejawat yang menjadi pasiennya  : sebaiknya memperkenalkan diri secara jujur bahwa dia adalah dokter ketika berobat ke dokter yang mengobati, dokter yang mengobati teman sejawat sebaiknya menyambut perkenalan diri teman sejawat yang menjadi pasien

(d) Sebaiknya  memperkenalkan  dokter  pribadi  atau  dokter keluarganya  kepada  dokter  yang  mengobati,  dan

(e) Dokter wajib  membebaskan  jasa  medis  bagi  sejawatnya, istri/suami ,  anak yang masih menjadi tanggungan, serta orangtua sejawat yang dirawat inap maupun rawat jalan (vertikal) kecuali ditanggung oleh asuransi.

28 April 2019, 14:37
Segala peraturan sudah disebutkan diatas ya dokter. 
Menurut saya pribadi,  jika saya sebagai pasien,  saya Insya Allah tetap siap dan bersedia membayar jasa medis TS karena beberapa pertimbangan,  misal
1. Saya tau saat sekolah itu masa masa sulit,  banyak yang dikorbankan selain materi juga keluarga 
2. TS juga punya kebutuhan hidup untuk makan dan lain sebagainya, bisa juga sebagai kepala keluarga untuk kebutuhan istri dan anak sekolah. 
Jadi jika TS tidak mengetahui saya juga dokter,  Insya Allah saya tetap membayar jasa medis supaya sama sama sejahtera. Hehehe

Jika saya sebagai dokter,  Insya Allah saya bebaskan jasa medisnya kecuali untuk barang barang habis pakai atau bahan yang harus dibeli atau administrasi rumah sakit yang masuk ke rumah sakit itu sendiri yang tidak bisa di free kan ya,  dokter. Yang penting uang yang akan masuk ke kantong pribadi yang bisa saya free kan. 
Cmiiw. 
Terima kasih dokter. 
28 April 2019, 16:01
Sangat setuju Dok,  yang pasti jika kita sebagai pasien,  jangan langsung berniat free,  tetap hargai dokter yang sudah sekolah lebih lama. 
28 April 2019, 16:39
dr. Samuel, Sp.P, FPCP
dr. Samuel, Sp.P, FPCP
Dokter Spesialis Paru
Alodokter,
Kalau saya tidak menarik fee dari TS dan juga yg msh mahasiswa kedokteran. 
28 April 2019, 17:07
Sukses terus Dok. ๐Ÿ™
28 April 2019, 17:08
28 April 2019, 16:39
Alodokter,
Kalau saya tidak menarik fee dari TS dan juga yg msh mahasiswa kedokteran. 
Panutan,  dokter ๐Ÿ‘
28 April 2019, 17:28

Alodok, saya sependapat dengan TS yang lain.
Saya kalau pun konsul dengan sejawat yang tidak mengenal saya, dan dari saya sendiri juga gak ada niat untuk menceritakan identitas profesi saat px di praktik, karena merasa keberatan secara pribadi jika jasa gratis. Kalau untuk mahasiswa fk jg seluruhnya sy gratiskan.

28 April 2019, 17:28
Anonymous
Anonymous
Dokter Umum
28 April 2019, 16:39
Alodokter,
Kalau saya tidak menarik fee dari TS dan juga yg msh mahasiswa kedokteran. 
Panutan dok, saya sendiri tidak pernah menarik jasmed dari sejawat.. dan saya bangga jg melihat konsulen yg masih memegang prinsip ini...karna toh rejeki ga kemana jg, aplg sejawat yg berobat juga ga sebanyak pasien umum lain...
28 April 2019, 21:15
Ijin ikut menanggapi dokter. Selain penjelasan tentang aturan2 diatas sebenarnya betul sekali jika ini kembali ke pribadi masimg-masing ya, krn mgkn ada faktor lain yang menyebabkan TS menarik jasmed sesama TS. Untuk sy pribadi memang tidak mau menarik jasa utk sesama TS, bahkan perawat atau tenaga medis, sejak dokter umum. Terima Kasih.
29 April 2019, 07:59
Alodok!! Kalau saya tidak menarik jasmed dr TS walapun saya tidak kenal..mahasiswa kedokteran..juga perawat di tempat saya bekerja. Tetapi bgmnpun silahkan kembali ke masing2 pribadi dok. Kita sebagai tenaga medis jg harus siap jika kita membutuhkan pertolongan sejawat kita dan diminta untuk membayar. 
29 April 2019, 08:11
Kembali ke Individu masing2 dokter. 
30 April 2019, 15:05
Anonymous
Anonymous
Dokter Umum

Dibaca dulu dok


Penjelasan Pasal 18 cakupan Pasal butir (3) yang berbunyi : Setiap dokter wajib menegakkan sewajarnya budaya menolong teman  sejawatnya  yang  sakit,  tertimpa musibah, bencana dan kesulitan berat lainnya.Dijelaskan pada huruf (c), (d) dan (e) halaman 54 yaitu:

(c) Perlakuan dokter  terhadap sejawat yang menjadi pasiennya  : sebaiknya memperkenalkan diri secara jujur bahwa dia adalah dokter ketika berobat ke dokter yang mengobati, dokter yang mengobati teman sejawat sebaiknya menyambut perkenalan diri teman sejawat yang menjadi pasien

(d) Sebaiknya  memperkenalkan  dokter  pribadi  atau  dokter keluarganya  kepada  dokter  yang  mengobati,  dan

(e) Dokter wajib  membebaskan  jasa  medis  bagi  sejawatnya, istri/suami ,  anak yang masih menjadi tanggungan, serta orangtua sejawat yang dirawat inap maupun rawat jalan (vertikal) kecuali ditanggung oleh asuransi.

29 April 2019, 09:28
Kalo Saya pribadi tidak menarik bayaran dari ts. namun pengalaman pribadi pernah di tarik bayaran oleh ts Dan banyak ts yang tidak menarik bayaran.
29 April 2019, 13:24
Alodok, Mengenai hal tsb sudah diatur oleh Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) tahun 2012 pada Pasal 18 : Menjunjung Tinggi Kesejawatan : Setiap dokter wajib memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan. 
 

Penjelasan Pasal 18 cakupan Pasal butir (3) yang berbunyi : Setiap dokter wajib menegakkan sewajarnya budaya menolong teman  sejawatnya  yang  sakit,  tertimpa musibah, bencana dan kesulitan berat lainnya.Dijelaskan pada huruf (c), (d) dan (e) halaman 54 yaitu:

(c) Perlakuan dokter  terhadap sejawat yang menjadi pasiennya  : sebaiknya memperkenalkan diri secara jujur bahwa dia adalah dokter ketika berobat ke dokter yang mengobati, dokter yang mengobati teman sejawat sebaiknya menyambut perkenalan diri teman sejawat yang menjadi pasien

(d) Sebaiknya  memperkenalkan  dokter  pribadi  atau  dokter keluarganya  kepada  dokter  yang  mengobati,  dan

(e) Dokter wajib  membebaskan  jasa  medis  bagi  sejawatnya, istri/suami ,  anak yang masih menjadi tanggungan, serta orangtua sejawat yang dirawat inap maupun rawat jalan (vertikal) kecuali ditanggung oleh asuransi.

29 April 2019, 13:34
Terimakasih atas sharingnya Dokter ๐Ÿ™ Sejak dahulu masih koas pun, banyak konsulen yg menggratiskan jasa medis (bahkan utk tindakan bedah minor), meski tdk semuanya. Mereka semua panutan dan guru terbaik saya.
29 April 2019, 21:12
dr.Anastasia Ratnawati Biromo, SpKJ
dr.Anastasia Ratnawati Biromo, SpKJ
Dokter Specialis Psikiater
Terima kasih banyak share ini, doc. Sangat membantu. Kadang kalau saya konsultasi sebagai pasien ke teman sejawat, ada perasaan sungkan untuk memperkenalkan diri sebagai dokter (ga enak kalau di waive biaya konsultasinya). Tp ternyata secara etik memang harus dilakukan ya doc
30 April 2019, 08:38
Iya dok secara etik, seharusnya begitu. Menggratiskan
30 April 2019, 10:01
Wahhh terima kasihnya dok sharenya. Ternyata ada aturannya harus memperkenalkan diri sbg dokter ya? Saya msh sering sungkan jika memperkenalkan diri sbg dokter. Makasih pencerahannyandokter.
30 April 2019, 17:53

Ternyata ada aturan ttg kewajiban memperkenalkan diri ya dok secara etik? saya juga baru tau karena biasanya sungkan untuk membuka identitas profesi sebagai pasien saat konsul ke sejawat lain.

Terimakasih dok sangat mencerahkan

29 April 2019, 21:17
dr.Anastasia Ratnawati Biromo, SpKJ
dr.Anastasia Ratnawati Biromo, SpKJ
Dokter Specialis Psikiater
Alo Dok! Menarik sekali topik diskusinya. 
Kalau saya pribadi tidak pernah menarik jasa medis dari teman sejawat, pasangan & orang tua teman sejawat, mahasiswa FK dan staff RS tmpt saya bekerja. Khusus untuk staff RS, biasanya pertemuan pertama saya nihilkan biaya konsultasinya, kemudian saya anjurkan untuk berobat selanjutnya dgn BPJS ๐Ÿ˜„
30 April 2019, 09:38
Benar dok dengan asuransi bisa membantu, dokter tetap bisa mendapat jasa medis sesuai dengan tingkat kesulitan tindakannya. Saya juga mengurus bpjs dan asuransi, untuk sy sendiri dan keluarga berobat, antara lain agar sejawat tetap mendapatkan jasmed, terutama untuk tindakan2 yang cukup besar dan rumit ya (kalau saya alhamdulillah baru terpakai saat parts). 
Karena jujur saya sendiri sebagai pasien ada perasaan sungkan dan takut sejawat malah ogah2an mengerjakan pasien gratisanโ˜บ๏ธ CMIIW. Walaupun saya sendiri akan gratiskan jasmed, hanya bayar jarang2 habis pakainya saja. 
30 April 2019, 11:25
29 April 2019, 08:11
Kembali ke Individu masing2 dokter. 
Setuju dok, Kembali Kepada Individu masing-masing ๐Ÿ‘
30 April 2019, 15:03
Anonymous
Anonymous
Dokter Umum
Alodok, Mengenai hal tsb sudah diatur oleh Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) tahun 2012 pada Pasal 18 : Menjunjung Tinggi Kesejawatan : Setiap dokter wajib memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan. 
 

Penjelasan Pasal 18 cakupan Pasal butir (3) yang berbunyi : Setiap dokter wajib menegakkan sewajarnya budaya menolong teman  sejawatnya  yang  sakit,  tertimpa musibah, bencana dan kesulitan berat lainnya.Dijelaskan pada huruf (c), (d) dan (e) halaman 54 yaitu:

(c) Perlakuan dokter  terhadap sejawat yang menjadi pasiennya  : sebaiknya memperkenalkan diri secara jujur bahwa dia adalah dokter ketika berobat ke dokter yang mengobati, dokter yang mengobati teman sejawat sebaiknya menyambut perkenalan diri teman sejawat yang menjadi pasien

(d) Sebaiknya  memperkenalkan  dokter  pribadi  atau  dokter keluarganya  kepada  dokter  yang  mengobati,  dan

(e) Dokter wajib  membebaskan  jasa  medis  bagi  sejawatnya, istri/suami ,  anak yang masih menjadi tanggungan, serta orangtua sejawat yang dirawat inap maupun rawat jalan (vertikal) kecuali ditanggung oleh asuransi.

30 April 2019, 15:04
Anonymous
Anonymous
Dokter Umum

Penjelasan Pasal 18 cakupan Pasal butir (3) yang berbunyi : Setiap dokter wajib menegakkan sewajarnya budaya menolong teman  sejawatnya  yang  sakit,  tertimpa musibah, bencana dan kesulitan berat lainnya.Dijelaskan pada huruf (c), (d) dan (e) halaman 54 yaitu:

(c) Perlakuan dokter  terhadap sejawat yang menjadi pasiennya  : sebaiknya memperkenalkan diri secara jujur bahwa dia adalah dokter ketika berobat ke dokter yang mengobati, dokter yang mengobati teman sejawat sebaiknya menyambut perkenalan diri teman sejawat yang menjadi pasien

(d) Sebaiknya  memperkenalkan  dokter  pribadi  atau  dokter keluarganya  kepada  dokter  yang  mengobati,  dan

(e) Dokter wajib  membebaskan  jasa  medis  bagi  sejawatnya, istri/suami ,  anak yang masih menjadi tanggungan, serta orangtua sejawat yang dirawat inap maupun rawat jalan (vertikal) kecuali ditanggung oleh asuransi.

30 April 2019, 14:55
Anonymous
Anonymous
Dokter Umum
Alodok, Mengenai hal tsb sudah diatur oleh Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) tahun 2012 pada Pasal 18 : Menjunjung Tinggi Kesejawatan : Setiap dokter wajib memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan. 
 

Penjelasan Pasal 18 cakupan Pasal butir (3) yang berbunyi : Setiap dokter wajib menegakkan sewajarnya budaya menolong teman  sejawatnya  yang  sakit,  tertimpa musibah, bencana dan kesulitan berat lainnya.Dijelaskan pada huruf (c), (d) dan (e) halaman 54 yaitu:

(c) Perlakuan dokter  terhadap sejawat yang menjadi pasiennya  : sebaiknya memperkenalkan diri secara jujur bahwa dia adalah dokter ketika berobat ke dokter yang mengobati, dokter yang mengobati teman sejawat sebaiknya menyambut perkenalan diri teman sejawat yang menjadi pasien

(d) Sebaiknya  memperkenalkan  dokter  pribadi  atau  dokter keluarganya  kepada  dokter  yang  mengobati,  dan

(e) Dokter wajib  membebaskan  jasa  medis  bagi  sejawatnya, istri/suami ,  anak yang masih menjadi tanggungan, serta orangtua sejawat yang dirawat inap maupun rawat jalan (vertikal) kecuali ditanggung oleh asuransi.

Nah ini menurut saya jawaban yang benar dok.. entah kenapa banyak sejawat yang sudah melupakan etik.. saya secara pribadi pun menggratiskan jasa konsul ke sejawat karna menurut saya kita ada di ladang yang sama sebagai saudara, meskipun banyak TS lain yg bahkan sudah konsultan melupakan hal ini, agak sedikit sedih.. meskipun saya sendiri sungkan ngasih tau saya dokter karna nnti takut digratiskan.. saya merasa toh 1 sejawat yg berobat g bakal bikin saya miskin karena membantu konsultasi karna mngkn saya lebih paham di bidang tersebut untuk penyakit TS yg berobat... harusnya hal ini dipertahankan sesama sejawat tolong menolong..