Bagaimana etika memberikan opini kedua? - Diskusi Dokter

general_alomedika

Alo dokter.Seperti kita ketahui bahwa sesama dokter kita tidak boleh saling menjatuhkan bahkan pada sumpah dokter kita diharapkan memperlakukan TS seperti...

Diskusi Dokter

  • Kembali ke komunitas
  • Bagaimana etika memberikan opini kedua?

    10 Maret 2019, 14:51

    Alo dokter.

    Seperti kita ketahui bahwa sesama dokter kita tidak boleh saling menjatuhkan bahkan pada sumpah dokter kita diharapkan memperlakukan TS seperti saudara kandung. Namun baru-baru ini di daerah saya, ada kasus seorang dokter merujuk pasien ke sebuah RS namun sampai di sana pasien dikatakan salah diagnosis dan seharusnya tidak perlu dirujuk ke RS tersebut. Pada akhirnya pasien tersebut merasa dirugikan dan melaporkan dokter tersebut di surat kabar.

    Atas kejadian seperti ini bagaimana seharusnya penyampaian kepada pasien jika memang ternyata terbukti benar salah dalam diagnosis ? Terima kasih.


10 Maret 2019, 15:28
Alodokter Radian, sebaiknya jika rekan kita diduga melakukan kesalahan cukup bicarakan secara diplomatis dengan keluarga pasien. Bisa dijelaskan juga bahwa kedokteran itu seni, semua dokter punya pendekatannya masing masing. Apalagi waktu pemeriksaan tidak sama, maka kondisi bisa berubah. Setiap tindakan dan keputusan yang diambil tujuannya terbaik untuk pasien.

Untuk intern kita sendiri, salah benar ada tim mutu dan etik. Semoga kita dihindari dari kelalaian dan dapat selalu memberikan yang terbaik bagi pasien pasien kita

10 Maret 2019, 15:54
Nice. Suka sekali 👍. Wah terimakasih banyak dokter 🙏 
10 Maret 2019, 17:26
Wah bagus sekali dok, saya sepemikiran dok, ilmu kedokteran adalah seni.. mengobati pasien itu seni dimana 1 penyakit tiap dr punya pilihan terapi masing2..
10 Maret 2019, 20:30
dr. Sofa Inayatullah, SpKK
dr. Sofa Inayatullah, SpKK
Dokter Spesialis Kulit
Betul Dok, sangat setuju 😊
10 Maret 2019, 22:48
Terima kasih banyak dok
10 Maret 2019, 15:28
Alo dok
Saya mencoba membantu menjawab.

Hubungan antara teman sejawat dapat menjadi buruk bukan karena 
perbedaan pendapat tentang cara penanganan pasien, perselisihan mengenai 
cara mewakili teman sejawat yang cuti, sakit dan sebagainya. Kejadian 
tesebut hendaknya diselesaikan secara musyawarah antar sejawat. 
Kalau dengan cara demikian juga tidak terselesaikan, maka dapat 
diminta pertolongan pengurus Ikatan Dokter Indonesia atau Majelis 
Kehormatan Etik Kedokteran untuk menjelaskannya. Harus dihindarkan 
campur tangan dari pihak luar. Perbuatan sangat tidak kolegial ialah mengejek 
teman sejawat dan mempergunjingkannya dengan pasien atau orang lain 
tentang perbuatannya yang dianggap kurang benar. Mencermarkan nama baik 
teman sejawat berarti mencemarkan nama baik sendiri, seperti kata pribahasa 
: "Menepuk air di dulang terpercik muka sendiri". 


Pada umumnya masyarakat kita belum begitu memahami tentang 
hubungan yang begitu erat antar dokter dengan dokter, sehingga mereka 
kadang-kadang melakukan sesuatu yang cenderung mengadu domba. Janganlah 
sekali-kali diberi kesempatan kepadanya untuk menjelekkan nama teman 
sejawat yang lebih dulu menolongnya. Seandainya seorang teman sejawat membuat kekeliruan dalam pekerjaannya, 
maka teman sejawat yang mengetahui hal itu seyogyanya menasehatinya. 
Dokter yang keliru harus menerima nasehat ataupun teguran dengan lapang 
dada asal disampaikan dalam suasana persaudaraan. Jangan sekali-kali 
menjatuhkan seorang sejawat dari kedudukannya apalagi menggunakan pihak 
lain. 

Terimakasih
10 Maret 2019, 16:25
Nice sharing dok.
10 Maret 2019, 16:28
Sangat bermanfaat penjelasannya Dok. 
10 Maret 2019, 22:49
Setuju sekali dok. Terima kasih.
11 Maret 2019, 12:44
Setuju dokter, terima kasih sharing informasi nya 🙏
11 Maret 2019, 12:56
Mantap dokter, terima kasih untuk pencerahannya
10 Maret 2019, 17:33
Alo dokter,
Menurut saya, jika memang ada kesalahan diagnosa dari teman sejawat, biarlah kita memberikan penjelasan kepada pasien dan keluarganya dengan cara yang bijaksana tanpa perlu mempersalahkan sejawat yang memeriksa sebelumnya. Kalaupun diagnosisnya berubah/ tidak sama, kita dapat menjelaskan kepada pasien bahwa itu mungkin disebabkan perjalanan/perkembangan dr penyakit tsb. 
10 Maret 2019, 22:50
Terima kasih banyak dok
11 Maret 2019, 06:38

Alo dokter semua!

Diskusinya menarik sekali nih.. Saya menambahkan sedikit yaa...

Mengenai etika memberi opini kedua bisa dibaca-baca kajian alomedika di link berikut :

https://www.alomedika.com/kajian-etik-dan-medikolegal-dari-memberikan-opini-kedua

11 Maret 2019, 06:45
Terima kasih ya dok
11 Maret 2019, 10:34
11 Maret 2019, 06:38

Alo dokter semua!

Diskusinya menarik sekali nih.. Saya menambahkan sedikit yaa...

Mengenai etika memberi opini kedua bisa dibaca-baca kajian alomedika di link berikut :

https://www.alomedika.com/kajian-etik-dan-medikolegal-dari-memberikan-opini-kedua

Bagus dok 👍
Tema ini bagus
Saya tergelitik ingin mengembangkan berdasarkan pengalaman yang pernah saya lihat di lapangan
Dari pihak medis memang pasti akan menjalankan hal tersebut karena telah ada aturan yang berlaku, tetapi apabila ada keluarga pasien (istilahnya pahlawan kesiangan) yang juga memancing di air keruh, bagaimana selanjutnya dok?
Terimakasih
11 Maret 2019, 12:53
Iya memang masalah ini jadi dilema dalam praktek sehari2
11 Maret 2019, 12:53
Iya memang masalah ini jadi dilema dalam praktek sehari2
11 Maret 2019, 21:49
Bagus dok 👍
Tema ini bagus
Saya tergelitik ingin mengembangkan berdasarkan pengalaman yang pernah saya lihat di lapangan
Dari pihak medis memang pasti akan menjalankan hal tersebut karena telah ada aturan yang berlaku, tetapi apabila ada keluarga pasien (istilahnya pahlawan kesiangan) yang juga memancing di air keruh, bagaimana selanjutnya dok?
Terimakasih

Betul dok , terkadang kita sering dibuat bingung oleh tingkah laku "beberapa pasien" yang tendensi menjatuhkan dan menjebak kita untuk mengomentari kesalahan teman sejawat kita seperti memancing ikan di air keruh, padahal hal itu cukup sensitif bagi kita dan harusnya diselesaikan secara personal dengan suasana kekeluargaan :)

Kalau kasus nya seperti itu dok, jika itu terjadi pada saya, maka akan saya edukasi bahwa perjalanan penyakit bisa berubah dan selalu positif thingking terhadap sejawat sebelum memberikan opini itupun secara superficial saja kepada pasien untuk tatalaksana sejawat lain. Jika pasien ngotot untuk penjelasan berbeda kita bisa menyarankan pasien menanyakan kembali ke TS bersangkutan.

11 Maret 2019, 22:03

Alo dokter.

Hal ini cukup sering ditemui ya dok di lapangan ketika bertemu dengan berbagai watak/kepribadian tiap user.

Seperti kita tahu bahwa terkadang kesalahan diagnosis teman sejawat merupakan hal yang harus disikapi secara bijaksana, karena berbagai pertimbangan diagnostik sejawat kita yang mungkin menjadi faktor (baca: kesalahan diagnose)

Kalau di Indonesia kita memiliki lembaga"yuridis" sendiri yakni MKDKI (Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia), dan untuk urusan hal tersebut secara legal kesalahan diagnosis harus diselesaikan oleh mereka di MKDKI karena berisikan teman sejawat kita yang lebih mengetahui apakah ada tindakan indisipliner etik dsb. 

detail tugas dari MKDKI bisa di klik dok https://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt546814ab747dc/tugas-majelis-kehormatan-etik-kedokteran-dan-majelis-kehormatan-disiplin-kedokteran-indone

Kita patut edukasi ke pasien  jika pasien curiga ke teman sejawat kita, maka sebisa mungkin pasien dibuat tenang karena biasanya hanya emosional belaka dan tetap jika pasien ngotot "menyalahkan teman sejawat kita", maka kita silahkan bertanya kembali ke dokter yang bersangkutan secara bijak, dan kita selaku tenaga medis bisa menjelaskan prosedur MKDKI mengatasi kesalahan diagnosis seorang dokter ini kepada pasien yang memiliki pola pikir kritis, karena jika kita biarkan maka teman sejawat kita bisa "di-kriminalisasi" seperti kejadian2 yang sudah ada karena laporan pasien di surat kabar kemudian masuk delik aduan oleh pasien ke pihak kepolisian. Yang seharusnya dilewati oleh MKDKI itu sendiri dok.

CMIIW

11 Maret 2019, 23:02
11 Maret 2019, 22:03

Alo dokter.

Hal ini cukup sering ditemui ya dok di lapangan ketika bertemu dengan berbagai watak/kepribadian tiap user.

Seperti kita tahu bahwa terkadang kesalahan diagnosis teman sejawat merupakan hal yang harus disikapi secara bijaksana, karena berbagai pertimbangan diagnostik sejawat kita yang mungkin menjadi faktor (baca: kesalahan diagnose)

Kalau di Indonesia kita memiliki lembaga"yuridis" sendiri yakni MKDKI (Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia), dan untuk urusan hal tersebut secara legal kesalahan diagnosis harus diselesaikan oleh mereka di MKDKI karena berisikan teman sejawat kita yang lebih mengetahui apakah ada tindakan indisipliner etik dsb. 

detail tugas dari MKDKI bisa di klik dok https://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt546814ab747dc/tugas-majelis-kehormatan-etik-kedokteran-dan-majelis-kehormatan-disiplin-kedokteran-indone

Kita patut edukasi ke pasien  jika pasien curiga ke teman sejawat kita, maka sebisa mungkin pasien dibuat tenang karena biasanya hanya emosional belaka dan tetap jika pasien ngotot "menyalahkan teman sejawat kita", maka kita silahkan bertanya kembali ke dokter yang bersangkutan secara bijak, dan kita selaku tenaga medis bisa menjelaskan prosedur MKDKI mengatasi kesalahan diagnosis seorang dokter ini kepada pasien yang memiliki pola pikir kritis, karena jika kita biarkan maka teman sejawat kita bisa "di-kriminalisasi" seperti kejadian2 yang sudah ada karena laporan pasien di surat kabar kemudian masuk delik aduan oleh pasien ke pihak kepolisian. Yang seharusnya dilewati oleh MKDKI itu sendiri dok.

CMIIW

Terimakasih informasinya dok