Pemberian estazolam pada pasien laki-laki dengan penyalahgunaan narkoba usia 33 tahun yang mengalami insomnia - Diskusi Dokter

general_alomedika

Alodok, apakah boleh pemberian obat anti insomnia seperti estazolam pada Pasien laki2 usia 33 tahun, ku sulit tidur, OS merupakan tahanan lapas atas kasus...

Diskusi Dokter

  • Kembali ke komunitas
  • Pemberian estazolam pada pasien laki-laki dengan penyalahgunaan narkoba usia 33 tahun yang mengalami insomnia

    31 Desember 2019, 21:41

    Alodok, apakah boleh pemberian obat anti insomnia seperti estazolam pada Pasien laki2 usia 33 tahun, ku sulit tidur, OS merupakan tahanan lapas atas kasus penyalahgunaan napza jenis sabu-sabu. OS mengatakan sulit untuk mempertahankan tidurnya karena di dalam lapas terlalu berisik.

    Mohon pencerahannya ts

01 Januari 2020, 03:39
Alo Dok,

Saya kurang paham sih dok mengenai penanganan tersangka, kapan harus direhab dan kapan ditahan. IMHO jgn buru2 memberi obat ya dok, apalagi estazolam sendiri termasuk psikotropik yg rentan disalahgunakan. Lalu bisa juga insomnianya krn withdrawal syndrome dok, yg tentu penangannya berbeda dgn 'insomnia' biasa. 
01 Januari 2020, 17:59
dr.Patricia Wulandari,SpKJ
dr.Patricia Wulandari,SpKJ
Dokter Specialis Psikiater
Alodokter, sebaiknya anamnesis lebih lanjut tentang insomnianya, apakah terkait kecemasan, depresi atau insomnia akibat efek samping Napza, ataukah hanya insomnia primer.
Jika memang karena suasana berisik, dan belum memenuhi kriteria cemas atau depresi maka sebaiknya pertimbangkan anti insomnia non benzodiazepin, contohnya zolpidem. 
Terima kasih.
01 Januari 2020, 17:59
dr.Patricia Wulandari,SpKJ
dr.Patricia Wulandari,SpKJ
Dokter Specialis Psikiater
Alodokter, sebaiknya anamnesis lebih lanjut tentang insomnianya, apakah terkait kecemasan, depresi atau insomnia akibat efek samping Napza, ataukah hanya insomnia primer.
Jika memang karena suasana berisik, dan belum memenuhi kriteria cemas atau depresi maka sebaiknya pertimbangkan anti insomnia non benzodiazepin, contohnya zolpidem. 
Terima kasih.
01 Januari 2020, 19:46
dr. Rabiatul Udawiyah, Sp.KJ
dr. Rabiatul Udawiyah, Sp.KJ
Dokter Specialis Psikiater
Selamat malam, mengenai pasien dengan penyalahgunaan napza yaitu sabu sabu diperbolehkan pemberian benzodiazepain golongan intermediate long acting dan sebaiknya dikombinasi dengan antidepresan jika ada keluhan mengarah ke arah cemas atau depresi atau antipsikotik dosis kecil  jika ada mengarah preukopasi berulang ulang untuk menggunakan zat napza tersebut, hal ini juga dapat mengurangi pasien untuk beralih adiksi ke benzodiazepin. Tidak lupa juga untuk memperkuat psikoterapi. Terimaksih 
01 Januari 2020, 19:46
dr. Rabiatul Udawiyah, Sp.KJ
dr. Rabiatul Udawiyah, Sp.KJ
Dokter Specialis Psikiater
Selamat malam, mengenai pasien dengan penyalahgunaan napza yaitu sabu sabu diperbolehkan pemberian benzodiazepain golongan intermediate long acting dan sebaiknya dikombinasi dengan antidepresan jika ada keluhan mengarah ke arah cemas atau depresi atau antipsikotik dosis kecil  jika ada mengarah preukopasi berulang ulang untuk menggunakan zat napza tersebut, hal ini juga dapat mengurangi pasien untuk beralih adiksi ke benzodiazepin. Tidak lupa juga untuk memperkuat psikoterapi. Terimaksih 
02 Januari 2020, 06:10
Alo Dok,

Untuk pasien dengan riwayat penyalahgunaan NAPZA, perlu diperhatikan lebih detail lagi mengenai riwayat insomnia nya, karena pasien penyalahgunaan NAPZA memiliki kecenderungan manipulatif, sehingga ada kemungkinan dia meminta obat untuk memenuhi ketergantungannya. Jangan sampai nanti obat yang dokter berikan malah menjadi bahan penyalahgunaangunaan untuk dirinya.
Setuju dengan dr. Rabiatul Sp.KJ, psikoterapi perlu diperkuat, minimal diberikan pelatihan sederhana seperti misalnya deep breathing relaxation. Apabila memang ternyata benar insomnia karena suasana yang berisik, bisa pertimbangkan dari pihak tahanan untuk memindahkan sel, atau melakukan pengkondisian agar situasi menjadi lebih kondusif. 
03 Januari 2020, 08:34
dr. Soeklola SpKJ MSi
dr. Soeklola SpKJ MSi
Dokter Specialis Psikiater
Alo dok,

Saya setuju dengan TS lain perlu pertimbangan matang memberikan benzodiazepin, selain itu perlu anamnesis mendalam mengenai bentuk tidak dapat tidur yang dialami, termasuk perlu psikoterapi dan jangan melulu obat. Adapun efek jangka panjang penggunaan shabu memang insomnia. 
Perlu ditanyakan apakah tidak dapat masuk tidur, mempertahankan tidur atau tidur dangkal. Karena untuk masalah tidur selain benzodiazepin, kita bisa memberikan antidepresan dengan efek kantuk tinggi seperti amitriptyline, mirtazapin; atau bahkan antipsikotik dengan efek kantuk tinggi seperti clozapin, quetiapin. (dosis kecil, beberapa pasien mantan adiksi shabu yang saya tangani mengatakan tetap dapat tercapai tidurnya dengan obat tersebut).
Namun perlu juga dokter mengacu obat apa saja yang dapat diresepkan oleh dokter selain psikiater karena saat ini terdapat peraturan tentang jenis dan jumlah obat yang hanya boleh diresepkan oleh psikiater.


Semoga membantu