Kendala Pengembangan Vaksin Dengue

Oleh :
dr.Eduward Thendiono, SpPD

Karena tidak adanya pengobatan spesifik dalam manajemen infeksi dengue, pencegahan dengan vaksin dengue memegang peran krusial dalam menurunkan beban penyakit dan progresinya. Demam dengue merupakan penyakit yang ditimbulkan oleh salah satu dari empat serotipe single stranded RNA virus dengue (DENV), yakni serotipe DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4. Virus dengue termasuk dalam genus Flavivirus, famili Flaviviridae. dan ditransmisikan ke manusia melalui gigitan nyamuk Aedes yang terinfeksi virus dengue (terutama Aedes aegypti).[1,2,3]

Salah satu model epidemiologi memperkirakan 390 juta kasus demam dengue terjadi setiap tahunnya. 96 juta di antaranya merupakan infeksi simptomatik.[4] WHO menargetkan untuk mengurangi mortalitas dengue sebesar 50% pada tahun 2020. Namun, saat ini belum tersedia terapi spesifik untuk demam dengue, dan oleh karenanya upaya preventif masih menjadi strategi terbaik. Upaya preventif yang dikembangkan saat ini meliputi kontrol vektor dan penggunaan vaksin.[5] Adapun vaksin dengue yang sudah dipasarkan secara komersial adalah golongan tetravalent, recombinant, chimeric live virus vaccine yang disebut dengan CYD-TDV, dipasarkan dengan nama Dengvaxia®.[6]

shutterstock_632174045

Respon Imun pada Infeksi Dengue dan Kendala Dalam Pengembangan Vaksin

Sebetulnya, vaksin dengue telah diteliti sejak beberapa dekade lalu. Namun, baru dapat digunakan dan dipasarkan secara luas dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu penyebab sulitnya pengembangan vaksin dengue adalah adanya 4 macam serotipe yang masing-masing dapat menyebabkan manifestasi berat dan menginduksi respon imun yang tumpang tindih dan inkomplit.

Infeksi dengue primer akan menghasilkan respon imun homotipik terhadap satu serotipe dan juga respon heterotipik terhadap serotipe lain. Respon imun homotipik akan memberikan proteksi jangka panjang terhadap satu serotipe tertentu. Sementara itu, respon imun heterotipik hanya efektif dalam jangka pendek dan hanya memberi proteksi sebagian terhadap serotipe DENV yang lain. Ditambah lagi, seiring waktu, keparahan infeksi pada serotipe yang lain bisa meningkat melalui mekanisme infeksi antibody-dependent enhancement.

Dari penjelasan di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa pengembangan vaksin dengue harus dapat mencakup proteksi simultan terhadap semua serotipe DENV. Jika tidak, resipien vaksin berisiko untuk mengalami manifestasi infeksi dengue yang lebih berat terhadap serotipe tertentu.[3,7]

Efikasi Vaksin Dengue Menurut Tinjauan Sistematik Terbaru

Silveira et al melakukan tinjauan sistematik terhadap data percobaan acak terkontrol (RCT) yang dipublikasi sejak tahun 2000 hingga 2017. Basis data RCT yang digunakan bersumber dari MEDLINE, LILACS, Cochrane Library, dan EMBASE.  Penilaian risiko bias dilakukan secara independen dengan menerapkan Cochrane Collaboration tool. Effect size dari intervensi diestimasi dengan total of person-years, menggunakan ukuran risiko relatif (RR) dengan 95% interval kepercayaan.

Dari total 1932 studi yang teridentifikasi, hanya tersisa 7 studi yang memenuhi kriteria inklusi meta analisis. Tujuh studi ini mencakup 36.371 partisipan. Usia partisipan berkisar antara 2 hingga 45 tahun. Dari segi imunogenisitas, mayoritas partisipan yang terlibat sudah mempunyai imunitas terhadap salah satu dari empat serotipe virus dengue (seropositivitas antar studi berkisar dari 37-81%). Tiga studi RCT dilakukan multinasional, sedangkan empat studi lain hanya di satu negara. Lima studi termasuk dalam penelitian fase II dan dua studi termasuk dalam fase III.  Semua studi yang dianalisis menggunakan CYD-TDV yang diberikan dalam tiga dosis ( 0,6, dan 12 bulan) dan disponsori oleh perusahaan komersial vaksin dengue terkait.

Hasil meta analisis menunjukkan bahwa perkiraan efikasi vaksin dengue adalah sebesar 44%, dengan rentang antara 25-59%. Hasil stratifikasi menunjukkan heterogenitas rendah (10,3%) untuk serotipe DENV-4 dan heterogenitas signifikan (64,5%) untuk DENV-2.  Studi ini menyimpulkan bahwa efikasi vaksin dengue CYD-TDV masih rendah (poor efficacy) dan tampaknya efek vaksin tidak seragam untuk semua serotipe DENV. [6] Temuan ini serupa dengan temuan Godoi et al (2017) yang melaporkan bahwa imunogenisitas vaksin CYD-TDV paling baik pada serotip DENV4 dan paling buruk pada serotipe DENV1.[8]

Patut dicatat bahwa mayoritas partisipan RCT pada meta analisis di atas telah mempunyai seropositivitas sebelumnya. Belum ada data konkrit yang bisa menjawab mengenai dampak vaksin dengue terhadap partisipan yang belum mempunyai imunitas sebelumnya.[6]

Kesimpulan

Pengembangan vaksin dengue terkendala oleh adanya berbagai serotipe virus dan respon imun infeksi dengue yang kompleks. Berdasarkan bukti ilmiah terkini, vaksin dengue yang sudah tersedia secara komersial belum memberikan efikasi yang sesuai harapan terhadap seluruh serotipe dengue. Oleh sebab itu, studi dan pengembangan lebih lanjut masih diperlukan.

Referensi