Keamanan, Imunogenisitas, dan Efikasi Vaksin COVID-19 Pfizer (BNT162b2) pada Remaja - Telaah Jurnal

Oleh :
dr.Qorry Amanda

Kelompok Percobaan Klinis C4591001. Keamanan, imunogenisitas, dan efikasi vaksin BNT162b2 COVID-19 pada remaja - Telaah Jurnal Alomedika

C4591001 Clinical Trial Group. Safety, immunogenicity, and efficacy of the BNT162b2 COVID-19 vaccine in adolescents.

Frenck RW Jr., Klein NP, Kitchin N, et al. N Engl J Med2021. doi:10.1056/NEJMoa2107456. pmid:34043894

 Kemenkes ft Alodokter Alomedika 650x250

Abstrak

Latar Belakang

Izin penggunaan darurat vaksin COVID-19 pada kelompok usia remaja di bawah 16 tahun telah diberikan oleh Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat. Vaksinasi yang aman dan efektif perlu dilakukan pada populasi ini untuk memberikan perlindungan, serta memfasilitasi belajar tatap muka di sekolah dan sosialisasi. Pemberian vaksin terhadap infeksi virus SARS-CoV-2 pada populasi remaja juga diharapkan dapat menyumbang terjadinya herd immunity.

Metode

Penelitian dilakukan terkontrol dengan plasebo, observer-blinded, dan acak. Subjek dipilih  dari berbagai ras dan kebangsaan, kemudian secara acak dengan rasio 1:1 disuntikan  vaksin COVID-19 Pfizer vs plasebo. Subjek disuntik dua kali dengan jarak 21,  hari.

Tujuan penelitian adalah untuk memeriksa imunogenisitas, keamanan, dan efikasi vaksin Pfizer (BNT162b2) pada populasi remaja, usia 12‒15 tahun. Keamanan vaksin dinilai dari laporan reaktogenisitas dan efek samping setelah penyuntikan.

Imunogenisitas atau respon imun vaksin  akibat dilakukan dengan membandingkan non inferioritas respon imun pada subjek berusia 12‒15 tahun dengan subjek berusia 16‒25 tahun. Sedangkan penilaian efikasi vaksin berdasarkan angka kejadian subjek yang terkonfirmasi COVID-19 setelah >7 hari penyuntikan kedua.

Hasil

Sebanyak 2.260 remaja usia 12‒15 tahun sebagai subjek penelitian ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu 1.131 orang diberi injeksi vaksin Pfizer (BNT162b2) dan 1.129 orang diberikan injeksi plasebo. Hasil penelitian terdiri dari keamanan, imunogenisitas, dan efikasi vaksin.

Keamanan:

Pemberian vaksin pada kelompok usia 12‒15 tahun menimbulkan efek samping yang relatif ringan, seperti nyeri di lokasi injeksi (79‒86%), fatigue (60‒66%), dan nyeri kepala (55‒65%). Tidak terdapat laporan adverse event serius, meskipun  terjadi efek samping demam >40०C pada 1 orang subjek penelitian (0.1%) yang menerima vaksin.  Hal ini menunjukkan bahwa tingkat keamanan vaksin pada usia 12‒15 tahun baik, sama dengan hasil penelitian di kelompok usia lain.

Imunogenisitas:

Nilai rata-rata geometrik neutralizing titer 50% virus SARS-CoV-2 50% setelah suntikan vaksin kedua pada subjek usia 12‒15 tahun, jika dibandingkan dengan rata-rata pada usia 16‒25 tahun adalah 1.76 (confidence interval [CI] 95%, 1,47‒2,10). Hal ini menunjukkan bahwa imunogenisitas terjadi lebih baik pada usia 12‒15 tahun daripada usia 16‒25 tahun.

Efikasi:

Pada kelompok subjek yang diberikan vaksin dua kali, tidak dilaporkan terjadi kasus COVID-19 setelah 7 hari pemberian dosis kedua. Sedangkan pada kelompok plasebo, terdapat 16 subjek terkonfirmasi COVID-19. Efikasi vaksin yang teramati dalam penelitian ini sebesar 100% (CI 95%, 75,3‒100).

Kesimpulan

Vaksin Pfizer (BNT162b2) yang diberikan pada kelompok remaja usia 12‒15 tahun memberikan dampak yang aman dan menguntungkan, menghasilkan respon imun yang lebih baik dari kelompok dewasa muda usia 16‒25 tahun, dan sangat efektif dalam mencegah COVID-19.

shutterstock_1890138865-min

Ulasan Alomedika

Pada tanggal 10 Mei 2021, FDA telah mengeluarkan emergency use authorization (EUA) vaksinasi COVID-19 untuk kelompok usia 12 tahun ke atas. Vaksin BNT162b2 produksi Pfizer sejauh ini menjadi satu-satunya vaksin yang menerima izin FDA untuk digunakan pada kelompok usia >16 tahun ke atas. Penelitian ini membahas mengenai keamanan, imunogenisitas, serta efikasi pemberian vaksin COVID-19 produksi Pfizer saat diberikan pada populasi remaja, yaitu usia 12‒15 tahun.

Beberapa alasan vaksin perlu diberikan pada populasi remaja muda tersebut adalah karena penularan virus SARS-CoV-2 secara proporsi semakin meningkat, serta sebagai persiapan mereka untuk kembali bersosialisasi di luar rumah seperti ke sekolah tatap muka.

Ulasan Metode Penelitian

Penelitian ini masih merupakan bagian dari kelompok penelitian uji klinis vaksin BNT162b2 (kode C4591001) yang didukung oleh BioNTech SE dan Pfizer.[2]

Metode penelitian adalah  placebo-controlled, observer-blinded trial. Di mana subjek secara random dimasukkan ke dalam dua kelompok dengan rasio 1:1, yaitu kelompok menerima vaksin dan kelompok menerima plasebo. Subjek diberikan dua kali injeksi intramuskular dengan jarak 21 hari. Kelompok perlakuan menerima injeksi 30 μg BNT162b2, sedangkan kelompok plasebo menerima normal saline. Baik pasien maupun petugas tidak mengetahui apa yang diinjeksikan ke tubuh pasien.

Metode Mendapatkan Subjek:

Subjek penelitian didapatkan melalui web-based response system. Metode ini cukup baik, mengingat remaja usia 12‒15 tahun merupakan populasi  tanggap dengan teknologi internet. Melalui metode ini diperoleh subjek dari berbagai ras dan kebangsaan, sehingga didapatkan rasio 1:1 untuk kelompok perlakuan dan plasebo.

Kriteria inklusi adalah individu sehat atau penderita penyakit kronis yang terkontrol, termasuk hepatitis B, hepatitis C, atau HIV. Kriteria eksklusi adalah individu dengan riwayat terinfeksi SARS-CoV-2, penerima vaksin COVID-19 sebelumnya, penderita imunodefisiensi, atau penerima terapi imunosupresif seperti agen sitotoksik dan kortikosteroid sistemik.

Metode Luaran Keamanan:

Luaran keamanan diperoleh melalui e-diary yang diisi oleh subjek selama 7 hari setelah penyuntikan pertama dan kedua. Metode ini sudah tepat dilakukan bila peneliti hanya memerlukan data subjektif mengenai gejala/keluhan setelah penyuntikan. Namun, kurang dapat memberikan data objektif dari efek penyuntikan, seperti hasil pengukuran suhu, tekanan darah, frekuensi nadi, saturasi oksigen, dan pemeriksaan laboratorium terkait efek samping pembekuan darah.

Metode Luaran Imunogenisitas:

Luaran imunogenisitas dilakukan dengan cara memeriksa titer antibodi penetralisir SARS-CoV-2 dalam serum (SARS-CoV-2 neutralization serum assay) dan IgG  serum immunoassay. Metode ini sesuai dengan parameter standard untuk mengetahui respon imun tubuh terhadap vaksin yang diberikan.

Metode Luaran Efikasi:

Luaran efikasi pemberian vaksin Pfizer terhadap COVID-19 diperiksa dengan melakukan cohort surveillance pada seluruh peserta penelitian selama >7 hari setelah penyuntikan. Pada subjek yang menunjukkan gejala gangguan saluran pernapasan, segera dilakukan pemeriksaan penunjang untuk mendeteksi COVID-19.

Analisis hasil penelitian terkait luaran efikasi hanya berupa deskripsi, karena pada kelompok remaja diketahui banyak kasus COVID-19 tanpa gejala.  Analisis deskriptif ini sudah cukup baik untuk menggambarkan secara kasar angka efikasi vaksin, walaupun tidak dapat mengevaluasi efikasi terhadap penularan.

Ulasan Hasil Penelitian

Penelitian ini melibatkan subjek 2.260 remaja usia 12‒15 tahun yang memiliki berbagai latar belakang kebangsaan (multinasional). Peneliti menyebutkan rasio pembagian subjek ke dalam dua kelompok adalah 1:1, tetapi pembagian tidak dapat terlaksana secara tepat. Kelompok penerima vaksin berjumlah 1.131 orang sedangkan kelompok plasebo 1.129 orang, hal ini karena ada subjek yang tidak dapat melanjutkan proses penelitian karena alasan yang tak diketahui.

Hasil Keamanan (Safety):

Efek samping lokal yang paling banyak dilaporkan setelah injeksi vaksin Pfizer adalah nyeri pada lokasi injeksi, sementara efek samping sistemik yang paling banyak dilaporkan berupa nyeri kepala dan fatigue. Tidak dilaporkan adanya reaksi hipersensitivitas, trombosis, atau reaksi anafilaksis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keamanan vaksin ini pada remaja usia 12‒15 tahun serupa dengan penelitian pada kelompok usia lain.

Hasil Respon Imun (Immunogenicity):

Hasil penelitian ini mendapatkan nilai rata-rata titer antibodi menetralisir SARS-CoV-2 pada 1 bulan setelah suntikan vaksin kedua sebesar 1283.0. Sedangkan hasil respon imun pada penelitian lain dengan subjek berusia 16‒25 tahun sebesar 730.8. Hasil ini menandakan bahwa immunogenicity vaksin pada remaja usia 12‒15 tahun lebih tinggi daripada kelompok usia lain.

Hasil Efikasi (Efficacy):

Tidak ada subjek yang terinfeksi virus SARS-CoV-2 pada kelompok perlakuan yang telah mendapatkan dua kali vaksin Pfizer, sementara pada kelompok plasebo ditemukan 16 subjek yang terinfeksi. Pada periode waktu antara dosis pertama dan kedua, dilaporkan 3 kasus COVID-19 dalam kelompok vaksin dan 12 kasus dalam kelompok plasebo. Hasil ini menunjukkan efikasi 100% pencegahan COVID-19 setelah pemberian dua dosis vaksin Pfizer.

Kelebihan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian pertama yang dirancang untuk mengetahui keamanan, imunogenisitas, dan efikasi vaksin COVID-19 Pfizer (BNT162b2) pada populasi remaja usia 12‒15 tahun. Kelebihan penelitian ini di antaranya mengikutsertakan subjek dengan jumlah besar dan multinasional. Penelitian telah melakukan randomization, blinding, serta menggunakan kelompok kontrol yang diberikan injeksi plasebo untuk meminimalisir bias. Selain itu, subjek penelitian dibagi ke dalam dua kelompok dengan perbandingan 1:1.

Limitasi Penelitian

Meskipun penelitian ini telah berusaha memasukkan peserta penelitian dari berbagai kebangsaan, tetapi rasio ras dan etnis tidak cukup berimbang karena didominasi oleh ras Kaukasia. Penelitian ini juga hanya mendapatkan subjek pada satu lokasi, bukan secara global sehingga tidak diketahui pengaruh keberagaman latar belakang lokasi dan budaya terhadap luaran penelitian.

Limitasi luaran keamanan vaksin adalah efek samping yang tidak dipantau secara objektif. Data laboratorium juga tidak diperoleh, termasuk pemeriksaan pembekuan darah yang berhubungan dengan efek samping berat semua vaksin COVID-19, seperti faktor koagulasi, D-dimer, protein C, tissue plasminogen activator (tPA), dan plasminogen activator inhibitor-1, walaupun ini semua tidak spesifik.

Limitasi luaran efikasi adalah analisis yang digunakan untuk menginterpretasi efikasi vaksin hanya bersifat deskriptif. Tidak semua subjek dilakukan pemeriksaan deteksi COVID-19, melainkan hanya subjek yang mengalami gejala dan tanda infeksi saluran napas sehingga kasus asimtomatik tidak terdeteksi. Selain itu, jangka pemantauan hanya dalam waktu pendek, yaitu  >7 hari pasca suntikan kedua. Tidak disebutkan lebih rinci sampai berapa lama surveillance dilakukan.

Aplikasi Hasil Penelitian di Indonesia

Meskipun penelitian ini telah memasukkan subjek etnis Asia, tetapi lokasi penelitian hanya dilakukan di satu lokasi (Amerika Serikat), sehingga kurang mencerminkan keberagaman sosial, budaya, lingkungan, dan kebijakan secara global. Peran protokol kesehatan yang dijalankan di masing-masing daerah dapat mempengaruhi efikasi, imunogenisitas, dan keamanan vaksin Pfizer pada populasi usia 12‒15 tahun di Indonesia.

Penelitian ini telah membuktikan adanya imunogenisitas dan efikasi yang baik, serta aman digunakan pada remaja usia 12-15 tahun. Namun, kebutuhan penyimpanan vaksin Pfizer berbasis mRNA di lemari pendingin khusus dengan suhu -80०C dinilai kurang dapat diterapkan di Indonesia secara luas, mengingat kondisi geografik sebagai negara kepulauan.

Referensi