Hubungan antara Kadar Kolesterol Darah dan Kerusakan Saraf Perifer pada Diabetes Mellitus Tipe 2 – Telaah Jurnal

Oleh :
dr. Nathania S. Sutisna

Association of Serum Cholesterol Levels with Peripheral Nerve Damage in Patients with Type 2 Diabetes

Jende JME, Groener JB, Rother C, et al. JAMA Network Open, 2019;2(5):e194798

Abstrak

Latar Belakang: Menurunkan kadar kolesterol darah adalah tata laksana yang umum dilakukan untuk dislipidemia pada pasien dengan diabetes mellitus tipe 2. Namun, lesi saraf pada pasien diabetes mellitus tipe 2 ditemukan meningkat pada kadar kolesterol yang lebih rendah. Hal ini menunjukkan bahwa penurunan kadar kolesterol darah berhubungan dengan polineuropati diabetik pada pasien dengan diabetes mellitus tipe 2.

Metode: Studi yang bersifat single center, potong lintang, kohort prospektif ini dilakukan pada tanggal 1 Juni 2015–31 Maret 2018. Data klinis disamarkan dari peneliti. Dari total sampel sebesar 256 partisipan, 156 di antaranya dieksklusi. Sebanyak 100 partisipan memberi persetujuan untuk menjalani pencitraan resonansi magnetik neurografi pada tungkai bawah kanan di Departemen Neurologi dan penilaian klinis, serologi, dan elektrofisiologi di Departemen Endokrinologi, Heidelberg University Hospital, Heidelberg, Jerman.

Hasil: Total 100 partisipan dengan diabetes mellitus tipe 2 (rata-rata [SD] usia, 64.6 [0.9] tahun; 68 [68.0%] pria) ikut serta dalam penelitian. Beban lipid equivalent lesion (LEL) memiliki korelasi positif dengan rata-rata luas penampang saraf (r = 0.44; p < .001) dan panjang maksimum lesi (r = 0.71; p < .001). Beban LEL memiliki hubungan negatif dengan kadar kolesterol darah (r = -0.41; p < .001), kadar high-density lipoprotein (r = -0.30; p = .006), kadar low-density lipoprotein (r = -0.33; p = 0.003), kecepatan konduksi saraf di tibia (r = -0.33; p = .01) dan peroneal (r = -0.51; p < .001), serta amplitudo konduksi saraf di tibia (r = -0.31; p = .02) dan peroneal (r = -0.28; p = .03).

Kesimpulan: Temuan ini menunjukkan bahwa penurunan kolesterol darah pada pasien dengan diabetes mellitus tipe 2 dan neuropati diabetik perifer berhubungan dengan jumlah lesi saraf yang lebih tinggi serta penurunan kecepatan dan amplitudo konduksi saraf. Temuan ini mungkin dapat relevan untuk terapi baru yang mempromosikan penurunan kadar kolesterol darah yang agresif pada pasien dengan diabetes mellitus tipe 2.

shutterstock_1121849513

Ulasan Alomedika

Diabetes mellitus tipe 2 (DMT2) merupakan penyakit yang banyak menimbulkan komplikasi. Polineuropati diabetik merupakan salah satu komplikasinya yang berbahaya. Patofisiologi dari polineuropati diabetik belum diketahui secara pasti. Namun, dalam sebuah penelitian in vitro ditemukan bahwa terdapat gangguan komposisi lemak sel Schwann pada pasien dengan polineuropati diabetik.

Penelitian ini ingin melihat apakah penurunan kadar lemak secara agresif dapat berdampak dan memperparah gangguan klinis dari polineuropati diabetik.

Ulasan Metode dan Hasil Penelitian

Studi ini menggunakan metode penyamaran ganda, kohort prospektif, yang dilakukan pada bulan Juni 2015–Maret 2018. Subjek yang telah setuju untuk berpartisipasi dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi adalah sebanyak 100 sampel dengan DMT2. Variabel dan luaran yang diikutsertakan serta diteliti adalah ada tidaknya neuropati diabetik, hasil pencitraan dengan magnetic resonance neurography (MRN) untuk nervus ischiadicus dan lesinya, serta konduksi saraf pada nervus terkait.

Pada studi ini, ditemukan bahwa rendahnya kolesterol low density lipoprotein (LDL) berhubungan dengan polineuropati diabetik pada diabetes mellitus tipe 2 yang ditemukan secara in vivo. Kerusakan sel saraf ini ditemukan dari adanya beban lipid equivalent lesion (LEL), kecepatan dan amplitudo konduksi saraf, serta gejala klinis.

Kesimpulan dari penelitian ini perlu diinterpretasikan dengan hati-hati. Makroangiopati dan gangguan ginjal yang diukur dari laju filtrasi glomerulus sudah dieksklusi pada penelitian ini. Adanya mikroangiopati dan makroangiopati yang dapat juga menyebabkan neuropati diabetik, kemungkinan justru diuntungkan dari pemberian agen penurun kolesterol, seperti simvastatin dan atorvastatin.

Selain itu, penurunan kadar kolesterol darah secara agresif, misalnya dengan inhibitor PCSK9 (proprotein convertase subtilisin/kexin type 9)  perlu dilakukan dengan memperhatikan tanda-tanda gangguan neurologis.

Kelebihan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian pertama secara in vivo yang meneliti kerusakan sel saraf dan korelasinya dengan kadar LDL yang rendah. Kerusakan saraf tidak hanya diukur secara fungsional melalui gejala klinis, tetapi juga secara struktural melalui pencitraan magnetic resonance neurography yang dapat menjadi sebuah petunjuk untuk patofisiologi neuropati diabetik.

Limitasi Penelitian

Kelemahan penelitian ini adalah proporsi jenis kelamin pada total sampelnya yang relatif tidak seimbang (lebih banyak pria) dan berdampak pada tidak adanya analisis yang spesifik terhadap jenis kelamin. Metode penelitian yang dapat digunakan untuk penelitian lebih lanjut dapat diusulkan, yaitu dengan metode uji acak terkontrol, yang membandingkan antara gambaran magnetic resonance neurography saat kondisi hiperkolesterolemia dan kondisi kadar kolesterol yang rendah pada sampel yang sama.

Aplikasi Hasil Penelitian di Indonesia

Aplikasi dari penelitian ini adalah perlunya kewaspadaan klinisi, termasuk dokter umum pada fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), bahwa pemberian agen penurun kolesterol dapat berdampak pada pemburukan neuropati diabetik. Hal ini perlu diperhatikan terutama untuk penurunan LDL yang agresif menggunakan inhibitor PCSK9 (jarang ditemukan di Indonesia).

Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan karena adanya beberapa temuan yang berbeda dari penelitian sebelumnya tentang efek dari penurunan kolesterol terhadap neuropati diabetik. Selain itu, klinisi perlu berpegang pada prinsip risk and benefit, dengan mempertimbangkan apakah pemberian agen penurun kolesterol pada neuropati diabetik memberikan keuntungan pada populasi DMT2 yang juga disertai dengan gangguan vaskular, seperti klaudikasio intermiten dan penyakit jantung koroner.

Referensi