Gel Dapsone sebagai Penanganan Acne Vulgaris

Oleh dr. Gisheila Ruth

Dapsone selama ini umum digunakan sebagai antilepra. Saat ini, obat ini dalam bentuk gel topikal terbukti bermanfaat sebagai penanganan acne vulgaris dengan efek samping minimal.

Acne vulgaris merupakan suatu penyakit kulit yang paling sering menyerang kaum remaja dengan prevalensi mencapai 80%. Meskipun penyakit ini terlihat ringan, acne vulgaris dapat mengakibatkan isu psikologis seperti ketidakpuasan terhadap penampilan, kurangnya rasa percaya diri, bahkan timbulnya masalah kejiwaan seperti ansietas dan depresi.[1,2] Berbagai cara diupayakan untuk menangani acne vulgaris, baik dengan terapi farmakologis oral atau topikal, maupun terapi nonfarmakologis.

Depositphotos_123784300_m-2015_compressed

Terapi oral acne vulgaris, misalnya dengan antibiotik atau retinoid, sering kali menyebabkan efek samping dari ringan hingga berat, seperti gangguan gastrointestinal dan candidiasis vaginal, kulit kering, atau abortus spontan. Penggunaan isotretinoin juga dapat mengakibatkan gangguan pada sistem saraf, muskuloskeletal, mukokutaneus, dan bersifat teratogen poten. Untuk itu, terapi topikal sering lebih dipilih, misalnya dengan benzoil peroksida, retinoid topikal, antibiotik topikal seperti erithromycin dan clindamycin, asam salisilat, asam azelaik, minyak tea tree 5%, atau terapi kombinasi seperti benzoil peroksida dan tretinoin. Terapi nonfarmakologis yang dapat digunakan adalah terapi mekanik seperti facial, peeling, dan terapi ultraviolet. Namun, perawatan ini memerlukan biaya yang lebih mahal.[3]

Dapsone, suatu antibakterial sulfone yang bersifat antiinflamasi, merupakan obat yang sudah sering dipakai dalam bentuk oral sejak lama. Namun, obat ini cukup jarang digunakan sebagai penanganan acne vulgaris karena adanya toksisitas sistemik yang cukup besar. Dalam beberapa tahun terakhir, dapsone hadir dalam bentuk gel topikal dan digunakan sebagai salah satu modalitas terapi untuk pasien acne vulgaris. Meskipun demikian, sampai saat ini bukti klinis mengenai efektivitas gel dapsone dalam penanganan acne vulgaris masih minim. Gel Dapsone sudah diakui oleh FDA sebagai salah satu alternatif penanganan acne vulgaris. Sayangnya, di Indonesia dapsone hanya tersedia dalam bentuk sediaan oral generik saja.[3]

Farmakologi dan Rasionalisasi pemberian  Gel Dapsone pada Acne Vulgaris

Mekanisme kerja dapsone pada penanganan acne vulgaris masih belum dapat diketahui secara pasti. Dapsone merupakan antibiotik sulfone sintetik yang bersifat antiinflamasi dan antibakterial. Dapsone sebagai antiinflamasi secara umum bekerja dengan membunuh reactive oxygen species (ROS), menghambat neutrofil myeloperoksida, dan neutrofil  peroksida. Dapsone juga memiliki efek sama seperti obat antiinflamatori nonsteroid. Sebagai antibakterial, dapsone bersifat bakteriostatik. Dapsone menghambat asam paraaminobenzoat bakteri sehingga menurunkan produksi asam dihidrofolat. Beberapa studi menyatakan bahwa dapsone merupakan antibakterial yang efektif melawan Propionibacterium acnes, jenis bakteri yang menjadi sumber penyebab acne vulgaris.[4-6]

Pemberian dapsone secara oral memiliki efek samping yang cukup serius, seperti methemoglobinemia, hemolisis, dan agranulositosis. Oleh karena itu, penggunaan dapsone oral hanya digunakan jika pasien benar-benar memiliki indikasi, seperti pada penyakit lepra. Namun, berbagai efek samping tersebut sangat jarang terjadi pada pemberian dapsone secara topikal. Efek samping yang dapat terjadi pada pemberian secara topikal adalah adanya kulit kering (1,1%), pruritus (0,9%), eritema atau kemerahan (13%), dan kulit terkelupas (13%). Dosis pemberian yang dianjurkan untuk penatalaksanaan acne vulgaris adalah gel 5% dan 7.5%.[5-7]

Rekomendasi terkait Penggunaan Gel Dapsone untuk Acne Vulgaris

American Academy Dermatology (AAD) dan The Royal Australian College of General Practitioners (RACGP) merekomendasikan gel dapsone sebagai salah satu alternatif terapi acne vulgaris. Penggunaannya bisa dilakukan secara monoterapi ataupun terapi kombinasi dengan retinoid topikal apabila terdapat komponen komedo.[8,9]

Di Indonesia sendiri, dapsone belum tersedia dalam bentuk topikal sehingga tidak ada rekomendasi terkait penggunaan gel dapsone dalam penanganan acne vulgaris.

Bukti Klinis terkait Penggunaan Gel Dapsone untuk Acne Vulgaris

Randomized Control Trial (RCT) dari Thiboutot, et al.[10] meneliti lebih dari 4000 pasien untuk menilai efektivitas, keamanan, dan toleransi pemberian dapsone gel 7.5% selama lebih dari 12 minggu. Pada RCT ini diperoleh adanya angka keberhasilan berdasarkan Global Acne Assesment Score (GAAS) dan rata-rata penurunan jumlah lesi yang bermakna dibandingkan dengan grup kontrol (p<0.001). Angka keberhasilan GAAS pada grup dapsone sebesar 29,8% dan rata-rata penurunan jumlah lesi inflamasi -15.8 dan lesi noninflamatori -20.7 (p<0.001). Pada dua minggu awal pemberian gel dapsone sudah didapatkan penurunan lesi inflamasi dan pada empat minggu pemberian didapatkan penurunan jumlah lesi. Hasil penelitian ini serupa dengan meta analisis yang dilakukan oleh Jacobs, et al.[11], yaitu adanya penurunan sebesar 25% lesi acne vulgaris dengan pemberian gel dapsone 7.5% selama empat minggu.

Meta analisis yang dilakukan oleh Al-Salama, et al.[8] juga menampilkan hasil serupa. Meta analisis ini menilai efektivitas pemberian gel dapsone 7.5% sekali sehari terhadap angka keberhasilan melalui GAAS dan penurunan jumlah lesi inflamasi. Didapatkan adanya angka keberhasilan GAAS sebesar 29,8% pada grup dapsone dan penurunan sebesar 54,6% lesi inflamatori, 45,1% lesi noninflamatori, dan 48.8% total lesi dari baseline. Didapatkan onset respon pemberian gel dapsone pada minggu kedua untuk jumlah lesi inflamatori, dan minggu keempat pada lesi noninflamatori. Adanya penurunan total lesi acne vulgaris lebih jelas didapatkan pada penggunaan gel selama dua belas minggu. Meta analisis ini terdiri atas dua RCT yang telah dilakukan randomisasi dan blinding sehingga kemungkinan terjadinya bias kecil. Penggunaan gel dapsone dapat ditoleransi dengan baik. Hanya terdapat <2% pasien mengalami efek samping, seperti kulit kering, nyeri, dan pruritus.

Meta analisis terbaru tahun 2017 dilakukan oleh Jones, et al.[12] terdiri atas 20 RCT dan 7 laporan kasus untuk menilai efektivitas gel dapsone dalam mengobati acne vulgaris serta keamanan penggunaannya. Meta analisis ini menilai bahwa gel dapsone dengan dosis 5% dan 7.5% dapat digunakan secara efektif untuk menangani ccne vulgaris karena memiliki efek samping minimal. Didapatkan hanya 39 dari 6384 pasien (0.61%) yang mengalami efek samping minimal seperti kulit kering, kemerahan, gatal. Didapatkan pula tidak ada peningkatan level dapsone dalam plasma darah dari pemakaian gel dapsone jangka panjang.

Dua meta analisis dan satu RCT ini menunjukkan bahwa gel dapsone dapat mengurangi lesi acne vulgaris dan penggunaan jangka panjangnya aman. Gel dapsone disarankan untuk digunakan dua kali sehari untuk gel 5% dan sekali sehari untuk gel 7.5%. Penggunaan formula sekali sehari dinilai lebih dianjurkan karena angka kepatuhan pasti lebih baik dibandingkan dengan pemberian dua kali sehari.[10-12]

Kesimpulan

Dapsone memiliki fungsi antimikroba dan antiinflamasi yang dapat bermanfaat dalam melawan acne vulgaris. Pemberian obat dapsone secara topikal sebagai terapi acne vulgaris memiliki efektivitas yang baik. Sayangnya, gel dapsone belum tersedia di Indonesia.

Berbagai studi menilai bahwa efek samping penggunaan gel dapsone ini jarang terjadi dan bersifat ringan. Cara pemberian dilakukan dua kali sehari pada gel 5% dan sekali sehari pada 7,5% selama minimal dua belas minggu. Untuk saat ini, gel dapsone dapat menjadi salah satu alternatif pemilihan terapi acne vulgaris yang dapat diberikan secara monoterapi maupun kombinasi dengan obat topikal lainnya.

Referensi