Evaluasi Hemodinamik dengan Kardiometri Elektrik untuk Penanganan Syok yang Lebih Baik

Oleh :
dr. Bimo Kusumo Bhirowo, Sp. An

Evaluasi hemodinamik dengan kardiometri elektrik digunakan untuk mengelola syok dengan lebih baik dan menentukan kombinasi cairan dan obat yang tepat yang diperlukan untuk resusitasi. Kardiometri elektrik diharapkan dapat mengatasi keterbatasan metode terdahulu seperti pulmonary artery thermodilution (PAC) dan transpulmonary thermodilution (TPTD).[1,2]

Keterbatasan Evaluasi Hemodinamik dengan Metode Terdahulu

Informasi tentang status hemodinamik berperan penting dalam praktik klinis di unit gawat darurat, unit perawatan intensif (ICU), dan ruang operasi (OR). Parameter hemodinamik digunakan untuk menilai hipovolemia dan syok kardiogenik, menentukan kebutuhan resusitasi seperti penggantian cairan, iontrop dan vasokonstriktor, serta memantau efek dan kemudian mentitrasi pilihan pengobatan tersebut.

HemodinamikKardiometriElektrik

Banyak penelitian menunjukkan bahwa optimalisasi parameter hemodinamik mengurangi mortalitas, morbiditas, tingkat komplikasi pasca operasi, durasi rawat inap, serta meningkatkan pemulihan fungsional pada pasien bedah risiko tinggi. Meski demikian, evaluasi hemodinamik dan perhitungan cardiac output pada pasien kritis menggunakan PAC dan TPTD, yang dianggap sebagai baku emas, telah dikaitkan dengan berbagai macam risiko dan komplikasi.

Komplikasi ini utamanya berkaitan dengan metode pemeriksaan yang invasif. Potensi komplikasi mencakup robeknya arteri, terbentuknya pseudoaneurisma, pneumothorax, dan hemothorax.[1,2]

Prinsip Evaluasi Hemodinamik dengan Kardiometri Elektrik dan Parameter yang Diukur

Pemakaian kardiometri elektrik yang merupakan metode non-invasif belakangan menjadi semakin populer. Hal ini dikarenakan pemakaian yang relatif mudah, tingkat keamanan yang lebih tinggi, dan lebih ekonomis.

Prinsip kerja kardiometri ini sebenarnya cukup sederhana, yaitu dengan memperhitungkan terbukanya katup aorta dan aliran darah di aorta tersebut. Untuk itu hanya diperlukan pemasangan elektroda pada leher dan dada kiri pasien, berbeda dengan PAC yang memasukkan kateter ke dalam pembuluh darah.[1-3]

Kardiometri dapat mengukur beberapa parameter penting dalam pemantauan hemodinamik, antara lain:

  • Cardiac output
  • Cardiac Index
  • Systemic Vascular Resistance
  • Stroke Volume Variation
  • Total fluid capacity
  • Index of contractility[3]

Faktor yang Memengaruhi Hasil Kardiometri Elektrik

Salah satu faktor yang sangat memengaruhi hasil dari kardiometri elektrik adalah pemakaian vantilator mekanik, baik pemberian ventilasi tekanan positif maupun ventilasi tekanan negatif. Ventilasi tekanan negatif akan meningkatkan aliran balik vena dan tentunya cardiac output juga akan ikut bertambah. Di sisi lain, ventilasi tekanan positif dapat menyebabkan penurunan aliran balik vena sehingga cardiac output juga akan semakin menurun.[4]

Bukti Ilmiah Penggunaan Kardiometri Elektrik untuk Evaluasi Hemodinamik

Sebuah tinjauan sistematik (2019) mengevaluasi peran kardiometri elektrik untuk evaluasi hemodinamik. Tinjauan ini mengevaluasi 13 studi pada dewasa dengan total 620 partisipan, dan 11 studi pada anak dengan total 603 partisipan. Tinjauan ini menemukan mean percentage error pada dewasa sebesar 48% dan pada anak sebesar 42%, sehingga disimpulkan bahwa kardiometri elektrik tidak dapat menggantikan TPTD ataupun transthoracic echocardiography (TTE).[1]

Hasil berbeda didapatkan dalam sebuah studi (2020) yang membandingkan kardiometri elektrik dengan TTE. Studi ini melibatkan 60 pasien dewasa yang menjalani tindakan bedah paru. Studi ini melaporkan bahwa kardiometri elektrik menghasilkan parameter hemodinamik yang setara dengan TTE, sehingga dapat dijadikan alat pengukuran hemodinamik yang akurat dan reliable. Peneliti pada studi ini berpendapat bahwa kardiometri elektrik memiliki kelebihan berupa lebih mudah digunakan dan bersifat operator-independent.[5]

Studi lain (2021) yang berupa studi observasional prospektif pada 136 neonatus, mencakup 93 bayi prematur, juga membandingkan kardiometri elektrik dengan M-mode echocardiography. Studi ini menemukan hasil cardiac output yang serupa antara kardiometri elektrik dan M-mode echocardiography, dengan indeks Bland-Altman sebesar 3,2%.[6]

Kesimpulan

Metode evaluasi hemodinamik pada pasien kritis yang dianggap sebagai baku emas, yakni pulmonary artery thermodilution (PAC) dan transpulmonary thermodilution (TPTD), merupakan metode yang invasif dan memiliki risiko komplikasi signifikan. Oleh karenanya, kardiometri elektrik dapat dijadikan metode alternatif yang bersifat non-invasif, lebih mudah digunakan karena hanya menempelkan elektroda di luar tubuh, serta bersifat operator-independent.

Kardiometri elektrik dapat memberikan gambaran mengenai status kecukupan cairan dalam tubuh pasien melalui evaluasi stroke volume variation, serta dapat memberikan gambaran bagaimana kondisi preload melalui stroke volume variation, kontraktilitas melalui index contractility, dan afterload melalui systemic vascular resistance. Meski demikian, kelemahan kardiometri elektrik adalah hasilnya dapat dipengaruhi tekanan di dalam rongga toraks, seperti pemakaian ventilator.

Bukti ilmiah yang tersedia saat ini masih saling bertentangan mengenai akurasi diagnostik dari kardiometri elektrik. Studi yang ada juga masih memiliki sampel yang kecil, metode penelitian yang terbatas (misalnya baru bersifat observasional), dan pembanding yang berbeda-beda (sebagian membandingkan dengan PAC dan TPTD, sebagian lagi dengan echocardiography). Oleh sebab itu, masih diperlukan studi lebih lanjut dengan sampel lebih besar terkait nilai diagnostik kardiometri elektrik bila dibandingkan dengan baku emas.

Ketika kardiometri elektrik sudah dipelajari secara memadai untuk memastikan bahwa hasil dari metode ini sebanding dengan metode yang lebih invasif, alat ini akan sangat berharga dalam meningkatkan pengelolaan pasien dengan syok hipovolemik dan syok kardiogenik untuk meningkatkan luaran klinis.

Referensi