Efikasi Clopidogrel vs Ticagrelor untuk Sindrom Koroner Akut - Telaah Jurnal

Oleh :
dr. Eduward T, SpPD

Compared efficacy of clopidogrel and ticagrelor in treating acute coronary syndrome: a meta-analysis

Wang D, Yang XH, Zhang JD, et al. Compared efficacy of clopidogrel and ticagrelor in treating acute coronary syndrome: a meta-analysis. BMC Cardiovascular Disorders, 2018. 18(1). doi:10.1186/s12872-018-0948-4

Abstrak

Latar Belakang dan Tujuan: Ticagrelor telah diakui sebagai antagonis P2Y12-reseptor adenosin difosfat terbaru yang menawarkan onset kerja yang lebih cepat dan inhibisi fungsi platelet yang lebih signifikan pada penatalaksanaan sindrom koroner akut (SKA). Namun, manfaat klinis ticagrelor dibandingkan clopidogrel masih menjadi kontroversi. Meta analisis ini dilakukan guna mengevaluasi peran ticagrelor dibandingkan clopidogrel dalam penatalaksanaan pasien SKA.

Metode: Semua publikasi yang membahas tentang keamanan maupun efikasi clopidogrel dibandingkan ticagrelor ditelusuri dan diidentifikasi hingga bulan Juni 2018. Setelah menjalani ulasan terperinci, percobaan acak terkontrol (RCT) yang memenuhi syarat diekstraksi, kemudian dilakukan analisis propensity score matching (PSM). Untuk menganalisis kesimpulan odd ratio (OR) dari endpoint of interest, kami menggunakan perangkat lunak Meta-analisis Revman versi 5,3.

Hasil: Dari total 10 studi yang memenuhi kriteria inklusi kami, hasil analisis menemukan risiko kejadian perdarahan (p=0,43), infark miokard (p=0,14), dan stroke (p=0,70) tidak berbeda bermakna antara pasien yang mendapatkan ticagrelor atau clopidogrel. Meski demikian, ditemukan angka dyspnea yang lebih tinggi pada kelompok ticagrelor (OR= 1,87, 95% CI: 1,70-2,05, P< 0,00001).

Kesimpulan: Hasil analisis kami menunjukkan efikasi dan profil keamanan yang serupa antara clopidogrel dan ticagrelor. Ticagrelor hendaknya dipertimbangkan sebagai opsi yang bernilai untuk menurunkan risiko perdarahan, infark miokard, dan stroke, meski berpotensi meningkatkan insidensi dyspnea. Berdasarkan proses metaboliknya, ticagrelor seharusnya menjadi pilihan yang valid dan merupakan obat antiplatelet yang lebih poten dibandingkan clopidogrel, sebagai alternatif dalam penatalaksanaan pasien yang mengalami intoleransi atau resistensi terhadap clopidogrel.

shutterstock_1681533853-min

Ulasan Alomedika

Terapi standar sindrom koroner akut (SKA) melibatkan strategi dual antiplatelet therapy (DAPT) yang mencakup aspirin dan penghambat reseptor P2Y12, baik untuk pasien yang menjalani terapi konservatif maupun yang mendapatkan intervensi koroner perkutan (PCI). Clopidogrel adalah opsi obat penghambat reseptor P2Y12 yang sudah digunakan sejak lama, dan saat ini  terdapat opsi baru yaitu ticagrelor.

Berbeda dari clopidogrel, ticagrelor merupakan antagonis oral direk dari P2Y12 adenosine diphosphate (ADP) receptor blocker dengan reversibilitas pada reseptor tersebut dan tidak membutuhkan aktivasi katabolit, sehingga menawarkan onset inhibisi trombosit yang lebih cepat dan lebih signifikan. Meski demikian, perbandingan efikasi dan keamanan antara ticagrelor dan clopidogrel masih kontroversial. Oleh sebab itu, meta analisis ini ditujukan untuk memberikan bukti klinis yang lebih konklusif terhadap isu tersebut.

Ulasan Metode Penelitian

Peneliti melakukan pencarian literatur yang dipublikasi pada basis data Embase, PubMed, dan Cochrane Library hingga bulan Juni tahun 2018. Adapun kriteria inklusi adalah:

  • Studi berupa percobaan acak terkontrol (RCT) atau propensity score matching (PSM) control trial yang membandingkan clopidogrel dengan ticagrelor
  • Partisipan adalah pasien sindrom koroner akut

  • Luaran primer meliputi insidensi dampak vaskuler termasuk major adverse cardiovascular event, dan juga mencakup stroke, infark miokard (MI), perdarahan dan dyspnea

Kualitas studi RCT dinilai dengan skala Jadad, sedangkan kualitas studi observasional dinilai dengan skala Newcastle-Ottawa. Analisis statistik dilakukan dengan perangkat lunak Review Manager versi 5,3. Peneliti menggunakan metode inverse variance untuk mengkalkulasi endpoint of interest menurut odds ratio (OR) dengan interval kepercayaan 95% (CI 95%). Heterogenitas antar studi diperiksa dengan tes I2.

Ulasan Hasil Penelitian

Pada penelusuran awal, peneliti mendapatkan 369 publikasi, namun hanya ada 10 studi (8 RCT dan 2 PSM) yang memenuhi kriteria inklusi. Penilaian kualitas studi yang diikutsertakan menunjukkan kualitas yang moderat hingga baik.

Data analisis gabungan menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada risiko perdarahan, stroke, ataupun infark miokard antara kelompok yang mendapat clopidogrel dengan ticagrelor. Namun, ada peningkatan insidensi dyspnea pada pasien SKA yang diterapi dengan ticagrelor.

Kelebihan Penelitian

Kelebihan penelitian ini terletak pada penggunaan basis data terkini (dari tahun 2007 hingga 2018) dan mengikutsertakan total sampel yang besar yaitu 20.077 pada kelompok ticagrelor dan 36.643 pada kelompok clopidogrel. Peneliti juga melakukan penilaian kualitas studi dan heterogenitas data antar studi.

Limitasi Penelitian

Pada meta analisis ini, peneliti tidak hanya menganalisis RCT, namun juga memasukkan data studi retrospektif (2 studi PSM). Selain itu, terdapat ketidakseimbangan basis demografik dan karakteristik klinis antar grup yang dibandingkan. Kedua hal tersebut berpotensi menimbulkan bias.

Aplikasi Hasil Penelitian Di Indonesia

Hasil studi ini dapat diterapkan di Indonesia sebagai bagian dari pedoman tata laksana sindrom koroner akut. Meskipun ketersediaan ticagrelor masih terbatas, tetapi studi ini menunjukkan bahwa efikasi dan keamanan antara ticagrelor dan clopidogrel sebanding. Oleh karena itu, ticagrelor dapat menjadi alternatif tata laksana bagi pasien SKA yang mengalami intoleransi atau resistensi terhadap clopidogrel.

Referensi