Profilaksis Oftalmia Neonatorum: Apakah Masih Relevan?

Oleh :
dr. Utami Noor Syabaniyah SpM

Pemberian profilaksis segera setelah kelahiran untuk oftalmia neonatorum, disebut juga konjungtivitis neonatal, diharapkan dapat mencegah komplikasi gangguan penglihatan. Oftalmia neonatorum dapat menyebabkan kebutaan pada bayi, terutama jika patogen etiologinya adalah Neisseria gonorrhoeae.

Penyebab Oftalmia Neonatorum dan Peran Profilaksis

Penyebab oftalmia neonatorum tersering adalah bakteri. Saat ini Neisseria gonorrhoeae menyebabkan kurang dari 1% oftalmia neonatorum di Amerika Serikat. Sementara itu, bakteri yang tidak ditransmisikan secara seksual, seperti Staphylococcus dan Streptococcus, merupakan kontributor paling sering, yaitu menyebabkan 30-50% kasus. Virus yang dapat menyebabkan oftalmia neonatorum adalah virus herpes simpleks, adenovirus, dan enterovirus, namun kasusnya lebih jarang.

Profilaksis Oftalmia Neonatorum-min

Data untuk penyebab terbanyak oftalmia neonatorum di Indonesia belum tersedia. Epidemiologi konjungtivitis gonokokal pada neonatus, yang merupakan jenis oftalmia neonatorum yang berbahaya dan dapat menyebabkan kebutaan, juga belum jelas. Meski demikian, secara umum diperkirakan bahwa insidensi di negara berkembang, seperti Indonesia, lebih tinggi dibandingkan negara maju seperti Amerika Serikat.[1-4]

Peran Profilaksis Oftalmia Neonatorum

Oftalmia neonatorum dapat ditularkan secara langsung, yaitu transfer dari ibu ke anak selama proses melahirkan melalui persalinan pervaginam ataupun infeksi ascending (vertikal) ke uterus. Oftalmia neonatorum merupakan penyakit yang ringan pada sebagian besar kasus, kecuali yang disebabkan oleh N. gonorrhoeae.

Oftalmia neonatorum gonokokal memiliki awitan yang lebih cepat dan lebih agresif dibandingkan dengan klamidia. Infeksi karena N. gonorrhoeae dapat menyebabkan ulkus kornea dan perforasi kornea yang berakhir dengan kebutaan. Ibu hamil bisa tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi N. gonorrhoeae karena mengalami infeksi yang asimptomatik. Oleh karena itulah, profilaksis oftalmia neonatorum diinisiasi segera setelah bayi lahir.[1-3]

Cara Profilaksis Oftalmia Neonatorum

Oftalmia neonatorum dapat dikontrol dengan beberapa cara, yaitu mencegah penyebaran infeksi menular seksual (IMS) dan melakukan skrining prenatal pada ibu hamil terhadap infeksi genital dan mengobati ibu hamil yang terkena infeksi. Selain itu, pencegahan juga dapat dilakukan dengan pemberian profilaksis pada semua neonatus dalam beberapa jam setelah lahir, serta diagnosis dan tata laksana infeksi mata pada bayi baru lahir sedini mungkin.[1,3]

Profilaksis yang dapat diberikan berupa tetes mata atau salep mata yang berisi antibiotik atau antiseptik yang dapat membunuh bakteri pada permukaan okular segera setelah lahir. Tanpa upaya profilaksis, oftalmia neonatorum gonokokal dapat terjadi pada 30-50% bayi risiko tinggi yang terpapar selama persalinan dan dapat secara cepat menyebabkan ulserasi dan perforasi kornea bila tidak segera ditangani. Bayi risiko tinggi yang dimaksud adalah bayi yang ibunya memiliki risiko terkena infeksi penyakit menular seksual (IMS) [1,5]

Pilihan Obat untuk Profilaksis Oftalmia Neonatorum

Dahulu, pencegahan oftalmia neonatorum dilakukan dengan pemberian larutan perak nitrat 2% sebagai profilaksis terhadap N. gonorrhoeae. Namun, sekarang penggunaan perak nitrat sudah banyak ditinggalkan karena menyebabkan efek samping konjungtivitis kimia pada 50-90% bayi.

Berikut ini beberapa obat yang direkomendasikan oleh WHO dalam pemberian profilaksis ON:

Laporan di Kanada mengindikasikan bahwa strain N. gonorrhoeae yang resisten terhadap tetrasiklin mulai banyak ditemukan, sehingga saat ini penggunaan tetrasiklin sebagai profilaksis mulai berkurang. Povidone iodine juga digunakan di beberapa negara sebagai profilaksis, namun umumnya kurang disukai karena memiliki potensi efek samping konjungtivitis kimia.[1,3]

Apakah Profilaksis Oftalmia Neonatorum Masih Relevan?

Adanya permasalahan resistensi bakteri, insidensi penyakit gonorrhea yang semakin menurun, potensi efek samping yang terjadi akibat pemberian profilaksis, serta banyaknya sediaan antibiotik lain yang belum dievaluasi efikasinya pada neonatus, membuat keperluan profilaksis universal menjadi dipertanyakan.

Beberapa negara maju di Eropa sudah meniadakan profilaksis universal untuk oftalmia neonatorum. Inggris meniadakan profilaksis universal sejak tahun 1950, dan memberlakukan sistem skrining prenatal pada semua ibu hamil. Begitu pula di Kanada yang juga meniadakan pemberian profilaksis rutin sesuai dengan rekomendasi Canadian Pediatric Society dan meningkatkan kegiatan skrining prenatal.[1-3,7]

Sementara itu, di Amerika Serikat The US Preventive Task Force (USPTF) masih merekomendasikan pemberian profilaksis antibiotik secara topikal untuk mencegah oftalmia neonatorum gonokokal. Profilaksis dilakukan menggunakan erythromycin salep mata 0,5% pada semua bayi baru lahir dalam waktu 24 jam dengan rekomendasi grade A (high certainty the net benefit is substantial). WHO juga masih merekomendasikan profilaksis universal untuk mencegah oftalmia neonatorum yang disebabkan oleh N. gonorrhoeae dan C. trachomatis pada semua bayi baru lahir tanpa kecuali.[5,6]

Bukti Ilmiah Efikasi Profilaksis Oftalmia Neonatorum

Pada tahun 2020, sebuah tinjauan sistematik mengenai apakah pemberian profilaksis lebih baik dibandingkan tanpa profilaksis dalam pencegahan oftalmia neonatorum dipublikasikan di Cochrane Database of Systematic Reviews. Tinjauan ini mengevaluasi 30 uji klinis yang tersebar di seluruh dunia yang melibatkan negara maju dan negara berkembang dengan total sampel 79.198 neonatus.

Tinjauan sistematik ini menunjukkan bahwa pemberian profilaksis dapat menyebabkan penurunan ACAE (any conjunctivitis of any etiology) pada neonatus dengan kualitas bukti moderat. Sementara itu, kualitas bukti terkait efikasi pemberian profilaksis untuk konjungtivitis gonokokal, konjungtivitis klamidia, dan konjungtivitis bakterial masih rendah. Di samping itu, tidak ada bukti ilmiah adekuat untuk mengetahui apakah profilaksis oftalmia neonatorum efektif dalam mencegah luaran serius, seperti gangguan penglihatan ataupun kebutaan.

Studi ini juga menunjukkan bahwa tidak ada regimen profilaksis yang nampak secara jelas lebih superior. Meski demikian, karena data yang ada masih terbatas, studi lebih lanjut masih diperlukan untuk menarik kesimpulan lebih pasti.[3]

Kesimpulan

Oftalmia neonatorum atau konjungtivitis neonatal kebanyakan disebabkan oleh patogen yang tidak menular secara seksual dan umumnya memiliki manifestasi klinis yang ringan. Meski demikian, pada kasus yang lebih jarang dapat terjadi oftalmia neonatorum akibat gonorrhea atau klamidia yang berpotensi menyebabkan komplikasi serius, seperti kebutaan.

Profilaksis universal yang diberikan segera setelah bayi baru lahir ditujukan untuk mencegah potensi komplikasi berat tersebut. Namun, hingga saat ini bukti ilmiah yang mendukung efikasinya masih sangat terbatas.  Penggunaan profilaksis oftalmia neonatorum mungkin dapat dipertimbangkan pada area dengan prevalensi tinggi infeksi gonorrhea pada ibu hamil, area dengan fasilitas skrining prenatal yang minim, dan kondisi dimana akses ke fasilitas kesehatan yang memadai masih minim.

Referensi