Perlukah Antibiotik Setelah Insisi Drainase Abses Perianal

Oleh :
dr. Sonny Seputra, Sp.B, M.Ked.Klin, FINACS

Penggunaan antibiotik spektrum luas setelah tindakan insisi drainase pada abses perianal merupakan hal yang umum dilakukan dalam praktik bedah, meskipun peran dan manfaatnya belum jelas. Abses perianal umumnya bermanifestasi sebagai edema dan nyeri yang berat pada regio anorektal. Penyebab utama dari abses perianal adalah infeksi kriptoglandular. Penyakit ini memerlukan tindakan operatif. Manajemen utama berupa operasi insisi drainase abses, yang sering diikuti pemberian antibiotik sebagai terapi adjuvan.[1-3]

Menurut pedoman American Society of Colon and Rectal Surgeons (ASCRS) 2011, tatalaksana abses perianal adalah operasi insisi drainase, sedangkan antibiotik memiliki peran terbatas dalam pengobatan abses perianal tanpa komplikasi. Antibiotik dapat dipertimbangkan pada kondisi-kondisi tertentu, misalnya pasien dengan selulitis yang signifikan, adanya imunosupresi yang mendasari kondisi abses, atau penyakit sistemik yang terjadi bersamaan dengan abses.[1]

shutterstock_658285420

Walaupun begitu,  perlu diketahui bahwa bahkan dengan operasi insisi drainase yang segera, risiko pembentukan fistula perianal pasca operasi masih berkisar 40% dalam kurun waktu 12 bulan. Komplikasi ini diduga berhubungan dengan drainase abses yang tidak adekuat, tingginya jumlah bakteri, atau etiologi penyakit yang non kriptoglandular. Antibiotik pasca operasi insisi drainase digunakan untuk mengatasi keterbatasan ini, tetapi penggunaannya masih merupakan hal yang kontroversial.[4]

Pemberian Antibiotik Pasca Insisi Drainase Abses Perianal dan Kaitannya dengan Pembentukan Fistula

Sozener et al pada tahun 2011 melakukan randomized controlled trial (RCT) pada 151 pasien. Sebanyak 75 pasien mendapat terapi antibiotik amoxicillin-asam klavulanat selama 5-10 hari pasca operasi insisi drainase abses perianal, dan 76 pasien mendapatkan plasebo. Hasil dari studi ini adalah pembentukan fistula perianal terjadi pada 17 pasien (22,4%) pada kelompok plasebo dan pada 28 pasien (37,3%) pada kelompok antibiotik. Peneliti menyimpulkan bahwa pemberian antibiotik pasca operasi insisi drainase tidak memberikan efek protektif terhadap pembentukan fistula perianal.[5]

Studi lain yang jauh lebih baru (2017) meneliti mengenai penggunaan antibiotik empirik lincomycin pasca operasi insisi drainase abses perianal. Studi ini melaporkan bahwa penggunaan lincomycin menghasilkan tingkat rekurensi abses dalam 6 bulan sebesar 10% dan dalam 12 bulan sebesar 5%. Tingkat komplikasi pembentukan fistula perianal adalah sebesar 25% dalam 6 bulan dan 5% dalam 12 bulan. Peneliti menyimpulkan bahwa penggunaan antibiotik pasca operasi insisi drainase abses perianal dapat menurunkan angka rekurensi abses dan risiko pembentukan fistula perianal. Peneliti menyatakan bahwa lincomycin dipilih karena dapat mencegah dan mengobati bakteremia, selulitis, dan sepsis.[1]

Hasil ini didukung oleh sebuah metaanalisis yang dipublikasikan di tahun 2019 oleh Mocanu et al. Metaanalisis ini mengevaluasi 6 studi yang melibatkan 817 pasien. Antibiotik diberikan dalam 5-10 hari pasca operasi insisi drainase. Sebanyak 358 pasien (43,8%) tidak mendapat terapi antibiotik, sedangkan 459 pasien (56,2%) mendapat terapi antibiotik pasca operasi insisi drainase abses perianal. Pemantauan dilakukan dalam 1-30 bulan.

Hasil metaanalisis melaporkan angka kejadian fistula perianal adalah 16% pada kelompok yang diberi antibiotik dan 24% pada kelompok tanpa antibiotik. Didapatkan sebanyak 3 studi yang mendukung bahwa antibiotik memberikan efek protektif terhadap pembentukan fistula pasca insisi drainase abses perianal (OR 0,64, P = 0,03). Mocanu et al menyatakan bahwa terapi antibiotik pasca operasi insisi drainase abses perianal dapat menurunkan angka kejadian terbentuknya fistula 36% lebih rendah.[4]

Pilihan Antibiotik Pasca Insisi Drainase Abses perianal

Studi oleh Cheng dan Tsai menunjukkan bahwa bakteri aerob yang paling umum pada kasus abses perianal adalah E.coli dan bakteri anaerob yang paling umum adalah B. fragilisE.coli sensitif terhadap antibiotik amoxicillin-asam klavulanat, cefazolin, dan ciprofloxacin. Untuk bakteri anaerob (spesies Bacteroides dan Clostridium perfringens), sensitivitas antibiotik adalah 100% dengan metronidazole. Cheng dan Tsai melaporkan bahwa angka kejadian fistula perianal  pada pemantauan selama 12 bulan adalah 11,42% pada pasien yang memiliki infeksi flora campuran dan 0% pada pasien yang memiliki infeksi kuman aerob murni. Pada studinya, Cheng dan Tsai menyarankan antibiotik oral pilihan untuk terapi abses perianal adalah metronidazole dikombinasi dengan sefalosporin.[6]

Ghahramani et al pada tahun 2017 membuktikan efikasi penggunaan kombinasi antibiotik metronidazole dan ciprofloxacin selama 7 hari pasca operasi insisi drainase abses perianal. Sebanyak 155 pasien yang mendapat antibiotik metronidazole dan ciprofloxacin memiliki risiko pembentukan fistula yang secara signifikan lebih rendah dibandingkan dengan 144 pasien yang tidak menggunakan obat apa pun. Ghahramani et al menyimpulkan bahwa terapi antibiotik pasca operasi insisi drainase, termasuk ciprofloxacin dan metronidazole, memiliki peran penting dalam mencegah pembentukan fistula perianal.[7]

Kesimpulan

Terapi antibiotik pasca operasi insisi drainase abses perianal sering dilakukan dalam praktik bedah walaupun manfaat dan perannya masih kontroversial. Pedoman American Society of Colon and Rectal Surgeons (ASCRS) 2011, menyarankan pemberian antibiotik hanya pada kondisi tertentu saja seperti pasien imunokompromais, adanya selulitis yang signifikan, dan adanya komorbiditas penyakit sistemik.

Sebuah RCT di tahun 2011 menyatakan bahwa antibiotik tidak bermanfaat mencegah terbentuknya fistula pasca tindakan insisi drainase. Namun, beberapa studi yang lebih baru menyangkal hal ini.

Jenis antibiotik yang dapat dipilih adalah metronidazole untuk mengatasi infeksi bakteri anaerob. Sedangkan untuk bakteri aerob dapat digunakan amoxicillin-asam klavulanat, cefazolin, atau ciprofloxacin.

Referensi