Perbedaan Spondylosis, Spondylolysis, dan Spondylolisthesis Lumbal

Oleh :
dr.Albert Lesmana, Sp.OT

Spondylosis, spondylolysis, dan spondylolisthesis lumbal adalah kondisi yang menyebabkan keluhan nyeri punggung bawah. Dalam praktek sehari-hari, nyeri punggung bawah atau low back pain (LBP) merupakan salah satu gejala yang sering ditemui. Bahkan rata-rata 2 dari 3 orang dalam hidupnya pernah merasakan LBP. Oleh karena itu, membedakan kondisi lumbar di atas perlu untuk dipahami para klinisi.[1,2]

Sekilas Tentang Nyeri Punggung Bawah

Gejala nyeri punggung bawah atau low back pain (LBP) cukup bervariasi, ada yang terasa ringan dan berlangsung hanya sementara waktu, maupun nyeri dengan intensitas tinggi dan berlangsung terus-menerus. Sebagian besar LBP dapat teratasi dalam waktu kurang dari 6 minggu, tetapi 15−45% pasien dapat mengalami nyeri kronis hingga >3 bulan.[1,2]

Perbedaan Spondylosis, Spondylolysis, dan Spondylolisthesis Lumbal-min

LBP dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, mulai dari mialgia, gangguan struktur tulang belakang, gangguan syaraf, hingga nyeri alih dari organ dalam. Spondylosis, spondylolysis, dan spondylolisthesis lumbar merupakan penyebab LBP karena gangguan struktur tulang belakang.[1,2]

Pemahaman Terminologi

Banyak istilah dalam bidang kedokteran yang memiliki kemiripan, sehingga seringkali sulit untuk dipahami. Hal ini juga terjadi dalam penggunaan istilah pada gangguan tulang belakang. Untuk memahaminya, diperlukan pemahaman terminologi yang berhubungan dengan penyakit penyebab LBP.[1,2]

Pemahaman Spondylosis

Spondylosis adalah kondisi degeneratif pada diskus vertebra, corpus vertebra, dan persendian vertebra, terutama pada sendi facet/zygapophyseal.

Pemahaman Spondylolysis

Spondylolysis merupakan kerusakan anatomis atau fraktur pada arkus neural vertebra, terutama pada pars interarticularis. Kerusakan/fraktur tersebut dapat terjadi hanya pada salah satu sisi (unilateral), atau pada kedua sisi (bilateral). Hal ini menyebabkan struktur kolumna posterior tulang belakang menjadi tidak stabil, sehingga dapat terjadi spondylolisthesis. [1,2]

Pemahaman Spondylolisthesis

Spondylolisthesis merupakan pergeseran korpus vertebra ke arah anterior dari struktur vertebra di bawahnya. Berdasarkan penyebabnya, spondylolisthesis dapat diklasifikasikan menjadi 5 kategori menurut Wiltse, yaitu:

  • Tipe I (dysplastic), disebabkan oleh dysplasia kongenital
  • Tipe II (isthmic), terbagi menjadi tipe IIA dan IIB. Tipe IIA disebabkan oleh stress fraktur pada pars interarticularis (spondylolysis). Sedangkan tipe IIB disebabkan oleh elongasi pars interarticularis akibat proses penyembuhan fraktur yang berulang
  • Tipe III (degenerative), awalnya disebabkan oleh arthritis pada sendi facet (spondylosis), sehingga membuat ligamentum flavum melemah, tidak stabil, dan terjadi pergeseran vertebra ke anterior
  • Tipe IV, disebabkan oleh trauma pada tulang belakang
  • Tipe V, terjadi akibat proses patologis, seperti tumor tulang, metastasis tulang, atau osteoporosis yang menyebabkan spondylolysis dan berlanjut menjadi spondylolisthesis
  • Tipe VI, disebabkan iatrogenik atau proses pembedahan pada tulang belakang[3,4]

Untuk tingkat keparahan pergeseran pada spondylolisthesis dapat digunakan klasifikasi Meyerding, yang didasari oleh pemeriksaan X-ray lateral dari vertebra. Terdapat 5 tingkatan, berdasarkan persentase yang diukur dari jarak pergeseran terhadap vertebra di bawahnya, tingkat I <25%, tingkat II 26−50%, tingkat III 51−75%, tingkat IV 76−100%, dan tingkat V >100%. Tingkat V dikenal dengan istilah spondyloptosis.[3,4]

Gejala dan Anamnesis

Gejala paling umum yang terjadi pada ketiga patologi di atas adalah nyeri punggung bawah. Namun, masing-masing patologis memiliki karakteristik tertentu yang dapat berdiri sendiri atau berkesinambungan. Oleh karena itu, dibutuhkan anamnesis dan pemeriksaan fisik dengan seksama, ditambah dengan pemeriksaan penunjang yang sesuai.[1,2]

Gejala Spondylosis

Pada spondylosis, gejala yang paling umum berupa LBP, di mana 85−90% tidak ditemui gejala patognomonik yang spesifik. Secara garis besar, terdapat tiga sindrom klinis yang paling sering dijumpai, yakni nyeri pinggang diskogenik, osteoarthritis pada sendi facet, dan instabilitas segmental.[1,2]

Kerusakan Diskus:

Kerusakan diskus dimulai dari robekan ligamen anular sampai herniasi nukleus pulposus. Kerusakan diskus akan menimbulkan nyeri pinggang diskogenik, yakni nyeri yang dipicu oleh peningkatan beban pada diskus. Kegiatan yang dapat menyebabkan nyeri ini misalnya mengangkat beban, gerakan membungkuk, atau gerakan duduk.[1,2]

Jika herniasi nukleus pulposus cukup besar, maka akan terjadi jepitan atau iritasi akar saraf yang berada di sekitar diskus maupun foramen intervertebralis, sehingga gejala neurologis terjadi.[1,2]

Osteoarthritis Sendi Facet:

Osteoarthritis sendi facet merupakan proses degeneratif sendi sinovial, meliputi kartilago hyalin, membrane sinovial, dan kapsul sendi facet. Seperti osteoarthritis pada umumnya, gejala yang dapat dirasakan berupa nyeri, terutama saat gerakan ekstensi dan rotasi. Nyeri dan kaku pada awal gerakan akan berangsur membaik setelah otot digerakan.[1,2]

Instabilitas Segmental:

Instabilitas segmental merupakan hilangnya stabilitas dari satu segmen gerak yang dapat menyebabkan nyeri, yang berpotensi menyebabkan deformitas dan mencederai struktur neurologis sekitar. Kondisi ini terutama terjadi pada spondylolysis dan spondylolisthesis.[1,2]

Nyeri biasanya timbul karena gerakan pinggang dan getaran saat berkendara, yang akan berkurang saat beristirahat. Seringkali, penderita merasakan spasme otot akibat kompensasi otot-otot pinggang untuk stabilisasi tulang belakang saat beraktivitas.[1,2]

Gejala Spondylolysis

Pada spondylolysis, nyeri pinggang dirasakan terutama saat gerakan ekstensi dan saat pasien melakukan aktivitas berat. Nyeri akan berkurang saat pasien duduk atau istirahat. Jarang ditemui defisit neurologis pada spondylolysis.[1,2]

Gejala Spondylolisthesis

Sedangkan pada spondylolisthesis, gejala neurologis, seperti nyeri yang menjalar dari pinggang ke betis, rasa panas yang menjalar, dan gangguan sensoris sesuai dermatom, lebih sering ditemukan akibat penekanan pada akar saraf tulang belakang.[1,2]

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik secara menyeluruh dapat membantu mendiagnosis penyebab LBP, dengan menentukan kemungkinan struktur yang menjadi penyebab nyeri. Secara singkat, beberapa karakteristik adalah:

  • Nyeri pinggang diskogenik pada kerusakan diskus: nyeri terprovokasi saat sit-up test dan gerakan flexi lumbal berulang
  • Osteoarthritis pada sendi facet: nyeri timbul pada gerakan extensi lumbal berulang, gerakan rotasi berulang, dan hiperekstensi saat posisi pronasi
  • Sindrom instabilitas segmental: nyeri terutama timbul saat pasien berganti posisi dari membungkuk ke posisi tegak, sehingga membutuhkan bantuan lengan atas untuk menopang tubuh pada paha
  • Spondylolisthesis: didapati perubahan postur tubuh berupa hiperlordosis dan otot-otot hamstring yang menegang, sehingga saat berdiri terlihat lutut yang sedikit menekuk[2-4]

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan yang dapat dilakukan dalam menunjang diagnosis ketiga kondisi ini antara lain foto polos (X-ray), CT scan (computerised tomography), dan MRI (magnetic resonance imaging).

Foto Polos Lumbal

Pemeriksaan yang paling umum dilakukan pada pasien LBP adalah foto polos lumbal, pada posisi anteroposterior (AP), lateral, oblik, serta posisi lateral dengan fleksi dan ekstensi lumbal. Dari foto polos, dapat ditentukan kesegarisan tulang belakang, pergeseran korpus vertebra, kualitas tulang, ada tidaknya fraktur, jarak antara korpus vertebra (celah diskus), sklerosis endplate vertebra, penyempitan foramen vertebra, terbentuknya spur, osteofit, dan perbesaran sendi facet.[2-4]

CT-Scan Lumbal

Peran CT-scan saat ini telah banyak diganti dengan MRI, tetapi masih dapat digunakan pada pasien dengan kontra indikasi MRI. Selain itu, CT-scan dapat berfungsi mengevaluasi struktur anatomi pada kasus spondylolisthesis serta evaluasi hasil fusi pasca operasi.[2-4]

MRI Lumbal

MRI merupakan pemeriksaan baku emas untuk mendiagnosis patologi pada vertebra dan struktur disekitarnya. MRI dapat mendeteksi perubahan endplate vertebra, evaluasi sendi facet, robekan ligamen anular, degenerasi diskus, herniasi diskus, hipertrofi ligamentum flavum, jepitan akar saraf, stenosis, ada tidaknya fraktur, metastasis, dan tumor.[2-4]

Perawatan dan Penanganan

LBP tanpa gejala defisit neurologis biasanya dapat ditangani dengan terapi konservatif. Namun, apabila pasien telah mengalami nyeri yang kronis, nyeri yang mengganggu aktivitas harian, dan juga ditemui gejala defisit neurologis, seperti nyeri menjalar ke tungkai bawah, rasa kebas, dan/atau kelemahan kekuatan motorik tungkai bawah, maka tindakan pembedahan menjadi pilihan.[2-5]

Terapi Konservatif

Perawatan LBP dimulai dengan terapi konservatif, yakni medikamentosa analgesik, tirah baring, pembatasan aktivitas, injeksi facet joint, penggunaan brace, dan fisioterapi. Dengan terapi konservatif, umumnya 80−90% LBP dapat teratasi. Terapi konservatif dapat dicoba selama 2−6 bulan. Apabila dalam jangka waktu tersebut gejala semakin bertambah atau terdapat perburukan gejala neurologis, maka dapat dipertimbangkan terapi pembedahan.[2-5]

Terapi Pembedahan

Terapi pembedahan bertujuan untuk stabilisasi dan fusi tulang belakang, serta dekompresi akar saraf dari struktur yang dapat menyebabkan jepitan. Stabilisasi dan fusi dapat dilakukan tanpa instrumentasi maupun dengan instrumentasi tergantung dari jumlah level yang terlibat, struktur yang mengalami kerusakan dan teknik operasi. [2-5]

Kesimpulan

Spondylosis, spondylolysis, dan spondylolisthesis merupakan penyebab nyeri punggung bawah, akibat gangguan struktur tulang belakang. Ketiga kondisi tersebut dapat menyebabkan nyeri punggung bawah dengan gejala ringan sampai defisit neurologis, tergantung dari tingkat keparahannya.

Secara terminologi, spondylosis adalah proses degeneratif pada vertebra lumbal, yang dapat berkembang menjadi spondylolysis atau spondylolisthesis. Selain itu, spondylolysis atau spondylolisthesis juga disebabkan oleh trauma.

Diagnosis spondylolysis merupakan kerusakan pada bagian pars interarticularis vertebra, baik pada satu maupun kedua sisi. Spondylolysis dapat menyebabkan instabilitas struktur vertebra sehingga terjadi pergeseran korpus vertebra ke anterior, yang disebut sebagai kondisi spondylolisthesis. Anamnesis yang mendalam, pemeriksaan fisik yang menyeluruh, serta pemeriksaan penunjang (X-ray dan MRI lumbal) sangat membantu dalam menentukan diagnosis dan penyebab dari LBP, sehingga pasien dapat ditangani dengan tepat.[3-5]

Referensi