Perbandingan Breast Conserving Surgery dan Mastektomi bagi Pasien Kanker Payudara

Oleh :
Sunita

Pilihan terapi pembedahan untuk pasien kanker payudara di antaranya mastektomi atau breast conserving surgery (BCS). Pada artikel ini akan dibahas tentang dampak BCS dan mastektomi terhadap kesintasan dan kualitas hidup pasien, serta karakteristik pasien tertentu yang mungkin lebih baik menjalani BCS daripada mastektomi.

BCS merupakan bagian dari breast conserving therapy (BCT) yang bertujuan untuk pengendalian penyakit jangka panjang dengan morbiditas lokal minimum. Sebuah penelitian menunjukkan kesetaraan antara BCT dan mastektomi terkait pengendalian kanker lokoregional pada wanita muda.[1,2]

Perbandingan Breast Conserving Surgery dan Mastektomi bagi Pasien Kanker Payudara-min

Pada mayoritas pasien kanker payudara, BCT memberikan hasil pembedahan yang baik dengan tingkat morbiditas psikologis yang lebih rendah daripada mastektomi. Tingkat rekurensi lokal pasca BCS juga semakin menurun seiring dengan perkembangan teknologi pencitraan kanker, perhatian khusus terhadap margin tumor, dan peningkatan efektivitas terapi sistemik.[1,2]

Perbandingan Kesintasan Pasien Pasca BCS daripada Mastektomi

Dampak BCS dan mastektomi terhadap kesintasan pasien telah banyak dipelajari dalam beberapa penelitian berbasis populasi.  Penelitian Chu et al pada tahun 2021 menganalisis data dari pasien kanker payudara stadium I‒II dalam register tumor di Louisiana, Amerika Serikat. Dari 18.260 partisipan, sebanyak 54,6% menjalani BCT dan 45,4% menjalani mastektomi.[4]

Kesintasan umum dalam periode pemantauan 10 tahun tampak lebih unggul pada partisipan yang menjalani BCT dibandingkan mastektomi (80% vs 69,3%). Selain itu, mastektomi berkaitan dengan peningkatan risiko kematian umum hingga 28,6% dan peningkatan risiko kematian spesifik akibat kanker hingga 29,8% dibandingkan BCT.[4]

Penyebab luaran yang lebih buruk imbas mastektomi pada penelitian ini masih belum diketahui. Namun, diduga karena pasien yang menjalani BCT memiliki jaringan payudara yang tidak terlalu padat dan penyebaran karsinoma duktal in situ yang lebih rendah dibandingkan pasien yang menjalani mastektomi.[4]

Keraguan terhadap Dampak BCS yang Lebih Baik

Walaupun sejumlah kohort telah menunjukkan bahwa BCS dan radioterapi lebih unggul dibandingkan mastektomi tanpa radioterapi dalam hal kesintasan, terdapat argumen bahwa beberapa faktor diduga berkontribusi terhadap perbedaan luaran ini. De Boniface et al mencoba menjawab keraguan ini melalui sebuah penelitian kohort yang melibatkan 48.986 partisipan yang masuk dalam registrasi kanker nasional Swedia, data sosioekonomi, dan data komorbiditas.[5]

Hampir 60% pasien menjalani BCS dan radioterapi, 25% pasien menjalani mastektomi tanpa radioterapi, dan 15% pasien menjalani mastektomi dengan radioterapi. Subgrup pasien yang menjalani mastektomi memiliki komorbiditas yang lebih tinggi daripada yang menjalani BCS. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pasien kanker payudara stadium dini memiliki kesintasan yang lebih baik setelah BCS disertai radioterapi dibandingkan mastektomi dengan atau tanpa radioterapi.[5]

Kesintasan tetap lebih baik bahkan setelah penyesuaian menurut faktor-faktor perancu sosioekonomik dan morbiditas yang belum dipertimbangkan dalam penelitian terdahulu. Namun, tidak semua faktor perancu potensial telah berhasil dianalisis, misalnya paparan rokok, indeks massa tubuh (IMT), serta komorbiditas lain yang mungkin belum tercantum dalam rekam medis partisipan.[5]

Selain itu, pada penelitian De Boniface, rerata durasi pemantauan hanya 6 tahun sehingga tidak cukup untuk menyimpulkan dampak BCS dibandingkan mastektomi terhadap rekurensi di atas 6 tahun pascaoperasi. Dengan demikian, penelitian lanjutan tetap perlu dilakukan untuk menganalisis kesintasan dengan turut mempertimbangkan faktor-faktor tersebut.[5]

Perbandingan Kualitas Hidup Pasien Pasca BCS daripada Mastektomi

Berbagai bukti ilmiah telah mempelajari kualitas hidup pasien kanker payudara pasca BCS dan mastektomi, khususnya terkait domain citra diri, gejala lokal, dan efek terapi sistemik. Dengan demikian, pasien kanker payudara perlu mendapatkan informasi tentang perbedaan dampak terhadap kualitas hidup sebelum memutuskan jenis pembedahan yang akan dijalani.[6]

Kualitas Hidup Domain Citra Diri

Tsai et al melakukan penelitian cross sectional multisenter terhadap 544 partisipan untuk mengetahui pengaruh BCS dan mastektomi terhadap kualitas hidup penyintas kanker payudara. Domain kualitas hidup di evaluasi menurut European Organisation for Research and Treatment of Cancer  Core Quality of Life questionnaire, yaitu EORCT QLQ-C30 dan EORCT QLQ-BR23.[6]

Pada penelitian yang melibatkan partisipan dengan kanker payudara stadium 0-III ini, hanya 40% pasien yang menjalani BCT dan 60% sisanya menjalani mastektomi. Tsai et al menemukan bahwa jenis pembedahan berdampak signifikan terhadap domain citra diri, tetapi tidak berdampak signifikan terhadap domain lainnya.[6]

Kualitas Hidup Domain Perspektif Masa Depan

Meta analisis oleh Ng et al mempelajari efek mastektomi dan BCS terhadap kualitas hidup berdasarkan kriteria EORCT QLQ-BR23 yang spesifik untuk kanker payudara. Selain domain citra diri, analisis ini menunjukkan bahwa BCS berdampak lebih baik secara signifikan terhadap luaran perspektif masa depan dan efek samping sistemik dibandingkan mastektomi.[7]

Kualitas Hidup Terkait Kesehatan

Pada penelitian lain, Zehra et al membandingkan kualitas hidup terkait kesehatan pada penyintas kanker payudara yang menjalani rekonstruksi payudara, BCS, dan mastektomi. Dari 16 penelitian memenuhi kriteria inklusi, ditemukan bahwa rekonstruksi payudara memberikan dampak kesehatan fisik dan citra diri yang lebih baik daripada mastektomi.[8]

Namun, ditinjau dari kesehatan sosial, emosional, seksual, dan kesehatan global, tidak terdapat perbedaan bermakna antara kelompok pasien yang menjalani rekonstruksi payudara dan mastektomi. Di sisi lain, bukti yang ada belum cukup untuk menunjukkan rekonstruksi payudara lebih baik daripada BCS pada keenam domain kualitas hidup.[8]

Studi ini menunjukkan bahwa kualitas hidup yang berkaitan dengan kesehatan pada pasien yang menjalani rekonstruksi payudara dan BCS lebih baik dibandingkan pasien yang menjalani mastektomi. Hasil penelitian ini perlu ditafsirkan secara hati-hati mengingat tingkat heterogenitas antar studi sangat tinggi, antara luaran yang berkaitan dengan rekonstruksi payudara dan BCS.[8]

Kesimpulan

Secara umum, bukti yang ada mengisyaratkan bahwa breast conserving surgery (BCS) dengan disertai radioterapi lebih baik daripada mastektomi. Kelebihan BCS ini baik dalam hal kesintasan umum, kesintasan terkait kanker payudara, maupun kualitas hidup pasca pembedahan.

Pada pasien dengan kanker payudara stadium dini yang menjadi kandidat potensial untuk menjalani BCS atau mastektomi, BSC memiliki kesintasan lebih tinggi hingga 20% daripada mastektomi. Sedangkan pasien dengan karakteristik kanker payudara T1N0 memiliki kesintasan relatif 40% lebih tinggi dibandingkan subgrup pasien lainnya, sehingga mengisyaratkan bahwa kelompok ini berpotensi menjadi kandidat pasien yang paling baik untuk BCS.

Berdasarkan dampaknya terhadap kualitas hidup, BCS memberikan luaran yang lebih baik dan signifikan dibandingkan mastektomi terhadap domain citra diri, perspektif masa depan, dan efek samping terapi sistemik. Pada pasien yang memiliki opsi BSC, hal ini juga perlu diintegrasikan sebagai salah satu materi edukasi sebelum pasien membuat keputusan tentang jenis pembedahan yang dijalani.

Referensi