Cara Menggunakan Growth Chart pada Bayi Prematur

Oleh :
dr. Immanuela Hartono

Pertumbuhan pada anak prematur berbeda dari anak yang lahir aterm, sehingga growth chart yang digunakan juga seharusnya berbeda. Pada anak prematur, usia yang digunakan sebagai parameter pertumbuhan seharusnya bukan usia kronologis. Namun, sebuah studi cross-sectional pada tahun 2013 melaporkan bahwa 71% pusat pediatrik menggunakan usia kronologis saat memasukkan hasil data antropometri anak-anak prematur yang lahir dengan usia gestasi dibawah 32 minggu. [1] Hal ini menunjukan kurangnya pengetahuan klinisi mengenai cara menggunakan growth chart pada bayi prematur.

Anak dapat dikatakan lahir prematur jika lahir dibawah usia gestasi 37 minggu. Bayi prematur sendiri cenderung mempunyai kenaikan berat badan yang lebih lambat dibandingkan bayi aterm. [2,3] Sayangnya, kurva pertumbuhan WHO yang direkomendasikan untuk anak usia 0 hingga 2 tahun dan kurva CDC yang direkomendasikan untuk anak usia diatas 2 tahun, tidak memfasilitasi pengukuran pertumbuhan untuk anak prematur. [2,4]

prematur bayi

Mengapa Anak Prematur Membutuhkan Growth Chart Berbeda?

Di Indonesia, pada tahun 2015 dari 13.000 bayi yang lahir setiap hari, 203 bayi mengalami kematian sebelum mencapai usia 1 bulan dan prematuritas merupakan penyebab tersering dari kematian neonatus (35.5%). [6] Padahal tiap kenaikan berat badan sebanyak 100 gram saja akan mengurangi risiko kematian dan gangguan neurologis pada bayi prematur. [7] Disinilah growth chart memiliki peranan penting untuk memonitor pertumbuhan, serta sebagai alat evaluasi nutrisi, kesehatan, dan morbiditas bayi. Pengukuran dengan growth chart yang tepat dapat menjadi alat deteksi dini abnormalitas pertumbuhan, agar segera dilakukan intervensi. [8,9]

Mengukur pertumbuhan pada bayi prematur tidak dapat menggunakan growth chart biasa karena berat lahir bayi prematur biasanya lebih kecil daripada berat lahir bayi aterm, sehingga pada bayi prematur dibutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai berat sesuai usia kronologis seperti pada growth chart bayi aterm. Selain daripada itu, pada bayi prematur sering didapatkan komorbiditas (misalnya penyakit jantung bawaan atau malformasi kongenital lain), yang akan mempengaruhi percepatan pertumbuhan bila dibandingkan bayi aterm. [7,9]

Memasukan Data Bayi Ke Dalam Kurva

Pemilihan kurva yang tepat merupakan bagian penting dalam memasukan data antropometri anak prematur. CDC merekomendasikan penggunaan kurva WHO pada anak usia 0-2 tahun dan kurva CDC untuk usia 2 tahun ke atas. [4] Sedangkan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan penggunaan kurva WHO hingga usia 5 tahun. [11] Namun, baik CDC ataupun IDAI tidak ada yang menjelaskan mengenai penggunaan kurva untuk anak prematur. Hingga saat ini, growth chart yang sering digunakan untuk bayi prematur adalah kurva Fenton. [12,14]

Kurva Fenton

Kurva Fenton pertama kali ditemukan oleh Tanis R Fenton pada tahun 2003. Beliau mengemukakan perbaruan dari kurva Babson dan Benda yang sudah digunakan sejak tahun 1976 sebagai kurva utama untuk bayi prematur terutama di ruang perawatan intensif neonatus (NICU). Kurva Babson dan Benda yang selama ini digunakan, dirasa perlu diperbaharui karena sampel pada studi ini terbatas sehingga menyediakan data yang terbatas juga. X-axis pada kurva ini baru dimulai sejak usia gestasi 26 minggu dan y-axis pada kurva ini menggunakan peningkatan berat badan setiap 500 gram. Fenton kemudian membuat kurva baru yang dimulai dari usia gestasi 22 minggu hingga 50 minggu. Hasil dari studi ini menyatakan bahwa kurva Fenton dapat menggantikan kurva Babson.[13] Pada tahun 2013, Fenton kembali mengeluarkan revisi dari kurva Fenton sebelumnya. [14]

Kekurangan dari kurva Fenton adalah belum ada studi lain yang bisa memvalidasi kurva ini. Sebuah studi malah mempertanyakan kurva Fenton dikarenakan kurva Fenton diadaptasi mengikuti pertambahan berat badan fetus dalam gestasi. Padahal, saat bayi keluar dari kandungan, akan ada faktor ekstrauterin yang dapat mempengaruhi berat badan bayi seperti asupan nutrisi. Selain itu, kekurangan lain dari kurva Fenton adalah pengukuran panjang badan yang menggunakan measurement tape, dimana alat ini tergolong kurang akurat dalam pengukuran panjang badan. [15] Kurva Fenton juga mengambil sampel dari populasi Amerika dan Kanada sehingga aplikasi kurva Fenton untuk merepresentasikan populasi Asia masih diragukan.

Kurva Fenton dapat digunakan pada usia gestasi 22 minggu hingga 50 minggu. Maka saat memasukan berat badan anak prematur ke kurva fenton, masukan berat badan lahir sesuai usia gestasi anak. Setelah melewati usia gestasi 50 minggu, kurva dapat kembali menggunakan kurva pertumbuhan WHO dengan tetap menggunakan usia koreksi hingga usia koreksi 3 tahun. [8,16]

Sebagai contoh, pada anak prematur dengan usia postnatal 12 minggu yang lahir pada usia gestasi 30 minggu. Maka usia yang dimasukkan ke dalam kurva Fenton adalah 12 + 30, atau 42 minggu. [16]

Gambar 2. Kurva Pertumbuhan Fenton Untuk Bayi Perempuan [Sumber : Fenton and Kim, BMC Pediatrics, 2013 ] Gambar 2. Kurva Pertumbuhan Fenton Untuk Bayi Perempuan [Sumber : Fenton and Kim, BMC Pediatrics, 2013 ]
Kurva Nomogram Singapore

Karena kurva Fenton yang dirasa kurang dapat mewakili pertumbuhan bayi prematur di Asia, beberapa studi mencoba membuat kurva baru yang dapat diterapkan di Asia. Sebagai contoh, Singapore mencoba membuat kurva yang diadaptasi dari kurva Fenton berdasarkan populasi Asia. Studi ini menganalisa sebanyak lebih dari 13 ribu subjek studi yang lahir di usia gestasi 25 minggu hingga 36 minggu. Hasil validasi dari kurva kelahiran Singapore ini menunjukan sensitivitas yang lebih baik dibandingkan kurva Fenton. [18]

Kurva ini juga mempunyai kekurangan yang sama dengan kurva Fenton, yaitu belum ada studi lain yang memvalidasi. Selain itu, kurva ini tidak membandingkan berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala pada bayi prematur berdasarkan jenis kelamin. Singapore juga tergolong negara dengan populasi yang lebih kecil dibandingkan Amerika. Sehingga, belum bisa dipastikan apakah kurva nomogram Singapore dapat merepresentasikan seluruh populasi Asia. [19]

Cara penggunaan kurva ini sama seperti kurva Fenton yaitu dengan memasukan usia gestasi dan bukan usia kronologis. Namun, kurva ini baru dimulai dari usia gestasi 25 minggu, sehingga pada kasus dengan usia kelahiran prematur yang lebih cepat, kurva ini tidak dapat digunakan.

Kurva Boghossian

Kurva pilihan lain adalah kurva antropometri Boghossian yang dikeluarkan pada studi tahun 2016. Kurva ini mengambil sampel yang lebih banyak dibanding studi yang dipakai oleh Fenton. Sampel yang diambil adalah 47.005 bayi prematur usia 22 minggu hingga 29 minggu dan sampel yang diambil lebih heterogen. [20]

Kelebihan dari kurva ini adalah kurva memang lebih mewakili populasi secara heterogen. Namun kekurangannya, kurva ini hanya mencakup berat badan dan lingkar kepala, dan tidak mencakup panjang badan. Kurva ini juga hanya mencakup usia gestasi 22 hingga 29 minggu sehingga tidak seluas kurva Fenton. [20]

Interpretasi Pengukuran Kurva Pertumbuhan Anak

Kurva Fenton, nomogram Singapore, maupun Boghossian menggunakan pengukuran persentil, dimana pada tiap garis persentil terdapat angka 3%, 10%, 50%, 90%, dan 97%. [13]

Setelah memasukan data antropometri menurut usia gestasi, status pertumbuhan bayi bisa diklasifikasikan sebagai berikut:

  • Normal atau sesuai dengan usia gestasi jika berada diantara persentil 10 hingga 90%
  • Kecil menurut usia gestasi jika bayi berada dibawah persentil 10%
  • Besar menurut usia gestasi jika berada di atas persentil 90%

Kesimpulan

Pertumbuhan pada anak prematur berbeda dari anak yang lahir aterm, sehingga growth chart yang digunakan juga seharusnya berbeda. Pada anak prematur, usia yang digunakan sebagai parameter pertumbuhan seharusnya bukan usia kronologis karena berat lahir bayi prematur biasanya lebih kecil daripada berat lahir bayi aterm, sehingga pada bayi prematur dibutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai berat sesuai usia kronologis seperti pada growth chart bayi aterm. Selain daripada itu, pada bayi prematur sering didapatkan komorbiditas yang akan mempengaruhi percepatan pertumbuhan bila dibandingkan bayi aterm

IDAI sampai saat ini belum membahas secara khusus mengenai kurva standar yang harus digunakan untuk pengukuran pertumbuhan bayi prematur. Kurva yang digunakan secara luas hingga saat ini adalah kurva Fenton dengan hasil interpretasi yang mengkategorikan bayi prematur ke 3 golongan yaitu sesuai usia gestasi, kecil menurut usia gestasi (SGA), dan besar menurut usia gestasi (LGA). Sayangnya, kurva ini belum di validasi dan dibuat berdasarkan populasi di Amerika, sehingga belum tentu cocok digunakan di populasi Asia seperti Indonesia. Beberapa kurva lain yang dapat digunakan adalah kurva nomogram Singapore dan kurva Boghossian. Namun, sama seperti kurva Fenton, kurva ini belum di validasi dan belum dipergunakan secara luas.

Referensi