Perlukah Antibiotik Topikal Pasca Biopsi Kulit

Oleh dr. Alexandra Francesca

Dalam praktik klinis sehari-hari, antibiotik topikal umum diberikan pasca biopsi kulit. Walau demikian, penggunannya dinilai tidak berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang ada, melainkan karena kebiasaan dan pengalaman klinisi.[1, 2] Meskipun penggunaan antibiotik topikal sebenarnya dapat dipahami karena bertujuan untuk mengurangi risiko infeksi pada situs pembedahan kulit (dermatological surgical site infection/DSSI), perlu diingat bahwa penggunaan antibiotik topikal yang berlebihan dapat meningkatkan resistensi antibiotik dan kejadian dermatitis kontak alergi – terutama bacitracin (7.2-13.1% kasus) dan neomisin (1.5-9.1% kasus). [ 2-7]

Antibiotik Topikal yang Umum Digunakan

Antibiotik topikal yang saat ini banyak digunakan untuk pencegahan infeksi kulit superfisial bervariasi, antara lain:

Neomisin Sulfat

Bekerja dengan menginhibisi sintesis protein, efektif terhadap bakteri gram positif (Staphylococcus), namun tidak efektif terhadap Pseudomonas, bakteri anaerob, atau streptokokus.

Basitrasin

Bekerja dengan memblokir pembentukan dinding sel bakteri, efektif terhadap bakteri gram positif dan negatif.

Mupirosin

Bekerja dengan menginhibisi sintesis protein, efektif terhadap bakteri gram positif, dapat memberi efek bakterisidal terhadap MRSA, dan beberapa kokus gram negatif.

Polimiksin B

Bekerja dengan mengubah dinding sel bakteria sehingga lebih permeabel, efektif terhadap bakteri gram negatif, seperti Pseudomonas aeruginosa, Proteus mirabilis, Serratia marcescens, Eschericia coli, Enterobacter, dan Klebsiella.

Asam Fusidat

Bekerja dengan menginhibisi sintesis protein, efektif terhadap spesies staphylococcus, namun saat ini sudah banyak laporan mengenai resistensi asam fusidat pada spesies staphylococcus

Gentamisin

Bekerja dengan menginhibisi sintesis protein, efektif terhadap bakteri gram positif dan negatif. [1]

cream antibiotic

Penggunaan Antibiotik Topikal Pasca Biopsi Kulit

Antibiotik topikal sebaiknya tidak digunakan pada biopsi kulit, karena biopsi kulit merupakan luka pembedahan yang bersih tanpa kontaminasi dan menggunakan prosedur aseptik, tergolong luka kelas I / class I wound menurut klasifikasi luka oleh CDC). Luka kelas I memiliki risiko infeksi yang sangat rendah (<5%, mendekati 1-2%) sehingga dinilai tidak perlu diberikan antibiotik.[1, 4-10] Penggunaan antibiotik topikal yang berlebihan malah dapat meningkatkan resistensi antibiotik dan kejadian dermatitis kontak alergi.[2, 5, 6]

Penggunaan antibiotik topikal dapat dipertimbangkan pada beberapa kondisi risiko tinggi, antara lain:

  • Jenis luka – Luka kelas II ke atas perlu diberikan antibiotik
  • Faktor host – Kondisi pasien yang dapat meningkatkan risiko infeksi antara lain:

    • usia tua (> 70 tahun)
    • penyakit diabetes (4,2% pada penderita diabetes dibandingkan dengan 2% pada non-penderita)
    • kondisi imunosupresi
    • obesitas
    • merokok (risiko 2,1% dibandingkan dengan 1,9% pada non-perokok)
    • peminum alkohol
    • gagal ginjal kronis
    • neoplasma kulit
    • karier nasal S aureus

    • adanya kolonisasi bakteri
    • adanya infeksi pada organ lain
    • malnutrisi
    • transfusi pre-operasi

  • Lokasi luka – Beberapa lokasi luka lebih berisiko terinfeksi, yaitu:

    • di bawah lutut (1,7 - 4,7 kali lebih berisiko infeksi)
    • hidung (2,3 - 2,4 kali lebih berisiko infeksi)
    • telinga (1,9 - 5,5 kali lebih berisiko infeksi, jika melibatkan tulang rawan, maka risiko infeksi menjadi 12,4 kali)
    • paha (1,6 - 1,9 kali lebih berisiko infeksi)
    • inguinal (6,8 kali lebih berisiko infeksi)
    • genital (10,8 kali lebih berisiko infeksi)

  • Jenis prosedur pembedahan – Prosedur pembedahan yang berisiko infeksi:

    • prosedur pembedahan yang berlangsung lama
    • pembedahan dengan flap

    • pembedahan dengan graft

    • adanya luka operasi yang panjang [2, 5, 9]

Penggunaan antibiotik topikal dapat dipertimbangkan pada kondisi-kondisi di atas, sebaiknya tidak lebih dari 48 jam pertama, karena dinilai tidak bermanfaat setelah nya.[7]  Salah satu alasan penggunaan agen topikal saat ini adalah untuk menjaga kelembapan luka pembedahan. Kelembapan terbukti penting dalam penyembuhan luka karena mampu mempercepat proses penyembuhan, namun sejauh ini studi menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan pada luaran luka yang diberikan antibiotik topikal dan diberikan petrolatum sebagai pelembap. Bahkan penggunaan petrolatum lebih digemari mengingat risiko dermatitis kontak alergi pada pemberian antibiotik topikal.[7]

Risiko Penggunaan Antibiotik Topikal

Penggunaan antibiotik topikal pada keadaan yang tidak diperlukan, dapat meningkatkan risiko timbulnya reaksi hipersensitivitas, efek samping, adverse effect, dan resistensi antibiotik. Penggunaan jangka lama bahkan dapat meningkatkan pertumbuhan bakteri yang tidak sensitif terhadap antibiotik yang digunakan, serta meningkatkan risiko infeksi jamur.

Kesimpulan

Antibiotik topikal sebaiknya tidak digunakan pada biopsi kulit karena dinilai tidak bermanfaat dalam menurunkan risiko infeksi, mengingat luka biopsi adalah luka kelas I yang sejak awal memiliki risiko infeksi sangat rendah <5%, malah meningkatkan risiko terjadinya resistensi ataupun dermatitis kontak alergi. Perawatan luka yang sederhana dengan agen topikal non-antibiotik dan menjaga kelembapan lingkungan luka sudah terbukti cukup untuk mendukung penyembuhan luka dengan efektif, tanpa menyebabkan reaksi alergi dan resistensi antibiotik.

Referensi