5 Pertimbangan Penting Sebelum Memutuskan Menjadi Residen Kedokteran

Oleh :
dr.Bedry Qintha

Keputusan untuk menjadi residen kedokteran merupakan suatu keputusan signifikan yang akan mempengaruhi alur karir jangka panjang seorang dokter. Berbagai faktor akan mempengaruhi kehidupan dokter setelah memutuskan masuk dalam suatu program residensi, sehingga pertimbangan matang terkait bidang spesialisasi medis yang dipilih, kondisi keuangan, lama program residensi, dan kemungkinan jam kerja di masa depan patut dilakukan sebelum memutuskan menjadi residen kedokteran.[1]

1. Memutuskan Kesesuaian Bidang Spesialisasi

Setelah menempuh program residensi, dokter tentunya akan menjalani karir di bidang spesialisasi tersebut dalam jangka panjang. Oleh karena itu, sangat penting untuk memilih bidang spesialisasi yang tepat karena karir ini akan dijalani kemungkinan selama puluhan tahun ke depan.

residenkedokteran

Dalam memilih bidang spesialisasi, faktor paling berpengaruh adalah kesesuaian pribadi, yang melibatkan eksplorasi terhadap karakteristik kepribadian dan sifat praktik dalam spesialisasi yang dipilih. Pilihlah bidang yang kira-kira akan memberikan cukup tantangan, kesenangan pribadi, rasa kepuasan, dan kontrol. Perlu diingat bahwa dokter harus bisa melakukan kompromi antara keinginan, kesempatan yang ada, kapasitas diri, nilai pribadi, dan juga minat.[1,2]

Pastikan dokter memilih bidang spesialisasi dalam program residensi yang memang menarik bagi dokter. Pikirkan juga matang-matang bidang spesialisasi mana yang sejalan dengan rencana pribadi di masa depan.

Sebaiknya dokter tidak memilih suatu bidang hanya karena bidang tersebut populer atau menghasilkan banyak uang. Hal ini penting agar karir terasa menyenangkan untuk dijalani dalam jangka panjang. Ini diharapkan akan menurunkan risiko burnout dan juga mencegah dokter melakukan harm pada pasien di masa datang.[1,3,4]

2. Stabilitas Finansial

Saat ini, di Indonesia kebanyakan program residensi yang tersedia tidak menawarkan gaji bulanan bagi dokter. Meskipun ada beberapa program yang memberikan imbal jasa, umumnya nominalnya belum setara dengan pendapatan yang bisa dokter raih sebelum mengikuti program residensi. Atas dasar ini, penting untuk memikirkan sumber dana dan penopang finansial potensial selama dokter sedang menjalani pendidikan spesialis.

Apabila dokter tidak menggunakan beasiswa, maka dokter perlu menyiapkan biaya sekolah selama mengikuti program residensi. Selain itu, jika dokter mengikuti program residensi di luar kota, maka dokter juga perlu memikirkan dana untuk biaya hidup seperti sewa tempat tinggal, transportasi, dan biaya makan. Bagi dokter yang sudah berkeluarga, perlu juga untuk memikirkan biaya hidup bagi keluarga.[5-7]

3. Proses yang Memakan Waktu

Program residensi di Indonesia biasanya memakan waktu bertahun-tahun, tergantung dari bidang spesialisasi yang dipilih. Secara umum, dokter perlu mengikuti program residensi selama 4 hingga 6 tahun.[8]

Selain lama waktu program studi, dokter juga perlu memikirkan mengenai jam kerja residen yang biasanya cukup panjang. Terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa residen bisa bekerja hingga lebih dari 80 jam per minggu. Di samping dapat meningkatkan risiko medical error, jam kerja yang berat ini juga akan mengurangi waktu untuk keluarga dan diri sendiri. Ada studi yang menunjukkan bahwa hanya sekitar 30% residen yang mengaku memiliki cukup waktu untuk kegiatan personal, dan lebih dari 50% residen mengalami burnout.[9-11]

4. Tidak Semua Orang Cocok Menjalani Profesi Klinisi

Banyak dokter umum di Indonesia ingin menjadi dokter spesialis karena menginginkan jalur karir yang lebih tinggi dan imbalan finansial yang lebih baik. Meski demikian, penting untuk memiliki pikiran yang terbuka dan melihat ke dalam diri dokter sendiri untuk memastikan apakah memang jalur klinis adalah yang paling cocok bagi dokter.

Sebelum memilih mengikuti program residensi, pastikan bahwa jalur karir klinis memang yang terbaik dan paling sesuai untuk diri dokter. Di Amerika Serikat, ada studi yang menunjukkan bahwa 3,2% residen mengalami career choice regret dan 13,5% berencana untuk memilih karir non-klinisi.

Oleh karena itu, pilihlah jenjang karir yang memang paling sesuai bagi dokter. Hanya karena kebanyakan orang memilih karir klinis, tidak berarti bahwa itu merupakan satu-satunya jalan yang bisa ditempuh.[11-13]

5. Budaya dan Akreditasi dari Program Residensi yang Dituju

Ada banyak universitas dan rumah sakit yang menawarkan program residensi di Indonesia. Sebelum memilih untuk masuk ke program tertentu, ada baiknya dokter menggali informasi mengenai budaya dan akreditasi dari program tersebut.

Akreditasi biasanya bisa dengan mudah dilihat pada halaman daring program pendidikan spesialis yang bersangkutan. Sementara itu, untuk mengetahui budaya dari program residensi, dokter mungkin perlu bertanya pada residen-residen lain yang sedang atau pernah mengikuti program pendidikan spesialis di universitas atau rumah sakit yang dokter tuju. Budaya yang dimaksud di sini adalah budaya belajar, ada-tidaknya mentorship, kultur berorganisasi, cara pemberian feedback, maupun ada-tidaknya senioritas.

Sudah banyak penelitian menunjukkan bahwa budaya hierarki yang kuat cenderung tidak mendorong residen untuk belajar dengan baik. Hal ini bisa menjadi penghalang bagi pertukaran feedback dan proses pendidikan yang sehat.

Pilihlah program di mana individu dapat menyampaikan kekhawatiran dan pendapat dengan terbuka. Pastikan untuk memilih program yang memiliki budaya yang paling sesuai bagi dokter, serta bisa mendorong dokter menimba ilmu dengan optimal.[12,14,15]

Kesimpulan

Sebelum memutuskan untuk masuk suatu program pendidikan spesialis atau residensi, dokter perlu memikirkan dengan matang program mana yang dituju, bidang spesialisasi yang dipilih, serta apakah jalur karir klinisi memang yang paling sesuai dengan dokter. Persiapan secara finansial juga perlu dilakukan karena banyak program pendidikan spesialis di Indonesia tidak menawarkan gaji bagi residen, sehingga penting untuk memastikan ada sumber income selama menempuh pendidikan.

Pikirkan dengan matang apakah memang jenjang karir spesialis merupakan yang paling cocok untuk diri dokter. Apabila memang dokter tidak memiliki kecenderungan atau minat pada karir klinis, jenjang karir non-klinisi bisa menjadi pilihan. Sebaliknya, apabila memang minat dan bakat dokter ada di karir klinisi dan dokter memutuskan untuk menjadi residen kedokteran, pastikan untuk masuk dalam program residensi yang memiliki akreditasi dan budaya pembelajaran yang paling sesuai bagi dokter.

Referensi