Waspadai Efek Hawthorne

Oleh dr. Josephine Darmawan

Efek hawthorne merupakan terminologi yang sering kali digunakan untuk menggambarkan perubahan perilaku seseorang ketika berada di bawah supervisi. Fenomena ini memiliki implikasi yang besar baik dari sisi ekonomi, psikologi, hingga epidemiologi.[1-3] Dalam dunia medis, efek Hawthorne ini memiliki implikasi yang besar pada perkembangan penelitian, terutama bila dilakukan studi langsung kepada pasien. Adanya efek Hawthorne dinilai berpotensi menimbulkan adanya bias dalam setiap penelitian yang dilakukan karena pasien yang sedang diobservasi akan mengalami perubahan perilaku, sehingga validitas penelitian dapat dipertanyakan. Sejak pertama kali dicanangkan hingga saat ini, teori tentang efek Hawthorne menuai banyak kontroversi. Banyak studi yang memperdebatkan ada atau tidaknya efek Hawthorne.[2,4,5]

Istilah efek Hawthorne sering kali digunakan untuk menggambarkan perubahan hasil kerja seseorang ketika individu tersebut menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan. Terminologi efek Hawthorne ini digunakan dengan sangat luas, baik dari bidang manajemen, medis, psikologi, dan sebagainya. Akan tetapi, istilah efek Hawthorne ini sering kali salah diintepretasi dan digunakan sehingga menimbulkan banyak perdebatan.[1,3]

Depositphotos_40428437_l-2015

Sejarah dan Perkembangan Efek hawthorne

Efek Hawthorne pertama kali dikemukakan dalam studi Hawthorne di Chicago pada tahun 1920an. Studi preliminari ini menyimpulkan bahwa produktifitas dan hasil kerja seseorang dapat berubah karena beberapa kondisi, seperti jam istirahat, gaji, pencahayaan ruangan, dan sebagainya. Produktifitas pekerja dapat meningkat jika dipengaruhi kondisi-kondisi tersebut. Namun demikian, konsep ini mengalami pergeseran, terutama karena studi Elton Mayo yang mengemukakan bahwa perubahan produktifitas ini terjadi karena bukan karena faktor-faktor yang dinilai dalam penelitian Hawthorne tersebut melainkan karena subjek penelitian menyadari bawah dirinya sedang diobservasi dan diteliti. Hal inilah yang kemudian sering disebut dengan “efek hawthorne” hingga saat ini. Pergeseran definisi ini kemudian banyak dikritisi, banyak studi memperdebatkan apakah efek tersebut benar-benar ada atau tidak.[2,3] Selama lebih dari 60 tahun, studi dan perdebatan tentang efek Hawthorne masih belum mencapai suatu kesimpulan yang pasti, sehingga studi lebih lanjut dan konsep baru tentang efek Hawthorne juga diperlukan. Meskipun hasil studi yang ada inkonklusif, masih diyakini bahwa adanya “efek Hawthorne” akan mempengaruhi hasil sebuah penelitian karena subjeknya menyadari sedang berpartisipasi dalam penelitian dan dapat melakukan beberapa perubahan dalam berperilaku.[2,5]

Studi tentang Efek Hawthorne

Terdapat beberapa studi mengenai efek Hawthorne sejak tahun 1920an. Studi yang terbaru antara lain adalah sebuah studi literatur sistemaik/systematic review pada 19 penelitian tentang efek hawthorne yang terdiri dari 8 uji acak terkontrol/randomized controlled trial (RCT), 5 studi kuasieksprimental, dan 6 studi observsional. Seluruh studi ini secara garis besar menyimpulkan bahwa perilaku seseorang dapat berubah saat diteliti atau bila menyadari bahwa dirinya sedang diobservasi, namun beberapa tidak signifikan secara statistik dengan Odds Ratio beragam dari 1.06 hingga 1.21 (95% CI: beragam dari 0.99 – 1.30). Hanya 12 studi yang menunjukkan adanya efek hawthorne dan signifikan secara statistik, akan tetapi studi ini sangat heterogen sehingga tidak dapat dibuat suatu tolak ukur yang pasti tentang keberadaan dan dampak dari efek Hawthorne tersebut. Potensi terjadinya bias dalam penelitian-penelitian ini juga sangat tinggi, sehingga studi-studi ini hanya dapat menyimpulkan bahwa perilaku seseorang yang sedang diobservasi atau berpartisipasi dalam suatu penelitian dapat mengalami perubahan tertentu yang terjadi secara multifaktorial, tidak hanya efek Hawthorne saja. Studi lebih lanjut mengenai efek Hawthorne, terutama mengenai mekanisme terjadinya dan dampak yang dapat disebabkan masih harus dilakukan. Indikator atau kriteria yang jelas untuk mendeteksi ada atau tidaknya efek Hawthorne ini juga dibutuhkan. Studi-studi yang ada saat ini masih inkonklusif.[2,5,6]

Faktor Psikologis di Balik Efek Hawthorne

Dari sejumlah penelitian yang ada mengenai efek Hawthorne, dapat disimpulkan bahwa produktifitas atau perilaku seseorang dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu. Namun demikian, untuk dapat menentukan secara pasti faktor-faktor tersebut sangat sulit dilakukan. Atensi, kognisi, serta kesadaran seseorang akan mempengaruhi perilaku dan reaksi seseorang terhadap sesuatu. Perubahan perilaku atau reaksi ini dapat menentukan produktifitas seseorang ataupun sikap seseorang ketika berpartisipasi dalam sebuah penelitian. Perubahan tersebut dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor internal ataupun eksternal dan secara disadari ataupun tidak. Akan tetapi, mekanisme terjadinya hal ini belum diketahui secara pasti.[2,3,7]

Implikasi Medis Efek Hawthorne

Masalah terbesar yang dapat ditimbulkan dari efek hawthorne adalah terjadinya bias dalam penelitian medis, sehingga banyak hasil penelitian yang akan menjadi tidak valid, terutama penelitian RCT. Efek Hawthorne ini juga dinilai dapat menimbulkan suatu efek “overterapi” atau respon terapi yang lebih tinggi dibandingkan sebenarnya.[1,4-6]

Salah satu studi uji klinis pada 246 pasien artritis rematik (AR) dari American College of Rheumatology (ACR) menghipotesakan bahwa adanya efek Hawthorne dapat menyebabkan perbaikan klinis yang melebihi efek terapi sebenarnya. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa terjadi perbaikan nyeri sebanyak 51.7% selama penelitian berlangsung dan menurun hingga 39.7% pasca penelitian. Penelitian ini juga menunjukkan adanya perbaikan fungsi aktivitas sehari-hari yang dinilai dari skor kuesioner sebanyak 41.3% selama penelitian dan menurun hingga 16.5% pasca penelitian. Hasil ini menunjukkan bahwa faktor psikologis dapat mempengaruhi hasil terapi dan diperkirakan hal ini dapat terjadi karena efek Hawthorne. Efek Hawthorne berpotensi menyebabkan estimasi efek terapi yang berlebihan dan membuat hasil penelitian menjadi tidak valid, terutama pada jenis penelitian uji klinis.[1,8]

Studi terkini tahun 2018 juga menunjukkan adanya dampak dari efek Hawthorne terhadap hasil penelitian. Studi kohort pada 3889 wanita muda usia sekolah di Afrika Utara ini mendefinisikan efek Hawthorne sebagai perubahan sikap karena berpartisipasi dalam sebuah penelitian. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dengan diberikan insentif tertentu, terjadi perbedaan angka kehadiran di sekolah sebanyak 99% (responden penelitian) dibandingkan 93% (non-responden). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa efek Hawthorne cenderung memberikan hasil yang lebih positif bila dibandingkan dengan keadaan sebenarnya. Hasil ini sejalan dengan penelitian ACR dan beberapa penelitian lainnya.[5,6,8]

Dampak epidemiologis dari efek Hawthorne ini tidak dapat dikesampingkan dan harus dipertimbangkan. Kaidah penelitian yang baik harus dilakukan untuk meminimalisir hal ini. Namun demikian, terkadang efek Hawthorne ataupun efek plasebo dalam penelitian sering kali tidak dapat dihindari. Hal ini menunjukkan bahwa faktor psikologis turut berperan dalam upaya terapeutik, baik dari dalam diri pasien ataupun dari cara dokter/peneliti memperlakukan pasien. Para peneliti harus lebih cermat dalam menentukan desain studi agar dapat meminimalisir bias, efek Hawthorne, dan hal lain yang dapat menurunkan validitas penelitian.[1,3,5,8]

Kesimpulan

Efek Hawthorne merupakan hal yang perlu diwaspadai oleh klinisi saat melakukan telaah literatur ilmiah. Dokter perlu mempertimbangkan apakah hasil pada literatur benar terjadi akibat pengobatan yang diuji atau karena subyek penelitian menjadi lebih memperhatikan faktor-faktor lain yang berhubungan dengan penyakit mereka seperti diet, olah raga, dan merokok, yang dikenal juga sebagai efek Hawthorne.

Referensi