Tes Noninvasif untuk Diagnosis Infeksi Helicobacter pylori

Oleh dr. Yelvi Levani

Diagnosis infeksi helicobacter pylori saat ini ditegakkan dengan tes invasif menggunakan biopsi. Keterbatasan pemeriksaan ini dan sifatnya yang invasif membuat tes noninvasif untuk diagnosis infeksi Helicobacter pylori dikembangkan.

Bakteri Helicobacter pylori merupakan bakteri gram negatif berbentuk spiral  yang dapat menginfeksi lambung.[1] Bakteri Helicobacter pylori memiliki rentang prevalensi yang cukup tinggi yaitu sekitar 13% sampai 81% serta dipengaruhi oleh berbagai faktor di antaranya usia, regional tempat tinggal, ras dan sosial ekonomi.[2] Infeksi bakteri Helicobacter pylori lebih banyak ditemukan di negara berkembang dibandingkan dengan negara maju.[3] Infeksi bakteri Helicobacter pylori berkaitan dengan sejumlah keganasan pada saluran pencernaan di antaranya kanker lambung, lesi premalignan pada lambung (seperti atropi gastritis dan metaplasia intestinal), limfoma gastrik, kanker pankreas, kanker kolorektal, dan kanker laring.[4] Selain keganasan, infeksi bakteri Helicobacter pylori juga dapat menyebabkan ulkus peptik berulang, perdarahan pada lambung, anemia defisiensi besi, idiopatik trombositopenia purpura dan adenoma kolorektal.[5]

800px-Urea_breath_test_kit_melvil_Wikimedia commons_2017_compressed

Infeksi bakteri Helicobacter pylori dapat memberikan gejala dispepsia ataupun asimtomatik. Penegakan diagnosis infeksi Helicobacter pylori secara pasti adalah dengan melakukan biopsi lambung dengan menggunakan endoskopi dan dianalisis dibawah mikroskop. Untuk mendeteksi bakteri Helicobacter pylori dari jaringan biopsi dapat dilakukan dengan pewarnaan sederhana yaitu hematoxylin dan eosin (H&E). Selain dengan H&E, identifikasi bakteri Helicobacter pylori pada biopsi jaringan dapat menggunakan pewarnaan khusus seperti Warthin-Starry, Giemsa, toluidin-blue, acridin-orange, McMullen, Genta, Diertele dan Romanouski. Pemeriksaan imunohistokimia juga dapat digunakan dan lebih akurat daripada pewarnaan khusus. Pedoman terbaru menyarankan untuk menggunakan minimal 2 jenis pewarnaan yang berbeda untuk mendeteksi bakteri Helicobacter pylori, misalnya menggunakan H&E dan Giemsa.[7]

Kekurangan Metode Diagnosis Invasif untuk Infeksi Helicobacter Pylori

Pemeriksaan histologi untuk menegakkan diagnosis infeksi Helicobacter pylori memiliki beberapa kekurangan di antaranya merupakan tindakan invasif sehingga memberikan rasa tidak nyaman pada pasien, hasil pemeriksaan yang lama dan harga yang relatif mahal. Selain itu, keakuratan pemeriksaan biopsi dipengaruhi oleh lokasi pengambilan sampel, densitas koloni bakteri serta kemampuan patolog dalam menganalisis. Sensitivitas dan spesifisitas pemeriksaan histologi berkisar antara 53% sampai 90%, semakin banyak area biopsi dan penggunaan pewarnaan yang spesifik maka sensitivitas pemeriksaan histologi dapat ditingkatkan.[8]

Pertimbangan lain mengenai metode diagnosis invasif adalah terkait risiko komplikasi endoskopi dan risiko komplikasi dari tindakan biopsi. Selain itu, pemeriksaan ini juga memakan waktu dan biaya yang cukup tinggi.

Pemeriksaan Noninvasif Infeksi Bakteri Helicobacter pylori

Terdapat beberapa pemeriksaan alternatif yang noninvasif untuk mendeteksi infeksi bakteri Helicobacter pylori di antaranya adalah tes napas urea (urea breath test / UBT), tes serologi darah dan tes feses (stool antigen test / SAT). Pemeriksaan noninvasif dapat digunakan sebagai skrining pada populasi yang lebih luas dan harganya relatif lebih murah.

Tes napas urea dilakukan berdasarkan adanya enzim urease pada bakteri Helicobacter pylori yang hidup untuk memecah urea menjadi amonia dan karbondioksida.[9] Pasien akan diminta menelan urea yang memiliki label radioaktif karbon 13C atau 14C, 30 menit kemudian pasien disuruh untuk mengeluarkan napas pada tempat khusus yang memiliki perangkap karbon. Hasil analisa tingkat karbon pada napas di atas 5% biasanya digunakan untuk menegakkan diagnosis infeksi bakteri Helicobacter pylori.[10]

Tes serologi darah digunakan untuk mendeteksi antibodi pada tubuh terhadap bakteri Helicobacter pylori dengan menggunakan teknik ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay). Hasil tes ELISA dikatakan positif terhadap bakteri Helicobacter pylori bila titer antibodi > 300.[11] Pemeriksaan serologi inimemiliki kelemahan di antaranya hasil pemeriksaan menjadi positif palsu bila terdapat infeksi bakteri aktif yang lain, mengalami infeksi sebelumnya, dan terdapat reaksi silang antibodi.

Tes feses digunakan dengan menggunakan antibodi monoklonal atau antibodi poliklonal untuk mendeteksi bakteri Helicobacter pylori. Nilai batas densitas optikal untuk menegakkan diagnosis infeksi bervariasi di antaranya ≥0.15, ≥0.16 dan ≥0.19.[12]

Perbandingan antara Pemeriksaan Noninvasif dan Pemeriksaan Histologi

Studi meta analisis dilakukan untuk mengevaluasi akurasi tes dengan menggunakan berbagai metode noninvasif dan dibandingkan dengan pemeriksaan standar yaitu pemeriksaan histologi dari biopsi endoskopi untuk menegakkan diagnosis infeksi bakteri Helicobacter pylori. Total studi yang dianalisis sebanyak 110 studi dengan 34 studi mengevaluasi serologi, 29 studi mengevaluasi tes feses, 34 studi mengevaluasi tes napas urea 13C, 21 studi mengevaluasi tes napas urea 14C dan 2 studi mengevaluasi tes napas urea tetapi tidak mencantumkan menggunakan karbon yang mana. Kriteria eksklusi dari studi ini adalah pasien yang memiliki riwayat gastrektomi dan tidak menggunakan antibiotik serta obat penghambat pompa proton sebelum pemeriksaan. Dari total 11,003 partisipan, 5,839 (53.1%) terinfeksi bakteri Helicobacter pylori. Spesifisitas tes urea napas 13C 0.94, tes napas urea 14C 0.92, tes serologi 0.84 dan tes feses 0.83. Spesifisitas rata-rata dari semua pemeriksaan adalah 0.90 dengan prevalensi 53,7% yang berarti dari 1000 pasien ada 46 orang memiliki hasil positif palsu (pasien yang tidak memiliki Helicobacter pylori tetapi dinyatakan terinfeksi). Dari hasil penelitian tersebut, terdapat 30 negatif palsu (pasien dengan infeksi Helicobacter pylori tetapi tidak terdeteksi) pada pemeriksaan tes napas urea 13C, 42 negatif palsu pada tes napas urea 14C, 86 negatif palsu pada pemeriksaan serologi dan 89 negatif palsu pada pemeriksaan feses.[13]

Hasil studi tersebut menunjukkan tes napas urea lebih akurat bila dibandingkan dengan pemeriksaan serologi dan tes feses untuk mendiagnosis infeksi bakteri Helicobacter pylori. Tes serologi dan tes feses lebih mudah dilakukan dan harganya relatif murah tetapi memiliki keakuratan yang lebih rendah bila dibandingkan dengan pemeriksaan tes napas urea. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara pemeriksaan tes napas urea 13C dan 14C. Pemeriksaan tes napas urea lebih rumit dan menggunakan radioisotop, tetapi pemeriksaan tes napas urea dengan menggunakan 13C merupakan tes yang paling akurat bila dibandingkan dengan pemeriksaan noninvasif lainnya.[13]

Studi meta analisis ini memiliki kelemahan yaitu tiap studi dapat menggunakan metode yang berbeda dan ambang batas nilai yang berbeda. Oleh karena itu, dibutuhkan studi perbandingan lanjutan dengan metodologi yang berkualitas tinggi untuk meningkatkan penilaian yang akurat antara tes tersebut. Studi tersebut sebaiknya dilakukan secara prospekstif dan menampilkan batas nilai yang jelas serta menghindari kriteria eksklusi yang tidak perlu sehingga dapat mengurangi bias.

Kesimpulan

Infeksi bakteri Helicobacter pylori dapat meningkatkan risiko terjadinya keganasan ataupun ulkus peptik berulang. Penegakan diagnosis standar dari infeksi bakteri Helicobacter pylori adalah menggunakan biopsi endoskopi dan pemeriksaan histologi, tetapi pemeriksaan ini invasif dan relatif mahal.

Pemeriksaan tes napas urea merupakan pemeriksaan noninvasif yang paling akurat bila dibandingkan dengan tes serologi dan tes feses. Hasil meta analisis menunjukkan bahwa pemeriksaan tes napas urea 13C memiliki spesifisitas 94% dan 30 hasil negatif palsu. Dibandingkan dengan pemeriksaan histologi dari biopsi endoskopi, pemeriksaan histologi sangat tergantung oleh kualitas operator, serta memiliki risiko komplikasi yang tinggi dan waktu pemeriksaan yang lama. Dengan demikian, pemeriksaan tes napas urea dapat digunakan sebagai alternatif penegakan diagnosis infeksi Helicobacter pylori. Setelah diagnosis ditegakkan, maka dokter dapat memulai pemberian terapi. Pemberian terapi antibiotik yang kurang tepat dapat meningkatkan risiko terjadinya resistensi mikroba.

Walau tes napas urea bermanfaat sebagai alternatif biopsi endoskopi, masih diperlukan diperlukan studi lanjutan terkait standarisasi metode dan ambang batas nilai tes napas urea untuk meningkatkan penilaian yang akurat menggunakan tes ini.

Referensi