Potensi Komplikasi Neurologis Vaksinasi COVID-19

Oleh :
dr. Ade Wijaya SpS

Para ahli tengah mengevaluasi potensi komplikasi neurologis dari vaksin COVID-19. Kekhawatiran akan hal ini meningkat sehubungan dengan ditemukannya kasus myelitis transversa setelah pemberian vaksin COVID-19 Astrazeneca.

Kemenkes ft Alodokter Alomedika 650x250

Pandemi COVID-19 telah menjadi masalah kesehatan global dengan transmisi penularan yang masif dan angka mortalitas yang tinggi. Solusi paling menjanjikan untuk mengatasi pandemi ini adalah dengan vaksinasi.[1,2]

Secara garis besar, vaksin COVID-19 tersedia dalam 4 tipe, yaitu:

  • Vaksin yang berasal dari virus yang inaktif, yaitu vaksin COVID-19 Sinovac dan Sinopharm
  • Vaksin berbasis mRNA, seperti vaksin COVID-19 Moderna dan Pfizer
  • Vaksin berbasis protein rekombinan, seperti vaksin COVID-19 AstraZeneca
  • Vaksin berbasis DNA, yaitu vaksin COVID-19 Johnson & Johnson[3]

Potensi Komplikasi Neurologis Vaksinasi Covid-19-min

Kekhawatiran akan Komplikasi Neurologis dari Vaksinasi COVID-19

Semakin meningkatnya ketersediaan vaksinasi COVID-19 dan semakin banyaknya orang yang mendapatkan vaksinasi menyebabkan perlunya pengawasan terhadap efek samping/komplikasi dari vaksinasi tersebut. Salah satunya adalah kekhawatiran akan komplikasi di bidang neurologis.

Kewaspadaan terhadap komplikasi neurologis akibat vaksin COVID-19 berawal dari terjadinya 2 kasus myelitis transversa pada penerima vaksin COVID-19 AstraZeneca. Setelah investigasi lebih lanjut, kasus pertama myelitis transversa terjadi pada seseorang dengan penyakit mendasari, yaitu multiple sclerosis, di mana myelitis transversa memang dapat terjadi sebagai perjalanan penyakitnya. Oleh karena itu, diperkirakan bahwa kasus ini tidak berhubungan dengan vaksinasi COVID-19.

Namun, kasus kedua diperkirakan dapat berhubungan dengan pemberian vaksin COVID-19.[4,5]

Data dari hasil uji klinis vaksin mRNA, menunjukkan bahwa terdapat 7 pasien mengalami Bell’s palsy dari 37.000 penerima vaksin. Angka ini tidak lebih tinggi daripada angka kejadian Bell’s palsy pada populasi, sehingga diperkirakan tidak berhubungan dengan vaksinasi.[6]

Akan tetapi, terdapat 1 laporan kasus yang berasal dari Amerika Serikat bahwa seorang perempuan berusia 82 tahun mengalami sindrom Guillain-Barre setelah 2 minggu menerima vaksin COVID-19 Pfizer dosis pertama.[7]

Pada uji klinis vaksin COVID-19 DNA, yaitu vaksin COVID-19 Johnson & Johnson, dilaporkan bahwa terjadi 2 kasus sindrom Guillain-Barre, yakni satu pada penerima vaksin dan satu pada penerima plasebo. Temuan ini mengindikasikan bahwa tidak terdapat korelasi yang bermakna antara vaksinasi tersebut dan sindrom Guillain-Barre.[8,9]

Pada bulan Maret 2021, Uni Eropa melaporkan 62 kasus trombosis vena serebral pada penerima vaksin COVID-19. Angka ini sedikit lebih tinggi daripada angka kejadian trombosis vena serebral pada populasi.[10] Namun, studi lain di Denmark melaporkan bahwa tidak ada perbedaan untuk angka kejadian tromboemboli vena pada penerima vaksin COVID-19 AstraZeneca dibandingkan dengan populasi.[11]

Efek Samping Vaksinasi COVID-19     

Centers for Disease Control (CDC) memiliki suatu sistem pelaporan kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI) yang dinamakan vaccine adverse event reporting system (VAERS). Selama bulan pertama vaksinasi COVID-19, VAERS menerima 6.994 laporan efek samping vaksin COVID-19. Diantaranya, 6.354 kejadian (91%) dikategorikan sebagai efek samping tidak serius, dan 640 kasus (9%) dikategorikan sebagai efek samping serius.

Gejala tersering yang dialami setelah mendapatkan vaksin adalah nyeri kepala, kelelahan, sensasi bergoyang atau dizziness, kaku dan nyeri otot, serta kesemutan. Keluhan tersebut merupakan efek transien dari vaksinasi.

Gejala lain yang dilaporkan adalah tremor, diplopia, tinnitus, disfonia, kejang, dan reaktivasi herpes zoster, yang lebih jarang terjadi. Selain itu, terdapat juga laporan terjadinya kondisi neurologis, seperti stroke (17 kasus), sindrom Guillain-Barre (32 kasus), paralisis facial (190 kasus), myelitis transversa (9 kasus), dan acute disseminated encephalomyelitis (6 kasus).

Meskipun demikian, VAERS merupakan suatu sistem pelaporan atau surveilans pasif yang tidak menganalisis hubungan sebab akibat antara vaksinasi dan gejala atau kondisi neurologis yang dilaporkan, sehingga tidak dapat menggambarkan risiko vaksinasi COVID-19 yang sebenarnya, karena gejala-gejala atau kondisi tersebut juga dapat terjadi secara kebetulan pada periode setelah vaksinasi.[12]

Sebuah publikasi di Cina mengulas tentang efek samping atau komplikasi vaksin COVID-19 berdasarkan jenis vaksinnya. Studi ini melaporkan bahwa komplikasi neurologis sebenarnya jarang terjadi. Penyakit demielinasi terutama dilaporkan terjadi pada penerima vaksinasi dengan mekanisme vektor virus. Sementara itu, vaksin berbasis materi genetik DNA atau mRNA biasanya menyebabkan demam dan dapat menurunkan ambang kejang.[1]

Kesimpulan

Berdasarkan data dan bukti ilmiah saat ini, hubungan sebab akibat antara vaksinasi dan kondisi atau gejala neurologis tersebut masih perlu diteliti kembali, meski terdapat laporan kejadian komplikasi neurologis setelah vaksinasi COVID-19.  Manfaat dari vaksinasi COVID-19 di masa pandemi seperti saat ini memiliki manfaat yang melebihi risiko komplikasi neurologis yang mungkin terjadi.

Oleh karena itu, kita sebagai tenaga medis harus berperan mendukung vaksinasi COVID-19 dengan mengedukasi masyarakat akan pentingnya vaksinasi.

Referensi