Perbandingan Manajemen Hematoma Subungual

Oleh :
dr. Erika Gracia

Manajemen hematoma subungual memiliki beberapa pendekatan. Sebagian besar kasus hematoma subungual, kondisi yang ditandai dengan terkumpulnya darah di antara bantalan kuku (nail bed) dan lempeng kuku (nail plate), ditangani dengan melakukan pendekatan trepinasi sederhana, yaitu dengan membuat lubang kecil di kuku untuk membantu drainase darah yang mengumpul tersebut.[1]

Hematoma subungual disebabkan cedera yang dapat terjadi akibat pukulan keras, trauma mikro berulang, atau himpitan pada jari akibat terjepit pintu, dan lain sebagainya. Kondisi ini dapat menyebabkan peningkatan tekanan di area tersebut, sehingga menimbulkan nyeri dan perubahan warna pada kuku. Hematoma subungual juga dapat disertai fraktur falang distal, avulsi kuku, dan avulsi ujung jari.[1,2]

shutterstock_415624438-min

Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Hematoma Subungual

Pada kondisi hematoma subungual, dokter perlu memperhatikan secara keseluruhan struktur kuku dan jari, mengevaluasi fungsi motorik, sensorik, serta kondisi sirkulasi darah pada bagian distal dari area yang cedera. Gerakan ekstensi dari sendi interphalangeal distal dievaluasi dengan memegang sendi interphalangeal tengah. Kekuatan ekstensi dinilai dengan memberikan tahanan pada jari yang dinilai. Fungsi motorik dan sensorik jari yang cedera juga dapat dibandingkan dengan sisi kontralateralnya. Kondisi sirkulasi darah dapat dinilai dengan melihat capillary refill time distal dari area yang cedera. Pada anak-anak pemeriksaan fisik ini bisa dilakukan dengan melakukan anestesi blok saraf digital terlebih dahulu. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah rontgen 3 posisi untuk mengevaluasi apakah terdapat fraktur yang menyertai.[1]

Manajemen Hematoma Subungual

Hematoma subungual kecil dengan ukuran kurang dari 25% luas kuku dan tidak terasa nyeri, tidak memerlukan tindak lanjut. Hematoma ini dapat diserap dengan sendirinya oleh tubuh. Hematoma subungual yang ukurannya lebih dari 25-50% luas kuku, penanganannya masih kontroversial dan bervariasi sesuai dengan preferensi dari dokter yang mengerjakan.

Sebelumnya, penanganan hematoma subungual yang direkomendasikan adalah pencabutan kuku dan perbaikan laserasi. Hal ini disebabkan karena 50% hematoma subungual terjadi disertai laserasi pada bantalan, dan angka kejadian laserasi ini meningkat hingga 94% apabila terjadi fraktur falang distal, terlepas berapapun ukuran hematoma. [1,5]

Berdasarkan rekomendasi saat ini, drainase dengan trepinasi dilakukan terutama pada hematoma subungual akut yang terjadi kurang dari 48 jam, terlepas seberapa besar ukuran dari hematoma tersebut. Studi terbaru menyimpulkan bahwa apabila sebagian lapisan kuku masih menempel pada lapisan bantalan atau paronikia, dan tidak terdapat robekan pada lipatan kuku, maka tindakan pencabutan dan perbaikan bantalan tidak menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan trepinasi sederhana. Demikian hal nya dengan ukuran hematoma atau kondisi penyerta berupa fraktur, tidak berhubungan dengan derajat keparahan hematoma subungual. Kontraindikasi trepinasi adalah apabila fraktur membutuhkan tatalaksana pembedahan atau jika fraktur mengenai matriks germinal. [1,5]

Beberapa penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa trepinasi sederhana memiliki outcome kosmetik dan tingkat komplikasi yang serupa dengan pencabutan kuku pada sebagian besar kasus, tanpa dipengaruhi oleh ukuran maupun kondisi fraktur. Trepinasi juga lebih menguntungkan karena menimbulkan rasa nyeri yang lebih minimal, masa penyembuhan yang lebih cepat, dan biaya lebih terjangkau. [6]

Sebuah penelitian terhadap 94 pasien dengan hematoma subungual yang ditatalaksana dengan trepinasi saja memberikan hasil akhir yang baik pada 85% kasus, kuku kembali normal atau hanya mengalami deformitas minor. Penelitian lainnya terhadap 52 anak dengan ukuran hematoma subungual lebih dari 25% luas kuku menunjukan hasil akhir yang tidak berbeda pada kelompok yang dilakukan trepinasi dengan tindakan pembedahan bantalan. [6]

Berikut ini adalah beberapa jenis teknik trepinasi yang dapat dilakukan:

Kauter Elektrik

Merupakan teknik yang tergolong cukup mudah dan aman untuk dilakukan, terutama pada kasus hematoma subungual sebesar 25-50% luas kuku yang terjadi kurang dari 24 jam. Dimulai dengan memposisikan alat kauter tegak lurus dari kuku pada bagian tengah hematoma. Setelah terbentuk lubang maka darah akan mengalir dengan sendirinya. Darah juga dapat dikeluarkan dengan bantuan pipet hematokrit yang sudah ter heparinisasi. Teknik ini tidak direkomendasikan untuk digunakan pada kuku akrilik, atau digunakan bersamaan dengan isopropyl alcohol. Hal ini dikarenakan keduanya memiliki sifat mudah terbakar. [5,7]

Jarum Ukuran 18G

Pada teknik ini jarum diposisikan tegak lurus di area tengah hematoma. Lalu  gerakan rotasi dilakukan dengan bantuan ibu jari dan jari telunjuk, untuk membentuk lubang pada kuku. Jarum dengan ukuran yang lebih kecil juga dapat digunakan untuk anak-anak, namun memerlukan jumlah lubang yang lebih banyak agar darah dapat dikeluarkan dengan baik. [8]

Klip Kertas yang dipanaskan

Apabila alat yang tersedia kurang memadai, maka dapat dipertimbangkan menggunakan klip kertas yang dipanaskan. Cara melakukan trepinasi dengan metode ini diawali dengan meluruskan klip kertas lalu memanaskannya hingga kemerahan. Setelah itu memposisikan klip secara tegak lurus terhadap kuku pada bagian tengah hematoma, hingga terbentuk lubang dan darah dapat dikeluarkan.[1,9]

Area hematoma dibersihkan terlebih dahulu dengan menggunakan larutan klorheksidin atau povidone iodine untuk mencegah terjadinya infeksi. Trepinasi dilakukan secara hati-hati agar tidak melukai bantalan kuku. Setelah dilakukan trepinasi, bagian yang luka perlu ditutup dengan kasa steril dan pasien diinstruksikan untuk menjaga area tersebut tetap bersih dan kering. Tindakan trepinasi mungkin perlu diulang untuk mendekompresi hematoma sepenuhnya. [1]

Saat ini belum ada penelitian terkontrol secara acak yang membandingkan manajemen konservatif, trepinasi, pengangkatan lempeng kuku, maupun perbaikan bantalan kuku dengan tindakan operasi. Namun, pada situasi tertentu tatalaksana pencabutan kuku atau pembedahan lebih tepat untuk dilakukan daripada trepanasi. Misalnya, pada kasus hematoma subungual yang disertai avulsi kuku, laserasi yang dalam pada bantalan kuku, fraktur falang distal yang mengalami pergeseran, dan trauma yang mengenai matriks germinal, sehingga terperangkap di dalam fraktur dan dapat menyebabkan gangguan penyatuan tulang serta membentuk kista inklusi intraoseus.

Laserasi pada bantalan kuku ditatalaksana menggunakan jahitan benang absorbable berukuran kurang dari 6.0 atau bisa juga menggunakan perekat. Debridemen sebaiknya dilakukan seminimal mungkin karena debridemen yang agresif dapat menyebabkan bekas luka. Apabila kuku terlepas di bagian proksimal sebaiknya kuku dicabut agar dapat dilakukan pemeriksaan optimal terhadap kerusakan pada bantalan kuku. [5,6,10]

Kesimpulan

Hematoma subungual adalah kondisi terkumpulnya darah di antara lempeng dan bantalan kuku. Gejala yang dikeluhkan berupa nyeri dan perubahan warna pada kuku. Pemeriksaan fisik dan penunjang diperlukan untuk menentukan apakah terdapat komplikasi lain dari cedera yang dialami, seperti gangguan motorik, sensorik, sirkulasi darah, disrupsi jaringan, maupun fraktur yang menyertai.

Manajemen hematoma subungual bisa dilakukan dengan konservatif, trepinasi, pencabutan kuku, maupun tindakan operasi pada bantalan kuku. Hematoma subungual dengan ukuran kurang dari 25% kuku yang tidak terasa nyeri dapat ditatalaksana secara konservatif karena dapat diserap dengan sendirinya. Trepinasi direkomendasikan pada hematoma subungual akut yang terjadi kurang dari 48 jam pada ukuran apapun. Trepinasi bisa dilakukan dengan berbagai teknik, seperti kauter elektrik, jarum 18G, maupun klip kertas.

Pada situasi tertentu pasien dapat memiliki hasil akhir yang lebih baik dengan pencabutan kuku atau pembedahan dibandingkan dengan trepinasi. Seperti pada kasus hematoma subungual yang disertai avulsi kuku, laserasi yang dalam pada bantalan kuku, fraktur falang distal yang mengalami pergeseran, dan trauma yang mempengaruhi matriks germinal sehingga terperangkap di dalam fraktur karena dapat menyebabkan gangguan penyatuan tulang serta membentuk kista inklusi intraoseus.[1]

Referensi