Pengaruh Penggunaan Vaksin Pneumokokus Konjugat Terhadap Rawat Inap Pneumonia pada Lansia – Telaah Jurnal Alomedika

Oleh :
dr. Qorry Amanda, M.Biomed

Association of Pneumococcal Conjugate Vaccine Use With Hospitalized Pneumonia in Medicare Beneficiaries 65 Years or Older With and Without Medical Conditions, 2014 to 2017

Kobayashi M, Spiller MW, Wu X, Wang R, Chillarige Y, Wernecke M, MaCurdy TE, Kelman JA, Deng L, Shang N, Whitney CG, Pilishvili T, Lessa FC. JAMA Intern Med. 2023 Jan 1;183(1):40-47. doi: 10.1001/jamainternmed.2022.5472.

studilayak

Abstrak

Latar Belakang: Hubungan penggunaan vaksin konjugat (gabungan beberapa varian vaksin) pneumokokus-13 (PCV13) dengan kejadian rawat inap akibat pneumonia pada pasien usia lanjut, terutama yang memiliki komorbiditas, belum pernah diteliti sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk memeriksa hubungan penggunaan PCV13 dengan kejadian pneumonia, pneumonia yang tidak berhubungan dengan perawatan medis, dan pneumonia lobar pada penerima layanan asuransi Medicare yang berusia 65 tahun ke atas.

Metode: Penelitian ini dilakukan secara prospektif pada lebih dari 24 juta pasien penerima asuransi Medicare yang berusia 65 tahun atau lebih dengan atau tanpa komorbiditas. Penelitian dilakukan di 50 negara bagian Amerika Serikat dan Distrik Kolumbia sejak 1 September 2014 hingga 31 Desember 2017.

Luaran dari penelitian ini adalah incidence rate ratio (IRR) yang dihitung dari discrete-time survival model dan jumlah kejadian rawat inap akibat pneumonia yang bisa dihindari akibat penggunaan PCV13. Efikasi vaksin dilihat dari parameter IRR yang telah disesuaikan dengan kejadian rawat inap pada penerima vaksin PCV13. Vaksin PCV13 dianggap tidak efektif dalam mencegah pneumonia bila penerima vaksin mengalami pneumonia dalam 14 hari sejak diberikan vaksin PCV13.

Hasil: Pada akhir Desember 2017 terkumpul sebanyak 24.121.625 pasien penerima asuransi Medicare yang terdiri dari berbagai ras, memiliki kriteria inklusi yang sesuai, serta dapat dilakukan follow up hingga akhir penelitian. 4.936.185 (20,5%) diantaranya tercatat menerima vaksin PCV13, sementara 10.646.220 (79,5%) peserta lainnya tidak menerima vaksin pneumokokus jenis apapun.

Efikasi vaksin PCV13 diperkirakan sebesar 6,7% untuk pencegahan pneumonia; 4,7% untuk pencegahan pneumonia non hospital acquired (non-HA); dan 5,8% untuk pencegahan pneumonia lobaris. Sejak September 2014 hingga Desember 2017, diperkirakan terjadi pencegahan 35.127 kasus pneumonia, 24.643 pneumonia non-HA, dan 1.294 pneumonia lobaris akibat penggunaan PCV13.

Kesimpulan: Penelitian ini berkesimpulan bahwa penggunaan PCV13 berhubungan dengan penurunan kejadian rawat inap akibat pneumonia pada penerima asuransi medicare  yang berusia 65 tahun atau lebih yang juga banyak memiliki komorbiditas. Peningkatan cakupan PCV13 dan penggunaan vaksin konjugat pneumokokus yang terbaru juga diperkirakan dapat mencegah kejadian rawat inap akibat pneumonia pada pasien berusia dewasa.

VaksinPneumokokusLansia

Ulasan Alomedika

Angka kejadian pneumonia dan kematian terkait pneumonia paling tinggi pada individu berusia ≥65 tahun dan mereka yang memiliki komorbiditas multipel. Streptococcus pneumoniae telah diketahui sebagai bakteri penyebab utama pneumonia. Oleh sebab itu, vaksin pneumokokus dianggap dapat memberi perlindungan terhadap penyakit pneumokokus invasif dan pneumonia bakteremik pada lansia.

Ulasan Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan secara prospektif sesuai dengan pedoman penelitian observasional epidemiologi (STROBE). Namun demikian, paparan pemberian vaksin konjugat pneumokokus-13 (PCV13) dilakukan dalam waktu yang berbeda-beda. Hal ini dapat mempengaruhi pola persebaran dan derajat keparahan pneumonia yang dapat meningkat pada waktu-waktu tertentu.

Dalam studi ini, pemberian paparan PCV13 mengikuti kaidah dari US Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Beberapa kriteria inklusi yang ditetapkan peneliti, yakni usia 65 tahun atau lebih, termasuk sebagai salah satu penduduk Distrik Kolumbia atau salah satu negara bagian Amerika Serikat, dan termasuk sebagai pasien penerima fasilitas pelayanan Medicare.

Penelitian ini juga menetapkan luaran penelitian berupa incidence rate ratio (IRR) yang dihitung dari discrete-time survival model jumlah kejadian pneumonia, pneumonia non-HA, dan pneumonia lobaris yang terjadi dalam 14 hari pasca diberikan vaksin PCV13 pada subjek penelitian. Meski begitu, peneliti tidak mengikuti pasien secara aktif. Follow up hanya dilakukan berdasarkan data registri pasien rawat inap dan hasil sensus yang menyatakan pasien masih hidup atau sudah meninggal.

Ulasan Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa efikasi vaksin PCV13 diperkirakan sebesar 6,7% untuk pencegahan pneumonia; sebesar 4,7% untuk pencegahan pneumonia non-HA; dan sebesar 5,8% untuk pencegahan pneumonia lobaris.  Selama masa studi, diperkirakan 35.127 kasus pneumonia, 24.643 pneumonia non-HA, dan 1.294 pneumonia lobaris dapat dicegah terkait penggunaan PCV13.

Kelebihan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian pertama yang memeriksa efikasi vaksin PCV13 terhadap kejadian pneumonia pada pasien usia lanjut usia di Amerika. Meskipun penelitian ini dilakukan di Amerika Serikat, latar belakang subjek penelitian terdiri dari berbagai jenis ras. Parameter yang digunakan dalam menentukan efikasi vaksin berupa incident rate ratio dan discrete-time survival model juga sudah tepat sesuai tujuan penelitian.

Protokol vaksinasi yang digunakan dalam penelitian sama dengan protokol vaksinasi yang digunakan di praktik, yakni sesuai dengan rekomendasi CDC. Hal ini meningkatkan kapasitas penerapan hasil penelitian pada kondisi yang sesungguhnya.

Limitasi Penelitian

Kelemahan utama studi ini adalah penggunaan metode kohort prospektif. Hal ini menyebabkan adanya perbedaan antara populasi intervensi dan populasi kontrol, termasuk dalam hal status sosioekonomi. Oleh sebab itu, metode penelitian yang lebih cocok untuk tujuan penelitian ini adalah uji klinis acak terkontrol karena akan memberi bukti ilmiah dengan kekuatan bukti lebih baik.

Selain itu, dalam rentang waktu penelitian, terdapat revisi terkait definisi pneumonia yang digunakan dalam praktik klinis di Amerika Serikat. Hal ini memungkinkan adanya perubahan definisi operasional diagnosis pneumonia dalam penelitian.

Peneliti juga tidak mengikuti pasien secara aktif. Pemantauan hanya dilakukan berdasarkan data registrasi pasien rawat inap dan hasil sensus yang menyatakan pasien masih hidup atau sudah meninggal.

Peneliti juga tidak membatasi kriteria diagnosis pneumonia, pneumonia non-HA, dan pneumonia lobaris dengan jelas sehingga penetapan diagnosis pada banyak fasilitas kesehatan tidak bisa dipastikan sama.

Kelemahan lain adalah peneliti tidak menetapkan standardisasi kriteria diagnosis komorbiditas yang dialami pasien. Hal ini menyebabkan efikasi vaksin terhadap penerima vaksin PCV13 yang berusia lanjut dan memiliki komorbiditas tertentu, seperti diabetes dan hipertensi, tidak bisa lebih dievaluasi.

Aplikasi Hasil Penelitian di Indonesia

Hasil penelitian ini bisa diterapkan di Indonesia karena vaksin pneumokokus konjugat sudah tersedia. Menurut studi ini, pemberian vaksin pneumokokus pada lansia bermanfaat menurunkan angka kejadian rawat inap terkait pneumonia. Meskipun perlu divalidasi lebih lanjut, hasil studi ini berpotensi untuk menambahkan rekomendasi vaksinasi pada lansia di Indonesia.

Referensi