Pemeriksaan Bilirubin Transkutan untuk Diagnosis Hiperbilirubinemia pada Neonatal

Oleh :
dr.Citra Amelinda, SpA., MKes., IBCLC

Pemeriksaan bilirubin transkutan lebih akurat dibandingkan pemeriksaan inspeksi visual untuk skrining hiperbilirubinemia neonatal sehingga dapat digunakan untuk membantu diagnosis pada bayi dengan usia >24 jam dan usia gestasi >35 minggu.

Hiperbilirubinemia merupakan suatu terminologi yang digunakan untuk menggambarkan berlebihnya kadar bilirubin di dalam darah. Kondisi ini pada bayi baru lahir umumnya tidak berbahaya. Walau demikian, hiperbilirubinemia ekstrim (>25 mg/dL) merupakan kondisi berbahaya yang dapat menyebabkan ensefalopati.

shutterstock_1719799222-min

Hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir menyebabkan gejala klinis berupa warna kuning pada kulit atau sklera mata bayi. Walau demikian, diagnosis hiperbilirubinemia berdasarkan inspeksi visual sering kali tidak akurat pada anak nonKaukasian.[1]

Standar baku emas hiperbilirubinemia yaitu dengan memeriksa langsung kadar bilirubin dalam serum. Kelemahan metode ini adalah risiko infeksi lokal dan nyeri di tempat penyuntikan, ekstra waktu tambahan untuk menunggu hasil pemeriksaan serta tambahan kekhawatiran orang tua saat proses pengambilan darah. Selain itu, di daerah di mana laboratorium tidak tersedia atau jaraknya jauh, pemeriksaan ini juga menjadi sulit dilakukan.[2]

Pemeriksaan Bilirubin Visual

Pemeriksaan bilirubin secara visual pertama kali diperkenalkan oleh Kramer sebagai petunjuk klinis adanya kuning pada bayi baru lahir. Progresivitas sefalokaudal, dengan lima zona dermis spesifik yaitu:

  1. Kepala-leher
  2. Area abdomen di atas umbilikal
  3. Area abdomen di bawah umbilikal
  4. Lengan dan kaki
  5. Telapak kaki[3]

Pemeriksaan dilakukan di tempat yang cukup terang dengan menekan kulit bayi beberapa detik sehingga tampak bayangan warna kuning atau tidaknya pada kulit dan jaringan subkutan.

Kelemahan pemeriksaan ini adalah sifatnya yang subjektif, hasil yang hanya bersifat kualitatif, dan sulit dilakukan pada bayi yang berkulit gelap. Walaupun begitu, di tempat di mana pemeriksaan bilirubin serum tidak dapat dilakukan, metode Kramer masih menjadi alternatif untuk memilah bayi kuning yang perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan.[4,5]

Pemeriksaan Bilirubin Transkutan

Pemeriksaan bilirubin transkutan merupakan suatu alternatif pemeriksaan bilirubin noninvasif. Cara kerjanya yaitu berdasarkan prinsip spektroskopi optikal berupa hubungan jumlah panjang gelombang yang diserap dengan kadar bilirubin di kulit.

Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan alat khusus yang ditempelkan di permukaan kulit bayi di area dahi atau sternum dan tidak menyebabkan nyeri. Alat ini akan menembakkan sinar ke permukaan kulit bayi dan kemudian menilai intensitas panjang gelombang yang dipantulkan oleh kulit dan ditangkap oleh alat.[1]

Pemeriksaan Bilirubin Serum

Standar baku emas pemeriksaan bilirubin pada bayi baru lahir adalah dengan pemeriksaan bilirubin serum. Metode ini menimbulkan rasa nyeri dan apabila dilakukan berulang ulang dapat berpotensi menyebabkan anemia. Selain itu, hasil pemeriksaan membutuhkan waktu yang tidak sebentar sehingga berpotensi menunda keputusan terapi.[6]

Rekomendasi Terkait Penggunaan Pemeriksaan Bilirubin Transkutan

American Academy of Pediatrics merekomendasikan penggunaan pemeriksaan bilirubin serum atau transkutan pada bayi yang ikterus pada 24 jam pertama setelah lahir. Walau demikian, pedoman klinis ini juga menyampaikan bahwa penggunaan pemeriksaan bilirubin transkutan masih memerlukan penelitian lanjutan mengenai validasi hasil, faktor yang mempengaruhi hasil pemeriksaan, dan cost-effectiveness dari pemeriksaan ini.[7]

Canadian Paediatric Society dalam pedoman klinisnya mengenai deteksi, manajemen, dan pencegahan hiperbilirubinemia menyampaikan bahwa pemeriksaan bilirubin transkutan dapat digunakan untuk skrining hiperbilirubinemia. Walau demikian, rekomendasi ini bersifat lemah dan hanya memiliki grade C.

Di sisi lain, pedoman klinis ini juga menggarisbawahi adanya inakurasi hasil pemeriksaan bilirubin transkutan pada bayi yang sudah menjalani fototerapi, dan adanya faktor warna dan ketebalan kulit yang dapat mempengaruhi hasil. Selain itu, tingkat akurasi antar alat juga bervariasi sehingga perlu terlebih dahulu dilakukan uji validasi alat sebelum menerapkan penggunaan alat ini untuk skrining.[8]

Rekomendasi terbaru dari National Institute for Health and Clinical Excellence (NICE) yang terakhir diperbarui tahun 2016 menyarankan penggunaan pemeriksaan bilirubin transkutan pada bayi dengan usia gestasi >35 minggu dan usia postnatal >24 jam. Walau demikian, jika hasil bilirubin transkutan >14,6 mg/dL, lakukan konfirmasi ulang dengan memeriksa bilirubin serum. Pemeriksaan bilirubin serum juga perlu dilakukan pada bayi dengan usia <24 jam atau lahir dengan usia gestasi <35 minggu.

Pedoman klinis NICE ini juga menyarankan poin untuk pemeriksaan lanjutan, yaitu mengenai cost-effectiveness alat dan perbandingan akurasi antar alat bilirubinometer transkutan yang tersedia.[9]

Efektivitas Pemeriksaan Bilirubin Transkutan

Tinjauan pustaka yang dilakukan oleh Mir SE, et al. menemukan adanya penurunan tingkat hiperbilirubinemia berat sebesar 55% ketika pemeriksaan bilirubin transkutan digunakan sebagai alat skrining dibandingkan dengan pemeriksaan bilirubin visual menggunakan metode Kramer.

Tinjauan pustaka ini juga menemukan bahwa implementasi skrining bilirubin transkutan pada bayi yang dinilai ikterus berdasarkan hasil inspeksi visual akan menurunkan jumlah bayi yang perlu menjalani pemeriksaan bilirubin serum sebesar 79%. Hal ini menunjukkan adanya potensi penggunaan pemeriksaan bilirubin transkutan sebagai alat skrining untuk hiperbilirubinemia. Walau demikian, metode penelitian ini memiliki keterbatasan berupa adanya risiko underdiagnosis pada bayi yang hiperbilirubinemia tetapi tidak terlihat pada hasil inspeksi visual.[10]

Efektivitas Pemeriksaan Bilirubin Transkutan pada Bayi Prematur

Berdasarkan pedoman NICE yang terakhir diperbarui tahun 2016, pemeriksaan bilirubin transkutan tidak disarankan pada bayi prematur dengan usia gestasi di bawah 35 minggu. Walau demikian, studi meta analisis oleh Shabuj MH, et al. yang mencakup 28 studi dengan total 1910 pasien menemukan bahwa hasil pemeriksaan bilirubin transkutan memiliki tingkat korelasi yang mendekati hasil pemeriksaan bilirubin serum. Meta analisis ini juga menyarankan lokasi pengecekan bilirubin transkutan dilakukan di dahi dan sternum pasien.[11]

Aplikasi di Indonesia

Pemeriksaan bilirubin transkutan bisa menjadi alternatif yang lebih akurat dibandingkan pemeriksaan inspeksi visual untuk menentukan pasien yang membutuhkan pemeriksaan bilirubin serum. Walau demikian, penggunaannya di daerah yang tidak memiliki akses laboratorium akan terkendala oleh harga dan ketersediaan alat. Harga satu alat bilirubinometer transkutan adalah sekitar 60 juta Rupiah.

Untuk itu, penggunaan pemeriksaan bilirubin berbasis artificial intelligence menggunakan smartphone yang tidak memerlukan alat tambahan sepertinya akan lebih cocok untuk diaplikasikan di Indonesia. Saat ini, terdapat 2 studi pendahuluan yang menilai kadar bilirubin pada sternum dan sklera pasien menggunakan kamera smartphone. Teknologi ini masih memerlukan penelitian lanjutan dengan jumlah sampel yang besar dan metodologi yang valid sebelum bisa digunakan secara klinis untuk diagnosis hiperbilirubinemia pada pasien neonatal.[12,13]

Kesimpulan

Pemeriksaan bilirubin secara visual dengan metode Kramer’s merupakan pemeriksaan paling sederhana dan tanpa biaya namun memiliki hasil tidak akurat. Untuk itu, pemeriksaan bilirubin transkutan dapat menjadi alternatif metode pemeriksaan noninvasif pada bayi baru lahir yang cukup akurat. Walau demikian, penggunaan metode pemeriksaan ini pada bayi prematur masih kontroversial dan memerlukan penelitian lebih lanjut.

Pemeriksaan bilirubin transkutan memiliki kendala untuk diaplikasikan di Indonesia akibat ketersediaan alat dan harga pembelian alat yang cukup mahal. Walau demikian, biaya untuk pemeriksaan bilirubin transkutan sendiri jauh lebih murah dibandingkan pemeriksaan bilirubin serum.

Pengembangan metode pemeriksaan bilirubin menggunakan smartphone yang tidak membutuhkan alat tambahan lebih sesuai untuk diaplikasikan di Indonesia, tetapi metode ini masih sebatas studi pendahuluan dan memerlukan penelitian lanjutan dengan jumlah sampel besar dan metodologi yang valid sebelum dapat diaplikasikan secara klinis.

Referensi