Pemberian Kortikosteroid pada Eksaserbasi Penyakit Paru Obstruktif Kronis

Oleh :
dr. Nurul Falah

Kortikosteroid merupakan salah satu obat yang digunakan dalam penanganan eksaserbasi penyakit paru obstruktif kronik atau PPOK. Sejumlah studi mengindikasikan bahwa pemberian kortikosteroid pada PPOK eksaserbasi akut dapat mempercepat waktu pemulihan dan memperbaiki fungsi paru.[1]

Pedoman yang dikeluarkan oleh Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD) terbaru pada tahun 2022, merekomendasikan durasi pengobatan selama 5-7 hari dengan dosis prednison sebesar 40 mg per hari. Rekomendasi GOLD juga merekomendasikan penggunaan budesonide inhalasi untuk pasien PPOK eksaserbasi akut kondisi tertentu.[2,3]

Pemberian Kortikosteroid pada Eksaserbasi Penyakit Paru Obstruktif Kronis-min

Peran Kortikosteroid dalam Penanganan Eksaserbasi Akut Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)

Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) merupakan penyakit inflamatorik paru kronis yang menyebabkan obstruksi aliran udara dari paru. PPOK sering berkaitan dengan kebiasaan merokok dan paparan terhadap polusi udara. Adanya inflamasi kronik pada paru memicu perubahan yang khas pada parenkim dan vaskularisasi paru. Pada kondisi eksaserbasi akut PPOK, terjadi peningkatan signifikan dari inflamasi lokal pada saluran napas dan parenkim paru yang akan memperburuk obstruksi saluran napas.[1,4]

Manfaat Pemberian Steroid pada Penyakit Paru Obstruktif Kronik Eksaserbasi Akut

Terapi yang dapat digunakan untuk mengurangi inflamasi pada PPOK adalah dengan pemberian antiinflamasi. Antiinflamasi umumnya diberikan dalam bentuk oral ataupun injeksi intravena, terutama bila terjadi eksaserbasi akut. Kortikosteroid sebagai salah satu agen antiinflamasi bekerja dengan cara menghambat aktivitas enzim fosfolipase A2 sehingga dapat mencegah terlepasnya mediator proses inflamasi, yaitu asam arakidonat dan metabolitnya seperti prostaglandin, leukotrien, dan tromboksan. Sejumlah studi juga telah melaporkan bahwa pemberian kortikosteroid pada fase eksaserbasi akut dapat mengurangi lama perawatan, meningkatkan fungsi paru dan oksigenasi, serta menurunkan angka kekambuhan.[1,2,5]

Menurut panduan Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD), kondisi PPOK yang direkomendasikan untuk mendapat kortikosteroid adalah eksaserbasi PPOK derajat sedang dan berat. Episode eksaserbasi yang disertai dengan peningkatan sputum atau eosinofil di darah dilaporkan lebih responsif terhadap kortikosteroid sistemik, seperti prednison.[2,3]

Berdasarkan pengukuran fungsi paru, melalui volume ekspirasi paksa detik pertama (VEP1 atau FEV1), ditemukan perbaikan pada kelompok yang diberikan steroid intravena dibandingkan dengan kelompok plasebo. Namun, kapasitas vital paksa (KVP atau FVC) tidak ditemukan berbeda bermakna antara kedua kelompok ini. Dibandingkan dengan plasebo, pemberian kortikosteroid sistemik dapat memperbaiki pertukaran udara yang diukur dengan analisis gas darah, menghasilkan durasi rawat inap yang lebih pendek, dan waktu untuk kambuh kembali yang lebih panjang. Kualitas hidup tidak ditemukan berbeda signifikan dibandingkan dengan plasebo, namun pemberian kortikosteroid dapat memperbaiki gejala.[2,6]

Durasi dan Rute Pemberian Kortikosteroid pada Eksaserbasi Akut Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)

Rentang dosis serta durasi optimal pemberian kortikosteroid pada PPOK masih belum diketahui pasti. Padahal penggunaan kortikosteroid telah dikaitkan dengan potensi efek samping obat, termasuk retensi cairan, hipertensi, diabetes mellitus, supresi adrenal, dan osteoporosis. Risiko efek samping ini dilaporkan meningkat seiring meningkatnya frekuensi penggunaan dan dosis kumulatif kortikosteroid.[1-3]

Kortikosteroid Sistemik

Dalam tinjauan Cochrane tahun 2018, dilaporkan bahwa tidak ada perbedaan hasil pengobatan bermakna antara pemberian kortikosteroid oral selama 5 hari dibandingkan dengan durasi yang lebih lama, 10–14 hari. Tinjauan ini mengevaluasi hasil dari 8 uji klinis dengan total 582 partisipan.[7]

Studi lain (2021) menganalisis data partisipan dari studi REDUCE (n= 314 pasien) dan studi CORTI-COP (n= 318 pasien). Pada studi REDUCE, pasien diacak ke dalam 2 kelompok yaitu yang diberikan prednison 40 mg sistemik selama 5 hari diikuti dengan pemberian plasebo selama 9 hari dan kelompok yang diberikan prednison 40 mg sistemik selama 14 hari. Adapun pada studi CORTI-COP, semua pasien diberikan methylprednisolone pada hari ke-1, yang kemudian diikuti dengan salah satu dari 37,5 mg prednisolone selama 4 hari atau prednisolone hanya diberikan jika pemeriksaan hitung eosinofil darah perifer ≥ 300 sel/ul pada hari itu. Hasil analisis menunjukkan bahwa regimen kortikosteroid sistemik 14 hari menghasilkan masa rawatan rumah sakit yang lebih panjang dibandingkan dengan regimen yang diberikan selama 2-5 hari.[2,9]

Studi lain berupa studi prospektif, multisenter, acak, open label mencoba membandingkan 248 pasien PPOK eksaserbasi akut yang dibagi ke dalam 2 kelompok, yaitu kelompok yang diberikan fixed-dose (ekuivalen dengan prednisolone 40 mg) dengan kelompok personalized-dose selama 5 hari. Kegagalan terapi terjadi pada 27,6% dari kelompok yang diberikan personalized dose dibandingkan dengan 48,8% dari kelompok yang diberikan fixed-dose. Sementara itu, kegagalan terapi di rumah sakit secara signifikan lebih rendah pada kelompok personalized-dose  dibandingkan dengan kelompok yang diberikan fixed-dose (10,6% vs 24,4%).[8]

Kortikosteroid Inhalasi

Pemberian kortikosteroid inhalasi (ICS) dilakukan untuk meminimalisir efek sistemik. Kortikosteroid inhalasi diketahui dapat memperbaiki gejala, fungsi paru, dan kualitas hidup; serta dapat mengurangi frekuensi eksaserbasi. Beberapa contoh kortikosteroid inhalasi antara lain budesonide, fluticasone, beclomethasone, triamcinolone, dan mometasone.[2,5]

Panduan GOLD merekomendasikan triple therapy yang terdiri dari long-acting muscarinic antagonist (LAMA), long-acting β2-agonist (LABA), dan inhaled corticosteroid (ICS), sebagai terapi awal untuk pasien PPOK eksaserbasi akut dan memiliki kadar eosinofil darah ≥ 300 sel/ul. Regimen ini juga dianjurkan sebagai terapi lanjutan pada PPOK eksaserbasi dengan kadar eosinofil darah ≥ 100 sel/ul yang tidak berespon dengan LABA/ICS atau LABA/LAMA.[2]

Meski demikian, kombinasi antara kortikosteroid inhalasi dengan obat golongan bronkodilator perlu dipertimbangkan dengan hati-hati untuk mencegah penggunaan kortikosteroid yang berlebihan. Sebuah studi (2022) yang melibatkan 3133 pasien yang mendapatkan terapi LAMA/LABA dan 3133 pasien yang mendapatkan terapi LAMA/LABA/ICS menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan kejadian eksaserbasi dan mortalitas antara kedua kelompok pasien. Hasil ini mengindikasikan bahwa mungkin manfaat triple therapy hanya terbatas pada kelompok risiko tinggi saja.[2,11]

Efek Samping Pemberian Kortikosteroid pada Eksaserbasi Akut Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)

Beberapa efek samping pemberian kortikosteroid yang telah dilaporkan adalah hiperglikemia, penyakit serebrovaskular, miopati, peningkatan berat badan, katarak, glaukoma, osteoporosis, kandidiasis oral, dan gangguan aksis hipotalamus-pituitari.[11,12] Selain itu, dalam suatu kohort yang melibatkan 30.473 pasien PPOK dilaporkan bahwa pengobatan kortikosteroid oral jangka panjang berkaitan dengan peningkatan risiko tromboembolisme vena (VTE) dibandingkan dengan pengobatan dengan kortikosteroid jangka pendek. Risiko rawat inap pada kasus VTE juga dilaporkan lebih tinggi di antara pasien PPOK eksaserbasi akut yang mendapat terapi kortikosteroid jangka panjang.[10]

Dalam studi kohort lain yang melibatkan 67.000 pasien dengan PPOK, dilaporkan bahwa pemberian kortikosteroid oral dalam durasi panjang berkaitan dengan peningkatan risiko pneumonia dan mortalitas.[13] Risiko reaktivasi tuberkulosis juga perlu dipikirkan pada pemberian kortikosteroid dosis tinggi.[14] Oleh karena itu, pemberian kortikosteroid oral dalam durasi yang lebih pendek atau dosis lebih rendah diharapkan dapat menurunkan kejadian efek samping terkait kortikosteroid.[5]

Penyakit penyerta dari setiap pasien juga perlu menjadi pertimbangan dalam memberikan obat steroid untuk mencegah terjadinya efek samping. Contoh penyakit penyerta tersebut adalah diabetes mellitus tipe 2 yang dapat diperberat dengan efek samping hiperglikemia akibat penggunaan kortikosteroid.[12]

Kesimpulan

Penggunaan kortikosteroid, seperti prednison, pada pasien dengan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) telah dikaitkan dengan penurunan lama perawatan, peningkatan fungsi paru, penurunan angka kekambuhan, dan peningkatan kualitas hidup. Pemberian kortikosteroid sistemik dalam durasi pendek (2-5 hari) nampaknya sama efektif dengan pemberian dalam durasi yang lebih panjang. Durasi pemberian pendek ini diharapkan dapat menurunkan risiko efek samping kortikosteroid, seperti hiperglikemia, hipertensi, supresi adrenal, penurunan kepadatan tulang, dan reaktivasi tuberkulosis. Alternatif lain adalah pemberian kortikosteroid inhalasi dalam regimen triple therapy dengan long-acting muscarinic antagonist (LAMA) dan long-acting β2-agonist (LABA), tetapi studi lanjutan diperlukan untuk mengetahui populasi pasien mana yang akan mendapat manfaat terbaik dari regimen ini.

 

 

Penulisan pertama oleh: dr. Nathania S. Sutisna

Referensi