Pemberian Steroid pada Eksaserbasi Akut Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)

Oleh :
dr. Nathania S. Sutisna

Pemberian steroid merupakan salah satu obat yang digunakan sebagai penanganan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Walau demikian, terdapat perubahan durasi pemberian steroid berdasarkan rekomendasi yang dikeluarkan oleh Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD). Rekomendasi GOLD terbaru pada tahun 2017 menyatakan penurunan durasi pengobatan dari 14 hari menjadi tidak lebih dari 5 – 7 hari dengan dosis prednison sebesar 40 mg per hari[1].

Pada kondisi eksaserbasi akut penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), terjadi peningkatan signifikan dari inflamasi lokal pada saluran napas dan parenkim paru. Inflamasi ini tetap terjadi pada pasien yang sudah berhenti merokok karena kemungkinan adanya respon maladaptif dan persisten. Selain inflamasi lokal pada saluran napas, PPOK juga dapat menyebabkan inflamasi sistemik. Pemberian kortikosteroid pada fase eksaserbasi akut dapat mengurangi lama perawatan, meningkatkan fungsi paru dan oksigenasi serta menurunkan angka kekambuhan.[2]

Depositphotos_85034620_m-2015

Dalam panduan GOLD, PPOK yang direkomendasikan untuk diberikan kortikosteroid adalah eksaserbasi PPOK derajat sedang dan berat. Episode eksaserbasi yang disertai dengan peningkatan sputum dan/atau eosinofil di darah kemungkinan lebih responsif terhadap kortikosteroid sistemik.[1]

Fungsi paru yang diukur melalui volume ekspirasi paksa detik pertama (VEP1 atau FEV1) ditemukan perbaikan pada kelompok yang diberikan steroid intravena dibandingkan dengan kelompok plasebo. Namun, kapasitas vital paksa (KVP atau FVC) tidak ditemukan berbeda bermakna antara kedua kelompok ini. Dibandingkan dengan plasebo, pemberian kortikosteroid sistemik dapat memperbaiki pertukaran udara yang diukur dengan analisa gas darah,durasi rawat inap yang lebih pendek, dan waktu untuk kambuh kembali yang lebih panjang. Kualitas hidup tidak ditemukan perbaikan yang signifikan dibandingkan dengan plasebo, namun pemberian kortikosteroid dapat memperbaiki gejala.[3]

Durasi dan Rute Pemberian Kortikosteroid pada Eksaserbasi Akut PPOK

Studi Cochrane terbaru (2018) menunjukkan tidak adanya perbedaan hasil pengobatan yang bermakna antara pemberian kortikosteroid oral selama 5 hari dibandingkan dengan durasi yang lebih lama, 10 – 14 hari.[4]

Perbaikan fungsi paru dapat dilihat melalui perbaikan dari volume ekspirasi paksa detik pertama (VEP1 atau FEV1) pada pemberian steroid dalam masa eksaserbasi akut ini tidak berbeda bermakna antara pemberian dengan durasi 5 hari dan 14 hari.[5]

Kegagalan tata laksana pengobatan, angka kekambuhan, angka kematian, durasi rawat inap, beratnya gejala dispnea dan analisa gas darah (PaO2 pada hari ke 10 - 14, dan PaCO2 pada hari ke 3 dan 10) tidak memiliki perbedaan yang signifikan antara pemberian kortikosteroid pada eksaserbasi akut PPOK kurang dari 7 hari dan lebih dari 7 hari. Contoh dari indikasi kegagalan tata laksana adalah adanya kebutuhan obat tambahan dan perlunya rawat inap dan admisi ke instalasi gawat darurat kembali dalam jangka waktu dekat.

Kualitas hidup merupakan salah satu aspek yang perlu dipertimbangkan dalam tata laksana PPOK. Kualitas hidup yang diukur dengan keterbatasan aktivitas, dampak dari timbulnya gejala, kelelahan dan aspek emosi tidak ditemukan perbedaan yang bermakna antara kelompok konsumsi steroid dengan durasi kurang dan lebih dari 7 hari.[6]

Dalam studi observasional dengan sampel besar (79,985 pasien), pemberian kortikosteroid oral pada eksaserbasi akut PPOK tidak berbeda bermakna dibandingkan dengan kortikosteroid intravena dalam hal kegagalan pengobatan. Dalam studi ini, dosis kortikosteroid oral adalah 20 – 80 mg ekuivalen dengan prednison dan dosis kortikosteroid intravena adalah 120 – 180 mg ekuivalen dengan prednison. Kegagalan pengobatan pada penelitian ini diindikasikan dengan perlunya alat bantu napas mekanik (ventilator) pada hari kedua perawatan, kematian dan adanya rawat inap ulang dalam jangka waktu 30 hari. Oleh karena itu, pemberian kortikosteroid oral dapat dipertimbangkan karena akan menurunkan biaya rawat. Salah satu kriteria eksklusi dalam studi ini adalah pasien yang dirawat di ruang rawat intensif, sehingga kesimpulan ini tidak dapat diaplikasikan pada pasien yang membutuhkan ruang rawat intensif.[7]

Efek Samping

Beberapa efek samping dari pemberian kortikosteroid adalah hiperglikemia, penyakit serebrovaskular, miopati, peningkatan berat badan, katarak, glaukoma, osteoporosis dan gangguan aksis hipotalamus-pituitari.[8]

Pemberian kortikosteroid oral dalam durasi yang lebih pendek diharapkan dapat menurunkan kejadian efek samping terkait kortikosteroid. Tidak ditemukan perbedaan bermakna antara pemberian kortikosteroid oral selama 5 hari dibandingkan 14 hari untuk efek samping hiperglikemia dan hipertensi atau efek samping steroid lainnya, seperti perdarahan dan refluks saluran cerna, gagal jantung kongestif atau penyakit jantung koroner, gangguan tidur, fraktur dan depresi.[5]

Penyakit penyerta dari setiap pasien tetap perlu menjadi pertimbangan dalam memberikan obat steroid untuk mencegah terjadinya efek samping. Contoh penyakit penyerta tersebut adalah diabetes mellitus tipe 2 yang dapat diperberat dengan efek samping hiperglikemia, sindrom koroner akut, dan hipertensi.

Penelitian Lebih Lanjut

Kegagalan terapi dengan terapi kortikosteroid oral selama 5 hari, perlu dipertimbangkan untuk dilakukan dengan durasi konvensional, yaitu 14 hari. Studi lebih lanjut dapat dilakukan untuk melihat derajat keparahan PPOK yang memerlukan terapi kortikosteroid yang lebih lama. Selain itu, diperlukan studi untuk efektivitas durasi dan rute pemberian kortikosteroid pada pasien intensif.

Kesimpulan

Pemberian steroid oral diperlukan dalam tata laksana penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dengan dosis 40 mg prednison per hari. Pemberian steroid dengan durasi 5 hari tidak menimbulkan efek yang berbeda dalam hal kegagalan tata laksana (diukur dengan perburukan klinis atau kebutuhan pengobatan lebih lanjut), perbaikan fungsi paru, angka kekambuhan, angka kematian, durasi rawat inap dan analisa gas darah dibandingkan dengan dosis konvensional (14 hari). Timbulnya efek samping yang terkait dengan pemberian kortikosteroid juga tidak berbeda pada durasi 5 hari dengan 14 hari.

Risiko dan keuntungan antara pemberian steroid dalam durasi 5 hari dengan 14 hari relatif sebanding. Sehingga, pada eksaserbasi akut PPOK, durasi pemberian steroid selama 5 hari dapat dipertimbangkan. Diharapkan tetap dapat mengurangi risiko dari potensi efek samping steroid dan dapat mengurangi biaya rawat. Apabila dalam kondisi klinis tidak ditemukan perbaikan, durasi pemberian kortikosteroid dapat dipertimbangkan untuk diperpanjang hingga 14 hari.

Referensi