Mengetahui dan Mengobati Keracunan Jengkol

Oleh dr. Nathania S. Sutisna

Jengkol merupakan salah satu makanan penyebab keracunan (kejengkolan) khas Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya sehingga pengobatan dan gejalanya perlu diketahui.

Jengkol adalah salah satu makanan yang umum ditemukan di Asia Tenggara. Di Indonesia, terutama Jawa dan Sumatra, masyarakat memproses jengkol atau Archidendron pauciflorum atau Archidendron jiring menjadi makanan yang banyak disukai. Jengkol dapat dikonsumsi dalam keadaan mentah, digoreng atau dipanggang.

Jengkol mentah. Sumber: olovedog, Freedigitalphotos, 2012. Jengkol mentah. Sumber: olovedog, Freedigitalphotos, 2012.

Konsumsi jengkol dalam jumlah tertentu dapat menyebabkan gagal ginjal akut dalam beberapa jam setelah konsumsi jengkol yang disebut dengan djenkolism dalam bahasa Inggris atau keracunan jengkol karena asam jengkolat pada jengkol dapat mengganggu sistem tractus urinarius. Gagal ginjal akut didefinisikan sebagai turunnya fungsi filtrasi ginjal secara akut. Lama terjadinya gejala dari sejak konsumsi jengkol sekitar 2 jam sampai 12 jam, dan bisa juga terjadi sampai pada hari ke-4. Gangguan ini, yaitu[1]:

  • Gagal ginjal akut sampai anuria, yang lebih banyak dialami pria dibandingkan wanita (9:1 sampai 7:1) [1,2]

  • Obstruksi traktus urinarius dengan gejala nyeri pada daerah pinggang dengan atau tanpa perambatan pada dareah perut bawah dan selangkangan atau sebaliknya, dan/atau
  • Episode spasmodik pada daerah suprapubik.

 

Tabel 1. Gejala yang umum ditemukan pada keracunan jengkol [1]

GejalaPersentase
Nyeri perut, pinggang atau kolik70%
Disuria66%
Oligouria59%
Hematuria55%
Hipertensi36%

Setelah timbul gejala seperti nyeri kolik perut dan pinggang, spasme pada kandung kemih (nyeri perut bawah), buang angin berlebihan, dan diare atau sembelit, penderita keracunan jengkol akan mengeluarkan urin yang seperti susu dan kemudian berubah menjadi darah. Analisis urin di saat ini dapat memperlihatkan adanya albumin, sel epitel, casts, eritrosit dan terkadang dapat muncul kristal berbentuk jarum. Pembentukan kristal ini bergantung dengan pH karena tingkat kelarutan asam jengkolat meningkat secara signifikan pada pH basa[1]. Pada pemeriksaan fisik, dapat ditemukan “bau jengkol” pada napas dan urin karena kandungan sulfur pada asam jengkolat.[2]

Secara umum, berdasarkan keparahan dan gejala yang timbul, keracunan jengkol dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu[1]:

  • Keracunan jengkol ringan: nyeri dan hematuria setelah obstruksi uretera sementara yang disebabkan karena kristal asam jengkolat
  • Keracunan jengkol berat: hipertensi, oligouria, azotemia, anuria dan kematian.

Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan laboratorium saat terjadi anuria akan mengarahkan ke gagal ginjal akut, antara lain pemeriksaan ureum atau  BUN (blood urea nitrogen) dan kreatinin darah. Pemeriksaan laboratorium saat munculnya tanda dan gejala nyeri pinggang, mual, muntah, dan hematuria mengarahkan ke obstruksi ureter dan uretra karena obstruksi ini disebabkan oleh asam jengkolat. Kristal ini dapat menyebabkan laserasi pada jaringan ginjal dan perdarahan, atau obstruksi pada uretra[1,3,4].

Patogenesis

Kacang jengkol memiliki kandungan asam jengkolat dalam rentang 0.3 – 1.3gr dalam 100 gram berat basah dan 93% asam jengkolat berada dalam bentuk bebas. Asam jengkolat adalah struktur asam amino yang mengandung sulfur[3]. Asam jengkolat ini kemudian membuat produksi urin menjadi lebih kental seperti berlumpur yang berujung pada nefropati obstruktif dan menjadi acute tubular necrosis (ATN). Patogenesis dari keracunan jengkol belum diketahui secara pasti, akan tetapi diduga merupakan efek toksik secara langsung ataupun hipersensitivitas terhadap asam amino atau metabolit dari asam jengkolat yang menyebabkan gagal ginjal akut[1,2].

Pengobatan Keracunan Jengkol

Pengobatan yang dilakukan pada keracunan jengkol setelah diagnosis ditegakkan adalah dengan melakukan hidrasi dan memberikan diuretik (furosemid). Kebanyakan keracunan jengkol dapat sembuh dalam 3 hari dengan perawatan suportif. Tujuan dari pengobatan ini adalah hidrasi untuk mengembalikan fungsi ginjal sehingga balans cairan sangat perlu diperhatikan dalam terapi. Pengobatan ini terbagi menjadi 2 kelompok berdasarkan derajat keparahan dari keracunan jengkol:

  • Ringan: berikan hidrasi dan kontrol nyeri
  • Berat: kontrol nyeri yang lebih tinggi, hidrasi yang agresif , pemberian basa pada urin dengan natrium bikarbonat untuk meningkatkan kelauran asam jengkolat. Bila tidak terdapat natrium bikarbonat, minuman bersoda pernah digunakan dalam satu kasus di Indonesia untuk tujuan ini[1].

Pada sebuah kasus di Indonesia, keracunan jengkol dapat diterapi dengan diberikan 2.5L normal saline dan 20 mg furosemid secara intravena dan menghasilkan 200mL urin dengan darah. Tramadol 50 mg juga diberikan untuk mengurangi nyeri[1]. Pada kasus lain di Malaysia, hidrasi intravena dan furosemide tidak menghasilkan keluaran urin yang baik, sehingga meningkatkan kreatinin serum 178 menjadi 848μmol/L (2.01 menjadi 9.59mg/dL) dalam 3 hari dan dilakukan bilateral stenting segera dilakukan dan ditemukan senyawa berlumpur. Setelah dilakukan stenting, diuresis menjadi baik dan pada hari keempat kreatinin menjadi 79μmol/L (0.89mg/dL)[3].

Sebuah studi meta analisis menemukan 9 artikel dengan total angka kematian sebesar 4 dari 96 kasus atau sekitar 4%. 3 dari 4 kasus kematian tersebut adalah anak-anak dan pada kondisi fasilitas kesehatan keempat kasus tersebut tidak tersedia fasilitas hemodialisis.[1]

Pencegahan terjadinya keracunan jengkol ini adalah dengan menghindari makanan dari jengkol. Penyakit ini jarang, tersebar sporadik, tidak berhubungan dengan cara memasak jengkol, dan belum tentu diderita oleh orang yang memakan makanan jengkol yang sama dengan penderita keracunan jengkol. Jengkol yang diproses dengan direbus dengan air mendidih mengurangi risiko dari keracunan jengkol karena asam jengkolat dapat hilang melalui proses ini. Diperlukan penjelasan dan edukasi mengenai tanda dan gejala kepada masyarakat umum tentang keracunan jengkol, agar masyarakat umum dapat segera menemui tenaga medis bila tanda dan gejala keracunan jengkol sudah muncul.[2,6]

Kesimpulannya, tanda dan gejala dari keracunan jengkol dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang adalah:

  • Adanya riwayat makan jengkol (dengan cara proses apapun) dalam beberapa jam sampai beberapa hari terakhir
  • Nyeri perut, terutama di perut bagian bawah
  • Nyeri pinggang dengan atau tanpa penyebaran ke perut bagian bawah dan selangkangan
  • Gangguan berkemih (nyeri, berkemih sedikit sampai tidak ada sama sekali)
  • Tercium bau jengkol atau menyengat dari mulut dan air seni
  • Peningkatan ureum dan kreatinin darah

Terapi yang dapat dilakukan adalah hidrasi, penggunaan diuretik (furosemid) yang memerlukan balans cairan ketat dan kontrol nyeri sesuai dengan derajat keparahannya. Pemeriksaan fungsi ginjal juga perlu dipantau ketat untuk melihat perkembangan dari penyakit ini.

Referensi