Manfaat dan Keamanan Stem Cell Facelift

Oleh dr. Hunied Kautsar

Stem cell facelift saat ini semakin populer dalam dunia kecantikan walau manfaat dan keamanannya sampai saat ini masih belum terbukti.

Depositphotos_9980776_m-2015_compressed

Sel punca terdiri dari beberapa jenis yakni sel punca pluripoten, sel punca multipoten, dan sel punca unipoten. Sel punca pluripoten memiliki kemampuan untuk berdiferensiasi menjadi beragam jenis sel serta menghasilkan jaringan dari ketiga lapisan germinal. Contoh sel punca pluripoten adalah sel punca yang berasal dari embrio, namun penggunaan sel punca ini dinilai tidak etis. Sel punca multipoten dapat berdiferensiasi menjadi beberapa jenis sel saja. Contoh dari sel punca multipoten adalah Mesenchymal Stromal Cell (MSC). Yang terakhir adalah sel punca unipoten yang hanya dapat berdiferensiasi menjadi satu jenis sel saja.

Dari ketiga jenis sel punca, Mesenchymal Stromal Cell (MSC), yang merupakan sel punca multipoten, merupakan sel punca yang paling banyak diteliti secara klinis. MSC memiliki kemampuan untuk berdiferensiasi menjadi sel tulang, sel tulang rawan, sel otot, dan adiposa. MSC yang berasal dari sumsum tulang memiliki karakteristik yang paling baik namun proses ekstraksi sel punca dari sumsum tulang memiliki resiko yang cukup besar bagi pasien dan hasil didapatkan tidak cukup banyak. Ditemukan sumber lain dari MSC dengan proses ekstraksi yang lebih mudah dan aman yakni dari jaringan adiposa (lemak). Sel punca yang berasal dari jaringan lemak biasa disebut dengan istilah adipose-derived stromal cell (ASC).[1]

Adipose-derived Stromal Cell (ASC) dan Facelift

Beragam klinik kecantikan di luar negeri mulai menawarkan perawatan "stem cell facelift". Perawatan yang ditawarkan meliputi ekstraksi sel adiposa dan ASC dari jaringan lemak pasien di daerah perut dan paha dalam yang kemudian dikombinasikan dengan growth factor di dalam matrix Hyaluronic Acid. Campuran tersebut kemudian diinjeksikan ke area muka yang sudah memiliki tanda-tanda penuaan seperti pipi yang kisut dan keriput. Sel adiposa dan sel punca (ASC) ditransplantasikan menggunakan teknik multiplanar. Lapisan pertama ditransplantasikan pada daerah tulang, lapisan kedua ditransplantasikan pada otot dan jaringan pada wajah dan lapisan terakhir ditransplantasikan tepat di bawah permukaan kulit untuk membantu meregenerasi komponen yang sudah mengalami penuaan.[2]

Pada kenyataannya, terapi sel punca yang menggunakan ASC masih dalam tahap penelitian. ASC dinilai memiliki kontribusi dalam regenerasi kulit yang mengalami tanda-tanda penuaan dengan cara menghambat pembentukan advanced glycation end product (AGE) pada tikus yang diinjeksi D-galactose sebagai pemicu proses penuaan kulit.[3] Penelitian lain terhadap 28 tikus yang diberi paparan radiasi UV-B menyatakan bahwa ASC memiliki kemampuan yang hampir sama dengan fibroblas dalam mengatasi kerutan pada kulit walaupun keduanya memiliki mekanisme kerja yang berbeda.[4] Penelitian terhadap penggunaan ASC pada manusia terutama di bidang kecantikan atau anti-aging masih sangat terbatas. Penelitian terkini hanya menguji keamanan dari penambahan elemen sel punca terhadap fat grafting yang diinjeksikan ke wajah. Penelitian tidak menilai efikasi dari penambahan sel punca dan sample penelitian sangat sedikit yakni hanya 6 partisipan.[5]

Penggunaan sel punca ACS pada manusia belum dinyatakan aman dan lulus uji coba Food and Drug Administration Amerika Serikat (FDA). Satu-satunya sel punca yang sudah lulus uji coba dan dinyatakan aman oleh FDA adalah sel punca hematopoietic progenitor cells yang berasal dari darah tali pusar. Sel punca tersebut digunakan untuk tata laksana berbagai penyakit kelainan darah, bukan untuk tatalaksana perawatan kecantikan seperti facelift.[6] Untuk kepentingan kosmetik, satu-satunya terapi sel yang sudah lolos uji coba dan dinyatakan aman oleh FDA adalah Laviv (Azficel-T) yang dikembangkan oleh Fibrocell Technologies, Inc. Terapi sel ini tidak menggunakan sel punca, melainkan menggunakan fibroblas sebagai tata laksana dalam mengatasi lipatan garis senyum yang dalam (moderate to severe nasolabial fold wrinkles) pada orang dewasa.[7]

Di Indonesia, pengembangan dan pelaksanaan terapi sel punca diatur ketat oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Sesuai dengan Permenkes No. 32 Tahun 2014 mengenai 'Penetapan Rumah Sakit Pusat Pengembangan Pelayanan Medis Penelitian serta Pendidikan Bank Jaringan dan Sel Punca' hanya ada 11 rumah sakit di Indonesia yang memiliki izin resmi sebagai sarana pelayanan pengobatan sel punca. Dua dari sebelas rumah sakit tersebut ditunjuk sebagai Pembina, yakni Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo dan Rumah Sakit Dr. Soetomo.[8] Dari beberapa terapi sel punca yang dilaksanakan di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, belum ada terapi sel punca ACS untuk kebutuhan kosmetik atau anti-aging.[9]

Banyaknya klinik yang menawarkan perawatan "stem cell facelift", terutama di luar negeri, menjadi hal yang mengkhawatirkan karena dapat menyesatkan pasien. Peran dokter dalam mengedukasi pasien menjadi sangat penting. Pasien harus diedukasi untuk mampu membedakan terapi sel punca dengan prosedur volumetric lipofilling atau fat grafting yang sudah lazim dilakukan dalam dunia bedah kosmetik. Kebanyakan dari klinik yang mengiklankan "stem cell facelift" pada dasarnya melakukan prosedur volumetric lipofilling. Lemak yang diinjeksikan pada bagian wajah yang sudah kisut akan mengisi kekosongan ruang dan secara tidak langsung menghilangkan kerutan di wajah. Sehingga tampilan wajah yang terlihat lebih muda tidak dihasilkan dari injeksi sel punca melainkan dari sel-sel adiposa (volumetric lipofilling).

Untuk mendapatkan sel punca ASC dibutuhkan prosedur yang cukup rumit. Proses ekstraksi yang dilakukan melalui prosedur liposuction akan menghasilkan kumpulan sel heterogen yang mengandung fibroblas, sel endotelial, sel otot polos, pericytes, sel imun dan preadiposit. Untuk mendapatkan sel punca yang homogen dan berjumlah banyak, diperlukan kultur in vitro sehingga seiring dengan berjalannya waktu, sel-sel lain akan tereliminasi dan menyisakan sel preadiposit yang memiliki karakteristik sel punca multipoten.[10] Tidak ada jaminan bahwa klinik yang menawarkan perawatan "stem cell facelift" melakukan isolasi dan kultur sel punca dengan benar. Kultur sel punca secara in vitro juga memilki resiko kontaminasi. Selain itu sel punca tidak kebal terhadap proses penuaan dan usia sel punca yang semakin menua memiliki resiko lebih besar untuk mengalami apoptosis dan transformasi tumor.[11] Kemampuan sel punca untuk berdiferensiasi juga bergantung pada lingkungan di mana sel punca diinjeksikan (niche). Oleh karena itu, efektivitas terapi sel punca untuk peremajaan kulit atau face lift pada pasien yang sudah tua menjadi dipertanyakan.

Kesimpulan

Istilah "stem cell facelift" yang kian marak dipasarkan oleh beragam klinik kecantikan menimbulkan kekhawatiran karena dapat menyesatkan pasien. Multipotent stem cell atau sel punca multipoten yang berasal dari jaringan lemak (Adipose-derived Stromal Cell) belum lulus uji coba dan dinyatakan aman oleh FDA untuk digunakan pada manusia sebagai salah satu bentuk terapi sel punca. Di Indonesia sendiri, penggunaan sel punca ASC juga belum dinyatakan aman dan belum diatur penggunaannya dalam Permenkes. Kebanyakan klinik kecantikan yang menawarkan perawatan "stem cell facelift" sesungguhnya melakukan perawatan volumetric lipofilling yang sudah lazim dilakukan di dunia bedah kosmetik.

Referensi