Penanganan pasien pasca Covid 19 dengan gejala gastrointestinal dan psikiatri - Gastroenterologi-Hepatologi Ask the Expert - Diskusi Dokter

general_alomedika

Alo dr. Muhammad Miftahussurur, Sp.PD - KGEH, M.Kes, Ph.D, FINASIMIzin bertanya dok, bukan mengenai topik puasa.Pasien wanita usia 45 tahun, sekitar 4 bulan...

Diskusi Dokter

  • Kembali ke komunitas
  • Penanganan pasien pasca Covid 19 dengan gejala gastrointestinal dan psikiatri - Gastroenterologi-Hepatologi Ask the Expert

    14 April 2021, 12:34

    Alo dr. Muhammad Miftahussurur, Sp.PD - KGEH, M.Kes, Ph.D, FINASIM

    Izin bertanya dok, bukan mengenai topik puasa.

    Pasien wanita usia 45 tahun, sekitar 4 bulan yang lalu pasien terinfeksi covid 19 dengan gejala sedang dan dirawat di RS selama sekitar 2 minggu. Pasien sudah dinyatakan sembuh namun sampai sekarang pasien masih merasakan banyak keluhan yang menurunkan kualitas hidupnya. Pasien mengeluh konsistensi BAB nya selalu seperti kerikil padahal pasien sudah banyak minum air putih buah dan sayur, BAB tidak berlendir dan tidak berdarah. Pasien juga sering merasakan perut perih, sakit kepala, pusing, lemah letih lesu dan pasien juga mengalami insomnia sehingga tidur rata2 hanya 2 jam sehari. Sebelum terinfeksi covid 19 pasien memang sering mengalami konstipasi tetapi konsistensi BAB nya tidak pernah seperti kerikil. Saat ini obat yang diminum pasien Antasida, Lansoprazol, dan obat tidur Clozapine dari dokter psikiatri. Selama minum obat Clozapine pasien bisa cukup tidur malam dan keluhan gaatrointestinalnya banyak berkurang. Namun BAB nya masih sama seperti kerikil. Apakah diagnosa Irritable Bowel Syndrome bisa ditegakkan pada pasien ini dok? Bagaimana sebaiknya penanganan selanjutnya?

    Terimakasih sebelumnya dok

14 April 2021, 13:14

Terima kasih dr. Athia atas pertanyaannya.

Pada COVID-19 akan muncul keluhan gastrointestinal seperti penurunan nafsu makan yakni sebanyak 98%, selain itu juga ditemukan keluhan gastrointestinal lainnya seperti muntah (65%)  nausea (73%), diare (37%), nausea yang disertai muntah (20%), abdominal pain (25%), abdominal pain yang disertai diare (9%). Konstipasi adalah salah satu manifestasi dari COVID-19 walaupun bukan yang tersering. Dimana pada endoskopi ditemukan bahwa epitel saluran gastrointestinal pasien COVID-19 yaitu esofagus, lambung, duodenum dan rektum mengalami kerusakan (Xiao et al., 2020).   

Di sisi lain, Rome IV mendefinisikan IBS sebagai gangguan usus fungsional di mana nyeri perut berulang dikaitkan dengan buang air besar atau perubahan kebiasaan buang air besar. Biasanya ada kebiasaan buang air besar yang tidak teratur (misalnya sembelit, diare, atau campuran sembelit dan diare), seperti gejala perut kembung/kembung. Onset gejala harus terjadi setidaknya 6 bulan sebelum diagnosis dan gejala harus ada selama 3 bulan terakhir (terlampir pada gambar).
Sehingga menurut saya, diagnosis IBS lebih baik ditunggu sampai 6 bulan kemudian. Untuk mengurangi kemungkinan efek dari infeksi COVID-19, sekaligus memenuhi kriteria IBS menurut Rome IV.

14 April 2021, 13:34
Baik dokter, terimakasih banyak untuk informasinya🙏