Intepretasi hasil rapid test antibodi: anti SARS-CoV-2 non reaktif - Diskusi Dokter

general_alomedika

Alo Dokter, ijin bertanya. Pada Webinar “Rapid Test COVID-19 di Layanan Primer" yang dibawakan oleh narasumber Prof. Dr. dr. Aryati, MS, Sp.PK(K)....

Diskusi Dokter

  • Kembali ke komunitas
  • Intepretasi hasil rapid test antibodi: anti SARS-CoV-2 non reaktif

    02 Mei 2020, 10:10

    Alo Dokter, ijin bertanya. Pada Webinar “Rapid Test COVID-19 di Layanan Primer" yang dibawakan oleh narasumber Prof. Dr. dr. Aryati, MS, Sp.PK(K). Dilampirkan, contoh Pelaporan Hasil rapid test antibodi Non Reaktif dan Reaktif. Maaf sebelumnya jika kurang menyimak webinar dan sesi tanya jawab seluruhnya, karena sambil pelayanan pasien. Yang ingin saya tanyakan:

    Contoh kasusnya seperti ini, misalnya seorang pasien usia 50 tahun, tidak ada keluhan, bermaksud memeriksakan diri untuk cek kesehatan dan melakukan rapid test antibodi: anti SARS-CoV-2. Sebagai keperluan pasien untuk balik ke domisili asal. Karena, riwayat perjalan tanggal 9 april 2020 datang dari daerah zona merah-transmisi lokal, contohnya Jakarta, datang ke suatu daerah yang relatif aman dan resiko rendah, kemudian akan balik lagi ke Jakarta. Pasien memeriksakan diri pada hari ini tanggal 2 mei 2020 (berarti sudah berlalu sekitar 23 hari yang lalu) pada pasien tidak ditemukan keluhan, maupun gejala, dan kelainan apapun. Hasil rapid test antibodi: anti SARS-CoV-2 : Non Reaktif (pertama kali). Jika kondisnya seperti ini, mengingat kondisi pasien dengan riwayat perjalan tersebut, dan berada didaerah yang relatif aman dan resiko rendah sudah 23 hari. Tidak ditemukan keluhan, maupun gejala, dan kelainan apapun. Apakah catatan dan saran pada pelaporan Hasil Rapid Test Antibodi pada intinya akan tetap disarankan pemeriksaan ulang rapid test antibodi setelah 10 hari. Atau bisa ditarik kesimpulan, pasien tidak terpapar infeksi SARS-CoV-2? Terimakasih, mohon asupan dokter 🙏

02 Mei 2020, 11:07
02 Mei 2020, 10:10

Alo Dokter, ijin bertanya. Pada Webinar “Rapid Test COVID-19 di Layanan Primer" yang dibawakan oleh narasumber Prof. Dr. dr. Aryati, MS, Sp.PK(K). Dilampirkan, contoh Pelaporan Hasil rapid test antibodi Non Reaktif dan Reaktif. Maaf sebelumnya jika kurang menyimak webinar dan sesi tanya jawab seluruhnya, karena sambil pelayanan pasien. Yang ingin saya tanyakan:

Contoh kasusnya seperti ini, misalnya seorang pasien usia 50 tahun, tidak ada keluhan, bermaksud memeriksakan diri untuk cek kesehatan dan melakukan rapid test antibodi: anti SARS-CoV-2. Sebagai keperluan pasien untuk balik ke domisili asal. Karena, riwayat perjalan tanggal 9 april 2020 datang dari daerah zona merah-transmisi lokal, contohnya Jakarta, datang ke suatu daerah yang relatif aman dan resiko rendah, kemudian akan balik lagi ke Jakarta. Pasien memeriksakan diri pada hari ini tanggal 2 mei 2020 (berarti sudah berlalu sekitar 23 hari yang lalu) pada pasien tidak ditemukan keluhan, maupun gejala, dan kelainan apapun. Hasil rapid test antibodi: anti SARS-CoV-2 : Non Reaktif (pertama kali). Jika kondisnya seperti ini, mengingat kondisi pasien dengan riwayat perjalan tersebut, dan berada didaerah yang relatif aman dan resiko rendah sudah 23 hari. Tidak ditemukan keluhan, maupun gejala, dan kelainan apapun. Apakah catatan dan saran pada pelaporan Hasil Rapid Test Antibodi pada intinya akan tetap disarankan pemeriksaan ulang rapid test antibodi setelah 10 hari. Atau bisa ditarik kesimpulan, pasien tidak terpapar infeksi SARS-CoV-2? Terimakasih, mohon asupan dokter 🙏

02 Mei 2020, 13:20

Alo dokter,

Menurut Prof Ariani waktu webminar, setiap hasil rapid test nonreaktif harus diulang pada hari ke-10. Namun beliau tidak menjelaskan kepentingan rapid test untuk orang yang mau mudik dan terakhir ke zona merah sudah lewat 14 hari yang lalu.

Sebaiknya diulang dokter. CMIIW.

02 Mei 2020, 13:32
Baik dokter, terimakasih 🙏 Memang baiknya kembali berpegang ke panduan dan tatalaksana dasar untuk rapid test saja ya.
02 Mei 2020, 19:59
Yg penting sebenarnya nama alat yg rapid test itu ya, yg mana yg dianjurkan dipakai. Soalnya beberapa ada yg menjual alat yg postif palsu atau negatif palsunya tinggi. 

Nama rapid test yg recommended itu kemaren yg tdk ditampilkan di slide dokternya, padahal sgt penting krn sensitivitas dan spesifisitas alat tsb yg lebih baik. Misalnya negatif, tetap diulang 10 hari lagi utk melihat IgG nya. Kalau IgM nya kan sdh negatif. IgG nya yg perlu dicek yg setelah 10 hari lagi tsb. 

Semoga ada rekan2 TS yg menshare nama alat rapid yg recommended itu ya di sini.. 
02 Mei 2020, 20:20
Wah, terimakasih banyak dokter tambahannya 🙏. Bener banget dok, sekarang seakan2 semua bisa membeli dan memiliki alat rapid test nya untuk kepentingan masing-masing. Karena beberapa perusahaan tambang di sekitar tempat saya kerja mereka punya alatnya, entah dapat suplay dari mana ngambilnya. Mereka minta tolong klinik kami dan puskesmas yang melakukan rapid test pada karyawan karyawannya, yang tidak sedikit berdatangan dan keluar masuk dari zona merah juga transmisi lokal. Semoga ada yang ingat alat rapid test yang direkomendasikan tersebut. Komen dibawah ya dokter 👇👇 🙏
02 Mei 2020, 20:37
dr. Herman, Sp.P
dr. Herman, Sp.P
Dokter Spesialis Paru
Berikut list alat rapid test yg direkomendasikan dok
02 Mei 2020, 20:15
dr. Herman, Sp.P
dr. Herman, Sp.P
Dokter Spesialis Paru
Alo dok, 

Seseorang dengan hasil rapid negatif, walau tanpa gejala, tetap disarankan untuk diulang dlm waktu 10 hari. 
Hal ini karena bisa saja orang tersebut sdh terpapar virus tsb, namun:
1. Baru terpapar dlm waktu kurang dr 7 hari, sehingga antibodi blm terbentuk. (Walaupun sudah 23 hari, kita tdk bs menjamin suatu daerah aman itu bersih sama sekali dari virus covid. 
2. Memiliki kondisi imunocompromised, sehingga tubuh tdk mampu memproduksi antibodi secara adekuat. 
3. Alat rapid yg kurang sensitif (false negative) 

Demikian, semoga membantu. 
02 Mei 2020, 20:31
Baik, terimakasih banyak asupannya dokter 🙏. Memang harus tetap seperti itu ya dok, tetap jalankan sesuai protapnya. Benar seperti yang disampaiakan Prof. Ariani pada webinar beliau kemaren, memang harus ada supervisi dari dr. Spesialis Patologi Klinik.
02 Mei 2020, 21:59
Terima kasih infonya dok
03 Mei 2020, 22:12
 Bermanfaat thanks dok
03 Mei 2020, 23:18
Terima kasih atas sharing ilmunya dok 🙏
02 Mei 2020, 20:41
02 Mei 2020, 20:37
Berikut list alat rapid test yg direkomendasikan dok
Baik dokter, sangat bermanfaat👍terimakasih sudah berbagi 🙏
02 Mei 2020, 20:54
Alo Dok,

Rapid test negatif blm tentu ybs tdk terpapar krn bisa saja antibodi blm terbentuk dok. Jika memang sebelumnya ada riwayat sakit (misalnya demam) atau ada kontak erat dgn pasien positif covid baiknya lakukan rapid test setelah 7-10 hari kemudian dok.

Mengenai merk rapid test yg direkomendasikan ada di web covid.go.id- dan akan diupdate secara berkala krn memang ilmu mengenai covid ini sangat dinamis dok. Utk revisi terbaru per tanggal 21 April dok, bisa dilihat di https://covid19.go.id/p/protokol/daftar-rekomendasi-rdt-antibodi-covid-19-update-21-april-2020. pastikan membaca manual instruction krn yiap alat berbeda petunjuk pemakaiannya dok, misalnya beda sampel yg digunakan dan lama pembacaan interpretasi. 

Semoga membantu dok 
02 Mei 2020, 22:04
Terimakasih dokter 🙏 sangat membantu.
02 Mei 2020, 21:20
dr.Liem Audi Natalino, SpJP, FIHA
dr.Liem Audi Natalino, SpJP, FIHA
Dokter Spesialis Jantung
thx infonya dok
02 Mei 2020, 23:13
Sangat bermanfaat dok informasinya, terimakasih banyak
02 Mei 2020, 23:25
terimakasih banyak informasi nya dok
03 Mei 2020, 00:48
Kembali lg ke protap covid yang dikeluarkan Kemenkes,dalam kasus ini pasien baru pulang dari zona merah dan tidak ada gejala serta tidak ada riwayat kontak erat dengan pasien covid 19 terkonfirmasi maka orang ini digolongkan dalam "pelaku perjalanan" yang dalam protapnya hanya perlu self monitoring dengan karantina mandiri dirumah dan tidak perlu dilakukan rapid test sampai satus pasien meningkat menjadi ODP atau PDP dalam waktu 14 hari setelah pulang dari zona merah.
Artinya kalaupun dilakukan rapid test dan hasil nya non reaktif kemudian pasien pun tidak menunjukkan gejala maka rapid kedua tidak perlu dilakukan dan pasien dapat meneruskan isolasi mandiri sampai 5 hari kedepan dan apabila tidak ditemukan gejala sampai 2 kali masa inkubasi atau 28 hari maka dapat dikatakan pasien tidak terindikasi covid positif.
03 Mei 2020, 02:58
Terimakasih dokter 🙏. Bisa juga jika kita berpegang dengan guideline itu ya. Namun pada kondisi ini pasien sudah akan melakukan perjalanan balik untuk kembali ke zona merah lagi, baru memeriksakan diri. Jadi agak susah memberi pengertian untuk melanjutkan menuntaskan masa isolasi mandiri. Serta, fasilitas rapid test memang dari perusahaannya, sehingga kesulitan juga untuk kita mengarahkan penggunaannya sesuai pedoman. 
03 Mei 2020, 04:07
Baik,sama sama dokter..🙏🙏